
Part 36
__________
...Kediaman pria tua berjanggut putih....
...🌾🌾...
Setelah menyelamatkan putri dari pria tua berjanggut putih, William mengantarkan mereka sampai ke kediaman pria tua berjanggut putih di karenakan upah yang akan di berikan kepada William tidak di bawa.
William menunggu pria tua berjanggut putih di ruang tamu, hampir 30 menit lamanya William menunggu pria tua berjanggut putih keluar dari ruang rahasia.
Saat William hendak berdiri, pria tua berjanggut putih keluar membawa 1 kotak perhiasan kecil. Pria tua berjanggut putih tersenyum berjalan ke arah William.
“Maaf. Karena membuat kamu menunggu terlalu lama.”
Pria tua berjanggut putih berdiri di hadapan William, tangan pria tua berjanggut putih mengulur panjang sambil memegang 1 kotak kecil perhiasan.
“Di dalam ini ada batu The Oppenheimer Blue, harganya cukup mahal dan ini setara dengan upah menyelamatkan putri saya.”
Pria tua mengambil tangan kanan William dan meletakkan kotak perhiasan tersebut di atas telapak tangan kanan William.
...🍂🍂...
...Sedikit informasi tentang The Oppenheimer Blue adalah batu berlian biru terbesar dan termahal hingga saat ini dengan harga USD 3,94 juta atau setara dengan 56,1 miliar rupiah per karat....
...🍂🍂...
Cuman itu saja yang Author tahu lebih dan kurang mohon maaf.
...Ilustrasi Batu The Oppenheimer Blue....
William membuka kotak perhiasan mungil, wajahnya berbinar menatap keindahan dari warna yang terpancar dari batu tersebut. William menutup kotak kecil perhiasan berisikan batu.
“Kenapa kamu membayar saya dengan batu seperti ini.”
Pria tua berjanggut putih tersenyum, tangan kanannya menggaruk kepala bagian belakangnya.
“Jika kamu mau yang lain saya juga bisa memberikannya termasuk putri saya.”
William berdiri seperti hendak bersiap untuk pergi dari kediaman pria tua berjanggut putih.
__ADS_1
“Tidak perlu. Perjalanan aku masih panjang, sebaiknya aku bergegas sekarang.”
Pria tua berjanggut putih menarik tangan William.
“Sebaiknya kamu makan dulu karena ketiga putriku sudah menyiapkan hidangan makan malam buat kamu.”
William menghela nafas pendek, “Baiklah.”
Karena William merasa dirinya telah menghabiskan banyak energi saat menolong putri dari pria tua berjanggut putih tersebut dan perjalanan juga butuh 1 hari lagi menuju kediamannya. Mau tidak mau dia menerima hidangan makan malam gratis.
William yang sedang duduk di kursi meja makan hanya diam dengan kedua mata menatap ketiga putri dari pria tua berjanggut putih yang sedang menyajikan makanan di piring miliknya.
“Hahaha.”
Pria tua berjanggut putih tertawa geli menatap ekspresi wajah William yang tak henti memandang ketiga putrinya. Pria tua berjanggut putih mendekati William, ia berdiri tepat di kursi belakang yang di duduki oleh William.
“Kamu sudah melihat ketiga putriku bukan dan kamu tidak bisa berbohong lagi jika kamu merasa kagum dengan ke indahan dan kecantikan dari ketiga putriku.” Bisik pria tua berjanggut putih di telinga William.
William menolehkan wajahnya menatap pria tua berjanggut putih, “Aku mengaku jika aku kagum dengan kecantikan dan ke indahan yang dimiliki oleh putri kamu Pak tua. Tapi apa kamu bisa menjamin ketiga putri kamu belum pernah di sentuh oleh orang lain, dan satu lagi. Keindahan dan kecantikan yang di miliki seseorang tidak akan mungkin bertahan lama, seiring berjalannya waktu keindahan dan kecantikan akan memudar.”
William berdiri, ia berbalik badan seperti selera makannya sudah lenyap di makan ucapan sombong dari pria tua berjanggut putih.
“Aku cuman ingin memberitahu kamu Pak tua kenapa alasan aku tidak pernah tertarik dengan wanita seperti putri kamu. Alasannya adalah karena aku ingin mencari kenyamanan dan kesetiaan, jika aku hanya mencari kecantikan dan keindahan wanita manapun bisa aku miliki selain ketiga putri kamu.”
Pria tua berjanggut putih menaikkan sudut bibir atasnya menatap punggung kekar dan tegap milik William. Pria tua berjanggut putih mencoba menahan amarahnya karena ia tahu jika William telah berjasa telah menolong salah satu dari ketiga putrinya.
“Hahaha. Ia ia , kalau begitu saya minta maaf anak muda dan saya tidak akan mengatakan hal semacam itu sekali lagi pada kamu.”
William menoleh sedikit dengan tatapan seperti hendak ingin menghabisi seseorang.
“Seharusnya kamu sudah tahu siapa aku, jika suatu saat kita berjumpa lagi. Aku berharap ketiga putri kamu sudah memiliki seorang anak dan suami. Aku permisi.”
William melangkah pergi meninggalkan kediaman pria tua berjanggut putih dengan ekspresi wajah yang marah. William terus berjalan menuju mobil yang terparkir tepat di depan pintu rumah kediaman milik pria tua berjanggut putih.
William menghidupkan mesin mobilnya memutar setir dengan lihai, William melajukan mobilnya meninggalkan kediaman rumah pria tua berjanggut putih.
William menyandarkan tubuhnya di badan kursi mobil, memegang kepalanya dengan wajah yang terlihat sangat cemas namun kaki terus menancap gas mobilnya.
...1 hari kemudian....
...🌾🌾...
William yang akhirnya sampai di kota di mana ia tinggal memperlambat laju mobilnya, ia memutar setir mobil memasuki pusat kota yang sangat padat dan ramai. William membelokkan mobilnya memasuki bar dimana ia biasa minum dan menghabiskan waktu kesendiriannya setelah kepergian Arista untuk bersekolah mencari jati dirinya.
__ADS_1
William memarkirkan mobilnya tak jauh dari kedai sebuah bar yang tak terlalu besar. Saat ia hendak keluar dari mobil yang sudah di parkir kan, kedua mata William di suguhkan pemandangan seorang gadis kecil berusia 8 tahun di kelilingi tiga orang pemuda tanggung.
William menatap sekeliling di mana orang ramai berlalu lalang di pusat pasar tersebut tapi taka ada yang menolong gadis kecil tersebut. William membuka pintu mobilnya, saat kaki kanannya menapak di atas tanah semua mata memandang dengan wajah yang terlihat antara takut dan segan.
Blam!
William menutup pintu mobil dengan sangat kuat, wajahnya terlihat suram menatap tiga orang anak muda yang menindas gadis kecil yang berbaju lesu.
William terus berjalan mendekat dan menghentikan langkah kakinya berdiri dengan tangan yang memegang salah satu kerah baju bagian belakang dari salah satu pemuda tanggung yang sedang tertawa kejam menindas gadis kecil tersebut.
“Aku baru sampai di kota ini, tapi kedua mataku sakit melihat pemandangan seorang pecundang yang hanya bisa menindas gadis kecil yang tak berdaya.”
Ucap William dengan nada pelan namun terdengar sangat menakutkan.
Ketiga pemuda tanggung menolehkan wajahnya memandang William yang sedang memegang kerah baju bagian belakang dari salah satu temannya.
Dua orang temannya terkejut, “Tuan William.” Ucap mereka dengan kedua mata yang membulat penuh dengan ketakutan.
William menghempaskan pemuda yang di pegang kerah baju bagian belakang di atas tanah.
William berjalan menatap pemuda yang terjatuh di atas tanah dengan tatapan menusuk dan sangat tajam. William menundukkan sedikit tubuhnya menatap pemuda yang ketakutan.
“Sepertinya kalian ingin menyerahkan nyawa kalian bertiga di genggamanku.”
Ketiga pemuda tanggung itu berdiri, mereka saling berpelukkan menatap wajah William yang amat sangat menyeramkan dengan ekspresi masing-masing wajah ketakutan. Bukan itu saja, ada juga yang tengah membuang air kecil di celana.
“Tidak tidak. Ampuni kami tuan William, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi asal kamu tidak menghabisi nyawa kami bertiga.”
William menghentakkan kaki kanannya menggertak ketiga orang pemuda tanggung sambil berbicara lantang, “Sebelum aku hilang kesadaran sebaiknya kalian enyah dari hadapanku."
Mendengar ucapan William seperti itu, ketiga pemuda tanggung berlari tunggang-langgang meninggalkan gadis kecil yang meraka tindas.
Dengan tubuh yang gemetar menahan ketakutan gadis kecil yang berusia 8 tahun menekuk kedua kakinya sambil berjongkok dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
William berjongkok mengulurkan tangan membuka tangan yang menutupi wajah imutnya.
“Sekarang kamu sudah aman.”
Setelah membuka tangan gadis kecil yang berusia 8 tahun, kedua mata William membesar menatap wajah gadis kecil tersebut.
Tidak mungkin.
Batin William yang terkejut menatap wajah gadis kecil berusia 8 tahun yang telah di tolong olehnya.
__ADS_1
...Bersambung.......