Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Bab 86. Jatuh ke tempat yang salah


__ADS_3

4 hari sudah berlalu dari Abel, dan Anggun mengambil air mata bidadari. Kedua paha William juga terlihat sembuh, begitu juga dengan Ellard.


Anggun, Abel, Esme, dan Ellard sedang berdiri di tengah lapangan khusus berlatih pedang milik William. Di depan mereka sudah terdapat portal besar berwarna hitam.


“Apa kalian semua sudah siap?” tanya Esme, menatap secara bergantian wajah William, Anggun, Ellard, dan Abel, terlihat begitu serius.


“Tentu saja, bukannya besok malam Arista berulang tahun. Begitu bertemu dengan Arista, aku akan menyatakan cinta padanya,” sahut Ellard serius. Pernyataan Ellard membuat wajah Abel, dan William menggelap, karena cemburu.


“Oh..kalau gitu, mari genggam tanganku!” perintah Esme, kedua tangannya ia ulurkan ke sisi kanan dan kiri. Tempat Abel, Anggun, dan Ellard, berdiri.


Plak!


“Ngapain kami berpengan tangan dengan-mu!” tolak Ellard menepis tangan Esme.


Ellard memang tidak ada takut-takutnya. Esme itu adalah Guru kamu di sekolah alam lain, kenapa malah tidak memiliki sopan santun?


“Kenapa kalian terus berdebat. Sudah cepat masuk!” ajak Anggun, kedua kakinya berjalan terlebih dahulu, masuk ke dalam portal, diikuti Abel, William, lalu menyusul Ellard, dan Esme.


Sesampainya di dalam portal dengan tubuh melayang dan meluncur begitu saja. Namun, ada hal berbeda di dinding portal. Banyak gambaran seperti mengenai tentang keseharian Esme. Keseharian wanita dewasa, dan pria dewasa.


“Aaaa….portal apaan ini?! kenapa banyak sekali hal-hal aneh di setiap dindingnya!” teriak Ellard, melihat dinding portal di penuhi dengan gambaran tentang kegiatan Esme.


“He he he…namanya portal itu menyatu dengan pikiranku. Sudah nikmati saja, lagian kalian melihatnya juga tidak bakalan rugi!” sahut Esme sedikit berteriak, tanpa rasa malu.


“Aaaaa…mataku sudah bolak-balik ternodai!” teriak Anggun, kedua tangan menutup matanya.


Tak berapa lama, Anggun, Abel, Ellard, William, dan Esme sudah memasuki ujung portal. Dimana cahaya terlihat sangat terang hingga hampir membutakan mata. Sampailah tubuh mereka di ujung portal, dan jatuh ke sebuah genangan lumpur di tengah hutan. Genangan lumpur tersebut ternyata adalah lumpur hidup.


Blum! blum! blum! blum


Anggun, Ellard, Abel, dan Esme, terjatuh di atas genangan lumpur hidup. Sedangkan William sendiri tersangkut di ranting pohon besar, dan tinggi.


“Eh, mutan! Kenapa kamu enak sekali, menggantung di atas sana?!” teriak Ellard menatap William masih tersangkut, dan berusaha untuk melepaskan jubahnya dari ranting.


“Diamlah, aku mendingan jatuh ke lubangan lumpur hidup itu daripada aku harus tersangkut di sini,” ketus William, sembari membuka merobek jubahnya agar bisa terlepas.

__ADS_1


“Sayang…William, tolong bantu lepaskan kami dari sini!” teriak Esme dengan suara seksinya, tubuhnya perlahan masuk ke dalam genangan lumpur hidup.


“Baiklah, aku akan menarik akar ranting pohon beringin ini, lalu aku membantu kalian keluar dari sana!” sahut William, pandangannya mengarah pada pohon beringin ada 5 langkah di sisi kirinya.


Krak!krak


Hanya dalam sekali tarikan, William menarik akar pohon beringin paling besar, dan panjang. Detik selanjutnya William berjalan ke genangan lumpur hidup, tangannya dengan lihat mengayun akar pohon beringin, dan menjatuhkannya ketengah-tengah kubangan lumpur hidup.


“Cepat tarik kami, Willi…brum…brum!” teriak Esme terpotong saat mulutnya sudah masuk ke dalam genangan lumpur hidup.


“Baiklah, aku sudah menarik kalian dengan sekuat tenaga ku. setelah ini kalian ingin memberikan aku apa? Karena tidak ada pekerjaan yang aku lakukan dengan secara gratis!” jelas William sembari kedua tangannya terus menarik ranting pohon beringin, dimana Ellard, Anggun, Abel, dan Esme sudah memegangnya.


“Kamu tenang saja sayang, aku akan menyerahkan tubuhku untuk kamu!” sahut Esme, tubuhnya sebagian sudah keluar dari genangan lumpur hidup.


“Sampai mati pun aku tidak akan pernah tidur dengan wanita manapun kecuali, sama wanita yang spesial,” sahut William dingin.


Kedua tangan William terus menarik, sampai Ellard, Abel, Anggun, dan Esme, sudah keluar dari genangan lumpur hidup, dan kini sudah duduk di pinggiran genangan lumpur hidup.


“Bu, apa ibu belum pandai meletakkan akhir portal yang benar? Aku sudah 2 kali terkena sial saat memasuki portal milik Ibu. Pertama aku ketimpa tubuh Abel, dan kedua, aku terjatuh dalam lumpur hidup. Aku jadi teringat ternak babi yang ada di kampungku. Babi-babi itu kalau di keluarkan dari kandangnya pasti mereka menyebur ke kubangan lumpur, seperti yang aku rasakan saat ini,” gerutu Anggun kesal.


“Masih lumayan kamu jatuh di genangan lumpur hidup seperti ini. Daripada kamu jatuh di kubangan mulut kuda Nil,” sambung Ellard.


Dengan langkah berat karena seluruh tubuh di penuhi lumpur, Anggun, Esme, Abel, dan Ellard, berjalan menuju sungai tak jauh dari genangan lumpur hidup.


Byur!! Byur!!


Anggun, Esme, Ellard, dan Abel, menyeburkan tubuhnya ke dalam sungai dengan aliran jernih tersebut. Mereka juga dengan cepat menggosok seluruh tubuh, sampai rambut dengan mencabut ilalang, dan menggosokkan ke rambut mereka.


Baru 20 menit berada di dalam kubangan air sungai lebar dan cukup luas. Muncullah tubuh buaya dengan ukuran jumbo. William masih berdiri di tepian sungai langsung melambaikan kedua tangannya, dan berteriak.


“Lari….kalian semua harus lari dari dalam sungai!” teriak William.


“Kenapa? Kenapa kami harus lari?!” teriak Esme.


“Lihat…” tunjuk William belakang Anggun, Abel, Esme, dan Ellard.

__ADS_1


“Apaan sih, lelaki tu…” umpatan Ellard terhenti saat ia menolehkan pandangannya ke belakang. Terlihat dari jauh sekumpulan buaya besar sedang berjalan santai ke arah mereka. sontak saja hal itu membuat Ellard ketakutan setengah mati, ia langsung berdiri, dan berlari keluar dari dalam air.


“Bu..buaya…” teriak Anggun, saat ia ikutan menyadari jika buaya sudah berada dekat dengan mereka.


Karena Anggun, Ellard, Abel, dan Esme, berlari dari dalam sungai, buaya-buaya tersebut ikutan berenang dengan cepat, membuat air tadi menjadi keruh.


“Cepat, lari, dan naik ke atas pepohonan!” teriak William, sembari berlari.


Abel, Anggun, Ellard, William, dan Esme terus berlari dengan rambut basih di peuhi rumput ilalang, mereka terus berlari tunggang-langgang melewati genangan lumpur hidup itu, dan naik ke atas pepohonan tinggi tersebut.


Sangking paniknya, Abel, Anggun, Ellard, William, dan Esme, memanjatkan ke atas pohon seperti monyet. Mereka berlima juga mendadak melupakan kekuatan super mereka. Dan kini mereka sudah berada di atas puncak pohon tinggi, memeluk pohon dengan sangat erat agar tidak terjatuh.


“Hei buaya jelek! Coba tangkap kami,” teriak Ellard menantang.


“Mau mati?” tanya William dingin, pandangannya mengarah ke Ellard sedang memeluk pohon di sisi kirinya.


“Enak aja. Aku belum menikah dengan Arista. Kalau mau mati, kau aja yang mati. Cepat turun ke bawah, dan masuk ke dalam mulut buaya yang sudah terbuka lebar itu!” sahut Ellard.


“Ck, menikah katanya. Jangan mimpi aku akan memberi restu Arista untuk menikah dengan kamu,” sahut William mengejek.


“Kenapa kalian berdua berantem sih? Dan teringatnya kenapa kita semua jadi bertengger di atas pohon?” setelah berkata seperti itu, Esme melompat, dan duduk di atas tubuh buaya, sembari mengambil dua buah pisau dari baju bagian belakangnya, dan terdengar suara.


Jlub!!! Sraakkk!!!


Darah pun muncrat kemana-kemana.


“Ada benar nya juga ibu,” sahut Anggun, ia juga ikut turun, dan duduk di atas tubuh buaya.


Krakk!!! Ceprat!


Hanya sekali lilitan kuat, tubuh buaya melebur seperti daging cincang.


Pertarungan William, Anggun, Abel, Ellard, dan Esme dengan para buaya raksasa masih terus berlanjut, sampai 2 jam lamanya. Sampai pada akhirnya tubuh mereka terbaring, dengan nafas memburu di tepian sungai, dengan daging cincang buaya.


"Kenapa perutku mendadak lapar?" gumam Anggun, di dengar oleh Esme.

__ADS_1


"Kalau gitu mari kita panggang daging buaya ini!" seru Esme semangat.


Esme, Anggun, William, Abel, dan Ellard, bergerak, menari kayu bakar untuk memanggang daging buaya hasil pertempuran mereka.


__ADS_2