Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Berhenti mengikutiku.


__ADS_3

Part 57


_______


Setelah pertarungan antara 5 para pria yang bertubuh besar dan kekar, William berjalan pergi dengan tangan kanan yang menggenggam erat bungkusan yang berisi minyak wangi. William terus melangkah cepat meninggalkan wanita tersebut yang terpaku menatap kepergian William.


“Sial. Kenapa aku selalu bertemu wanita yang hanya menyusahkan diriku saja.” Gumam William pelan.


“Tuan.” Panggil wanita tersebut yang sadar jika William semakin jauh berjalan meninggalkan dirinya. Wanita itu berpikir, kenapa William meninggalkan dirinya pada hal dirinya sudah di tebus William 2 kali lipat dari harga sebelumnya.


Wanita tersebut berlari mengejar William yang sudar terlanjur jauh berjalan.


Tak!


Tak!


Tak!


Terdengar suara sepatu yang di kenakan wanita tersebut berlari mendekati William.


“Tuan.” Panggil wanita tersebut yang berjalan di belakang William.


William menghentikan langkah kakinya, ia berbalik badan menatap suram wanita yang selalu memanggil dirinya. Dahi William mengerut, tatapan tajam seperti hendak menghabisi nyawa orang pun terlihat jelas saat menatap wanita tersebut.


“Ada apa lagi? Bukannya kamu sudah bebas, sekarang kamu pergilah dan jangan terus mendekati aku. Karena aku tidak sebaik yang kamu lihat dan kamu pikirkan, dan satu lagi.”


William mendekatkan wajahnya menatap wajah wanita yang selalu menatap wajahnya. “Jangan pernah tunjukkan wajah kamu di hadapanku. Aku menolong kamu, karena aku mengingat ada seorang gadis yang aku sayangi dan selalu pikirkan berada di luar sana yang mungkin butuh pertolongan orang lain untuk membantu dirinya seperti aku membantu diri kamu."


Kedua mata wanita tersebut basah, bibirnya bergerak seperti sedang menahan tangis yang sudah tidak terbendung lagi.

__ADS_1


“Hhuaaa…hiks! Hiks!”


Wanita tersebut menangis sejadi-jadinya, membuat semua orang yang berlalu lalang di pusat pasar melihat William.


Wajah William berubah panik, menatap semua orang yang menatap dirinya tajam. Kemudian menatap wajah wanita yang menangis tersedu-sedu. Kepanikan William membuat dirinya spontan mendekat, mendekap wanita tersebut dengan tangan kanan yang menutup bibir wanita yang menangis tersedu-sedu. Sedangkan wajah dan bibir melempar senyuman kepada para orang yang ramai berlalu lalang.


“Bisa diam tidak. Kenapa kamu menangis?” bisik William pelan yang menggigit giginya.


Wanita tersebut mendorong pelan tubuh William, wanita tersebut mendongakkan wajahnya menatap William. Kedua tangannya menghapus kasar jejak air mata yang membasahi pipinya.


“Aku sedih saat ada orang yang memperhatikan orang lain, apa lagi sampai sedalam itu.”


William mengerutkan dahinya, “Kenapa kamu bersedih? Apa kamu sudah tidak waras, bersedih melihat orang bahagia.”


“Tidak. Aku hanya sedih saja, karena diriku tidak ada yang memperhatikan seperti kamu memperhatikan gadis yang kamu maksud tadi.” Jawab wanita tersebut.


William mengerutkan dahinya menatap dekat wajah wanita tersebut. “Bukan urusan aku. Sekarang kamu pergi dari hadapanku, karena aku tidak ingin berurusan lagi dengan kamu.” William berbalik badan, melangkah besar meninggalkan wanita tersebut.


William menghentikan langkah kakinya, tangan kirinya mengepal erat dengan dahi yang mengerut. “Sial. Kenapa aku harus membantu wanita ini, kalau tidak mengingat Arista yang jauh dariku saja mungkin aku tidak akan perduli dengan siapa pun.” gumam William pelan dengan bibir yang terus bergerak menahan amarah.


“Uang tidak lah penting bagiku, sekarang yang paling penting kamu harus menjauh dariku dan jangan pernah mendekat atau memanggilku lagi. Jika itu terjadi, aku akan membelah kamu menjadi 1 juta potongan.” Sahut William dengan nada tinggi sambil menoleh sedikit menatap tajam wanita yang masih berdiri di belakangnya.


William berlari, ia terus berlari cepat supaya wanita tersebut tidak bisa mengikutinya. Hingga langkah kakinya terhenti di depan pintu bar milik Pak tua. William segera masuk, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya di letakkan di atas batok dengkul dengan nafas yang tidak beraturan.


“Sepertinya aku sudah aman.”


Pak tua pemilik bar berjalan mendekati William, kedua tangan Pak tua di buka lebar. “Hai. Tuan William, kenapa kamu terlihat letih sekali?” Pak tua pemilik bar mencoba merangkul tubuh Wiliam.


“Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kamu.” ketus William mengelak jauh dari Pak tua pemilik bar.

__ADS_1


Pak tua pemilik bar tertegun, kedua bola matanya membesar menatap ke belakang William. Tangan kanannya melambai. “Hai, bening. Eh. Maksud saya cantik.”


William yang masih terlihat lelah, secara perlahan menoleh kebelakang menatap kepada siapa Pak tua pemilik bar menyapa. William spontan terkejut, ia melompat dan bersembunyi di belakang tubuh Pak tua pemilik bar.


“Cepat kamu usir wanita ini, dia seperti hantu yang bisa datang kapan saja.” Ucap William kepada Pak tua pemilik bar memohon perlindungan ke Pak tua pemilik bar.


Pak tua pemilik bar tidak memperdulikan ucapan William, Pak tua pemilik bar berjalan mendekati wanita yang sedang berdiri di depan pintu bar miliknya. Wanita tersebut adalah wanita yang di tolong oleh William saat berada di pusat pasar.


“Kenapa kamu hanya diam dan berdiri saja di depan, kamu boleh masuk ke dalam dan minumlah sepuasnya hingga kamu sudah tidak sanggup untuk minum lagi.” Rayu Pak tua pemilik bar kepada wanita tersebut.


Wanita tersebut melemparkan senyuman manis ke Pak tua pemilik bar. “Tidak perlu Pak tua, saya ke sini hanya mengikuti tuan saya. Dan saya mohon Bapak segeralah menjauh dari saya, karena bapak sangat bauk.” Ucap wanita tersebut sambil mengambil langkah besar ke samping menjauhi Pak tua pemilik bar.


Pak tua pemilik bar, mencium ketiak serta baju yang terlihat ada sedikit noda bekas permainan yang sangat panas. “Wanita cantik ini sangat jujur, kalau begitu aku mandi sebentar.” Pak tua pemilik bar meninggalkan William dan wanita tersebut yang masih berdiri di depan pintu.


William berbalik badan, “Aku sudah menyuruh kamu pergi, dan kenapa kamu terus mengikuti aku.” tandas William berwajah dingin.


Wanita tersebut berlari dengan tangan yang memegang tangan kanan William. “Tuan. Saya tidak memiliki tempa tinggal, jadi izinkan saya bekerja menjadi pelayan tuan dan menebus uang yang baru saja tuan berikan kepada mereka.”


William menatap tajam ke tangan wanita yang memegang tangan kanannya. “Lepas tangan kamu.” ucap William datar.


Wanita tersebut melepaskan tangannya, ia berjalan mundur kebelakang dengan tubuh yang sedikit membungkuk. “Maaf. Saya lancang tuan.”


William menarik nafas pendek, ia menolehkan wajahnya menatap wajah wanita yang tertunduk sedih. “Baik. Untuk sementara ini kamu bisa tinggal dan mengurus rumahku. Tentang peraturan di dalam rumahku, nanti setelah pulang dari sini kita akan membahasnya.” Jawab William yang seperti sudah menyerah dengan wanita tersebut.


Wajah wanita tersebut berubah menjadi semangat. Bibirnya terus tersenyum manis sambil berkata. “Terima kasih tuan.”


...Bersambung.......


...Terimakasih telah setia membaca Karya Saya. 😚😚...

__ADS_1


...Maaf baru bisa Upload kembali. Karena beberapa hari ini Saya sedang sakit dan ini baru sembuh.🤗...


...Untuk kalian semua, semoga sehat selalu. ...


__ADS_2