Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
3 bulan kemudian (H1 ujian kenaikan kelas)


__ADS_3

Part 63


________


...Kembali ke Arista....


...🤨...


3 bulan kemudian.


Waktu terus berlalu, tak terasa kini Arista lagi melaksanakan ujian kenaikan kelas.10 menit sebelum ujian berlangsung, kelas terasa sangat tenang dan damai, semua murid duduk di bangkunya masing-masing.


Wajah Arista terlihat tegang, karena baru ini dia mengikuti ujian kenaikan kelas secara umum, sebelum Arista bersekolah kembali seperti saat ini. William selalu menghadirkan guru private yang bisa mengajar ke rumah untuk Arista.


Abel yang sedang duduk di depan meja Arista menoleh sedikit melihat Arista yang terlihat gugup menatap keluar dari kaca jendela kelas. Tangan Abel menggenggam tangan Arista yang sedang mengepal erat pensil di tangan kanan.


“Jangan gugup, karena ini hanya ujian kenaikan kelas. Jika kamu gugup seperti ini, kamu akan gagal dalam ujian dan kamu akan mengulang ketingkat awal, maka usaha kamu selama ini tidak akan sia-sia.”


Arista hanya diam memandang wajah dan tangan Abel yang menggenggam tangan kanannya. Wajah datar terpampang jelas di hadapan Abel, wajah cantik, manis, dan polos terus menatap wajah Abel datar. “Sudah omong kosongnya.” Arista menarik kasar tangannya yang di genggam Abel.


Kring!


Kring!


Kring!


Terdengar suara bel berdering, tanda ujian akan segera di mulai.


Tak!


Tak!


Tak!


Terdengar suara sepatu hak tinggi wanita memasuki ruangan kelas Arista.


“Pagi.” Sapa Esme berjalan masuk ke dalam ruang kelas, tangan kanannya memegang beberapa lembaran kertas ujian.


Esme meletakkan lembaran ujian yang menumpuk di atas meja miliknya. Esme berjalan mendekati meja murid paling depan yang sejajar dengan meja miliknya.


“Anak-anakku. Hari ini adalah hari pertama ujian kenaikan kelas buat kalian.”

__ADS_1


“Sudah tahu Esme.” Potong beberapa siswa yang terlihat sudah tidak sabar.


Esme berbalik badan, berjalan perlahan mendekati meja miliknya dan mengambil lembaran kertas ujian. Esme yang sedang memegang lembaran ujian, membagikan satu persatu kertas ujian di atas meja anak muridnya.


“Kalian harus bisa dan berhasil menjawab semua ujian ini, karena saya yakin anak murid yang saya didik semua luar biasa dan sangat hebat dari pada kelas yang lainnya.”


Saat pembagian kertas di meja Arista. Esme menundukkan sedikit tubuhnya mendekatkan bibir merah merekah miliknya di telinga Arista. “Saya yakin kamu bisa menjawabnya. Jika kamu merasa kesulitan maka kamu harus mengingat tuan William yang saat ini berjuang menunggu kamu kembali.” Bisik Esme.


Arista menolehkan wajahnya menatap Esme dengan pandangan datar.


Esme kembali berdiri tegak, melemparkan senyuman manis kepada Arista dan membagikan kembali kertas ujian yang tersisa kepada anak murid yang belum mendapatkannya.


Setelah semua kertas ujian di bagi rata, ujian pun berlangsung dengan sangat tenang.


Arista menatap serius, lembaran kertas ujian yang berada di atas mejanya. Dahi mengerut, bibirnya mancung serta tak lupa menyelipkan pensil di dalam bibirnya yang mancung bagai bebek.


Ujian apaan ini.


Semua soalnya sulit untuk di pahami.


Pusing, pusing, pusing aku memikirkan ujian ini.


Sudahlah. Aku isi saja asal-asalan, yang pentingkan ada isinya.


Dengan cepat Arista memilih jawaban, melingkari huruf. A, B, C, dan D tanpa pikir panjang lagi.


Tak sampai 10 menit berlalu, Arista akhirnya selesai mengisi semua jawaban ujian berjumlah 50 soal. Sangking senangnya melihat jawaban sudah terisi penuh, Arista spontan berdiri.


“Yeaa. Aku siap, aku siap. Akhirnya selesai juga ujian yang sangat membosankan ini.”


Melihat Arista yang kegirangan seperti itu, semua murid di dalam kelas menatap Arista yang sedang berdiri dengan kedua tangannya yang di junjung tinggi ke atas, tubuh bergoyang sedikit.


Esme yang duduk di bangku paling depan berdiri, menggelengkan kepalanya seperti sudah tahu jika Arista hanya asal-asalan mengisi semua jawaban ujian yang sedang berlangsung.


“Anak-anak. Kalian bisa melanjutkan ujian kalian, jangan hiraukan Arista yang sudah selesai.”


Mendengar Esme berbicara dan melihat semua teman satu kelas memandang dirinya, Arista langsung diam. Ia kembali duduk di bangku, ia juga menyembunyikan wajah malunya di balik buku dari semua teman sekelas yang menatap heran dirinya.


Ellard menarik baju sekolah Arista dari belakang. “Arista. Apa kamu yakin dengan hasil jawaban yang kamu lingkari secepat itu, sedangkan yang benar-benar teliti saja belum tentu benar apa lagi kamu yang asal-asal menjawab.” Bisik Ellard yang mendekati sedikit tubuhnya di belakang tubuh Arista yang masih diam menahan malu di balik buku tulisnya.


Arista menepis tangan Ellard. “Diam. Apa pun hasilnya itu bukan urusan kamu, mau cepat atau lambat jika memang salah ya salah.” Tandas Arista.

__ADS_1


“Arista. Coba berikan saya kertas hasil jawaban yang kamu isi.” Ucap Esme yang membuat Arista terkejut dan langsung memberikan kertas jawaban miliknya kepada Esme.


Setelah memberi kertas jawaban kepada Esme, Arista menyembunyikan wajah malu yang memerah di balik buku besar miliknya kembali.


Esme yang memegang lembaran jawaban Arista, kedua bola mata Esme membulat dengan pupil yang terus bergerak seakan sedang membaca jawaban demi jawaban yang di lingkari Arista.


Bruk!


Esme yang memegang lembaran jawaban hasil ujian Arista meletakkan kembali dengan kuat di atas meja Arista.


Kedua mata Esme membulat menatap Arista, bibirnya Esme bergerak namun seperti membeku tidak sanggup berkata apa pun.


Arista yang bersembunyi di balik buku menurunkan sedikit buku yang menutupi wajahnya menatap wajah Esme yang membeku menatap dirinya. “Apa jawaban aku salah semua?”


Esme mengulurkan kedua tangannya memegang bahu Arista, kedua bola mata Esme membulat, bibir yang keluh dan kaku kini bergerak perlahan. “Hebat.”


Semua murid yang berada di dalam kelas bingung mendengar penuturan yang baru saja di ucapkan oleh Esme. Semua murid mendekati Esme, di mana Esme masih berdiri di samping meja Arista.


“Haaa.”


“Apa semua jawaban Arista benar?”


“Tidak mungkin.”


Terdengar suara sahut menyahut dari semua murid yang berada di dalam kelas mengelilingi meja Arista.


Esme berbalik menolehkan wajahnya, memandang satu persatu anak murid yang berdiri mengelilingi Arista. “Anak muridku yang cantik dan tampan, apa kalian ingin saya hukum?” ucap Esme dengan nada lembut.


Semua murid yang berdiri mengelilingi Arista langsung bergegas pergi kembali ke bangku mereka masing-masing.


Esme menundukkan sedikit tubuhnya, jenjang leher mengulur mendekati telinga Arista. “Kalau begini hasilnya, tuan William pasti akan sangat senang.” Bisik Esme membuat Arista tertegun.


“Benarkah?” sahut Arista penuh semangat, membuat Abel dan Ellard menoleh menatap Arista yang saat itu sedang merasa senang.


Esme menganggukan kepala, menunjukkan bibir yang tersenyum manis di hadapan Arista. Esme berbalik badan, melangkah perlahan meninggalkan meja Arista.


Gadis ini memiliki selera belajar yang cukup rendah, tapi kenapa hasil jawaban yang ia pilih benar semua?


Pada hal aku tadi mengintip secara diam-diam, jika Arista menjawab kertas ujian dengan cepat


Aneh sekali.

__ADS_1


Gumam Esme di dalam hati, seperti tidak percaya jika Arista berhasil menjawab semua jawaban tanpa melakukan kesalahan.


...Bersambung........


__ADS_2