
Esme, Abel, dan Anggun mulai membersihkan kekacauan dengan sihir milik mereka. Hanya dalam 5 menit, kekacauan dan kerusakan, sudah kembali rapih seperti semula.
Anggun dan Abel menatap Esme dengan penuh tanda tanya. Merasa risih dengan tatapan Abel dan Anggun, Esme mendekati Anggun, dan Abel.
"Apa Ibu terlalu cantik, dan seksi?" tanya Esme membanggakan diri, dengan bentuk tubuh sempurna miliknya.
"Aku menatap Ibu bukan karena hal itu, tapi aku menatap Ibu karena aku ingin bertanya. Sejak kapan Ibu mengenal Arista, dan Pamannya yang tampan itu?" tanya Anggun dengan suara besarnya.
"Kalau Ibu ceritakan, akan panjang nantinya. Intinya, Ibu bisa mengenal Arista karena Ibu ingin menjadi Istri dari Paman Arista," ucap Esme mengalihkan pembicaraan.
"Baguslah kalau ibu menyukai Pria itu, jadi aku bisa bebas merebut Arista," sambung Abel serius.
"Darah anak muda memang sangat menggairahkan," goda Esme, jari telunjuk memegang dagu Abel, tatapan penuh maksud menatap wajah Abel, "Dari awal masuk Ibu penasaran, siapa kamu sebenarnya?" sambung Esme mulai mempertanyakan Abel.
"Aku, adalah Abel. Kenapa ibu penasaran?"
"Tidak....tidak, aku mencium bau seperti seorang pengkhianat di sini," canda Esme terdengar serius.
"A-apa maksud Ibu?" tanya Abel gugup.
"Sudah jangan bercanda lagi, sekarang gimana caranya untuk pergi ke dunia mereka!" tegas William, perlahan berjalan di bantu Ellard.
"Kamu kenapa keluar? aku bilang sekarang istirahat yang cukup dulu," omel Esme, ia berlari ke arah William, menggantikan pegangan Ellard.
"Aku sudah tidak bisa istirahat lagi, aku ingin segera bertemu dengan Arista!" tegas William keras kepala.
"Lebih baik kita mengatur startegi di dalam kamar," ajak Esme.
Esme memapah William masuk kembali ke dalam kamarnya, di bantu Abel memegang sebelah lengan William.
Anggun, Ellard, Abel, dan Esme kini sudah duduk di ranjang William. Begitu juga dengan William sedang duduk, menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.
"Jadi bagaimana caranya?" tanya William kembali.
"Tepat 1 Minggu lagi terjadi Gerhana bulan purnama. Dan malam itu juga Arista berusia 18 tahun. Peralihan dari gadis remaja mendekati wanita dewasa. Malam itu juga kekuatan Arista semakin bertambah, begitu juga dengan Raja Iblis. Untuk membawa Arista kembali ke sini, jalan satu-satunya dengan memakai portal," Esme menghentikan ucapannya, ia menatap William, dan luka dalam di kedua paha William.
"Kenapa?" tanya William datar.
"Tapi aku tidak yakin bisa menyembuhkan kamu dalam waktu 1 Minggu. Adapun caranya itu akan sangat mustahil," sambung Esme serius.
"Kenapa mustahil?" tanya William penasaran.
"Ada satu obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan luka kamu, dan memulihkan semua kekuatan kamu. Tapi obat itu berada di sebuah desa mati. Desa yang sudah tidak ada penghuninya. Kecuali, Monster dan mahkluk gelap berkaki empat yang ada di dalam sana."
__ADS_1
"Obat apa itu?" tanya Anggun penasaran.
"Tetesan air mata Bidadari..."
"Apa! tetesan air mata bidadari? pasti Ibu Esme bercanda," ucap Anggun tak percaya.
"Tidak, aku serius. Dulu Desa itu terkena wabah penyakit aneh, yang mengharuskan menculik para bidadari, untuk mengambil air matanya sebagai obat. Awalnya mereka berhasil. Tapi, ada satu kejadian buruk menimpa Desa itu. Kejadian itu adalah kedatangan seorang pemuda, keturunan dari bangsa Iblis lainnya dengan tingkat kekuatan lebih tinggi dari Raja Iblis..." Esme menggantung ucapannya, menatap William, "Dan keturunan itu sebenarnya....."
"Sebenarnya apa Esme!" teriak William tak sabar.
"Ingin mengambil Arista, untuk menjadikan Arista sebagai Ratu baru di klan mereka," sahut Esme.
"Kenapa kau tak jujur. Kenapa kau menyembunyikan hal ini dariku, Esme!" teriak William emosi.
"Maafkan aku, aku juga baru tahu dari kabar angin," sahut Esme menyesal.
"Kalau gitu Arista benar-benar dalam bahaya," ucap William cemas.
"Aku rasa tidak terlalu, semoga pemuda itu bisa menemukan Arista, dan menyelamatkannya dari Raja Iblis," sahut Esme tenang.
"Tidak bisa!"
"Apa kau benar mencintainya?" tanya Esme serius.
"Seharusnya kau tidak boleh mencintainya. Kau dan dia adalah klan yang berbeda. Kau juga sudah sangat tua, jadi mana mungkin bisa selalu memberikan perlindungan buat Arista," Esme menepuk bahu William, "Biarkan Arista menjadi milik orang yang lebih muda. Kita yang lebih tua lebih baik mengalah, dan melanjutkan hidup untuk bernafas," sambung Esme bercanda.
William tetap diam, tak menjawab. Ia hanya mengepal kedua tangannya, wajahnya juga terlihat kesal.
"Bu, apakah bisa aku saja yang mengambil obat itu ke Desa mati?" tanya Anggun setelah tenang.
"Apa kamu yakin ingin pergi ke sana sendiri?" tanya Esme tak yakin dengan niat Anggun.
"Aku akan menemaninya," sambung Abel serius.
"Baiklah," Esme berdiri, "Aku akan membuka portal menuju ke sana. Waktu kalian hanya ada sampai besok malam. Jadi kalian harus mendapatkan air mata bidadari itu dengan cepat. Air mata bidadari itu di simpan di dalam botol kaca, berwarna hijau, biru, tapi tidak tercampur. Botol itu katanya tersimpan di dalam Gereja. Dan kalian harus hati-hati, karena Gereja itu di huni oleh banyak mahkluk di sana!" ucap Esme memberitahu.
"Baik, kami mengerti!" sahut Abel, dan Anggun serentak.
Esme berjalan mendekati lemari pakaian William. Tangannya bergerak memutar sebanyak 3 kali di depan dada, tangan kanannya mengulur ke pintu lemari.
Buuushhh
Wuuushhh!!! wuushh
__ADS_1
Portal berwarna hitam terbuka lebar di depan pintu lemari pakaian.
"Kalian harus cepat masuk, dan ingat! hati-hati!" pesan Esme.
"Baik," sahut Abel dan Anggun serentak.
Abel dan Anggun langsung melompat masuk ke dalam mulut portal. Portal itu langsung tertutup saat Anggun, dan Abel sudah masuk ke dalamnya.
"Apa kamu serius bisa mengobati aku dalam waktu singkat dengan memakai air mata bidadari itu?" tanya William tak yakin.
"Tentu saja. Efek samping dari air mata bidadari itu hanya ada 2, pertama berhasil, kedua kamu akan menjadi mutan paling jelek," sahut Esme kembali bercanda.
"Ha ha ha ..nggak lucu," ucap William di sela tawa sumbang nya.
"Apa sekarang Arista akan baik-baik saja?" tanya Ellard mencemaskan Arista.
Esme berjalan mendekati ranjang, dan duduk di samping Ellard. Esme mendekatnya bagian dadanya, membuat Ellard duduk mundur ke belakang.
"Anak muda, kenapa kamu sangat menginginkan Arista? padahal di sini ada aku!"
"Ma-maaf, tapi kau adalah guru ku," jelas Ellard.
"Status guru itu hanya di dalam sekolah. Jika kita bertemu di luar, kita bisa jadi pasangan yang serasi. Kamu juga bisa puas melakukan apa pun dengan ku," Esme mendekatkan kedua gunung kembarnya, tangannya mulai jahil, memegang bagian inti Ellard, dan mengelusnya, "Aku juga bisa mengajarkan kamu...."
Plaaak!!
William memukul tangan Esme, sudah masuk ke dalam celana Ellard.
"Kamu cemburu?" goda Esme.
"Buat apa aku cemburu. Aku sudah terbiasa melihat hal seperti kamu. Muak!" tepis William.
"Bilang aja kalau kamu...."
"Aku tidak selera dengan wanita seperti kalian," putus William, ia merebahkan tubuhnya, dan membelakangi Esme.
"Pantas aja sampai sekarang kamu masih perjaka!" ejek Esme.
"Pe-perjaka? pria tua dan banyak di kelilingi wanita seksi dan cantik seperti dia masih .."
"Aku bukan type pria boros. Tidak seperti anak muda zaman sekarang," sela William.
"Karena sudah malam, sebaiknya kalian berdua istirahat. Aku mau keluar sebentar," pamit Esme, beranjak dari ranjang, dan keluar kamar William.
__ADS_1