Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
53. Silvia Berulah


__ADS_3

Kirana menahan kesal saat mendapat jawaban dari Tristan yang terdengar begitu tenang mendengar laporan darinya. Tristan hanya meminta dirinya menunggu di rumah.


Ternyata dia tidak bisa benar-benar menjauhkan Silvia dari kehidupan Tristan. Karena bagaimanapun juga Mentari masih ada ikatan darah dengan Silvia.


Dengan perasaan gelisah, Kiran menunggu Mentari di ruang tamu. Dua jam berlalu, bahkan jarum jam sudah menunjuk angka 4, belum juga terlihat tanda-tanda kedatangan Silvia. Dia pun kembali menghubungi suaminya. Dan jawabannya pun tetap sama Tristan memintanya menunggu. Silvia sedang mengajak Mentari bermain.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara deru mobil berhenti di depan rumah. Kirana bergegas keluar. Terlihat Silvia keluar dari sebuah city car warna merah. Disusul dengan bocah perempuan kecil yang masih berseragam sekolah.


"Bunda! Tadi Mentari habis main sama Onty Sisil. Terus lihat dedek bayi di perutnya Onty Sisil," Mentari berujar sambil berlari ke arah Kirana.


Kirana tertegun dengan penuturan Mentari Adik bayi di perut Silvia? Apa perempuan yang sekilas terlihat mirip Silvia saat di hotel itu benar-benar Silvia?


"Mentari masuk dulu, ya. Cuci tangan kaki lalu ganti baju Bunda mau bicara sama Tante Silvia."


Anak kecil itu pun mengangguk lalu berlari masuk ke dalam rumah.


Kirana menatap tak suka pada Silvia yang tengah memandangnya.


"Lain kali beri kabar kalau mau mengajak Mentari. Jangan membuat kami panik," ujar Kirana dengan tegas.


"Panik?" sahut Silvia dengan senyum remeh. "Saya ini tantenya, kamu pikir saya membawa Mentari untuk meneelakainya sampai kamu merasa panik? Jangan terlalu berlebihan untuk menarik perhatian Mas Tristan. Karena sebentar lagi, kamu haeus merelakan suamimu berbagi perhatian untuk saya dan calon anaknya." Silvia mengusap perutnya yang masih rata.


Kirana kembali terdiam. Hanya beberapa saat, karena dia berhasil menguasai diri kembali. "Maksud kamu apa?"


Tawa mengejek pun keluar dari mulut Kirana.


"Apa kamu tuli? Seperti kata Mentari tadi, ada adiknya di dalam perut saya. Anak Mas Tristan!" ujar Silvia penuh penekanan.


"Jadi, jangan merasa menang hanya karena Mas Tristan sekarang lebih memprioritaskan kamu," imbuh wanita berambut gelombang itu


"Kamu pikir saya akan terpengaruh dengan omong kosongmu itu? Saya tidak peduli sekalipun kamu mengatakan hamil anak Mas Tristan," jawab Kirana dengan tenang.


"Baiklah. Kamu butuh bukti?" Silvia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Mungkin kamu akan mengajukan gugatan perceraian, saya bantu siapkan bukti-buktinya." Silvia menyerahkan sebuah amplop ke tangan Kirana.


"Selamat sore. Selamat menyambut hari burukmu kembali," ucap Silvia sambil berlalu dari hadapan Kirana.


Kitana mematung menatap mobil merah yang melaju meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Dengan gontai dia melangkah masuk ke dalam rumah dengan amplop coklat di tangannya. Bohong jika Kirana tidak penasaran dengan isi amplop itu. Dia pun naik ke kamar untuk membukanya.


Tangannya bergetar melihat beberapa lembar foto Tristan dan Silvia dalam satu selimut dan tubuh bagian atas tanpa penutup. Beberapa lembar foto di atas ranjang itu pun membuat lidahnya.


Kirana merogoh amplop coklat itu untuk mengambil yang tersisa. Sebuah amplop kecil berisi sebuah foto hasil usg.


Kakinya seketika melunglai. Kirana menjatuhkan diri di tepi ranjang. Kertas di tangannya pun kini berserakan.


Kirana menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh terperdaya oleh sikap manis Tristan. Rupanya lelaki itu sedang menutupi sebuah kebohongan.


Kirana perlahan menyeret langkahnya mendekati lemari pakaian. Mengambil sebuah koper dan memasukkan baju-bajunya. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Dia benci pengkhianat.


Ditariknya koper itu ke dekat pintu. Dia mengutip satu persatu kertas yang berserakan di lantai lalu dimasukkan kembali ke dalam amplop. Bersamaan dengan bunyi derit pintu dibuka.


Tristan masuk ke dalam kamar dan mendekat hendak memeluknya,namun Kirana menghindar.


"Kamu kenapa, Sayang. Masih marah?" tanya Tristan tanpa rasa bersalah.


"Ya. Saya kecewa sama kamu." Kirana meletakkan amplop itu ke tangan Tristan.


"Apa ini?" Tristan membolak-balik amplop itu.


Tritan pun mengeluarkan isi amplop itu.


"Sayang, inii .... Ini semua tidak benar," bantah Tristan melempar kertas itu ke lantai.


"Lalu apa yang benar? Yang benar adalah kebohongan yang kamu tutup-tutupi itu?!° Kirana tidak mampu lagi menahan kemarahannya.


"Tunggu saya di pengadilan!" Kitana menyeret kopernya.


"Tunggu! Kamu belum dengar semua penjelasan saya!" Tristan mencekal lengan Kirana.


"ini semua akal-akalan Silvia. Saya tidak pernah sekalipun tidur dengannya."


"Kamu pikir saya buta!" sambar Kirana.


Tristan mendesah kasar.


"Ya. Foto itu memang benar.Mungkiin Silvia yang mengambilnya. Tapi kami tidak melakukan apa-apa."

__ADS_1


"Oh, hebat sekali benih kamu itu Bisa berpindah hanya dengan bersentuhan. Sayangnya saya tidak akan mengulangi kebodohan saya dengan percaya pada ucapan kamu lagi!" Kirana menyentakkan tangannya hingga cekalan Tristan terlepas.


"Kamu mau ke mana. Ini sudah mau gelap!"


"Ke mana saja. Asal tidak melihatmu lagi yang akan membuat saya mual!"


Kirana melenggang dengan bebas karena Tristan tidak menahannya lagi. Dengan payah dia menuruni anak tangga membawa kopernya.


Di bawah tangga, Kirana melihat Mentari berdiri mematung di depan pintu kamar. Suaranya yang cukup kencang tadi mungkin saja terdengar oleh anak kecil yang tengah menatapnya sendu.


"Bunda mau ke mana?" tanya Mentari dengan pelan.


Kirana terdiam. Egonya kembali ditepiskan. Menatap wajah polos Mentari membuatnya tidak tega jika harus meninggalkannya lagi.


Kirana mendekat lalu berjongkok di depan Mentari.


"Bunda mau pergi lagi?" Pertanyaan itu justru membuat lidah Kirana kelu. Terlebih saat mata bulat itu berkaca-kaca lalu tangis Mentari pun pecah. Kirana mendekap Mentari tanpa berucap sepatah kata. Hanya air mata yang sedang berusaha ditahannya agar tidak tumpah. Rasa penyesalan pun menyusup. Dia telah menoreh luka dalam batin anak sambungnya. Pertengkaran yang mungkin saja terdengar oleh Mentari adalah hal buruk yang akan membekas dalam ingatannya.


"Kalau Bunda pergi, Mentari ikut."


Kirana mengusap punggung kecil itu sebelum mengurai dekapannya.


"Kita akan menginap untuk beberapa hari di rumah Oma," ujar Kirana. Keputusan yang diambilnya tiba-tiba..


Kirana masuk ke dalam kamar Mentari. Mengambil baju seragam sekolah dan baju ganti secukupnya. Karena baju mentari masih banyak yang sengaja disimpan di rumah omanya.


Menumpang taksi online, mereka menuju ke rumah urama. Mentari benar-benar takut kehilangan Kirana. Sepanjang jalan dia sama sekali tidak melepaskan pelukannya pada ibu sambungnya. Seolah paham dengan situasi, Mentari tidak lagi berceloteh seperti biasanya. Anak kecil itu mengunci mulutnya. Bahkan hingga taksi online yang mereka tumpangi berhenti di depan pagar rumah utama, Mentari masih saja menggenggam tangan Kirana.


Dua koper diturunkan oleh pengemudi taksi. Mentari terpaksa melepas genggaman tangannya karena Kirana harus menyeret koper-koper itu.


Di halaman rumah, Pak Cip yang sedang mencuci mobil menyambut mereka dan mengambil alih koper yang diseret oleh Kirana.


"Kok tadi tidak minta dijemput Pak Cip kalau mau ke sini?" kata lelaki iru.


"Mendadak Pak Cip. Tiba-tiba ingin menginap di sini," jawab Kirana.


Pintu rumah itu pun dibuka oleh Pak Cip. Kirana masuk dengan Mentari dalam gandengannya. Kedatangannya dengan membawa koper besar tentu saja membuat ibu mertuanya menatap curiga.


"Istirahat dulu. Nanti kita bicara kalau kamu sudah tenang," ujar Bu Ratih pada menantunya.

__ADS_1


__ADS_2