Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Sudah marahnya?


__ADS_3

Part 39


________


Pemuda tampan membawa Arista pergi mendekati tangga dari kelas yang terlihat kacau akibat Diana yang tiba-tiba membuat kekacauan.


Arista menepis tangan pemuda tampan tersebut, “Lancang kamu menggendongku dan menutup mulutku dengan tangan kamu itu.” bentak Arista menatap wajah pemuda tampan.


Pemuda tampan hanya bisa tersenyum mendengar omelan dan ocehan Arista. Pemuda tampan menyandarkan tubuhnya di dinding menatap wajah indah yang sedang memarahinya.


“Sudah marahnya?”


Mendengar ucapan dari pria tersebut, Arista berhenti mengomel dan berbicara. Ia berbalik badan, “Heran aku, sudah aku marahi masih saja ia tersenyum seperti itu.” Arista menggelengkan kepalanya.


Pemuda tampan hanya diam dengan posisi kaki bergerak mendekati Arista, dengan tangan yang mengulur panjang ia berkata. “Aku Aaron Abel panggil aku Abel.”


Arista tertegun menatap tangan putih dan mulus yang sedang mengulur panjang seperti berharap Arista menyambut hangat jabat tangan Abel.


Arista menatap wajah Abel, kemudian menolehkan wajahnya Arista berjalan meninggalkan Abel dengan tangan yang masih mengharap balasan jabat tangan dari Arista.


Arista terus melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Abel yang masih berdiri berharap jawaban Arista.


Lima langkah berjalan Arista menghentikan langkah kakinya sambil menoleh sedikit Arista berkata. “Dinda Arista, panggil saja Arista.” Setelah berkata seperti itu Arista melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Abel.


Abel tersenyum manis saat mendengar jawaban yang di berikan oleh Arista. Melihat Arista yang sudah sangat jauh melangkah meninggalkannya, Abel berlari mengejar Arista yang hampir sampai di depan kelas.


...Di dalam kelas....


...💃🏻💃🏻...


“Anak-anakku yang cantik dan tampan, apakah kalian tidak tahu jika kita kedatangan murid baru di dalam kelas kita ini?” tanya Esme dengan suara manja dan sedikit genit sambil memandang wajah Abel yang duduk di bangku depan sejajar dengan Arista.


Arista yang sedang duduk di bangku hanya diam tak menghiraukan ucapan Esme, Arista terus menggerakkan tangan kanan yang memegang 1 buah pulpen yang di gerakkan di atas kertas sambil menggambar wajah babi berkuping kelinci.


Esme mengulurkan tangan kanannya mengarah ke Abel. “Kalau begitu saya sebagai guru yang paling cantik yang tidak tertandingi akan memanggilkan Aaron Abel.” Teriak Esme dengan nada manja dan sedikit lembut.


Semua murid memandang wajah Abel yang sedang berdiri, berjalan mendekati Esme yang sedang berdiri di depan kelas.


“Wah. Tampan sekali anak baru itu.”


“Ia. Sungguh sangat tampan.”


“Jika dia masih jomblo aku ingin menjadikan dia kekasih hatiku.”

__ADS_1


“Di sini banyak pemuda yang sangat tampan, hingga seluruh nadi bergetar dan berdenyut kencang.”


Terdengar sahut menyahut dari murid wanita yang sedang berada di dalam kelas.


Abel berdiri sejajar dengan Esme. Kedua bola mata indah menatap satu persatu wajah murid yang sedang duduk fokus menatap dirinya, Abel meletakkan tangan kanannya di dada sambil berkata.


“Aku Aaron Abel, panggil saja Abel dan umurku 20 tahun. Selebihnya aku tidak bisa memberitahu kalian siapa aku dan siapa kedua orang tuaku dan dari mana aku berasal karena itu adalah privasi milikku sendiri.”


Esme berdiri sambil bertepuk tangan, “Prok! Prok!.” Esme berjalan mendekati Abel. “Terima kasih muridku yang tampan, kalau begitu kamu bisa segera duduk kembali ke bangku kamu.” ucap Esme dengan suara manja miliknya.


Mulai dari berjalan hingga duduk ke bangku, semua murid memandang wajah Abel dengan penuh kekaguman.


Tok!


Tok!


Esme mengetuk papan tulis, berharap semua muridnya dapat tenang kembali mendengar penjelasan yang akan di sampaikan oleh Esme.


“Anak-anakku, apakah kalian sudah merasa tenang?”


“Sudah Ibu guru Esme.” Jawab serentak anak murid.


Esme melambaikan tangannya, “Sangat semangat sekali seperti orang yang hendak merayu pasangannya untuk beradu kasih.” Esme menatap satu persatu anak muridnya yang sudah terlihat tenang.


“Tanggal 14 dan itu adalah hari Valentine ibu guru Esme.” Sahut serentak anak murid.


Esme berjalan dan duduk di atas meja guru meletakkan kaki kanannya di atas kaki kiri, “Karena sebentar lagi menuju hari kasih sayang, saya sebagai wali kelas kalian memberi kalian kesempatan untuk mengutarakan rasa cinta dan memberikan hadiah buat orang yang kalian sayangi. Bukan itu saja, jika kalian semua setuju tepat malam Valentine bagaimana jika kita mengadakan Camp di tepian Danau.”


Semua murid bersorak kegirangan.


“Ibu guru Esme memang tidak ada duanya.”


“Setuju.”


“Ibu guru Esme wali kelas yang sangat hebat.”


Esme melompat anggun dari meja, ia membusungkan kedua gunung yang tak terlampaui dengan tangan kanan yang menghempaskan rambut yang terurai panjang. “Siapa dulu Esme.”


Setelah pengumuman yang di berikan oleh Esme, mereka melanjutkan pelajaran sekolahnya. Semua murid pada serius dengan tangan yang menulis sebuah salinan yang di tulis di papan tulis.


Abel menolehkan wajahnya ke belakang menatap wajah Arista yang sedang fokus menulis.


“SSssttt!! Arista.”

__ADS_1


“Hem.” Dengus Arista.


“Tidak jadi.” Abel kembali duduk dan menyelesaikan sebuah salinan yang berada di papan tulis.


Ellard yang berada di belakang bangku Arista hanya diam menahan cemburu karena melihat Abel yang terus menyapa Arista dengan tangan kanan yang mengepal kuat 1 buah pulpen hingga terbelah menjadi 2 bagian.


Kltak!


...1 jam kemudian....


...🕰...


Kring!


Kring!


Bel berbunyi tanda pelajaran telah usai. Semua murid bergegas memasuki buku pelajarannya masing-masing ke dalam tas mereka.


Abel berdiri mendekati Arista, “Pulang bareng yuk.” Ajak Abel.


Arista berdiri menatap wajah Abel yang berdiri tepat di samping mejanya. “Aku bukan anak kecil yang harus pulang bareng dengan kamu dan kamu jangan berusaha sok akrab denganku.” Ketus Arista dengan bahu yang menyenggol dada Abel.


Abel memegang dada yang di senggol Arista, “Menarik dan sangat menantang.” Gumam Abel pelan, sudut bibir atas Abel menaik sambil menatap kepergian Arista yang sudah hilang dari pandangannya.


Ellard yang masih berada di dalam kelas dan masih duduk di bangku miliknya berdiri melangkahkan kedua kakinya mendekati Abel.


Ellard menatap tajam wajah Abel.


“Jangan berusaha merayu Arista dengan cara yang licik, dan kamu harus tahu siapa kamu sebenarnya di sini.”


Abel mendekatkan wajahnya, “Kita lihat saja siapa yang akan di pilih oleh Arista.” Abel meletakkan jari telunjuknya tepat di dada Ellard. “Kamu.” kemudian meletakkan kembali jari telunjuknya di dada miliknya, “Atau Aku.”


Abel berbalik badan melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan Ellard yang masih berdiri dengan wajah suram menatap kepergian Abel.


Ellard mengepal kedua tangannya dengan tatapan suram menatap kepergian Abel yang sudah hilang dari pandangannya.


Aku tidak akan membiarkan kamu jatuh ke pelukan Arista.


Sampai kapan pun, aku akan menghalangi kamu untuk mendekati Arista.


Gumam Ellard di dalam hati dengan ekspresi wajah yang terlihat suram.


...Bersambung.......

__ADS_1


...Happy Weekend.😘😘😍...


__ADS_2