Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
30. Gara-Gara Motor


__ADS_3

"Permisi, Bu. Apa benar ini rumah Ibu Kirana Dewi?" tanya seorang laki-laki yang mengenakan kemeja seragam sebuah dealer.


"Iya benar. Saya ibunya. Ada apa ya, Mas?"


"Saya Ardi dari dealer, mau mengantar motor pesanan Bu Kirana."


"Motor?" sahut Bu Ambat dengan dahi berkerut.


Wanita itu melihat sebuah mobil pick up yang terparkir di depan pagar rumah. Terlihat seorang laki-laki dengan baju yang sama berdiri di samping mobil.


"Itu motornya?"


"Iya, Bu."


"Tunggu sebentar ya, Mas. Saya panggil anak saya dulu."


Suara Bu Ambar menggema di seluruh sudut ruang tengah. Kirana yang sedang berada di dalam dan mendengar teriakan ibunya pun segera keluar.


Tentu saja yang didapat olehnya adalah ibunya yang menanyakan tentang pesanan motor di depan. Kirana yang sudah menunggu seminggu karena harus inden pun bergegas ke depan rumah untuk menemui pegawai dealer. Dia menandatangani surat serah terima sebelum pegawai dealer itu meninggalkan rumahnya.


Motor sport berwarna biru yang dinantikannya berminggu-minggu karena harus inden akhirnya kini menjadi penghuni baru garasi rumahnya. Tak peduli jika harus menguras tabungannya, Kirana begitu ingin memiliki kendaraan itu semenjak sebulan terakhir.


Sudah bisa ditebak jika reaksi ibunya pasti akan meledak-ledak. Namun Kirana tak peduli. Dia menatap motor barunya seolah mendapat mainan baru


"Astaghfirulllah, buat apa sih kamu beli motor kayak gitu. Di rumah sudah ada dua motor. Kamu itu perempuan. Mau naik motor begini? Buang-buang uang aja. Sekarang bilang sama ibu, berapa harganya?"


Kirana tak kunjung menyahut. Hal itu membuat ibunya semakin geram.


"Ditanya malah cengar-cengir. Berapa, Kirana?"


"Dua …. ratus sekian …." jawab Kirana masih dengan wajah cengengesan.


"Astaghfirullah! Uang segitu bisa buat beli tanah, beli sawah beli emas untuk investasi. Ibu benar-benar nggak ngerti sama kamu sekarang ini. Kamu itu sudah mau jadi ibu, Kirana. Kok malah jadi semaunya begini."

__ADS_1


"Namanya juga pengen, Bu." Kirana membela diri.


"Pingan pingin. Kalau ngidam.itu mbok yang wajar Kirana. Pingin makanan apa, kek. Bukan motor gede begini. Ngabisin duit!"


"Ya, gimana lag, Bu.Maunya ini."


Bu Ambar membuang nafas kasar. "Terserah kamu lah!" ujarnya kemudian masuk ke dalam.rumah.


Kirana pun tidak tahu, kenapa memiliki kendaraan yang kini sedang ditatapnya seolah sebuah keinginan yang hqrus terpenuhi. Begitu menggebu bahkan setiap hari dia melihat gambar motor serupa yang diunduhnya dari internet. Dia seringkali melihat kendaraan yang sama di garasi rumah Tristan hanya berbeda warna.


Kirana menyusul ibunya masuk ke dalam rumah. Masih dengan wajah dilipat, ibunya mengancam akan memberi tahu Tristan tentang kehamilan Kirana dan keinginan-keinginan anehnya. Ancaman paling ampuh untuk membuat Kirana menurut.


"Jangan, dong, Bu!" Kirana harys memasang wajah memelas agar ibunya tak sampai mewujudkan niatnya.


"Kalau begitu sini kuncinya ibu yang simpan. Kamu sedang hamil.jangan membahayakan kandunganmu dengan melakukan hal-hal yang ekstrim."


"Ekstrim di mananya sih,Bu?"


"Ayah tahu nggak harga motor itu berapa? Dua ratus juta!" Bu Ambar mengadu pada suaminya.


"Kata siapa? Lebih kok. Lagi pula kenapa harus diributkan? Nana kan beli pakai uang sendiri," sahut Pak Restu.


"Iih! Ayah kok malah belain Nana,sih?" Bu Ambar menggerutu kesal.


Pak Restu justru mulai berharap-harap jika calon cucunya nanti adalah laki-laki.Kirana pun mengaminkan doa ayahnya


Memiliki anak laki-laki adalah keinginan ayah Kotana yang tidak terpenuhi. Karena kehamilan pertama yang membuat sang istri harus mengalami kepayahan yang luar biasa, maka keinginan itu terpaksa dikubur dalam-dalam.


Saat hamil Kirana, nyaris 8 bulan ibunya lebih banyak terbaring di tempat tidur. Kondisi kandungan yang lemah dan juga kesulitan mengasup makanan selama kehamilannya. Itu kenapa Pak Restu begitu menyayangi Kirana. Yang dilahirkan penuh dengan perjuangan. Dia tidak tega jika istrinya akan mengalami hal yang sama jika kembali mengandung. Kemudian memutuskan untuk menjadikan Kirana anak mereka satu-satunya.


"Yah, antar beli bakso, ya? Pakai motor baru!" ajak Kirana.


Pak Restu yang baru pulang kerja dan masih mengenakan seragam dinas pun menyetujui. Sedangkan Bu Ambar hanya bisa pasrah ketika ayah dan anak sudah berkongsi. Semua keinginan Kirana sejak dulu memang selalu dikabulkan oleh ayahnya. Apalagi hanya mengantar beli bakso.

__ADS_1


Selain Kirana, mungkin bayi dalam kandungan Kiran akan menempati tahta tertinggi keluarga itu selanjutnya. Menggeser posisi ibunya. Semenjak Kirana hamil, ayahnya satu-satunya orang yang selalu menuruti keinginan Kirana. Dengan alasan ngidam. Harus dituruti kalau tidak mau bayinya nanti ileran. Entah siapa yang pertama menggaungkan ungkapan itu.


Kirana menunggu ayahnya berganti pakaian. Celana jins biru, t shirt berkerah warna putih kini membalut pria berusia 55 tahun. Meski sebagian rambutnya sudah mulai memutih, namun tetap terlihat gagah.


Penampilan itu jelas menuai protes dari ibu Kirana.


"Ayah kenapa pakai baju begitu sih? Ganti!" gerutu Bu Ambar.


"Cie …. Ibu takut ada yang kecantol sama Ayah, ya? Tenang, ada yang jagain. Lagian Ayah mau ganti pakai apa aja tetep keren. Gantengnya permanen nggak bisa digugat!" timpal Kirana.


Meski dengan menggerutu, Bu Ambar tetap melepas ayah dan anak itu pergi dengan motor baru Kirana. Batinnya makin menjerit saat Pak Restu mengenakan helm dan masker. Tingkat kerennya makin melonjak berlipat-lipat. Siapa yang akan menyangka jika di balik helm itu sudah tumbuh rambut-rambut putih. Bu Ambar mengerang kesal sambil masuk ke dalam rumah.


Sementara Kirana dan ayahnya telah sampai di warung bakso langganan mereka. Tidak ada kata sepi untuk warung yang sudah melegenda itu kirana memesan dua mangkok bakso lalu mencari tempat duduk yang kosong diikuti oleh ayahnya.


Apa pun demi Kirana. Paka Restu akan menurunkan ke mana ingin pergi. Meski tak pernah menyinggung tentang permasalahan rumah tangga putrinya, namun bukan berarti dia tidak prihatin. Dia salut pada gadis kecil manja yang masih meminta untuk di gendong meski sudah sekolah menengah pertama, namun kini telah menjelma menjadi wanita kuat. Memilih menjalani masa kehamilannya sendiri tanpa didampingi ayah dari calon bayinya. Pada siapa lagi Kirana akan merengek minta ini dan itu selain padanya? Karena ibunya akan lebih banyak melarang dengan alasan kesehatan.


"Yah! Kok malah bengong. Nanti dingin nggak enak loh!"


Pak Restu pun terkesiap. "Ayah sedang mengingat. Tadi sudah absen pulang atau belum," sahut Pak Restu berdusta.


"Wah! Ayah sudah mulai pikun, nih! Jangan pikun dulu, yah. Baru juga mau punya cucu."


Pak Restu menipiskan bibirnya. Kemudian mulai mengaduk isi mangkok sebelum menyantapnya.


"Yah,besok minggu touring ke Dieng, yuk! Naik motor." Ucapan Kirana nyaris membuat Pak Restu tersedak.


"Kamu jangan aneh-aneh, Na. Apa saja Ayah akan turuti asal tidak mengancam keselamatan kandunganmu. Bisa-bisa Ayah yang kena marah ibumu."


Kirana mengerucutkan bibirnya. "Ayah kenapa takut banget sih sama Ibu?"


Pak Resti menggeleng. "Bukan takut. Tapi karena ibumu sudah banyak berkorban untuk Ayah. Rela meninggalkan ibu bapaknya untuk hidup bersama Ayah. Mengurus semua keperluan Ayah setiap hari.. Bangun pagi, masak, mencuci baju Ayah hanya tahu semua tinggal pakai, tinggal makan. Belum lagi dia harus menderita saat berjuang hamil dan melahirkan kamu. Rasanya tidak pantas jika harus mendebat hal-hal yang tidak seharusnya dipermasalahkan. Apalagi sampai berkata kasar pada ibumu. Istri itu kan bukan hanya sebagai pasangan. Tapi juga belahan jiwa Ayah. Makanya Ayah menghargai ibumu seperti Ayah menghargai diri sendiri."


Kirana pun mendengarkan dengan seksama penuturan ayahnya. Andaikan dia memiliki suami yang sifatnya seperti ayahnya. Bayangan Tristan pun tiba-tiba melintas.

__ADS_1


__ADS_2