
Part 33
________
William tidak menghiraukan amukan Arista yang seperti anak kecil. William terus berjalan menuju kamar tamu.
William membuka pintu kamar dengan kedua tangan yang terus menggendong tubuh mungil Arista. William mendekati ranjang, menjatuhkan tubuh Arista di atas ranjang.
Arista menjadi sangat kesal karena William hanya diam tanpa menjawab apa pun dari omelan yang di lontarkan oleh Arista. Arista duduk di tepian ranjang dengan wajah yang cemberut.
William hanya tersenyum dengan tangan yang terus membuka jas dan satu persatu baju kancing baju kemeja yang di kenakannya.
Omelan ini lah yang membuat aku terkadang rindu dengan Vampir kecil yang sekarang tidak lagi tinggal bersama di rumahku.
Entah kenapa saat aku bersamanya hati ini merasa nyaman.
Apa karena aku sudah menganggap nya sebagai adik.
Tapi aku tidak boleh memperlihatkan jika sebenarnya aku sangat rindu kepadanya.
Gumam William di dalam hati sambil membelakangi Arista.
William tetap tidak menghiraukan Arista yang sedang cemberut, ia berjalan mendekati lemari baju yang seperti biasa sudah tersedia baju ganti di setiap kamar.
Arista menggigit bibir bawahnya menatap William yang cuek.
Kenapa Paman diam saja.
Apa yang telah di katakan Esme!
Apa Esme telah merasuki pikiran Paman dan membuat dia tidak ingin melihatku berbicara.
Aku harus segera menemui Paman.
Batin Arista dengan wajah yang cemberut.
Arista menatap kepergian William yang memasuki kamar mandi. Ia tahu jika William hendak mengganti pakaian, Arista berdiri ia berjalan dengan langkah tegap menuju kamar mandi.
Wajah Arista sangat suram menatap pintu kamar mandi, tanpa basa-basi ia mengulurkan tangan membuka pintu kamar mandi yang di mana ia tahu jika William saat ini sedang berganti pakaian.
“Paman.”
Bentak Arista yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
William yang sedang memakai celana piyama terkejut, kedua bola matanya membulat menatap Arista yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Dengan cepat ia menarik celananya sampai ke atas.
__ADS_1
“Kenapa kamu menerobos masuk ke dalam, apa kamu tidak tahu jika perbuatan itu tidak boleh Arista.”
Ucap William yang masih melanjutkan memasang baju atasan piyama.
Arista menahan nafas yang memburu dengan wajah seperti menahan tangis. Bibirnya atas yang di simpan di gerakan perlahan ke kanan kiri, Arista melangkah maju mendekati William.
William yang sudah selesai memakai baju piyama juga berjalan mendekati Arista.
Arista mengambil langkah besar, ia menjatuhkan badannya di tubuh William.
“Apakah Paman tidak ingin melihatku lagi? Atau Paman sengaja menyuruh aku bersekolah di sini mencari jati diri, karena Paman tidak ingin melihatku.”
Arista memeluk William dengan sangat kuat, “Apa Paman beneran mengusirku dan tidak ingin melihatku lagi. Apa Paman memang tidak ingin melihatku?” ucap Arista berulang kali dengan suara serak, air mata Arista menetes jatuh ke lantai.
William mengangkat tangan kananya dan meletakkannya di rambut indah Arista.
William menundukkan pandangan memegang wajah Arista dengan kedua tangannya.
“Kenapa kamu berpikir seperti itu, aku menyuruh kamu bersekolah di sini karena untuk kebaikan kamu bukan untuk mengusir kamu.”
William menghapus jejak air mata Arista, William memandang wajah polos yang terlihat sembab.
Arista menarik wajahnya berpaling dari tatapan William, “Apa itu benar Paman?” tanyanya dengan nada yang sedikit malu.
William mengusap lembut rambut Arista, “Ia. Kenapa aku harus berbohong.” William memegang tangan Arista, “Sudah malam, sebaiknya kita tidur yuk.” Ajak William dengan tangan yang menggandeng tangan mungil Arista.
...Di atas ranjang....
...💃🏻💃🏻...
William duduk di atas ranjang dengan tangan yang mengusap lembut rambut Arista yang sedang berbaring di atas ranjang.
William menghela nafas pendek.
Ia menatap wajah Arista yang masih terjaga memandangi William.
“Arista. Paman cuman mau kasih kamu penjelasan tentang batasan yang harus kamu pahami, karena kamu bukan lagi Vampir kecil yang berusia 10 tahun.”
Ucap William yang berusaha menjelaskan perlahan dengan ada lembut ke Arista.
Arista memalingkan wajahnya, “Aku tidak ingin menjadi gadis dewasa Paman, aku hanya ingin terus menjadi Vampir kecil yang bisa dan terus selalu di samping Paman.” Jawab Arista dengan nada yang sedikit pelan.
William memegang dagu Arista, “Tapi tubuh kamu berkata jika kamu ingin tumbuh menjadi Vampir dewasa. Sudah jangan berdebat lagi, kamu harus mendengarkan apa yang Paman ucapkan.” Tegas William.
Arista hanya mengangguk menatap wajah William yang terlihat serius memandangnya.
__ADS_1
William mengambil tangan Arista dan memegangnya.
“Arista. Aku sebagai Paman yang mengasuh dan membesarkan kamu ingin memberitahu jika perbuatan seperti tidur bersama, kamu tiba-tiba masuk ke dalam kamar atau yang lainnya itu tidak baik. Paman adalah pria dewasa, Jika sikap kamu seperti ini Paman takut akan melakukan kesalahan yang membuat kamu terluka.”
Arista memotong pembicaraan William.
“Kesalahan apa? Apa Paman ingin menghukumku bukannya itu sudah biasa.” Jawab Arista yang belum mempunyai pikiran biasa saja.
William menggelengkan kepala, “Bukan.” William memalingkan wajahnya.
Bagaimana caranya aku untuk memberitahu gadis ini jika aku bisa khilaf.
Sudahlah tidak perlu aku lanjutkan kembali.
Gumam William di dalam hati.
Arista menarik tangan William, “Apa yang sedang Paman pikirkan?” tanya Arista membuyarkan pikiran William.
William menatap serius wajah Arista.
“Apa hubungan kamu dengan Ellard? Apa kamu suka padanya atau kamu sedang berpacaran dengannya.” Tanya William mengingat kembali kejadian malam itu.
Arista spontan duduk dengan wajah yang gugup dan panik ia memegang tangan William, “Tidak ada Paman. Kami hanya teman satu kelas dan dia juga teman satu tim Arista sewaktu Esme memberikan tugas di alam bebas.”
Wajah Arista semakin gugup, ia melambaikan kedua tangannya seperti berkata tidak ada hubungan apa pun yang terjalin.
William mendekatkan wajahnya memandang wajah Arista yang terlihat gugup dengan keringat yang mengalir dari dahinya.
“Apa kamu sedang menutupi sesuatu padaku! Jika tidak terjadi sesuatu pada kalian, kenapa ia tiba-tiba melamar kamu?” William mendekatkan wajah suramnya, “Atau kamu sudah berpacaran dengannya dan menutupi kebohongan kamu supaya aku tidak marah kepada kamu.” tanya William dengan suara yang sangat menakutkan.
Arista menundukkan pandangannya, “Glek!” ia menelan air ludah dengan kedua tangan yang mendorong pelan tubuh William.
Arista meletakkan telapak tangan kanan di dada dan tangan kiri menjunjung ke atas.
“Aku bersumpah Paman. Aku dan Ellard tidak berpacaran, aku dan dia juga tidak terlalu akrab hanya saja ia yang terus datang mendekatiku. Bukannya Paman yang mengatakan jika aku di sini hanya boleh untuk bersekolah dan mencari jati diriku supaya aku bisa melindungi Paman.”
Arista menatap wajah William dengan tatapan yang sangat imut.
“Apa Paman tidak percaya padaku, betapa sedih dan hancurnya hati ini jika Paman tidak percaya padaku.” Arista merebahkan tubuhnya, ia memiringkan tubuhnya membelakangi William.
William tersenyum menatap punggung Arista. “Paman percaya. Asal kamu harus berjanji tidak boleh genit dengan pria lain, kalau kamu genit dengan pria lain akan sangat bahaya untuk kamu.” William menarik selimut Arista dan menyelimuti tubuh mungil yang sedang membelakanginya.
Mendengar ucapan William, Arista spontan menoleh dengan kedua mata yang menatap tajam William.
“Jika Arista tidak boleh genit dengan pria lain, Paman juga tidak boleh tergoda dengan wanita yang memiliki kedua gunung tak terlampaui.”
__ADS_1
William berdiri, “Aku aku tidur di sana ya? Aku tidur di sofa saja, selamat malam.” Ucap William dengan wajah yang terlihat gugup.
...Bersambung........