Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
47. Mendapat Perundungan


__ADS_3

"Mas, tahu nggak tadi aku ditahan cukup lama loh sama resepsiaonist. Ditanya macam-macam. Sampai berkall-kali meykinkan baru bisa dikasih jalan ke ruangan kamu," terang Kirana saat dia mulai jenuh harus duduk diam mememani suaminya.


"Kenapa kamu nggak telepon?"


"Kan mau buat kejutan. Ternyata benar kan ada kejutan."


"Nggak juga.Hanya sedikit kaget tiba-tiba kamu muncul di depan pintu."


"Karena kepergok kamu tengah bersitegang dengan Silvia?"


Tristan melirik Kirana sekilas. Lalu kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya mesko fokusnya telah terpecah belah karena ucapan Kirana baru saja.


"Tadi kenapa mukanya asem keluar dari ruangan ini? Bertengkar sama kamu? Saya dengar kamu berteriak memanggil dia."


Ucapan Kirana terdengar pelan. Tetapi Tristan dibuat senam jantung olehmya. Kirana memang seringkali seperti itu. Membuat kejutan di balik sikapnya yang terlihat biasa saja.


Tristan bahkan dibuat tidak berkutik. Lelaki itu menyembunyikan kepanikannya dengan tetap menatap layar di depannya.


"Jadi nggak mau dijawab, nih?" Sikap tenang Kirana semakin membuat Tristan ciut. Demi apa dia harus punya istri semenakutkan itu. Marahnya pun tetap terlihat tenang.


"Silvia … dia tidak terima dimutasi," jawab Tristan setelah dia merasa benar-benar terintimidasi oleh istrinya.


Kirana pun mengangguk-anggukan kepala dengan bibir membulat.


"Memangnya kesalahan apa yang dia buat sampai harus dimutasi?"


"Dia…."


Kirana mengerutkan dahi sambil memperhatikan Tristan yang menggantung kalimatnya. Sedetik dua detik, bahkan sampai beberapa detik kalimat itu tidak juga dilanjutkan. Hanya wajah yang terlihat gusar dan beberapa kali pria itu membuang wajah saat Kirana tak beralih menatapnya.


"Dia kenapa?" tanya Kirana tanpa meninggikan suaranya.


Tristan meninggalkan meja kerjanya. Kirana selalu saja tidak bisa membuatnya menghindar.


"Janji nggak marah?" Ucapnya sambil menghempaskan diri di samping Kirana

__ADS_1


"Tergantung."


******* kasar terdengar. Disusul dengan rengkuhan tangan Tristan di kedua bahu Kirana. Sepandai apa pun menyembunyikan kesalahan, tidak akan bertahan selamanya. Semua pasti akan terungkap cepat atau lambat.


" Sejak dulu Mama memang tidak begitu suka dengan sikap Silvia. Sebelum saya pulang ke kampungmu, Mama memergoki Silvia menginap di rumah. Dan kejadian itu, membuat Mama marah sehingga memutuskan untuk menghentikan dia dari jabatan sekretaris. Karena menurut Mama, saya terlalu royal membantu Silvia."


Kirana terdiam beberapa saat. Alasan yang diberikan Tristan sama sekali tidak masuk ke dalam akalnya. Dia tahu Mama mertuanya orang yang sangat baik. Jika dia sampai tidak menyukai seseorang, mungkin saja orang itu yang tidak tahu diri. Ya, Silvia memang tidak tahu diri. Menganggap rumah Tristan seperti rumahnya sendiri. Kirana pun tidak menyukai hal itu.


"Saya mau ke pantry, mau buat minuman hangat," ujar Kirana menyimpang jauh dari topik pembicaraan mereka.


"Kamu marah?"


"Untuk apa? Apa pun enjelasan kamu, saya hargai. Terlepas dari apa yang kamu jelaskan itu sebuah kebenaran atau bukan. Itu bukan urusan saya. Sudah, ya. Aku bosan harus berdiam diri di dalam ruangan ini."


"Mau saya antar? Atau minta buatkan minum sama OB?"


Kirana menggeleng. Dia sengaja ingin menghirup udara luar tanpa suaminya. Perkara dia yang masih buta tentang kantor suaminya, dia akan mencari tahu sendiri di mana letak pantry.


Kirana menyusuri lorong demi lorong dengan berjalan santai. Tak peduli tatapan mata penuh tanya beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya. Bahkan ada yang menatapnya curiga. Hal yang wajar terjadi. Karena dia baru pertama kali muncul di kantor suaminya. Wajahnya tentu saja asing bagi para karyawan. Bahkan senyum ramahnya dipandang sebelah mata oleh beberapa karyawan.


Kirana mendengar pintu toilet dibuka. Kemudian terdengar kasak kusuk beberapa orang.


"Tahu nggak? Tadi ada perempuan hamil ngaku istrinya Pak Tristan. Tadinya sih gue nggak percaya kalau itu istrinya bos. Tapi gue nggak tega lihat muka dia yang melas gitu. Mau nggak mau gue kasih akses lah buat ke ruangannya bos."


"Terus?" Seseorang menyahut ucapan orang pertama.


Kirana tertegun saat mendengar seseorang membicarakannya. Dia bertahan di dalam bilik meski telah selesai dengan urusannya di dalam toilet.


"Sumpah demi apa, Pak Tristan seleranya sekarang nggak banget. Udah pendek, bulet. Penampilannya aduhai ….. Gue nggak ngerti Pak Tristan matanya ketutup sama apa. Jauh banget sama Kak Silvia. Tadinya gue udah ngarep banget mereka bakal jadian. Kalau lagi lihat mereka jalan berdua vibes udah kayak King and Queen. Serasi banget nggak sih?" Suara wanita yang pertama terdengar kembali.


"Ya sih, perempuan yang ngaku istrinya bos itu emang agak imut. Ah! Atau jangan-jangan dia simpenannya Bos. Mungkin nggak, sih?" lanjut wanita itu.


Kirana yang berada di dalam bilik toilet pun terbelalak.


"Bisa jadi. Gue jadi penasaran sama cewek yang ngaku istrinya bos." timpal orang kedua.

__ADS_1


Pintu toilet kembali terdengar berderit.


"Eh, Kak Silvia."


"Kalian ngapain ramai-ramai di toilet?" Suara Silvia terdengar seperti menghardik kedua orang yang tengah bergosip di toilet. Meski sudah menjadi staf, rupanya Silvia masih merasa punya kuasa di kantor itu.


"Biasa. Benerin make up. Niatnya biar dilirik bos duda. Eh tahunya udah kawin."


"Tapi beneran nggak sih, Kak Sil? Bos kita udah married?" taya salah seorang dari mereka.


"Iya. Kenapa memangnya?" sahut silvia dengan nada tidak suka.


"Ugh! sayang sekali. Padahal tadinya saya pikir bakal jadian sama Kak Sil. Kecewa deh kita."


"Kalian lihat saja nanti. Siapa yang akan menjadi pemilik bos kota yang sebenarnya."


"Kak Silvia dong. Kita duluan ya, Kak."


Beberapa saat kemudian suasana toilet kembali sunyi. Kirana menarik slot kunci. Membuka pintu perlahan dan tampak Silvia yang sedang membuka pintu toilet untuk keluar. Wanita itu sempat menoleh dan tatapan mereka pun bertemu. Seringai licik terlihat dari bibir Silvia. Kirana tak segan membalasnya dengan hal yang sama. Genderang perang telah ditabuh. Silvia tidak bisa dianggap remeh. Meski demikian, Kirana tidak merasa gentar sedikitpun. Statusnya jelas lebih kuat.


Kirana mencuci tangannya sebelum keluar dari toilet. Kemudian melanjutkan niatnya untuk mencari letak pantry.


Tempat yang dicarinya akhirnya ditemukannya di ujung lorong. Kirana mengambil sebuah cangkir yang ada di dalam lemari bertuliskan Bos. Mungkin stok cangkir yang biasa dipergunakan oleh suaminya. Dia memasukkan satu sachet bubuk coklat yang selalu ada di dalam tasnya. Minuman yang akan mengembalikan moodnya.


Secangkir coklat hangat menemani siangnya untuk merenung sendiri di dalam pantry. Ucapan yang terdengar di toilet tadi seolah berputar kembali. Sayang dia tidak tahu siapa yang merundungnya sedemikian rupa. Namun jika mendengar pembicaraan mereka, bisa jadi salah satu dari mereka adalah resepsoonist yang tadi sempat menahannya.


Di satu sisi Kirana ingin mengadukan perbuatan karyawannya itu kepada suaminya. Atau mungkin kepada ibu mertuanya. Sehingga mereka akan menerima konsekuensi dari ucapannya yang tidak terkontrol. Namun di sisi lain, dia enggan membuat runyam masalah.


Kirana menyeruput coklat hangatnya. Sembari berselancar di dunia maya. Banyak pesan yang belum dibukanya sejak pagi tadi. Kirana memencet tombol keluar dari aplikasi perpesanan itu. Kepalanya mendadak pusing melihat banyaknya pesan yang belum terbaca.


Seseorang menarik sebuah kursi di sampingnya. Kirana enggan menoleh. Dari baunya saja dia sudah tahu siapa orang itu.


"Saya pikir kamu akan tersesat."


"Kamu pikir saya terlalu bodoh sampai bisa tersesat hanya karena berada di tempat baru?" Kirana menyahut dengan ketus sambil meraih gagang cangkir dan membawanya keluar dari pantry. Meninggalkan Tristan yang baru saja duduk di sebelahnya.

__ADS_1


__ADS_2