
2 Hari telah berlalu, Arista, Ellard, Abel, dan Anggun, sudah kembali bersekolah. William sendiri kembali bekerja, membasmi monster dan makhluk lainnya. Sebelum berangkat mengambil misi buruannya, William menyempatkan diri singgah ke bar, tempat ia menyempatkan diri untuk meluapkan kekesalan di dalam hatinya.
William duduk di meja, tempat penyajian.
“Kau tampak murung? Apakah itu karena Vampire kecil itu sudah kembali ke sekolahnya?” tanya Pak kepala botak, tangannya membersihkan gelas baru di cuci dengan serbet.
Glek!
William menenggak arak, lalu menatap Pak kepala botak.
“Hei botak, kau ini ‘kan ahli dalam memikat wanita. Bahkan jika di hitung dalam satu hari kau bisa menghabiskan malammu dengan puluhan wanita, baik itu dari klan manusia, ataupun siluman. Sekarang aku mau bertanya sama kamu. Apa pentingnya mengutarakan isi hati kepada seorang wanita? Bukannya dengan tindakan saja sudah cukup, daripada berbicara,” tanya William meminta pendapat.
Pak kepala botak meletakkan gelasnya di atas meja, “Ha ha ha ha…dasar mutan tua. Sudah berapa lama kau hidup di dunia ini?”
“Tahun ini aku berumur 28 tahun, kalau aku tidak salah hitung. Kenapa?” tanya William kembali.
“Sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri?” tanya Pak kepala botak.
“Belum ada, aku belum pernah menyentuh wanita manapun,” sahut William jujur.
Pak kepala botak mendekatkan wajah tak percayanya, menatap lekat wajah William tampan itu, “Apa kau bercanda? Bukannya banyak siluman, monster, atau wanita gelap lainnya yang terus ada di dekat-mu. Mereka juga memiliki dua gunung kembar yang cukup menarik untuk di mainkan. Apa kau tidak tertarik dengan mereka. Ini gawat…sangat-sangat gawat. Aku tanya, apa kamu sudah pernah berciuman?” tanya Pak kepala botak menyakitkan apakah William lelaki tulen atau memiliki kelainan.
“Tentu saja aku pernah, bibir yang lembut dan sangat halus. Bibir itu juga pernah belum di sentuh oleh pria manapun,” sahut William tiba-tiba teringat dengan ciumannya bersama dengan Arista. Tanpa sadar tangannya memegang bibir bagian bawahnya, pikirannya mulai mengingat kejadian itu.
Blam!
__ADS_1
Di sela lamunan dan pertanyaan Pak kepala botak, ada seorang wanita dengan baju serba kurang bahan hingga menampilkan semua lekukan tubuh datang, menggebrak meja tempat penyajian. William dan Pak tua spontan terkejut, memandang ke arah wanita tengah duduk di sampingnya.
“Hei nona, apa masalah-mu?” tanya Pak kepala botak menatap wanita itu sedang menghidupkan rokoknya, lalu menghembuskan asapnya ke wajah Pak kepala botak.
Wanita itu memutar arah duduknya, kaki terbuka lebar, menampakkan penutup segitiga miliknya. Sebelah tangannya ramah menjamah paha William.
“Tuan William, seorang mutan, pembasmi monster, iblis, dan segala jenis klan lainnya. Perkenalkan namaku adalah Loly, siluman babi yang bekerja di tempat hiburan malam. Aku datang ke sini atas tugas dari Madam. Tuan William pasti tahu siapa Madam yang aku maksud bukan?” Loly memperkenalkan dirinya dengan suara seksi, menggoda. Membuat Pak kepala botak mengeluarkan saliva nya saat melihat 2 gunung kembar itu naik turun mengikuti irama gerak tubuh Loly.
“Katakan pada Madam itu kalau aku tidak tertarik dengan seorang wanita tua, keriput, dan sudah melar seperti Madam,” tolak William sebelum mendengar permintaan Madam.
“Ternyata desas-desus tuan William memiliki sikap dingin dan datar itu memang benar, ya,” Loly mendekatkan dua gunung kembar miliknya ke lengan William, “Madam, ingin meminta tolong untuk membasmi siluman tikus yang terus menghancurkan tempat hiburan Madam. Tuan William tenang saja, Madam akan membayar tuan William dengan harga yang besar. Madam juga akan memberikan beberapa wanita untuk memuaskan tuan William mala mini. Gimana, apa tuan William tertarik?” jelas Loly.
“Berapa bayaran yang akan di berikan Madam jika aku berhasil membasmi siluman tikus itu?” tanya William serius.
“1 muk berlian, dan 1 muk koin emas, plus anak buah Madam yang seksi dan cantik lainnya,” sahut Loly berbisik manja.
“Jangan jual mahal dulu, wanita-wanita milik Madam, adalah seorang wanita….”
Brak!!
William menggebrak meja, mendekatkan wajahnya ke wajah Loly, hingga Loly memundurkan tubuhnya ke belakang.
“Aku sudah punya pilihan wanita yang ingin aku ajak tidur. Jadi berhentilah memaksaku, kalau kau terus memaksa ku seperti ini. Aku akan membiarkan tempat berlendir itu musnah di makan karma,” ucap William dingin.
Loly membenarkan duduknya, tangannya menarik gelas berisi arak milik William, meminumnya, lalu menatap wajah dingin William.
__ADS_1
“Baiklah,” Loly turun, “Kalau gitu ikut aku, aku akan menuntun jalan menuju tempat hiburan Madam,” ajak Loly.
Tangan William merogoh uang dalam saku celananya, meletakkan uang di atas meja untuk minuman arak miliknya.
“Tolong bersihkan saliva yang membasahi meja,” tegur William saat melihat saliva pak tua benar-benar sudah berserakan di atas meja.
William dan Loly pun pergi meninggalkan bar menuju tempat hiburan Madam. Sambil melangkah menuju tempat hiburan Madam, Loly berusaha mengajak William berbicara. Namun, William menjawabnya hanya mengangguk, atau tidak menjawab sama sekali. Hal itu membuat Loly bingung harus mengobrol dan memikat hati William gimana lagi.
30 menit kemudian. Langkah kaki Loly terhenti di depan sebuah tempat hiburan cukup besar, banyak wanita memakai baju serba kekurangan berdiri di depan tempat hiburan, tangannya terlihat melambai, memanggil pejalan pria lewat di sana.
“Miris sekali pekerjaan ini,” gumam William merasa jijik.
“Tuan William, dari luar memang terlihat baik-baik saja, tapi saat kita masuk ke dalam. Tempat hiburan itu sudah di penuhi para sekawanan siluman tikus yang rakus dan tamak. Anda bisa melihatnya, dan sudah pasti Madam sedang bersama dengan mereka, melayani semua permintaan mereka,” Loly mengambil tangan William, menatap William penuh harap, menyambung ucapannya, “Tuan William, aku mohon bebaskan tempat hiburan kami, dan….”
“Berhentilah menyentuh kulitku, memasang muka menjijikkan itu. Karena semua tubuhku adalah milik seseorang yang sangat spesial,” gerutu William kesal, tangannya dengan kasar menurunkan genggaman tangan Loly dari tangannya.
William pun kini melangkah menuju tempat hiburan Madam. Begitu kedua kaki William sampai di dalam tempat hiburan Madam, sepasang mata William sudah di suguhkan pemandangan lawan jenis bergumul bebas, suara-suara erangan saling bertaut memenuhi ruangan sesak dan padat itu.
“Sudah selesai belum?” tanya William menghentikan perbuatan mereka.
“Hei siapa kau?!” tanya seorang pria memiliki ekor, seperti ekor tikus.
“Maaf aku tidak punya waktu untuk memperkenalkan diriku, sekarang aku ingin bertanya. Di antara wanita penuh dengan keringat dan rambut lepek di sini, siapa yang bernama Madam?” tanya William, pandangannya memandang luas ke semua wanita tampak acak-acakan.
Loly berjalan mendekat, tangannya menunjuk ke sudut ruangan, tampak seorang wanita dengan postur tubuh bohai, sedang di gerayangi satu orang lelaki bertubuh besar, dengan bokok memiliki ekor tikus. Sepertinya pria itu adalah ketua dari siluman tikus.
__ADS_1
“Di sana Madam,” tunjuk Loly ke seorang pria sedang jongkok, menyesap sesuatu.