Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Menjelang malam Valentine.


__ADS_3

Part 58


________


...Kembali ke Arista....


...đź’–đź’–...


Sudah satu hari satu malam Arista, Ellard, Abel dan kelas yang lainnya Camp di tepian Danau yang tak jauh dari sekolah mereka. Hari begitu cepat berlalu, dari sore kini menjadi pagi yang cukup cerah. Cuaca dan suasana di pagi hari begitu sangat tenang dan damai, Arista pagi itu sudah bangun terlebih dahulu dari Anggun yang tertidur lelap di dalam tenda Camp. ⛺


Arista yang tidur dengan Anggun, kini keluar dari tenda sambil merenggangkan tubuhnya dengan langkah kaki yang berjalan sedikit mendekati tepian Danau.


“Pagi yang sangat indah.”


Abel yang sudah bangun terlebih dahulu, dan duduk di tepian Danau menolehkan pandangan menatap kedatangan Arista. “Pagi Arista.”


Arista yang tidak menyangka jika ada Abel yang sudah terlebih dahulu bangun mendadak dingin, wajahnya hanya menatap lurus terus berjalan, Arista yang tidak mau berdekatan dengan Abel menghentikan langkah kakinya berdiri tak jauh dari tempat duduk Abel. “Pagi.” Jawab singkat Arista.


Melihat Arista yang merenggangkan tubuhnya, sambil berolahraga kecil. Abel berdiri, berjalan mendekati Arista dan berdiri tepat di samping Arista yang masih cuek dengan Abel yang menatap dirinya tanpa berkedip.


Wajah Arista berubah canggung, melihat Abel terus menatap wajahnya yang masih melakukan olahraga lari di tempat. Arista menghentikan olahraga kecil yang sedang ia kerjakan. “Kenapa kamu terus menatapku, apa kamu tidak pernah melihat orang sedang berolahraga kecil.” Ketus Arista dengan wajah yang canggung.


Abel menggelengkan kepalanya, “Tidak.” Abel duduk di tepian Danau, tepat bersebelahan Arista sedang berdiri. Abel mendongakkan wajahnya dengan tangan yang meraih tangan Arista. “Duduklah. Apa kamu tidak capek berdiri terus.”


Arista menghempaskan tangan Abel. “Berani sekali kamu menyentuh dan menarik tanganku.” Ucap Arista dingin.


Abel menggelengkan kepalanya, bibirnya tersenyum manis, kedua bola mata indah menatap wajah Arista yang terlihat canggung. “Baik. Aku minta maaf karena sudah lancang menyentuh kulit kamu, dan di sini hanya ada kita berdua jadi tidak masalah bukan jika aku ingin lebih dekat lagi dengan kamu.”


“Hai. Hai. Siapa bilang kalian hanya berdua, apa kalian tidak menyadari jika Wali kelas kalian yang cantik ini sudah bangun lebih dulu dari pada kalian.” Potong Esme yang berjalan keluar dari balik hutan yang berada di belakang tenda mereka.


“Bukan itu maksudnya.” Sahut singkat secara serentak Arista dan Abel menatap wajah Esme yang kini sedang berdiri di belakang mereka.


Abel dan Arista berdiri, mereka menolehkan wajahnya secara serentak ke lain Arah dengan wajah yang canggung.


Esme menundukkan sedikit tubuhnya hingga terlihat dua gunung tak terlampauin miliknya, menatap wajah Arista dan Abel yang terlihat canggung karena kehadiran dirinya yang tiba-tiba datang di saat yang tidak tepat.


“Apa yang ingin kalian lakukan sepagi ini.”

__ADS_1


“Tidak ada” sahut serentak Abel dan Arista yang terlihat canggung menatap wajah Esme.


Arista menghentakkan kaki kanannya, “Permisi.” Ucap Arista meninggalkan Esme dan Abel yang masih berdiri di tepian danau.


Esme berbalik badan, “Anggap saja, Ibu tidak melihat kalian.” Esme melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan Abel yang masih diam mematung menatap Esme.


Saat melihat kedatangan Esme secara mendadak, jantung Abel seakan berhenti berdetak. Kini Esme sudah pergi meninggalkan dirinya, melihat Esme yang sudah jauh melangkah meninggalkan dirinya. Abel membuang dan menghirup nafas besar dengan bibir yang terbuka lebar.


Esme berdiri di depan jejeran tenda Camp, kedua tangan Esme memegang pentungan yang terbuat dari bambu. “Bangun. Bangun. Bangun.”


Tuk!


Tuk!


Tuk!


Esme membangunkan para wali kelas dan para murid yang masih terlelap tidur di dalam tenda Camp.


Masing-masing tenda yang berjejer, yang tadi terlihat tenang kini bergoyang saat mendengar kentungan dan teriakan Esme. Para wali kelas dan murid yang sedang berkemah bangun dari masing-masing tenda mereka.


Terlihat wajah yang masih mengantuk, rambut kusut, iler di mana-mana, menatap Esme yang terlihat bersinar berdiri di depan tenda mereka.


Arista yang sedang duduk di depan tenda Camp. miliknya merayap masuk ke dalam dengan perlahan agar tidak terlihat Esme. “Sebaiknya aku menjauh dari wanita itu.” gumam Arista pelan.


Melihat Arista yang merangkak berjalan masuk ke dalam tenda, Esme tersenyum manis. Esme melangkah besar mendekat tenda Camp, Arista. Esme berjongkok jari telunjuk kanannya di letakkan di depan bibir, wajahnya menoleh ke Anggun dengan mata kiri yang berkedip seperti memberi isyarat.


Arista yang masih terus merayap masuk ke dalam menjadi bingung, kedua kakinya terasa berat seperti tidak bisa di gerakkan. Ia menolehkan wajahnya menatap ke belakang, memastikan kenapa kedua pergelangan kakinya terasa sangat berat. “Esme.” Teriak Arista melihat Esme yang sedang memegang pergelangan kedua kakinya.


Esme tersenyum, menatap Arista yang menatap tajam wajahnya. “Kamu mau kemana? Apa kamu tidak ingin berendam di pemandian air panas dengan kami? Apa kamu tidak merasa diri kamu itu saat ini sangat bau dan sedikit lengket.”


Arista duduk, ia menolehkan wajahnya mendekatkan hidungnya di ketiak kanan dan kiri.


Sial. Ternyata Esme benar.


Kenapa ketiak ini tercium sangat tidak sedap, apa karena tidur di alam bebas dan memainkan sedikit permainan tadi malam.


Batin Arista yang menatap datar wajah Esme.

__ADS_1


Esme berdiri. “Ibu akan menunggu kalian di depan, jangan lupa bawa handuk dan baju ganti kalian.” Ucap Esme melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan tenda Camp Arista.


...2 jam kemudian....


...⛺⛺...


Arista yang selesai mandi dengan handuk yang di kalungkan di leher, tangan kanan memegang pakain kotor berjalan perlahan mendekati tenda Camp mereka.


“Sungguh nikmat jika berendam di dalam air hangat, apa lagi pemandian tersebut langsung dari sumbernya.” Gumam Arista pelan.


Arista menghentikan langkah kakinya di depan tenda Camp miliknya, sedikit tubuhnya masuk ke dalam tenda meraih tas miliknya dan memasukkan baju kotor ke dalam tas tersebut.


Setelah memasukkan baju kotor miliknya, Arista keluar berjalan sedikit dan berhenti di depan tepian danau dengan tangan kanan yang memegang sisir. Arista menyisir rambut panjang miliknya.


Ellard dan Abel yang baru saja selesai mandi berjalan secara terpisah menuju tenda Camp. saat kedua kaki terus melangkah secara berjauhan, kedua mata mereka di suguhkan pemandangan indah dari jarak jauh.


Pemandangan yang indah itu adalah melihat Arista yang sedang menyisir rambut panjang dan indah miliknya. Ellard tertegun menatap Arista yang terlihat jauh dari pandangannya.


Sungguh gadis yang sangat sempurna dan cantik secara alami.


Arista. Aku akan pastikan, jika aku pria yang pantas mendamping hidup kamu dan menjaga kamu.


Batin Ellard yang menatap Arista sedang menyisir rambut yang sehelai demi sehelai rambut terbang di hembus angin kencang.


Abel yang sedang berdiri di belakang Ellard juga ikut tertegun menatap indahnya rambut yang tersibak, di hembus kencangnya angin yang membuat Arista semakin sangat cantik.


Arista. Aku akan merebut hatimu, dan merebut hati Paman kamu. Agar cintaku yang tulus bisa dengan mudahnya masuk ke dalam hati kamu dan bersemayam di dalam sana untuk selamanya. Hingga kita menikah nanti.


Batin Abel yang terus menatap Arista.


“Kalian sedang memandangi apa?” Ucap Esme yang hadir di depan Ellard dan Abel, membuyarkan lamunan mereka berdua.


“Tidak ada yang sedang kami lihat.” Sahut Ellard dan Abel serentak dengan masing-masing wajah yang memerah menahan malu di hadapan Esme.


Karena merasa malu di pergokin oleh Esme. Abel dan Ellard berjalan dengan langkah besar meninggalkan Esme yang masih berdiri di tempat mereka tadi sedang berdiri.


Melihat Abel dan Ellard yang sudah pergi. Esme melipat kedua tangannya di letakkan di dada. “Kalian pikir aku tidak tahu, jika kalian sedang menatap Arista dengan tatapan mesum. Aku sebagai penggantian tuan William tidak akan pernah setuju, jika kalian berdua terus mendekati Arista. Hingga aku merasa yakin jika kalian tulus mendekati Arista.” Gumam Esme pelan dengan sudut bibir atas yang menaik.

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2