
Pencarian Tristan tidak membuahkan hasil. Satu-satunya tempat yang seharusnya dikunjungi Kirana setiap hari adalah sekolah. Namun menurut penjaga sekolah yang ditemuinya,, Kirana sedang cuti. Entah untuk berapa lama. Karena sudah satu minggu Kirana tidak datang ke sekolah.
Tristan tidak tahu lagi harus mencari istrinya ke mana. Selama ini dia memang tidak pernah mencari tahu tentang Kirana. Di mana tempat tinggalnya dan dari mana asalnya pun Tristan tidak tahu pasti. Yang dia tahu, Kirana merantau di Jakarta.
Mama, dia pasti tahu semua tentang Kirana. Tristan merogoh gawai dalam saku celana pendeknya. Menghubungi mamanya untuk mencari tahu tempat tinggal Kirana. Secarik alamat pun terkirim melalui sebuah pesan singkat yang dikirim mamanya. Tristan memutar balik arah mobil dan melajukan kendaraannya lebih cepat menuju ke rumah kost Kirana. Namun dia harus kembali kecewa karena Kirana pun sudah tidak ada di tempat kost itu. Informasi itu dia dapatkan dari salah satu anak kost yang tinggal di sana.
Tristan harus kembali ke rumah tanpa sedikit informasi pun yang menunjukkan keberadaan Kirana. Kekesalan pada istrinya itu semakin bertumpuk. Mentari tentu akan menagih janji yang belum bisa dia tepati.
"Ya kamu cari tahu lagi kira-kira ke mana perginya istrimu," kata Bu Ratih saat Tristan baru pulang dan bertanya pada ibunya tentang sanak saudara Kirana di kota itu.
Jawaban ibunya membuat Tristan semakin kesal. Dia benar-benar kehilangan jejak.
"Pa, Bunda mana?" tanya Mentari saat Tristan mengecek kondisi putrinya itu.
"Bunda … sedang mengajar," jawab Tristan setelah hampir kesulitan menemukan jawaban.
Alasan itu terdengar masuk akal. Karena Mentari tak lagi bertanya. Dia justru mengatakan jika Tristan harus menjemput Kirana setelah pulang dari sekolah nanti. Dan itu cukup membuat Tristan lega karena Mentari tak lagi menuntut dengan pertanyaan lain.
Tristan kembali memutar otak. Mencari tahu tempat yang meungkinkan fikunjungi oleh Kirana. Meski hasilnya tetap saja nihil. Sehingga dia meminta nomor kontak Kirana yang memang sengaja tidak disimpannya. Meski disertai dengan rentetan omelan, akhirnya Tristan mendapat nomor kontak istrinya.
Meski harus menekan ego sekuat mungkin, nomor kontak Kurana akhirnya terpanggil. Tristan harus menahan kesabaran karena tiga kali panggilan nya diabaikan oleh Kirana.
"Brengsek!" makinya. Tentu saja makian itu ditujukan untuk sikap Kirana. Apakah Kirana benar-benar marah padanya. Tristan yang merasa frustasi meletakkan gawai di meja. Lalu merebahkan diri di sofa setelah lelah seharian mencari Kirana.
Isi kepalanya pun kembali diputar untuk menyiapkan jawaban jika Mentari akan kembali merengek. Untuk mengatasi hal itu, bahkan dia harus kembali mengambil cuti. Dia tidak bisa membagi pikirannya untuk dua hal yang baginya sama penting. Pekerjaan dan Mentari. Keduanya hal paling penting dalam kehidupan Tristan.
__ADS_1
Keesokan harinya, Tristan memutuskan untuk mencari Kirana ke daerah asalnya. Entah di mana itu, Tristan sama sekali asing dengan alamat yang didapatkannya dari buku nikah mereka.
"Kamu yakin akan mencari Kirana ke sana?" tanya Bu Ratih saat melihat anaknya berkemas.
"Tristan nggak tahu lagi mau cari dia ke mana, Ma," balas Tristan sambil memasukkan pakaian ke dalam koper kecilnya.
"Kalau ternyata dia tidak ada di sana, bagaimana kamu akan menjelaskan pada kedua orang tuanya?"
"Itu akan Tristan pikirkan nanti," sahut Pria itu lagi.
Tristan mengangkat kopernya menuruni tangga. Setelah berburu tiket dadakan, dia mendapatkan jadwal penerbangan sore hari. Masih ada beberapa jam lagi untuk menenangkan Mentari yang memaksa ikut mencari Kirana.
"Tapi Papa janji bawa Bunda pulang ke sini, ya."
"Tapi Bunda akan sedih kalau lihat Mentari sakit. Jadi Mentari harus sembuh dulu. Minum obat dan makan yang banyak, ya."
"Hm." Mentari mengangguk.
Berat bagi Tristan harus meninggalkan Mentari dalam kondisi yang sedang sakit. Kendati mamanya sudah meyakinkan akan menjaga Mentari dengan baik.
"Dag, Papa!" Mentari melambaikan tangan saat mengantar Tristan sampai di depan rumah.
"Dag, Sayang. Baik-baik sama Oma, ya!"
Mobil sedan hitam itu pun melaju meninggalkan komplek menuju ke bandara.
__ADS_1
Menempuh perjalanan udara satu jam lebih, Tristan tiba di bandara kota Yogyakarta. Dia masih harus menempuh perjalanan darat untuk sampai ke rumah orang tua Kirana. Menurut hasil penelusurannya, masih butuh waktu 2 jam lagi untuk sampai ke kota tujuannya. Kota kecil yang belum pernah dia kunjungi.
Tristan pun memesan taxi untuk mengantar ke kota tempat tinggal orang tua Kirana di barat wilayah Yogyakarta. Beruntung dia mendapatkan sopir yang sudah menguasai wilayah Jogja dan sekitarnya. Sehingga Tristan tidak butuh map untuk memandu perjalanannya
Dua jam bukanlah waktu yang singkat, namun Tristan enggan memejamkan mata. Meskipun dia sangat lelah karena semalam Mentari rewel dan membuatnya hampir tidak tidur semalaman. Tristan tidak sampai hati membiarkan mamanya yang begadang.
Sepanjang jalan, Tristan tak henti berharap akan menemukan Kirana di sana. Karena jika tidak, habislah riwayatnya. Orang tua Kirana pasti akan kecewa karena Tristan tidak menjaga putri mereka.
"Masih jauh, Pak?" tanya Tristan pada sopir taksi.
"Masih setengah jam lagi kurang lebih."
Tristan tidak tahu wilayah seperti apa yang menjadi tempat tinggal Kirana. Dia telah melewati banyak pemukiman dan juga bentangan persawahan. Namun tujuannya tak kunjung sampai.
Hingga sopir taksi itu kemudian membelokkan kendaraan masuk kei jalan kampung. Mereka melewati perkampungan yang masih begitu asri dengan banyak pepohonan tinggi dan juga persawahan. Perjalanan pun terasa begitu lama.
"Sepertinya kita harus bertanya sama orang sini, Mas. Kalau alamat rumahnya saya tidak tahu," ujar sopir taksi itu.
Ide itu pun diterima Tristan. Tidak mungkin juga sopir itu menghafal nomor rumah di wilayah pedesaan seperti itu. Sang supir pun turun dan bertanya pada seorang pemilik warung. Mereka tampak berbincang sebentar. Dan laki-laki berkemeja biru itu kembali ke mobil dengan mengantongi alamat rumah Kirana yang ternyata tidak jauh lagi.
Tiba di depan sebuah rumah, taksi berhenti. Tristan pun turun meski tidak terlalu yakin jika itu benar rumah Kirana. Sebuah rumah yang cukup besar dan tergolong mewah untuk ukuran di desa.
Tristan berdiri di depan pintu pagar semebtara taksi yang dia tumpangi sudah melaju pergi. Rumah di depannya terlihat sepi. Pintu rumah tertutup rapat sedang pintu pagarnya tidak terkunci. Tristan gugup, hal itu tidak bisa dielakkan. Hingga beberapa lama dia hanya mematung di depan pagar dengan koper di sampingnya.
"Cari siapa, Mas?" Suara di belakang Tristan menyapanya. Tristan pun menoleh. Meski tidak begitu kenal dia masih ingat jika laki-laki dengan sarung dan baju koko di depannya itu adalah orang yang dia jabat tangannya saat mengucapkan ijab qabul satu setengah bulan yang lalu.
__ADS_1