
"Suamimu di mana, Nduk?" tanya Bu Ambar setelah dia berganti pakaian sepulang mem ghafiru acara pernikahan Syifa.
"Lagi beli asinan, Bu.,"
"Kamu yang minta? Di sini itu nggak ada yang jual asinan. Mau nyari ke mana? Kamu kok aneh-aneh aja to, Nduk."
"Dia yang mau. Nana nggak nyuruh." Kirana berkelit.
Beberapa saat kemudian, Kirana mendengar suara ibunya berbicara dengan seseorang melalui telepon. Dari isi pembicaraannya, sudah bisa dipastikan jika seseorang yang ditelepon ibunya itu adalah Tristan. Ibunya sedang menyuruh sang menantu untuk segera pulang.
Hampir 2 jam Tristan belum kembali. Sebenarnya Kirana juga tidak tega. Suaminya itu pasti kelimpungan mencari penjual asinan. Tapi dia sengaja membiarkannya. Hitung-hitung menguji kesabaran. Karena dulu, Kirana sudah sangat sering mendapat ujian dari Tristan. Mentalnya kini sudah tertempa. Dia ingin melihat, seberapa sabar Tristan yang katanya siap menjadi ayah siaga.
Kirana melongok ke depan rumah mendengar suara gaduh ibunya.
"Yang itu, Yah! Yang mengka.!"
"Mana sih?"
"Itu di atasnya lagi!"
Kirana terkekeh geli melihat ayah dan ibunya yang sedang memetik mangga. Ayahnya yang membawa galah dan ibunya yang mengarahkan. Sungguh kerjasama yang begitu kompak demi menuruti keinginan cucu mereka. Padahal makan asinan sepenuhnya keinginan dari Kirana. Membayangkan makan buah dengan kuah pedas dan dimakan dalam keadaan dingin membuatnya harus menelan saliva.
Jika tidak sedang hamil, mka Kirana sendiri yang akan memanjatnya. Dalam kondisi perut besar, mana mungkin ibunya memperbolehkan Kirana melakukan hal ekstrim seperti itu.
Satu bakul mangga, dibawa Bu Ambar ke dapur. Dengan gesit dia mengupas dan memotong-motong buah mangga yang sudah menguning. Lalu menghaluskan bumbu.
"Bikin sendiri saja bisa. Sukanya kok ngerjain orang." ujarnya pada sang putri yang tengah membantu memotong mangga.
"Biar kelihatan usahanya, Bu." sahut Kirana.
Tak butuh waktu lama untuk membuat asinan. Kirana mendiamkannya dalam lemari pendingin sebentar. Karena sudah tidak tahan dengan aromanya. Dia pun menambahkan es batu ke dalam mangkuk yang berisi asinan mangga.
Bu Ambar menggeleng melihat putrinya seperti baru pertama kali makan olahan buah itu. Tapi dia cukup senang karena akhirnya Kirana tidak melulu makan bakso atau pun jajanan anak sekolahan yang kerap lewat.depan rumah.
"Asinannya sudah dapat!" Tristan datang dengan senyum lebar menunjukkan kantong plastik di tangannya. Namun senyumnya pudar saat melihat isi mangkok di depan Kirana.
"Kamu beli juga?" tanyanya menyembunyikan rasa kecewa.
"Ibu yang buat."
Bahu Tristan luruh seketika. Susah payah dia mencari sampai ke luar kota, ternyata ibu mertuanya bisa membuatkan makanan yang sedang diinginkan Istrinya.
"Jadi imi tidak mau?"
__ADS_1
Kirana menggeleng serta menarik bibirnya. Dia menahan tawa melihat wajah Tristan yang kecewa.
Kantong plastik itu diletakkan Tristan di meja makan. Lalu dia masuk ke dalam kamar.
Terang saja Kirana yang kembali mendapat omelan ibunya. Sepertinya orang tuanya dan orang tua Tristan sudah tertukar kirana akan diperlakukan dengan baik oleh ibu mertuanya yang selalu bersikap lembut. Sedangkan ibunya,, semenjak mengenal Tristan, Kirana seperti anak tiri.
"Kamu itu mbok ya menghargai usaha suamimu. Berapa jam dia habiskan waktu cuma buat nyari makan yang kamu mau."
Kirana pun beranjak meninggalkan asinan buah dan menyusul suaminya ke dalam kamar. Kareba sejujurnya dia pun merasa bersalah telah mengerjai suaminya. Tapi bukankah dirinya dulu seringkali dibuat kecewa oleh Tristan. Pagi buta dia membuat sarapan tapi pada akhirnya penolakan yang dia terima.
"Mas!" panggil Kirqnq pada suaminya yang sedang melepas kancing baju.
"Mau mandi. Capek!" sahut Tristan datar.
Ternyata kesabaran lelaki itu memang setipis tisu. Baru juga satu ujian.
"Marah?"
Tristan menggeleng.seraya memasukkan kemeja kotornya ke dalam keranjang.
"Benar?"
"Iya. Lagi saya yang keras kepala. Seharusnya tadi waktu ibu telepon saya langsung pulang. Bukannya mencarinya sampai dapat."
"Mau dimandiin, nggak?"
Tristan yng sudah berdaa di ambamg pintu kamar mandi menghentikan langkahnya. Gaya bicara Kirana tentu saja hanya untuk menggodanya. Tapi hal itu tidak berlaku baginya. Dia berbalik lalu membopong Kirana.
Kirana memekik kencang meminta untuk diturunkan.
"Saya bercanda, Mas! Turunkan saya!"
"Saya tahu," sahut Tristan sambil menurunkan Kirana.
"Kamu salah telah menggoda saya," ujarnya dengan senyum licik.
Kirana membeku di tempatnya berdiri. Saat Tristan mendekatkan diri dan menatapnya lekat. Kirana pun membalas tatapan yang sama. Tatapan penuh kerinduan.
Hatinya tak mampu menolak, saat Tristan mengungkapkannya dalam sentuhan lembut di wajah lalu berakhir di bibir.
"Aku merindukanmu Kirana."
Kirana menelisk kedua manik mata milik Tristan. Mencoba mencari dusta yang mungkin saja mengiringi ucapan suaminya itu. Adakah dia temukan? Kali ini ucapan itu terdengar begitu tulus. Bahkan Kirana melihat netra yang tengah ditatapnya itu berkaca.
__ADS_1
"Aku juga." jawaban itu begitu lirih menuruti kata hatinya.
Bruk!
Kirana menghempaskan diri mendekap suaminya. Dada telanjang dengan parfum bercampur keringat, telah dirindukannya sejak dua purnama. Aromanya semakin membuat Kirana tak ingin melepaskan pelukannya. Cairan hangat dari kedua sudut matanya pun tidak meleleh.
Kirana tak habis pikir dengan dirinya.setengah mati dia berusaha untuk menjauhi Tristan namun hatinya terlalu sulit untuk diajak bekerja sama.
"Saya mandi dulu, ya. Bau keringat."
Kirana menggeleng. Tristan tertawa pelan lalu menggendong Kirana ke atas ranjang. Membiarkan tubuhnya yang berkeringat dipeluk oleh Kirana. Keinginan ibu hamil terkadang sulit dimengerti. Dia pun membiarkan Kirana memeluknya sampai akhirnya akhirnya dekapan itu melonggar.
"Sudah?"
Kirana mengangguk sebelum melepas Tristan pergi ke kamar mandi. Dia beringsut turun dari ranjang untuk menyiapkan baju ganti suaminya.
Tristan bukan lagi membawa koper kecil seperti saat pertama kali datang. Tapi sebuah koper besar kini tergeletak di samping lemari pakaian.
Kirana membuka koper yang sudah tidak tertutup rapat.banyak pakaian yang dibawa Tristan. Dan juga sebuah laptop miliknya dan beberapa barang pribadinya. Kirana mengabaikan semua itu. Dia mengambil selembar t shirt tanpa kerah dan celana jins dan juga pakaian dalam.
"Celana pendeknya mana?" tanya Tristan saat dia selesai mandi.
"Pakai itu saja."
"Kan cuma di rumah," Tristan kembali meletakkan celana panjang yang diambil Kirana.
"Memangnya kenapa kalau di rumah pakai celana panjang?"
Nada bicara Kirana yang meninggi membuat Tristan menautkan kedua alisnya. Mood sang istri sepertinya mendadak anjlok karena penolakan penolakannya.
Tidak ingin memperpanjang perdebatan, Tristan pun mengenakan celana panjang dan baju yang telah disiapkan oleh Kirana. Kemudian mematut diri di depan cermin sambil bersiul.
"Jalan, yuk!" ajaknya pada Kirana.
"Ke mana?"
"Ke mana saja. Mau test drive motor baru."
Kirana melempar bantal yang dipangkunya lalu bergegas turun dari tempat tidur. Mengganti dasternya dengan celana panjang dan kaos panjang.
"Pakai jaket," ujar Tristan mengingatkan.
Kirana pun mengambil jaketnya dari dalam lemari. Tampak sekali dia begitu girang dengan ajakan Tristan. Tentu saja karena selama ini motor barunya hanya mengandang di garasi. Ibunya selalu melarangnya untuk naik motor dengan susah payah karena tinggi badannya yang tidak seberapa. Tapi jika dengan Tristan, mana mungkin ibunya akan melarang.
__ADS_1