Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Part 78. Maaf aku terlambat


__ADS_3

Angin ****** masuk ke dalam rumah William, porak-poranda. Angin tersebut berubah menjadi wanita cantik, 2 semangka kembar terlihat menggoda dari balik baju serba terbuka. Wanita memiliki 2 semangka besar itu adalah Esme.


"William!" teriak Esme, ia berlari menaiki anak tangga.


"Ibu Esme, kenapa bisa ke sini?" tanya Anggun bingung.


"Itu tidak perlu di bahas, sekarang bantu aku untuk membawa William ke dalam kamar," Esme memutar arah pandang nya ke Abel, "Dan Abel, aku minta kamu segera bawa Ellard naik, kita harus segera obati luka mereka, agar cepat sembuh dan bisa menjemput Arista, sebelum semua terlambat!" tegas Esme memberi perintah.


"Ba-baik," sahut Abel patuh.


Esme dan Anggun, membawa tubuh William ke dalam kamar. Sedangkan Abel berlari turun ke bawah, mencari tubuh Ellard di balik benda-benda menimpa tubuh Ellard, dan membantu Ellard untuk naik ke atas, lantai 2, kamar William.


"Arista, gimana dengannya?" tanya Ellard dalam kondisi lemah masih mencemaskan Arista.


Abel tidak menjawab, ia hanya tertunduk, dan terus membantu Ellard untuk berjalan menuju kamar William. Sesampainya di dalam kamar, Abel membantu Ellard baring di atas ranjang bersama dengan William.


"Mana Arsita?" tanya Ellard histeris, saat tak melihat Arista berdiri bersama di sisi Abel, dan Anggun.


"Tenang dulu, kalian harus segera di obati," ucap Esme tenang, kedua tangannya sedang menumbuk rempah-rempah.


"Bu Esme kenapa bisa ke sini, dan kenapa Anda bisa mengetahui kejadian yang menimpa Arista?" tanya Anggun masih penasaran.


"Ada getaran yang menggoyang tubuhku untuk bergerak ke sini," sahut Esme dengan nada genit.


"Siapa Arista sebenarnya?" tanya Abel.


Esme menghentikan pekerjaannya, ia menatap sinis ke Abel, "Apa yang sudah kalian ketahui tentang Arista hari ini, itulah yang sebenarnya," sahut Esme tidak mau menjelaskan.


"Apa Arista beneran anak dari Raja Vampire, dan apa benar Raja Vampire sudah membuat kontrak dengan Raja Iblis?" sambung Anggun.


Esme berdiri, "Huuh...baiklah. Aku akan katakan 'iya', bukan itu saja. Arista juga sebenarnya keturunan dari...."


William langsung menggenggam lengan Esme, kepalanya menggeleng, mengisyaratkan untuk tidak melanjutkan perkataannya lagi.


"Keturunan dari Ratu penyihir jahat, itu 'kan maksud kamu," sambung Ellard sudah tahu siapa sebenarnya Arista.


Anggun, dan Abel terkejut. Mereka tidak menyangka jika selama ini Arista, seorang gadis pendiam, baik, dan tidak banyak tingkah adalah keturunan dari kaum seperti itu. Dan satu-satunya keturunan murni sangat kuat, dan siapa saja meminum darah Arista pasti kekuatannya akan berlipat ganda, hidupnya, dan tubuhnya juga pasti akan menjadi awet muda.


Pantes saja Raja Iblis sangat mengincar Arista.


"Karena kalian semua sudah tahu, aku harap rahasiakan siapa sebenarnya Arista," ucap William mencemaskan keselamatan Arista.


"Haah....sangat menegangkan," gumam Esme. Tangannya menggenggam rempah sudah ia tumbuk, "Sayang, aku akan letakkan tumbuhan ini ke luka yang ada di paha kamu. Tolong di tahan sedikit, ya. Kalau menjerit cukup katakan, 'Aaaa, lagi Esme'," goda Esme membuat Anggun, dan Abel jijik.

__ADS_1


"Banyak.....Aaaaa..."


Bam!!!bam!!


Omelan William terhenti menjadi teriakan, saat Esme langsung memasukkan tumbuhan rempah ke dalam luka William. William merasa kesakitan, kulitnya terasa panas, hanya bisa memukul ranjang king size milik nya.


"Teriakannya tidak seksi," protes Esme, tangannya membalut perban ke luka di paha William.


"Dasar kau Iblis tidak ada hati," umpat William kesal.


"Terimakasih atas pujiannya, agar aku bisa di bilang ada hati. Gimana kalau kita tidur bersama malam ini. Aku ingin membagi energi ku dengan kamu!" goda Esme, jari tengah bergerak lurus di bidang bagian tubuh depan William.


Plak


Tepis William.


"Sekarang bagaimana caranya untuk bisa ke alam mereka?" tanya William tegas, ia berusaha bangkit, untuk duduk.


Esme berjalan mendekati Ellard, dan mengobati luka Ellard dari tumbuhan rempah sudah ia buat.


"Kamu masih terluka, jadi tunda lah dulu sampai beberapa hari ini," sahut Esme.


"Aku tidak bisa menundanya lagi. Jika aku menundanya, maka Arista akan dalam bahaya!"


"Kamu tahu darimana?" tanya William penasaran.


Esme tidak langsung menjawab pertanyaan William, ia berjalan mendekati ranjang William, duduk di pinggiran ranjang. Tangannya mengambil gelas kosong, dan membaca mantra dalam hati. Selama Esme membaca mantra, dasar gelas kosong perlahan berisi air berwarna ungu.


"Minumlah ramuan ini," pinta Esme memberikan ke William.


William tidak berkomentar, ia mengambil dan langsung meminumnya dengan cepat.


"Aarrg...pahit sekali. Apa minuman itu adalah racun?" tuduh William.


"Iya, racun cinta agar kamu luluh padaku," gurau Esme.


"Balas pertanyaan ku dulu," desak William kembali.


"Sabar!" tegas Esme.


Esme kembali mengambil cangkir berwana merah muda, dan kembali membaca mantra dalam hati.


"Jangan kau sentuh cangkir A....rista," protes William terhenti, cangkir Arista kini sudah di penuhi oleh minuman berwana biru tua.

__ADS_1


"Oh, ini cangkir gadis pujaan hati kamu. Maaf, aku lupa minta izin," pamit Esme terlambat. Esme memberikan cangkir berisi air berwarna biru tua ke Anggun, "Tolong bantu Ellard untuk minum," pinta Esme sopan.


Anggun mengambil cangkir tersebut, ia berjalan mendekati Ellard, membantu Ellard untuk duduk, dan minum.


"Pahit sekali!" teriak Ellard, liar berubah warna biru tua di ulur ke luar, tangannya mengusap lidahnya terasa pedas dan terbakar.


"Terimakasih atas pujiannya," sahut Esme merasa di puji.


"Esme jawab pertanyaan ku!" tegas William.


"Baiklah, aku akan beritahu. Tapi, sebelum aku beritahu. Aku ingi kasih tahu rahasianya ke kamu! seharusnya kamu tiduri Arsita. Jika Arista sudah tidak suci lagi, maka kekuatan darah milik nya tidak akan sebesar ini. Paling kekuatan darahnya tersisa hanya 99% dari 100%," jelas Esme bercanda.


Ctak!


William menjitak dahi Esme, membuat dahi mulusnya memerah.


"Aduuh...duh, kenapa kamu kasar sekali sama ku!" rengek Esme.


"Aku bertanya serius, cepat katakan!"


"Aku juga serius. Karena Raja Iblis mengetahui Arista masih suci, maka pastinya dia akan melakukan hal itu dulu ke Arista. Atau bisa jadi dia akan mengambil darah dari....ya ampun, tidak bisa aku bayangkan. Dan satu lagi, semua kenikmatan itu akan terjadi 1 Minggu lagi, Gerhana bulan purnama," jelas Esme serius.


"Kamu pasti bercanda 'kan?" tanya Ellard.


"Buat apa Ibu bercanda. Kamu juga suka sama Arista 'kan?"


"Sangat, dan aku berencana ingin menikahi nya," sahut Ellard jujur, William mendengar hal itu meradang.


William langsung mencengkram baju bagian depan Ellard, "Aku peringatkan sama kamu. Jauhi Arista, karena dia...."


"Bukannya Anda tidak mencintainya. Tadi sewaktu Raja Iblis bertanya apakah Anda mencintai Arista, Anda berkata dia hany bocah ingusan," sela Ellard tegas, tangan melepaskan cengkraman tangan William dari bajunya, "Jika suka, katakan suka!" sambung Ellard.


"Duh..duh...enaknya kalau di sukai pria tampan seperti kalian," ucap Esme.


"Bu, tolong bawa Arista kembali," pinta Anggun, berlutut di hadapan Esme.


"Baik anak murid ku yang cantik, karena sudah malam, sebaiknya kamu istirahat dulu, Ibu mau bereskan kekacauan di luar," sahut Esme, tangannya membelai puncak kepala Anggun.


"Aku ikut, sekalian ada hal yang ingin aku tanyakan," ucap Abel tanpa di tawar.


"Aku juga," ikut Anggun tak ingin istirahat sendiri.


"Baiklah, mari kita turun," sahut Esme.

__ADS_1


Esme, Anggun, dan Abel keluar kamar, meninggalkan William dan Ellard di dalam kamar, dan satu ranjang.


__ADS_2