Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
26. Ada apa?


__ADS_3

Kirana tak habis pikir, perasaan apa yang ada dalam hati Tristan untuknya. Lelaki itu pernah berkata, tidak akan memaksa Kirana untuk bertahan, namun nyatanya dia sendiri yang bersikeras untuk mempertahankan pernikahan mereka.


Kirana menyadari jika dirinya memang yang kedua. Dia tidak akan egois memaksa Tristan melupakan Elita. bagaimanapun juga, Elia adalah masa lakunya. Pernah menjadi bagian hidup Tristan dan mereka sangat bahagia pada masanya. Kirana hanya minta sebagian tempat di hati suaminya. Bukan hal yang berlebihan kiranya.


Namun keinginan Kirana seprtinya terlalu sulit untuk diwujudkan oleh Tristan. Mungkin jalan terbaik adalah menjauh dari kehidupan laki-laki itu.


"Kalau sudah yakin, kamu juga harus siap menerima resikonya. Ibu lihat beberapa hari ini kamu justru sering melamun. Apa dia masih mengganggu pikiranmu?"


Kirana menggeleng perlahan. "Nana cuma rindu dengan Mentari."


"Bukannya kamu baru saja menelponnya?"


Kirana kembali mengangguk.


Melakukan panggilan video dengan Mentari sudah menjadi rutinitasnya pagi dan malam menjelang tidur. Kirana bisa melakukannya dengan leluasa karena Mentari tak lagi tinggal bersama Tristan. Tetapi tinggal di rumah omanya.


Semula Mentari masih merengek meminta Kirana untuk pulang. Bahkan marah setiap kali Kirana menelponnya. Anak kecil itu merasa dibohongi. Bukan oleh Kirana, melainkan oleh papanya yang menjanjikan akan membawa pulang Kirana. Namun dia harus kecewa karena Tristan pulang sendirian. Bersama koper yang isinya lebih banyak tertinggal di rumah Kirana.


Mentari akhirnya bisa mengerti. Setelah berkali-kali Kirana membujuknya. Meski mereka memang tidak lagi tinggal bersama, Kirana akan tetap memenuhi janjinya untuk menjadi ibu bagi Mentari.


Mengenai Tristan, Kirana tidak pernah menanyakan kabar tentangnya. Hanya sesekali ibu mertuanya mengabarkan tentang Tristan dan dia dengar sambil lalu. Dua benar-benar ingin menjauh mengasingkan diri dari apa pun tentang Tristan.


Kirana memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Setelah mengirim surat resign dari tempatnya mengajar, kini dia sibuk mengelola bisnisnya. Diselingi dengan mengajar anak-anak mengaji dan anak TK di dekat riumahnya.


Menghabiskan waktu dengan kesibukan seolah menjadi pelampiasan bagi Kirana Otaknya mampu bekerja lebih keras mencetuskan ide-ide baru untuk mengembangkan bisnisnya meski sedang dirundung permasalahan hidup yang cukup pelik. Hanya saja Kirana sering lalai mengasup makanan.


"Ini kotak bekalnya jangan lupa dibawa." Bu Ambar memasukkan kotak makanan ke dalam.tas. Perhatiannya tak pernah berkurang sedikit pun meski Kirana sudah dewasa.


"Jangan lupa dimakan juga."


Rentetan pesan itu hanya dibalas dengan gelengan kepala karena mulut Kirana sedang penuh dengan air minum.


"Nana mau ke Jogja, Bu. Ngapain bawa bekal?"


"Biar kamu nggak jajan sembarangan!"

__ADS_1


Ibunya memang terkadang sulit dipahami. Perhatian yang berlebihan terkadang menjadi konyol. Kirana bisa memilih tempat makan yang luar biasa banyak di Kota Gudeg itu. Tapi demi menghindari omelan yang tidak akan ada habisnya jika terus didebat. Kirana mengambil kotak tas berisi kotak makan yang sudah disiapkan ibunya.


Hari ini dia berencana pergi Ke Jogja dengan Syifa untuk membeli perlengkapan model baju terbarunya yang membutuh sentuhan payet-payet. Kirana ingin memilih sendiri model-model payet untuk memastikan payet yang dipakai berkualitas baik, sesuai dengan standar yang dia inginkan.


Mengendarai mobilnya yang sangat jarang keluar bagasi, Kirana menjemput Syifa. Satu-satunya orang yang akan dipercaya ibunya untuk menemani Kirana. Selain itu perjalanan mereka cukup jauh, ibunya khawatir Kirana lelah di jalan dan tidak ada yang menggantikan menyetir.


Sesampai di pabrik, ternyata Syifa belum datang. Padahal jam di pergelangan tangan Kirana sudah menunjuk angka 9. Syifa pun tidak memberi kabar jika dirinya akan terlambat.


Kirana merogoh gawainya di dalam tas. Kemudian mencari nomor kontak sahabatnya. Bunyi menunggu menunggu panggilan terdengar bersamaan dengan suara deru motor. Kirana membalik badannya.


"Loh? Kok …. bisa dua-duaan?"


Terlihat Syifa melipat wajahnya. Begitu juga laki-laki yang memboncengnya diam tanpa ekspresi mendengar sapaan Kirana.


"Pada kenapa, sih?" Kirana menatap Syifa dan Baraka bergantian.


"Nggak kenapa-napa, Na. Udah, ayo berangkat!" Syifa menarik tangan Kirana untuk segera masuk ke dalam mobil.


Kirana masih merasa heran dengan Syifa dan Baraka. Bertolak argumen memang seringkali terjadi di antara keduanya. Syifa yang kelewat cerdas seringkali menyangkal ide-ide Baraka . Dan Baraka seringkali tidak mau mengalah dengan Syifa.


"Kuat. Udah sering juga kan. Cuma dua jam ini. Memangnya kenapa, Mas?"


Baraka terdiam. Kemudian melirik ke arah Syifa yang duduk di samping Kirana.


Kirana menautkan alisnya melihat interaksi kedua temannya yang tidak biasa.


"Udah lah, Mas. Biar kami pergi berdua. Mas Baraka kan banyak kerjaan," ujar Syifa tanpa menatap orang yang diajaknya bicara.


"Ini maunya Umi. Bukan maunya aku," balas Baraka.


"Ya kan Mas bisa bilang sama Umi. Nggak usah terlalu khawatir. Kami biasa pergi berdua "


"Wait! Wait! Ada apa, nih? Sampai ke Umi juga dibawa-bawa?" sela Kirana.


Kedua orang di samping kanan kiri Kirana kembali diam. Kirana semakin penasaran dengan yang sikap keduanya. Datang berdua dan tetiba berdebat tidak jelas.

__ADS_1


"Ya udah, terserah kamu!" ujar Baraka dengan wajah kesal. Mungkin ini pertama kalinya Kirana mendapati Baraka sejutek itu.


Lelaki itu pun kembali ke motornya. Setelah berpesan agar Kirana berhati-hati dalam menyetir.


Ribuan tanda tanya pun masih berkeliaran dalam benak Kirana. Ada sesuatu yang harus dikorek dari sahabatnya. Syifa tak pernah menutup sesuatu dari Kirana. Namun kali ini, sepertinya dia melewatkan satu hal yang terjadi dengan Syifa.


Kirana menyetir dengan tenang. Membiarkan Syifa yang masih terdiam dengan wajah dilipat. Seolah menunjukkan gejolak hati yang sedang dilanda kegalauan.


"Nggak mau cerita, nih?" pancing Kirana.


Helaan nafas kasar menjadi jawaban dari Syifa. Namun perempuan itu masih enggan membuka mulutnya.


Kirana tak menuntut. Dia memberi waktu bagi sahabatnya yang sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga beberapa lamanya keduanya saling diam. Menikmati jalanan yang tidak terlalu ramai.


"Ibunya Mas Baraka melamar aku, Na." Suara Syifa akhirnya terdengar meski lirih.


Bukan Kirana namanya jika tidak mampu memanage suasana hati dengan baik. Meski terkejut, namun dia tetap terlihat tenang dengan pandangan yang masih fokus pada jalan.


"Terus? Masalahnya di mana?"


Syifa membuang nafas kasar. "Kamu kan tahu hati Mas Baraka untuk siapa. Dia melamarku karena menuruti kemauan ibunya Itu artinya aku kan cuma ……"


"Dijadikan pelarian?" potong Kirana.


"Fa, Mas Baraka itu hanif. Dia pasti akan bisa legowo menerima segala sesuatu yang mungkin sudah digariskan."


Syifa mendecakkan lidah. "Kamu nggak lihat dia tadi gimana sama aku?"


"Lah, emang kalian kan kerjaannya berantem dari jaman masih ingusan." sahut Kirana diiringi tawa. Syifa semakin melipat wajahnya.


Setidaknya Kirana lega jika pada akhirnya Baraka menentukan pilihan. Atau lebih tepatnya dipilihkan.. Terlebih perempuan pilihan ibunya Baraka adalah sahabatnya sendiri. Kirana tidak akan terus dirundung rasa bersalah karena mengecewakan Baraka. Meskipun kedua temannya itu seperti kucing dan tikus, namun Kirana yakin tidak butuh waktu lama untuk saling menerima. Syifa dan Baraka sama-sama religius. Tidak sulit bagi mereka untuk saling menyesuaikan. Karena paham ke mana harus berpegang.


Kirana pun tersenyum miris saat tanpa sadar dia telah membandingkan antara Baraka dan Tristan.


"Jangan meleng, Na!" Himbauan itu menyadarkan Kirana untuk kembali berkonsentrasi pada jalan di depannya. Nyaris saja dia melampaui lampu merah.

__ADS_1


__ADS_2