
Arista dan William masuk ke dalam rumah dengan wajah gugup, kedua pipi mereka merah seperti orang memakai blush-on tebal.
Tanpa William, dan Arsita sadari wanita berpura-pura sebagai pelayan sedang berdiri, memperhatikan kedatangan mereka dari kejauhan.
“Apa mereka sedang jatuh cinta. Tidak bisa di biarkan! ” gumam wanita tersebut tidak senang melihat William dan Arista senang.
.
.
William berdiri di depan cermin besar berada di dalam kamarnya. Kedua tangan perlahan membuka kancing baju kemeja. Setelah semua kancing baju terlepas dari lubangnya. William mendekatkan wajahnya ke cermin, jari jempol membelai lembut bibir bawahnya, “Sangat lembut. Tu...tunggu, apa yang aku lakukan. Apa aku beneran suka dengan Vampire kecil yang aku besarkan sendiri?” tanya William pada pantulan dirinya di depan cermin.
Baru saja asik membayangkan hal dewasa dengan Arista. Terdengar dari depan pintu kamar teriakan wanita menjadi pelayan rumah William.
“Tuan. Tuan. Nona muda,” teriak wanita tersebut di depan pintu kamar William.
William segera mengambil piyama nya, kepanikan menyelimuti hatinya saat mendengar teriakan memanggil nama 'nona muda'.
“Ada apa?!” bentak William, ia sudah keluar dari dalam kamar.
William berdiri di depan pintu kamarnya, kedua kakinya memutar arah, saat melihat wanita tersebut berdiri dengan wajah panik, dan pucat di depan pintu kamar Arista terbuka lebar.
“Vampire. No..na muda jadi Vam..pire!” teriak wanita tersebut gugup, mengarahkan jari telunjuknya ke dalam kamar Arista.
“Kenapa bisa. Apa yang kamu lakukan?” tuduh William. Kedua kakinya berlari cepat mendekati kamar Arsita tak jauh dari kamar miliknya.
“ Ta...tadi nona muda ingin meminta minuman segar, ja..jadi saya pikir minuman yang berada di botol kecil itu minuman jus atau sirup. Ternyata saya salah, minuman itu ternyata darah segar tuan," jelas wanita tersebut berbohong. Wanita itu sengaja berbohong untuk menutupi rencana baru saja di mulainya.
“Wanita…bodoh!” maki William.
Setelah puas memakai, William melangkah masuk ke dalam kamar. Langkah kaki William terhenti melihat Arista berubah menjadi Vampire. Tidak ingin membiarkan Arista kabur, William mengunci pintu kamar.
“Untung saja hanya menjadi Vampire biasa,” gumam William. William mendekati Arista sedang berdiri di atas ranjang. Dan berhenti di samping ranjang, “Dinda Arista. Apa kamu mendengar suara ku?” tanya William.
__ADS_1
Tangan William ingin meraih tangan Arista. Namun, Arsita malah melompat seperti katak, ke bahu kekar William. Kuku jari hitam, dan panjang siap menggaruk wajah William.
"Arista, sadarlah!" bujuk William lembut, kedua tangannya menahan kedua pergelangan tangan Arsita agar tidak bisa bergerak dan mencakar William.
“Arrghh..” terdengar suara Arista hendak memangsa.
"Arista, maaf kan aku!"
Secepat kilat William membaringkan tubuh Arista di atas ranjang, menindih tubuh Arista, kedua tangannya memegang pergelangan tangan Arista sangat kuat. William pun kembali memanggil nama Arista untuk menyadarkannya, “Arista sadarlah!"
“Arrghh..” Arista tidak sadarkan diri juga, tubuhnya malah menggeliat sangat hebat.
Karena kondisi fisik William masih belum pulih sepenuhnya, William jadi tidak mampu menahan kekuatan Arsita.
Bug!!
Sekali dorongan dari Arsita, tubuh William langsung jatuh ke lantai. Bingung harus berbuat gimana lagi, kedua mata Wiliam tiba-tiba tertuju ke sebuah gunting kecil tergeletak di atas meja rias. William segera berlari mengambil gunting kecil tersebut, memberi goresan sedikit di pergelangan tangan kiri William. Melihat darah segar keluar dari pergelangan tanga William, Arista terbang ke Arahnya.
William membelai lembut puncak kepala Arista terlihat panjang berantakan, “Arista. Sadarlah, ini aku, Paman kamu. Baru beberapa hari yang lalu aku mendengar dari bibir kamu sendiri bahwa kamu tidak lagi menikmati hal ini. Tapi kenapa kamu sangat menikmatinya hal ini dari milikku?” tanya William pelan, ingin menyadarkan Arista. William juga berharap, Arista dalam wujud gadis remaja cantik sedang bersembunyi di balik tubuh Vampire ini bisa mendengarkan keluhannya.
Arista mendongakkan wajahnya menatap wajah William terlihat pucat, dan bibir meringis, menahan perih. Kedua mata merah bulat sempurna perlahan meredup, berubah kembali normal saat melihat wajah William pucat seperti kertas, dan wajah di penuhi keringat halus.
“Paman," Arista separuh sadar menggeser bokongnya kebelakang. Kedua mata merah mulai redup mantap jari-jemari berhias kuku hitam panjang, “Haa!” tangan menghapus sudut bawah bibir terasa hangat, “Darah," ucap Arista melihat darah segar di bagian sudut di kedua tangannya.
William menarik tangan kanan Arista masih berperan setengah manusia setengah Vampire. William memeluk erat tubuh kaku dan dingin Arista, “Apa kamu sudah mulai sadar?" tanya William mulai melemah
“Paman. Maafkan aku!” teriak Arista menangis di dalam pelukan William. Kedua mata merah, kuku panjang, wajah pucat perlahan kembali normal.
William membelai lembut rambut bagian belakang Arista, “Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah kembali seperti semu..."
Brug!
William menjatuhkan tubuhnya di tubuh mungil Arista, “Jangan biarkan wanita itu masuk, meski ia mengetuk berulang kali. Aku ingin tidur di kamar kamu,” ucap William semakin lemah, kedua kelopak mata terpejam.
__ADS_1
Arista menggoyangkan pelan tubuh William, “Paman...Paman!” Arsita menundukkan wajahnya menatap William menjatuhkan kepalanya di atas pangkuannya, “Paman, maafkan aku sudah meminum banyak darah kamu di saat tubuh Paman masih sangat lemah."
Arista berusaha mengangkat tubuh William, namun tubuh mungil itu tidak sanggup menahan beban terlalu berat dari tubuh mungilnya. Tapi Arista tidak putus asa, ia meletakkan kedua tangannya di ketiak William dan menyeret pelan tubuh William sampai di bawah ranjang. Sejenak Arista menarik nafas panjang, lalu ia berusaha memindahkan tubuh William ke atas ranjang.
“Hu..hu....akhirnya. Paman, kamu sangat berat. Tubuhnya seperti gajah mati," gerutu Arista.
Arista duduk di tepian ranjang, kedua mata genit menatap wajah William sedang tertidur pulas. Arista mendekatkan pandangannya, “Tidak salah jika semua wanita tergila-gila pada Paman,” gumam Arista terkesima melihat ketampanan William.
William masih memejamkan kedua matanya, menarik tubuh Arista hingga jatuh di dada kekarnya.
“Auw!”
Arista terjatuh melirik dengan sangat dekat ke wajah tampan William menempel di pipinya. Kedua pipi Arista jadi memerah, jantungnya berdegup kencang saat merasakan hembusan nafas hangat dari hidung William.
'Gawat! aku bisa mati tak berkutik dalam pelukan Paman,' batin Arista.
William tiba-tiba memiringkan tubuh Arista dan tubuhnya, membuat Arista berada di depan William. Melihat Arista diam saja, William memeluknya dari belakang.
Arista membulatkan kedua bola matanya, “Paman," gumam Arista.
Bukannya melepaskan pelukannya, William semakin mengeratkan pelukannya, membuat miliknya menempel di bokong Arista, “Jika kamu terus berbicara, aku tidak akan bisa memulihkan tubuhku sampai besok pagi. Aku minta kamu diam, jadilah penawar untukku,” perintah William dalam kondisi memejamkan kedua matanya.
“Paman. Ada yang menempel di bokongku, itu apa ya?” tanya Arista polos. Kedua matanya terus membesar, ia berusaha menjauhkan bokongnya dari benda menempel di bokongnya, membuat risih namun William semakin mendekatkannya kembali dengan bibirnya tersenyum jahil.
“Jika kamu sudah masuk umur 20 tahun pasti kamu akan tahu itu benda apa. Sudah. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan kamu lagi,” sahut William singkat, ia mengapit kedua kaki Arista membuat Arista semakin tidak berkutik.
Deg! Deg!
Jantung Arista terus berdetak kencang, kedua mata tidak bisa terpejam saat memikirkan benda lembek apa itu cukup membuat dia tidak nyaman.
'Benda apa yang di bawa oleh Paman. Dan kenapa benda itu tepat di bagian bokongku, kenapa benda itu tidak bergerak sama sekali. Bagaimana? Bagaimana aku bisa tidur dengan benar,' batin Arista.
...Bersambung........
__ADS_1