Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
62. Kemarahan Tristan


__ADS_3

"Bangsa!"


Prang!


Asbak kaca itu pun menjadi kepingan dan bertebaran di lantai.


"Sakit, Bego!" Lucky mengusap pipinya yang baru saja dihantam asbak oleh Tristan.


"Kalau perlu gue matiin lo sekalian! Anjing!" maki Tristan lagi.


"Tan, lo kenapa jadi maki-maki gue, sih?! Gue tahu gue salah ngehamilin adik lo. Gue mau kok tanggung jawab."


Tristan masih menyorot Lucky dengan kilatan amarah.


"Lo tahu? Gara-gara lo, gue hampir kehilangan istri gue, Brengsek!"


"Tan, lo dengerin dulu penjelasan gue!"


"Mati aja lo!"


Bug! Tristan menggampar wajah Lucky dengan tangan kirinya.


"Mas! Ini ada apa sih?"


Kirana melerai keduanya. Setelah masuk ke kamar dan mendengar suara ribut, dia tergopoh-gopoh menuju ke teras belakang rumah. Dan mendapati suaminya tengah memukul Lucky.


"Kamu masuk! Dia harus dikasih pelajaran."


"Mas, Mas. Tenang dulu! Bicarakan baik-baik. Nggak harus pakai otot kan juga bisa," ujar Kirana.


Tristan sepertinya tidak sadar kondisi. Jika Lucky membalas, dia pun bisa terkapar tidak berdaya. Kaki dan tangannya saja masih di perban.


Kirana harus membujuk Tristan lebih keras, sampai suaminya itu mau duduk kembali. Berbicara berdua dengan temannya. Dia memilih masuk kembali ke dalam. Duduk di kursi makan karena tidak ingin ikut campur pembicaraan Tristan dan temannya. Yang dia sendiri tidak tahu mereka tengah membicarakan hal apa sehingga membuat Tristan naik pitam.


Sementara di luar,, Lucky dengan wajah penuh penyesalannya mengungkapkan semua yang terjadi antara dia dan Silvia. Yang bermula saat mereka sama-sama dibawah pengaruh alkohol. Mereka menghabiskan malam di apartemen Tristan yang waktu itu dihuni oleh Sivia.


Sejak itu, mereka sering check in di hotel. Lucky hanyalah tempat pelampiasan bagi Silvia.pria itu pun tidak pernah mempermasalahkannya. Karena sepanjang 32 tahun usianya, dia belum bisa berkomitmen dengan satu wanita.


"Gue udah bilang sama dia, gue mau tanggung jawab. Tapi dia menolak. Dia masih mau ngejar lo sampai dapat. Gue bisa apa, Tan?" Suara Lucky terdengar pilu. Bahkan mungkin baru sekali ini lelaki itu menyesali perbuatannya. Atau mungkin dia sudah kena batunya. Karena hanya pada Silvia benihnya tumbuh.


"Tan, lo mau bantu gue cari dia, kan?"


"Gue nggak ada waktu!" jawab Tristan ketus.

__ADS_1


"Gue khawatir dia nekat gugurin kandungannya. Seminggu yang lalu gue temui dia. Dia udah frustasi dan mau ngilangin janinnya. Ya kali anak pertama gue harus diilangin sama maknya sendiri. Gue yang brengsek aja nggak setega itu," ungkap Lucky.


"Lo cari sendiri. Gue nggak mau istri gue salah paham lagi."


"Tapi lo boleh kan kalau gue nikahin dia?"


"Serah lo!" Tristan kembali mengambil rokok dari dalam kotak yang tergeletak di meja.


"Ngapain lo masih di sin? Cari sana! Dia lagi butuh duit buat ngidupin anak lo!" sarkas Tristan.


Lucky pun beranjak dari kursi. Melangkah gontai meninggalkan Tristan.


"Gue balik, Bro!" pamitnya setengah bergumam.


"Hmm." Tristan berdehem tanpa menatap temannya.


Dia sangat geram dengan Lucky. Karena ila temannya itu, kepercayaan yang dia bangun runtuh. Sampai Kirana tidak mau peduli lagi dengan apapun penjelasannya. Bahkan bisa saja hubungannya dengan Kirana akan kandas jika Kirana tidak bisa percaya dengannya lagi.


Tristan mendongak saat merasakan sentuhan di bahunya. Kirana mengusapnya lembut lalu mendekapnya dari belakang.


"Seharusnya aku mendengar semua penjelasan kamu," ucap Kirana. Lalu membisikkan kata maaf.


Tristan meraih tangan yang melingkari lehernya. Mengecup jemari tangan Kirana dengan penuh perasaan.


"Bagaimana kalau kita bantu untuk mencari Silvia?" cetus Kirana tiba-tiba. Bukan tanpa alasan, tetapi Silvia sedang hamil. Dia butuh seseorang untuk menemani. Silvia bahkan tidak punya tabungan untuk membiayai hidupnya Sedang janin di dalam perutnya pun harus berkembang dengan baik.


Kirana mampu berempati, karena dia pun sedang sama-sama mengandung. Dia pernah merasakan masa kehamilan tanpa didampingi suami. Meski dia tidak kekurangan perhatian dari ayah dan ibunya. Sedang Silvia, dia sebatang kara.


"Saya tidak mau!" jawaban singkat itu membuat Kirana terdiam. Sepertinya Tristan sudah benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan Silvia.


"Saya tidak mau mengambil resiko harus kehilangan kamu."


Kirana mengulum senyum. Dia tidak tahu setakut apa Tristan kehilangan dirinya saat ini. Apakah suaminya itu sudah benar-benar mencintainya?


Ingin rasanya Kirana bertanya tentang hal itu. Tentang seberapa dalam rasa untuknya. Namun selalu tercekat di tenggorokan. Dan pertanyaan itu dibuktikan dengan sikap Tristan yang semakin hari semakin posesif.


"Kalau saya janji tidak akan mempermasalahkan yang sudah lewat?" Kirana mencoba menggoyahkan pendirian suaminya. Karena setidaknya, jika Silvia sudah menikah dengan Lucky, perempuan itu mungkin saja tidak akan nekad lagi membuat masalah dalam rumah tangga Tristan dan Kirana


Hembusan pelan pun terdengar. "Dengar Kirana, jangan meinintaku melakukan hal yang tidak ingin saya lakukan," sahut Tristan.


Jawaban Tristan terkunci dengan melajunya kursi roda ke dalam rumah. Kirana pun tidak lagi membicarakan tentang Silvia.


Dia mengikuti suaminya yang berjalan ke depan rumah. Mobil yang diantar Lucky tadi bahkan belum sempat dilihatnya.

__ADS_1


Mobil SuV warna putih terparkir di depan rumah.


"Ini mobilnya, Mas?"


Tristan mengangguk sambil mengulas senyum. "Suka?"


"Ya ….. suka, sih."


"Kok ragu jawabnya?"


"Ragu sama harganya, Mas. Ternyata uangku cuma 250 budgetnya. Lupa kalau kemarin sudah dipakai untuk beli motor," sahut Kirana sambil nyengir.


"Memangnya siapa yang minta kamu untuk membayarnya?"


"Terus ini siapa yang bayar?"


"Suamimu masih sanggup kalau cuma beli satu mobil buat kamu."


Kirana mencebik "Sombong! Benar nih nggak minta ganti?"


"Astaga Kirana! Kamu pikir suamimu ini segitu pelitnya? Ambil semua kartu-kartu di dompet Mas buat kamu."


Kirana pun terkekeh. "Makasih ya, Mas."


Dia mendaratkan bibir di kedua pipi Tristan berulang-ulang.


"Kuncinya mana, Mas?" tanya Kirana menanyakan kunci mobil barunya.


"Mau ngapain?"


"Mau coba. Sekalian jemput Mentari. Tadi Pak Cip agak nggak enak badan. Tapi maksa tetap kerja," terang Kirana. Dia tidak tega jika harus melihat Pak Cip yang mengeluh demam tapi masih memaksakan diri mengantar Mentari dan Kirana ke rumah sakit tadi. eum.lagi harus mengantar Bu Ratih arisan di rumah Nabila.


"Ambilkan penyangga! Mas ikut," sahut Tristan.


Kirana pun masuk ke dalam rumah. Mengambil dompetnya dan juga penyangga untuk membantu Tristan berjalan.


Kirana duduk di belakang kemudi dan Tristan di kursi penumpang. Jarak sekolah Mentari tidak lebih dari lima belas menit dari rumah utama dengan kecepatan rata-rata.


Sampai di sekolah Mentari, tepat saat jam belajar selesai. Tristan melihat sebuah mobil yang sangat familar. City car merah milik Silvia. Dan pintu mobil itu pun terbuka. Silvia muncul dari dalam berjalan memasuki halaman sekolah.


"Mau apa dia?" gumam Tristan.


"Biar aku saja yang turun, Mas," ujar Kirana

__ADS_1


__ADS_2