Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Kedipan mata Abel.


__ADS_3

Part 53


_______


...Kembali ke Arista...


...💃🏻💃🏻...


Arista meletakkan wajahnya di atas meja kelas miliknya. Wajahnya menatap cahaya yang masuk menebus melalui kaca jendela kelas. Tatapan matanya seperti kosong sedang memikirkan sesuatu.


Kenapa latihan ini terasa berat, dan kenapa aku tidak bisa mengucapkan mantra yang di ucapkan oleh Esme.


Jika pun bisa, aku hanya bisa membuat secuil portal yang tidak berguna.


Gumam Arista di dalam hati mengingat latihan pertamanya bersama Esme.


“Arista.” Terdengar suara Abel memanggil Arista.


Arista kembali duduk dengan benar, ia menolehkan wajah letih di hadapan Abel. “Ada apa?”


Abel tersenyum, tangan kanannya di letakkan di belakang rambutnya sambil menggaruk sedikit. Sedangkan tangan kiri di letakkan di dalam saku celana sekolah miliknya.


“Aku perhatikan kamu terlihat tidak bersemangat. Apa kamu sakit?”


Arista menekuk kedua alisnya menjadi satu, “Bukan urusan kamu.” sahut Arista lemah, menjatuhkan wajahnya kembali dia atas meja kelas miliknya.


“Kalau begitu jadilah kekasihku agar semua urusan dan masalah yang kamu hadapin ikut menjadi tanggung jawabku juga.” Ucap Abel yang tidak tanggung-tanggung.


Arista duduk tegak, menatap tajam wajah Abel. Alis kanan Arista menaik dengan sudut bibir sebelah kiri yang ikut menaik. “Hem.” Arista berdiri mendekatkan wajahnya menatap wajah Abel yang terus tersenyum manis menatap dirinya. “Buaya seperti kamu sudah banyak menyatakan cinta secepat sambaran petir di hadapanku. Dan kamu bukan salah satu kriteria pasangan hidupku.”


“Jika kamu ingin menjadi kekasih Arista, sebaiknya kita bersaing secara sehat atau sebaiknya kita bertaruh satu lawan satu. Siapa yang menang bisa mencuri hati Arista dan siapa yang kalah harus berhenti mengejar dan mendekati Arista.” Ucap Ellard yang sedang duduk di bangku kelas sejajar dengan bangku dan meja Arista.


Arista menatap tajam wajah Abel, kemudian beralih pandang menatap Ellard. Bibir Arista bergetar, wajahnya memerah seperti menahan amarah yang berusaha ia tahan namun tidak bisa tertahankan lagi hingga ujung kepalanya mengeluarkan asap.


“Bajingan. Kalian pikir aku barang, kalian pikir aku tempat latihan judi yang menang bisa mendapatkan aku.”


Arsita mengepal tangan kanannya dengan sangat kuat, menatap satu persatu wajah Abel dan Ellard. “Kalian tahu ini apa?” menunjuk kepalan tinjunya.


Ellard dan Abel mengangguk sambil melempar senyuman manis.


“Apa kalian ingin merasakannya sekarang juga?” sentak Arista yang menahan amarah.


Ellard dan Abel menggeleng secara serentak dengan bibir yang terus tersenyum menatap wajah Arista yang memerah.


Abel mengulurkan tangannya memegang kepalan tinju yang di buat Arista. “Maaf. Jika aku salah menjadikan kamu sebagai taruhan, aku akan memperjuangkan cintaku sampai kamu berkata tidak. Meski kamu berkata tidak, aku akan tetap menjadi kekasih hati kamu sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan kamu.” ucap Abel penuh dengan cinta.

__ADS_1


Arista tertegun mendengar ucapan Abel, wajah yang tadi memerah seperti sedang menahan amarah kini meredam dan kembali menjadi gadis Vampir yang cantik.


Ellard yang sedang duduk di belakang Arista, hanya diam mengepal tangan kanannya yang bersembunyi di bawah meja.


Berani sekali dia terang-terangan seperti itu di hadapanku.


Aku tidak boleh kalah dengan anak baru ini.


Batin Ellard menatap tajam wajah Abel yang tersenyum manis memandang Arista.


Diana yang duduk di jejeran meja dan bangku sebelah Ellard, hanya diam menatap tajam wajah Arista. Tatapan yang di pancarkan Diana seperti tatapan kebencian dan tatapan penuh maksud terpendam yang pada akhirnya akan diluapkan suatu hari nanti.


Tersenyumlah saat kamu sedang diperbutkan, hingga suatu saat aku akan merebut senyum kamu dari wajah kamu yang sok polos dan memusnahkannya berkeping-keping menjadi debu yang akan tebar di udara.


Gumam Diana di dalam hati seperti sudah mempersiapkan sebuah rencana besar.


Abel berbalik badan, menolehkan wajahnya menatap wajah Arista sedikit sambil bermain mata.


Kedipan mata Abel seperti menusuk langsung hati Arista. Arista memalingkan wajahnya yang memerah, detak jantungnya seperti tidak beraturan. Ia kembali duduk dengan kepala yang tertunduk malu.


Kedipan apa itu?


Dan kenapa jantung ini berdegup kencang, jangan bilang aku telah jatuh hati pada kedipan mata buaya darat seperti mereka.


.


.


.


.


...2 jam kemudian....


...❓...


Kring!


Kring!


Terdengar suara bunyi lonceng yang menandakan jam pelajaran telah usai. Seperti biasa, semua anak murid bergegas memasuki buku dan peralatan sekolah lainnya kedalam tas sekolah mereka.


“Arista. Kau tidak lupa kan?” panggil Esme yang sedang berdiri di depan pintu kelas.


“Dia lagi.” Gumam Arista pelan, dengan wajah yang lesu Arista berjalan ke arah pintu kelas.

__ADS_1


Ada dua tangan pria yang meraih dan memegang tangan Arista. “Kamu mau kemana?” ucap kedua pria tersebut secara serentak, suara pria itu adalah suara Abel dan Ellard.


Esme dan Arista tertegun menatap perilaku yang di lakukan Abel dan Ellard.


Esme menatap wajah Arista, kemudian menatap wajah Abel dan Ellard yang kala itu saling bertatapan satu sama lain seperti hendak saling menghabisi satu sama lain.


Esme mengulurkan tangannya mencoba melepaskan tangan Ellard dan Abel yang menggenggam tangan Arista. “Tidak sopan jika seorang pria memegang tangan gadis seperti ini. Apa kalian tidak tahu, jika ingin memikat hati seorang gadis harus bisa mengikat hati orang yang lebih tua terlebih dahulu. Apa kalian paham.”


Abel dan Ellard melepaskan tangan mereka, menatap serius wajah Esme.


“Memikat hati Paman Arista, yaitu tuan William.” sambung Esme kembali dengan wajah yang memerah saat menyebutkan nama William.


Arista menolehkan wajahnya menatap wajah Esme yang sedang berdiri di sampingnya. “Apa kamu sudah tidak waras.” Ucap pelan Arista.


Esme mendekatkan bibirnya di telinga Arista. “Tentu saja aku sudah tidak waras, dan kamu tidak boleh macam-macam di sini. Jika kamu tidak fokus dalam latihan maka kamu akan menyesal seumur hidup kamu.”


“Maksud kamu apa? Dan kenapa kamu selalu berkata dengan penuh tanda tanya Esme.” Tanya Arista dengan dahi yang mengerut seperti sedang memikirkan apa yang sedang Esme katakan.


Esme menarik tangan Arista, “Jika kamu sudah tumbuh dewasa pasti kamu akan mengetahuinya.”


Arista dan Esme melangkahkan kedua kaki mereka meninggalkan Ellard dan Abel yang masih saling menetap tajam. Setelah Esme dan Arsita pergi, suasana menjadi hening. Ellard dan Abel menyadari keheningan yang terjadi membuat mereka membuang nafas panjang.


Ellard melangkahkan kaki kanannya keluar dari ruang kelas. “Sebaiknya kita berjuang secara sehat, dan aku tidak ingin membuat masalah lagi supaya tuan William bisa merestui hubungan aku dan Arista.”


Abel berlari mendekati Ellard, langkah kaki Abel selaras dengan langkah kaki Ellard. Abel menolehkan wajahnya ke samping menatap wajah Ellard yang menatap lurus ke depan.


“Siapa tuan William?”


“Suatu saat kamu akan tahu siapa tuan William, dan kamu jangan sok akrab denganku.” Jawab Ellard sambil mengambil langkah besar meninggalkan Abel.


Abel menghentikan langkah kakinya, menatap kepergian Ellard yang sudah jauh berjalan di depannya. Sudut bibir atas Abel menaik. “Tuan William.” gumamnya pelan.


...Bersambung.........


...Terimakasih atas dukungan kalian. 🤗🤗...


...Sehat selalu dan di lancarkan rezekinya buat kita semua. 😘😘...


...Untuk sementara sampai Arista lulus, ceritanya akan seperti ini. 🤗...


...2 Bab untuk kisah tuan William....


...2 Bab untuk kisah Dinda Arsita....


...Semoga kalian terhibur. 💃🏻💃🏻...

__ADS_1


__ADS_2