
Ciit..ciiit!!!
Suara burung berkicau terdengar cukup merdu membangunkan Esme, Abel, Anggun, dan Ellard, masih tertidur di atas tanah.
“Huuaaa…akhirnya pagi juga,” Ellard merenggangkan otot tubuhnya, dan menggerakkan kedua bahu terasa pegal.
“Ada yang tahu di mana William?” tanya Esme tak melihat William.
“Tadi malam perasaan dia tidur di samping Ellard,” gumam Abel mengingat jika tadi malam William tidur di sebelah Ellard.
Esme merasa cemas, ia beranjak dari duduknya, segera memakai jubah, dan meminum ramuan miliknya. Anggun, Ellard, dan Abel, juga merasa bingung kemana perginya William.
“Ibu mau kemana?” tanya Anggun, ikut berdiri, memakai jubah.
“Kita harus menemukan William, jangan sampai ia sudah masuk ke Kastil itu. Dan kalian minumlah ramuan itu, karena efeknya akan terlihat setelah 1 jam meminumnya, dan akan bertahan sampai besok pagi,” perintah Esme di sela kecemasannya.
Saat kepanikan melanda Esme, Ellard, Abel, dan Anggun. Terlihat dari arah menuju sungai seorang pria dengan postur tubuh tinggi, berjalan menuju tempat dimana Esme, Ellard, Abel, dan Anggun, masih beristirahat. Pria tersebut adalah William, berjalan tanpa memakai baju atasan, tubuh di penuhi darah, dan di bahunya ada seekor rusa.
Bup!
William menjatuhkan rusa mati di hadapan Esme, Abel, Ellard, dan Anggun.
“Ada apa?” tanya William dingin, menatap Esme sedang menatapnya.
“Aku pikir kamu pergi sendirian ke Kastil,” ucap Esme pelan.
“Kau pikir aku ini bodoh. Bukannya kau yang bilang kalau tepat tengah malam nanti kita akan mengeluarkan energi terlalu besar. Agar tenaga kalian terpenuhi, jadi pagi sekali aku berburu rusa, kalian olah hasil buruanku. Dan aku akan balik ke sungai untuk membersihkan darah rusa menempel di tubuh ku. Aku tak mau tubuh ku bau darah rusa saat bertemu dengan Arista nanti,” celetuk William, ia balik badan, kakinya melangkah kembali menuju sungai.
“Bu, apa segitu besarnya Paman William menyukai Arista?” tanya Anggun polos.
“Rasa kuatir dan rasa ingin melindungi William, kini sudah berubah menjadi cinta,” gumam Esme, pandangannya menatap kepergian William. Menit selanjutnya ia mencoba menenangkan rasa cemburu, dan cinta tak terbalas miliknya. Esme menatap Anggun, Abel, dan Ellard, “Mari kita panggang daging rusa ini,” sambung Esme mengajak.
“Merepotkan saja,” gerutu Ellard. Namun tetap mengerjakan perintah Esme.
Anggun, Abel, Ellard, dan Esme pun mulai mencari bahan bakar. Lalu membersihkan daging rusak, menit selanjutnya daging rusa sudah di tusuk seperti tusuk memakai batang kayu, dan kini sudah berada di atas bara api.
__ADS_1
William tadi sudah membersihkan diri kini kembali, dan duduk di sebelah Esme.
“Kenapa kamu tidak jujur dengan perasaan kamu sendiri?” Esme bertanya tiba-tiba.
Sejenak William terkejut, kemudian ia menjawab, “Aku tidak mengerti maksud dari perkataan kamu. Sebaiknya kita makan, karena dagingnya sepertinya sudah matang,” putus William menyudahi percakapan mereka.
William beranjak dari duduknya, berjalan mendekati daging rusa sudah matang. William membelah daging rusa masih utuh, dan membagikan potongan daging rusa kepada Abel, Anggun, Ellard, dan Esme. Namun, potongan dagingnya jauh lebih kecil dari milik Abel, Anggun, Ellard, dan Esme.
Esme tak tega melihat potongan daging milik William lebih kecil dari milik mereka berempat. Esme memutuskan untuk membagi miliknya sedikit ke William.
“Makanalah yang banyak,” Esme memberikan separuh daging rusa ke William.
“Tidak perlu,” tolak William sembari memasukkan 1 gigitan terakhir daging rusa ke mulutnya.
“Kenapa?” tanya Esme.
William menatap lurus menembus pepohanan hutan langsung menampakkan Kastil milik Raja Iblis, “Jika aku makan enak di sini, apakah Arista juga sudah makan enak di sana,” ucap William sendu.
“Aku sangat membenci ucapan kamu. Kamu selalu saja memikirkan Arista, tapi kamu malah menyangkal mengenai perasaan kamu,” celetuk Esme.
William berdiri, “Sepertinya sudah waktunya kita turun, dan segera masuk ke gerbang Kastil,” ajak William mengabaikan omelan Esme.
“Bawa saja,” tegas William.
William pun melangkah terlebih dahulu. Lalu Esme menyusul dengan tangan masih memegang daging rusa. Ellard, Abel, dan Anggun juga mengikuti William. Kini mereka sedang berdiri di tepian jurang berbatu.
Untung saja jurangnya tidak terlalu tinggi dan bebatuan di bawahnya besar, jadi mereka bisa menuruninya tanpa memakai alat bantu.
“Arista, akan kuceritakan padamu tentang perjuangan ku untuk membawa kamu kembali,” ucap Anggun sendiri.
“Sudah jangan banyak bicara, turun dengan benar, dan lihat pijakan ka…”
Gelebuk, gelebuk!
Baru saja di bilang, batu di injak Anggun terjatuh ke bawah. Esme, Abel, dan Ellard, jadi jantungan di buat olehnya. Anggun sendiri hanya nyengir kuda, merasa tak takut dengan keselamatan nya.
__ADS_1
“He he he…salah landasan,” ucap Anggun di sela tawa sumbang.
“Jika kamu beneran jatuh, maka tubuh kamu akan di tinggal di sini. Biar monster kelaparan di dalam hutan memakan tubuh kamu!” William menakut-nakuti sembari ia terus turun ke bawah, ada jarak 3 meter ke bawah, William segera melompat, dan berjalan meningalkan Esme, Ellard, Abel, dan Anggun masih berada di tebing.
“William, tunggu!” teriak Esme, ia juga ikutan melompat dan turun, menyusul langkah besar William sudah berada jauh di depannya.
“Cepatlah, jangan menyuruhku untuk menunggu-mu. Karena kamu bukan pengantinku!” ketus William.
Esme, Anggun, Abel, Ellard, dan William kini sudah berjalan menuju gerbang Kasil. Mereka berlima juga sudah memakai jubah hitam, identik dengan rakyat Iblis di dalam Kastil. Esme pikir jarak dari tempat mereka beristirahat dengan Kastil Raja Iblis dekat, ternyata jarak Kastil Raja Iblis sangat jauh. Sudah 2 jam mereka berjalan, dan Matahari siang sudah berada tepat di atas kepala mereka.
“Huh..huh..huh.. apa tidak sebaiknya kita beristirahat dulu?” tanya Anggun, membungkuk, tangannya menyeka keringat di sekitar wajahnya.
“Tidak, jika kita terus beristirahat maka waktu kita tidak akan tepat waktu!!” tegas William,
sembari terus berjalan cepat.
“William, tapi anak-anak sangat lelah. Lagian jaraknya juga sudah tidak terlalu jauh. Paling 1 jam lagi kita akan sampai,” teriak Anggun mencoba menegoisasi karena kasihan melihat wajah Anggun, dan Ellard terlihat sangat lelah.
William menghentikan langkahnya, “Baiklah, waktu istirahat hanya 10 menit,” ucap William.
Anggun, dan Ellard langsung merebahkan tubuhnya di tanah.
“Haa…akhirnya istirahat juga!”
“Kalian masih sangat muda, tapi kenapa fisik kalian lemah,” celetuk William dingin.
“Ck, tajam sekali kata-kata lelaki satu ini,” gerutu Ellard.
Belum lagi sampai 10 menit, William berdiri, “Sudah habis waktunya,” ucap William.
“Hei, belum lagi 10 menit!” teriak Ellard menatap punggung William sudah berada jauh di depan mata.
“William sepertinya sangat serius menyukai Arista. Jika seperti ini ceritanya, maka setelah ini aku harus menyingkirkan William. Arista harus menjadi milikku, karena dia adalah wanita terkuat, dan pastinya akan memiliki keturuanan yang kuat juga,” gumam Abel, Ellard di sebelahnya hanya melirik, menaikkan alisnya.
“Hei, apa kau ingin menghabisi William demi mendapatkan cinta Arista?” tanya Ellard sembari merangkul bahu Abel.
__ADS_1
“Aku rasa itu bukan urusan kamu. Kamu ingat! Kita di sini juga adalah musuh!” tegas Abel, tangannya menyingkirkan tangan Ellard.
Abel pun melangkah meninggalkan Ellard.