
Ellard terus berlari dan berlari menusuri seluruh ruangan untuk memberitahu jika Anggun sudah ketahuan. Namun naas, saat Ellard berjalan di lorong menuju taman belakang. Ellard dijegat oleh penjaga Kastil.
“Kenapa menghadang jalanku? Cepat minggir, aku masih banyak pekerjaan!” ketus Ellard berpura-pura sebagai pekerja Kastil, sesekali pandangannya menoleh kebelakang, memastikan apakah dia diikuti atau tidak oleh Raja Iblis.
Tak!
Tengku Ellard di ketuk.
Ellard pun jatuh pingsan, penjaga Kastil langsung membawa Ellard menuju ke suatu tempat, tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.
Perlakuan penjaga Kastil menyeret tubuh Ellard, menyita perhatian pelayan, dan para pekerja lainnya. Termasuk Esme, sedang melintas dengan 2 wanita perias baju, dan mack up.
‘Dasar bodoh! Belum apa-apa sudah ketahuan,’ umpat Esme dalam hati. Kedua kaki terus berjalan menuju ruang rias.
Tidak ingin dirinya juga ketahuan menyelinap masuk ke dalam Kastil. Esme membaca mantra, “Protect my face from every evil glance,” gumam Esme.
Cling!
Setelah bunyi Cling, wajah Esme berubah menjadi wajah orang lain, lebih bersih dan terlihat jauh lebih muda dari sebelumnya.
Esme pun kembali melangkah, mengikuti 2 wanita perias berjalan di depannya, sesakali tatapannya liar, memandang ke semua sudut ia lewati. Mencari keberadaan William. Namun tidak terlihat.
Waktu pun terus berjalan, matahari sore mulai terbenam, semua dekorasi sudah siap dan hidangan sudah tersaji di atas meja hidang berukuran panjang, dan lebar, berada di tengah-tengah aula.
Esme sendiri sedang berada di ruang rias, menunggu kedatangan Arista. Sambil menunggu Esme hanya diam, berdiri di depan patung, dengan gaun hitam, bagian belahan depan terbuka, dan bagian punggung juga terbuka sampai ke pinggul.
Mengisi menit demi menit menunggu kedatangan Arista, Esme sesekali menguping pembicaraan 2 perias, sedang duduk di sofa membicarakan Arista dan seorang pelayan ketangkap dan akan dijadikan makanan buat Arista tepat tengah malam nanti.
Isi percakapan 2 perias:
“Ada seorang gadis menyusup ke dapur, pura-pura mengantar buah dan susu ke ruang calon pengantin wanita. Untung saja Raja ada di sana, dan berpura-pura menjadi calon pengantin wanita. Kalau tidak calon pengantin wanita mungkin akan celaka,” ucap perias wanita berwajah tua, dan berkeriput.
“Bukan itu saja ada 2 anak muda lagi yang ketangkap. Dan mereka kini sudah di bawa dan ke ruangan khusus. Sepertinya calon pengantin wanita dan kita akan makan enak nanti malam. Meminum, dan memakan bekas yang di sentuh oleh calon Ratu. Aku jadi tidak sabar!” sambung wanita perias kedua berwajah muda.
__ADS_1
‘Apa yang dimaksud 2 orang perias ini adalah Anggun, dan 2 anak muda lagi adalah Abel dan Ellard. Syukurlah William tidak ketangkap. Aku harap kami bisa menyelesaikan, dan membawa Arista pulang dengan selamat,’ gumam Esme dalam hati.
Rasa penasaran Esme membawa kedua kakinya perlahan berjalan mendekati 2 perias.
“Ada apa?” ketus perias pertama.
“Ti-tidak ada. Saya hanya bertanya, kapan calon pengantin wanita datang?” tanya Esme pura-pura takut, dan mengurungkan niatnya untuk bertanya, setelah mendengar pertanyaan ketus dari perias pertama.
“Sudah tunggu aja. Kau apa tidak tahu diluar sana sedang gempar penyesup masuk ke dalam Kastil. Jadi, aku rasa calon pengantin akan di kawal secara langsung oleh Raja Iblis!” ketus wanita itu kembali.
‘Ck, sombong sekali kau. Kalau nggak butuh informasi aja, sudah malas aku berhadapan dengan kalian di sini. Dasar Iblis jelek, bau lagi. Nggak ada seksi-seksinya!’ umpat Esme dalam hati.
“Sudah sana pergi! Ngapain di sini, sana-sana…”
Ucapan perias pertama terhenti saat pintu ruangan terbuka.
Klak!
5 pengawal berjejer mulai dari depan pintu, sampai ke dalam, tangan mereka juga menahan daun pintu besar itu. Tak lama masuk pengawal, tangannya menggenggam erat lengan Arista, membawa masuk Arista ke dalam secara paksa.
Sangking senangnya bisa melihat Arista dalam kondisi baik-baik saja, bibir Esme tidak sadar bergerak sendiri, dan berkata pelan, “Arista.”
2 perias mendengarnya langsung mendekati Esme, menatap penuh selidik.
“Kau bilang apa tadi?” tanya perias pertama, menatap lekat wajah panik Esme.
“Ti-tidak ada, aku hanya bilang indah sekali, sempurna untuk di jadikan calon Ratu,” jelas Esme gugup.
“Sudah jangan banyak melamun. Ayo! Cepat bantu calon pengantin wanita itu untuk memakai baju, dan kami mau mengambil alat rias dulu,” perintah perias pertama dengan ketus.
“I-iya,” sahut Esme patuh.
Esme pun berjalan mendekati patung baju, mengambil baju pengantin berwarna hitam untuk di pakai Arista. Detik selanjutnya Esme berjalan cepat mendekati Arista sudah duduk di tengah-tengah ruangan, di depan tempat ia duduk, sudah ada cermin besar dengan ukiran kayu kuno.
__ADS_1
Melihat 2 perias sibuk mengambil alat mack up dan perhiasan, Esme berencana untuk mendekati Arista.
“Arista,” panggil Esme sedikit berbisik di sisi kiri Arista.
Arista hanya melirik pantulan Esme dengan wajah orang lain terlihat di dalam cermin. Lalu membuang pandangan jengah nya ke arah kanan.
“Arista ini aku, ibu guru Esme,” panggil Esme kembali berbisik, sembari sesekali matanya memandang waspada ke sekeliling.
Arista langsung menoleh, “Apa kau serius?” tanya Arista tidak percaya.
“Hust…jangan bising. Anggun, Ellard, dan Abel, sudah ketangkap. Jadi aku sengaja menyihir wajah ku agar tidak ketahuan,” Esme menghentikan ucapannya, pandangannya melirik waspada ke sekeliling ruangan, merasa cukup aman, Esme kembali melajnjutkan ucapannya, “Kamu harus ingat. Tepat tengah malam nanti, Anggun, Ellard, dan Abel, akan menjadi tumbal Raja iblis untuk meningkatkan kekuatan kamu. Setelah kamu menikmati darah Ellard, Anggun, dan Abel. Raja Iblis akan memerintahkan….”
Ucapan Esme terhenti saat salah satu pengawal merasa curiga kepada Esme, berbicara berbisik kepada Arista. Pengawal itu mendekati Esme, menarik baju bagian belakang Esme, menjauh dari Arista.
“Hei, apa kau ingin mati?!”
“Ma-maaf, sa..saya hanya ingin mengucapkan selamat kepada calon pengantin.”
“Tetap saja tidak boleh. Sekarang menjauh dari calon Ratu sebelum kau menerima akibatnya!” usir pengawal itu lagi dengan kasar.
Esme menundukkan pandanganya, segera menjauh dari Arista. Namun, sesekali ia melirik dari ujung ekor matanya ke pengawal terus menatapnya tajam.
‘Ck, awas saja kamu!’ ancam Esme dalam hati.
Esme pun menghentikan langkahnya dengan jarak 2 meter dari kursi Arista. Kedua tangannya masih terus menggenggam erat baju pengantin berbahan sutra.
“Hei, kenapa diam di sana. Cepat ke sini!” panggil perias kedua sedikit sopan.
“Ba-baik,” sahut Esme patuh, berjalan dengan cepat mendekati Arista.
Arista mulai di rias, Arista juga memakai baju pengantin terbuat dari sutra.
2 jam sudah berlalu, Arista sudah keluar dari ruang rias menuju aula, tempat melangsungkan pernikahannya dengan Raja Iblis. Arista berjalan dengan anggun. Namun sedikit risih pada bagian depan terbuka lebar, menampilkan belahan 2 gunung kembar sampai ke perut. Bukannya itu saja, bagian punggung terbuka lebar sampai ke pinggul, membuat Arista benar-benar merasa risih.
__ADS_1
Arista terus berjalan di temani Esme, dan 2 perias lainnya di belakang. Langkah Arista terhenti di depan pintu masuk aula, diikuti Esme dan 2 perias lainnya. Arista terus memandang lurus ke depan, tepat dimana Raja Iblis sedang berdiri, menatap kedatangannya dengan senyum segaris terlihat seram di wajah keriput berbalut tulang.