
Part 45
_____
Arista terus berjalan menuju mes khusus wanita dengan wajah yang tertunduk. Langkah kakinya harus terhenti dengan dahi yang menyenggol kedua gunung yang tak terlampaui.
“Aduh!” keluh Arista dengan tangan kanan yang memegang dahinya.
“Auuww! Sundulan yang sangat tepat.” Ucap seorang wanita yang terlihat dari nada manja dan genit seperti suara Esme.
Arista mendongakkan wajahnya menatap wajah Esme. “Kamu seperti hantu saja.” Ketus Arista melangkah besar seperti hendak pergi dari hadapan Esme.
Esme menahan kerah baju Arista, “Vampir manis, kamu mau kemana? Tidak sopan jika harus meninggalkan wanita cantik dan seksi sendirian di sini.”
Arista menepis tangan Esme, menatap datar wajah Esme. “Siapa suruh kamu datang menemui aku.” Arista menghela nafas pendek, “Ada apa?”
Esme memegang dagu Arista, “Aku mengundang kamu datang ke rumahku, jadi temui aku sekitar jam 3 sore. Aku menunggumu.” Esme melepaskan tangannya yang memegang dagu Arista.
Arista menatap wajah Esme, “Aku tidak bisa.” Sahutnya singkat.
Esme memegang tangan Arista, “Kenapa?”
“Bagaimana aku bisa ke rumah kamu, sedangkan kamu tidak memberiku Alamat rumah yang kau tempati.” Sahut Arista singkat.
Esme menepuk pelan dahinya, “Aku lupa. Kalau begitu mari ikut aku sekarang, biar aku tunjukan jalan menuju rumahku.” Ajak Esme sambil mengambil tangan Arista dan menggandeng tangan Arista membawanya pergi meninggalkan mes khusus wanita.
Sesampainya di depan gerbang sekolah langkah kaki Esme dan Arista terhenti. Esme berdiri menghadap Arista, “Kita tidak mungkin berjalan menuju rumahku, sebaiknya aku akan membuat portal yang langsung menuju rumahku.”
Esme mengulurkan tangan kananya, dengan bibir yang berbicara seperti mengucap mantra, “Porta sancta apparent.” Esme terus mengulang perkataan itu sebanyak tiga kali, membuat cahaya biru yang terpancar dari bawah tanah. Cahaya khas seperti portal yang sedang terbuka lebar.
Arista membulatkan kedua bola matanya seperti tidak percaya jika Esme bisa membuka portal hanya dengan mengucapkan mantra sebanyak tiga kali. “Esme kamu.”
Esme menarik cepat tangan Arista, "Sudah jangan banyak bertanya.” Esme menarik tangan Arista dan membawanya pergi masuk ke dalam portal yang telah di buat oleh Esme.
...5 menit kemudian....
__ADS_1
...💫💫...
“AAAA!”
Terdengar suara teriakan dua orang wanita dari atas langit. Dan benar saja suara itu adalah suara Arista dan suara Esme yang mengambang di udara.
Bug!
Bug!
Arista dan Esme terjatuh mendaratkan bokong mereka di atas rumput hijau yang membentang luas.
“Auuw! Sakitnya.” Keluh Arista dengan tangan yang memegang bokongnya.
“AAakh! Seharusnya aku buat lelaki tampan yang gagah dan tangguh menangkap tubuh kita.” Keluh Esme dengan kedua tangan yang mengelus bokongnya yang menonjol.
Arista berdiri, tangan kanannya mengulur panjang seperti ingin memberi bantuan kepada Esme. “Berhenti berpikiran kotor.” Ketus Arista.
Esme menerima uluran tangan Arista, “Ketika kamu sudah menjadi dewasa kamu akan tahu bagaimana rasanya, saat hormon Dopamin meningkat akan sulit untuk di kendalikan. Sudah-sudah suatu saat kamu pasti akan merasakannya.” Sahut Esme dengan suara manja.
...Sedikit informasi tentang Hormon Dopamin milik wanita yang Author ketahui....
...Jika ada salah kata mohon di maafkan karena hanya itu yang dapat Author ketahui....
...🤗🤗🤓...
Arista melihat ke kanan/kiri. “Dimana kita sekarang dan kenapa kamu membawa aku ke sini? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?” tanya Arista dalam sekali tarikan nafas.
Esme berjalan duluan dengan tangan yang terus menepuk dahinya, “Kenapa aku terlibat! Kenapa aku terlibat! Kenapa aku terlibat.” Ucap Esme sebanyak tiga kali dengan ekspresi wajah yang sangat menyedihkan.
Esme menghentikan langkah kakinya, menolehkan wajah yang sangat menyedihkan menatap Arista yang masih diam berdiri di belakang dirinya. “Arista cepatlah ke sini sebelum ada orang lain yang melihat kamu berada di sini.”
Arista menatap tajam Esme. “Jawab aku terlebih dahulu.” Ketus Arista.
Esme menundukkan wajahnya, “Kenapa kamu menatap tajam diriku yang tidak bersalah ini, sungguh kamu sangat keras kepala dan dingin seperti tuan William.” Gumam Esme yang mengeluh melihat sikap Arista yang dingin dan tidak penurut.
__ADS_1
Esme mengubah ekspresi wajah yang sedih dan tertekan menjadi ekspresi wajah yang ceria dan terlihat seksi.
“Arista sayang. Ini adalah jalan menuju rumahku, untuk pertanyaan yang lain aku akan memberitahu kamu setelah kita sampai di rumahku. Apa kamu sudah paham sayangku, Vampir remaja yang manis.”
“Baiklah.” Arista melangkahkan kaki kanannya berjalan menuju Esme yang sedang berdiri menunggunya.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Esme. Arista hanya mengamati sekeliling tempat yang mereka lalui, karena setiap jalan yang ia lalui begitu sangat indah dengan banyak pohon yang indah dan rimbun di setiap jalan dengan rumput hijau yang sesekali bergoyang mengikuti hembusan angin kencang.
Mereka terus berjalan dan berjalan, hingga mereka sampai di sebuah rumah sederhana yang berpagar kayu. Di mana ada tumbuhan liar yang menghiasi pagar kayu tersebut sehingga membuat pagar kayu itu terlihat sangat indah.
Arista menolehkan wajahnya menatap wajah Esme yang sedang berdiri sejajar di samping dirinya. “Esme.” Panggilnya singkat.
Esme menolehkan wajahnya seakan dia sudah mengetahui maksud dari tatapan Arista. Esme berjalan duluan dengan tangan kanan yang membuka pintu pagar kayu yang berhias tumbuhan liar setinggi pinggang orang dewasa.
“Kita sudah sampai di kediaman rumahku.”
Seolah tidak percaya dengan apa yang Esme katakan jika rumah yang sederhana dan terlihat bersih dengan beberapa bunga yang tumbuh adalah kediaman rumah Esme.
Arista berjalan mendekati rumah Esme, jari telunjuk kanan Arista bergerak mengarah ke rumah sederhana milik Esme. “Apa benar ini rumah kamu.”
Esme menganggukan kepalanya, tangan kanannya meraih pergelangan tangan kiri Arista. “Ia. Rumah ini mungkin tidak sebesar rumah tuan William. Tapi tempat ini cukup aman untuk aku berteduh dan membawa kamu ke sini.”
...Di dalam rumah Esme....
...💃🏻💃🏻...
Arista sedang duduk di ruang tamu yang terlihat simpel namun sangat seram dengan banyak pajangan bagian tubuh Monster yang di awetkan dan di pajang di dinding rumah Esme.
Arista mengerutkan dahinya menatap sekeliling ruang tamu yang berhias pajangan sepenggal bagian tubuh Monster. “Aku pikir dalamnya indah sesuai dengan halaman rumah kamu, ternyata aku salah.”
Esme berjalan mendekat ruang tamu dengan tangan yang membawa nampan yang berisi 2 gelas coklat panas. Esme menundukkan sedikit tubuhnya sambil meletakkan satu persatu gelas yang berisi coklat panas di atas meja ruang tamu.
“Ia. Dari sini kamu akan menyadari jika kamu tidak boleh memandang sesuatu dari luarnya saja, sebelum kamu memastikan tempat itu nyaman atau tidak. Sebaiknya terlebih dahulu mencari tahunya sendiri agar kamu tidak kecewa dengan apa yang sebenarnya tersimpan di balik ke indahan itu yang kamu lihat.”
Arista mengerutkan dahinya seperti dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Esme yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
Esme yang sedang duduk, tersenyum manis dengan tangan kanan mengangkat gelas yang berisikan coklat panas. “Jika kamu tidak mengerti maksud dari perkataanku tidak masalah, yang jelas kamu harus mengingatnya dan mencari tahu apa maksud dari perkataanku supaya apa yang kamu dengar tidak menjadi beban.”
...Bersambung........