
Part 54
_________
...Kediaman rumah Esme....
...😉...
Arista sedang duduk di meja makan, tangan kanan menopang dagu, menatap Esme yang lalu lalang membawa makanan yang sudah ia masak dan meletakkan di atas meja.
“Esme. Kenapa kamu masak sebanyak ini?”
Esme membuka celemek, menggantungkan di pengait yang menempel di dinding samping tempat wastafel tempat cuci piring. “Karena kita akan berlatih dan kamu butuh banyak nutrisi lebih untuk kekuatan dan pertumbuhan kamu.”
Esme menarik bangku yang berada di sebelah Arista. “Jika kamu tidak tumbuh sehat agar kamu bisa mempunyai bentuk tubuh seperti saya, maka saya pastikan tuan William nanti akan berpaling dengan wanita lain.” gurau Esme mendekatkan wajahnya ke Arista.
“Esme.” Bentak Arisa menatap tajam wajah Esme.
Esme melambaikan tangannya menatap wajah Arista sambil tersenyum, “Bercanda saja sayang, lagian mana mungkin tuan William menyukai gadis yang di besarkan oleh tangannya sendiri.” Esme memberikan piring ke Arista dan menuangkan lauk pauk di atas piring Arista.
Mendengar ucapan Esme, Arista tertegun. Tangannya terus megambil sesuap nasi dan sedikit lauk, kemudian melahapnya. Mata Arista tidak berkedip sama sekali, seperti ia sedang memikirkan apa yang di katakan oleh Esme.
Arista meletakkan sendok dan garpu, tangan kanannya mengulur panjang mengambil gelas yang berisikan air putih yang berada di samping tangan kanannya. Setelah selesai minum dan makan, Arista menoleh menatap wajah Esme yang sedang membersihkan sisa makanan sekitaran bibirnya.
“Esme.”
“Ia. Ada apa Arista.” Sahut Esme menatap wajah Arista yang terlihat bingung.
Arista menundukkan sedikit pandangannya, “Apa kita boleh berharap dan menyukai seseorang yang telah lama tinggal bersama kita.”
Esme tersenyum manis, seperti sudah paham maksud dari perkataan Arista. Tangan kanannya mengulur memegang bahu kanan Arista.
“Apa murid Ibu yang manis ini sedang jatuh cinta dengan seorang pria? bagaimana ini jika tuan William tahu, kalau Vampir kecilnya sudah mulai tumbuh menjadi gadis dewasa dan sekarang telah merasakan jatuh cinta dengan pria lainnya?” Tandas Esme, agar tidak ada pertanyaan lainnya dari Arista.
Esme mengalihkan pembicaraan, karena William pernah berpesan kepadanya, kalau Arista harus benar-benar mengetahui jati dirinya sendiri dan tetap fokus dengan tujuan kenapa ia di masukkan ke sekolah kembali.
Bukan itu saja, Esme juga sudah mengetahui jika Arista akan di ambil dan di jadikan tumbal untuk kebangkitan Istri dari Raja Iblis. Ucapan William yang seperti itu selalu terngiang di telinga Esme dan Esme juga tidak ingin dunia ini hancur karena kesalahan satu Iblis yang jahat.
Arista berdiri, wajahnya memerah seperti menahan malu atas jawaban yang Esme lontarkan kepadanya. “Sebaiknya kita berlatih saja dan soal pertanyaan yang baru saja aku ucapkan. Tolong jangan kamu bocorkan kepada Paman?”
...Lapangan khusus latihan Esme....
__ADS_1
...💃🏻💃🏻...
Arista dan Esme sudah berdiri dengan tengah lapangan degan baju latihan milik Esme. Arista menatap lurus ke depan.
Paman. Tunggu aku kembali dan aku akan menunjukkan hasil latihanku kepada kamu.
Gumam Arista di dalam hati.
Esme mengulurkan tangan kirinya memegang bahu kanan Arista. “Arista 2 bulan lagi akan di adakan ujian praktek tambahan untuk kenaikan kelas. Saya harap kamu bisa mendapatkan nilai yang terbaik, setelah kenaikan kelas, pelajaran kalian bukan tentang materi dan teori lagi.
Sedikit banyaknya kalian semua akan pergi kelapangan dan di bagi beberapa tim untuk menjaga tugas yang akan di perintahkan dari sekolah. Bukan itu saja, sekolah di sini dengan di Dunia manusia itu berbeda. Sekolah di sini lebih cepat tingkat kelulusannya karena hanya mengandalkan ilmu yang kita punya.”
Arista menolehkan wajahnya, menatap Esme dengan penuh ke seriusan. Dahi Arista mengerut, kedua alis menjadi satu menatap tajam wajah Esme. “Kenapa kamu baru bilang, dan kenapa Paman tidak pernah memberitahu soal itu kepadaku. Apa dia benar-benar tidak ingin melihatku lagi atau dia sudah mengizinkan aku untuk tinggal bersamanya lagi.”
Kedua kaki Arista melemah, ia terduduk di atas tanah. Kedua telapak tangannya menutupi wajah imut yang basah terkena tetesan air mata yang penuh rasa kecewa setelah mendengarkan penuturan Esme.
Esme berjalan sedikit mendekati Arista yang terduduk sedih, Esme juga ikut duduk di atas tanah, tangan Esme meraih tangan Arista yang sedari tadi menempel di wajah yang polos dan indah milik Arista.
“Bukan itu maksud tuan William. Justru tuan William, ingin melihat kamu menjadi wanita yang mandiri dan lebih kuat darinya. Apa kamu lupa dengan perkataan saya, jika tuan William sebenarnya sedang di kejar-kejar oleh Raja Iblis.
Raja Iblis itu sangat jahat, kekuatannya mampu membelah dunia ini menjadi dua dan memperbudak setiap umat yang berada di muka bumi ini. Sedangkan tuan William hanya seorang Mutan tingkat atas, memang kekuatannya cukup hebat dan tak terkalahkan oleh makhluk pun. Tapi, apa kamu tega membiarkan tuan William berjuang sendiri? bagaimana jika dia kalah di tengah pertempuran. Dan siapa yang akan membantunya, jika tidak kamu.”
Mendengar ucapan Esme, wajah Arista serius menatap lurus luasnya lapangan tempat latihan Esme. Kedua tangannya di genggam kuat, Arista menarik nafas panjang menatap wajah Esme.
Esme tertegun menatap keseriusan Arista yang sedang bergejolak saat ini.
Semua yang dilakukan tuan William demi kamu Arista.
Dan aku harap perjuangan tuan William tidak akan sia-sia.
Gumam Esme di dalam hati, meraih tangan Arista dan memberikan sedikit senyuman hangat pengantar semangat buat Arista.
Arista kembali semangat, ia menarik tangan Esme. “Mari kita mulai latihannya.” Ucap Arista penuh semangat yang terlihat sedang membara.
.
.
.
Kedua kaki Arista terbuka lebar sejajar dengan bahu, Arista mengulurkan kedua tangan miliknya dan kedua matanya fokus menatap lurus ke depan.
__ADS_1
“Porta sancta apparent.”
Wuusshh!
Bertiup angin terbang dari kedua telapak tangan Arista.
Arista menghentakkan kedua kakinya. “Sial. Kenapa aku tidak bisa.” Keluh Arista dengan nada tinggi.
“Coba kamu lihat aku dan kamu harus pahami, jika kamu ingin membuat portal untuk pergi ke dimensi lain. Kamu harus fokus pada pikiran kamu dan kemana tujuan kamu.” ucap Esme memberitahu Arista agar Arista tidak putus asa dan tidak menyerah.
Esme mengulurkan tangan kanan, dahinya mengerut menatap lurus ke depan.
“Porta sancta apparent.”
Wing!
Wing!
Terbuka sebuah portal berwarna biru di hadapan Arista dan Esme.
Arista berjalan satu langkah ke depan, wajahnya begitu semangat seperti sedang tidak ingin di kalahkan oleh Esme. Kedua tangan Arista mengulur ke depan.
“Porta sancta apparent.”
Wwuuusshhh!!
“Aakhh!. Bokongku.” Arista terpelanting kebelakang dan jatuh dengan posisi duduk di atas tanah.”
Wing!
Wing!
Kedua bola mata Esme membesar menatap portal yan lebih besar dari miliknya, bukan itu saja. Portal yang di buat Arista bening seperti kaca yang berada di dalam air yang jernih, dan terlihat jelas jika tempat tujuan yang ada di dalam Arista saat ini adalah kediaman William.
Bagaimana mungkin, Arista bisa membuat portal seperti ini dan langsung terlihat jelas ke mana tujuannya akan pergi.
Pantes saja tuan William sangat tidak ingin jika kekuatan Arista di lihat banyak orang.
Tuan William salah, kekuatan sebesar ini tidak boleh terus di sembunyikan. Arista harus di latih, agar mampu menguasai kekuatan yang ia miliki. Bukan menyembunyikannya.
Gumam Esme menatap wajah Arista yang menahan sakit akibat terbenturnya bokongnya di atas tanah.
__ADS_1
...Bersambung........