Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Ujian praktek terakhir.


__ADS_3

Part 67


______


Hari terus berlalu, kini Arista dan teman yang lainnya memasuki ujian terakhir menuju kenaikan kelas. Arista dan Anggun yang berjalan memasuki lingkungan sekolah terlihat saling lempar senyum satu sama lain.


Di sisi lain kemana Diana, Mulan, Robert, dan Sebastian? Semenjak kejadian mereka mengancam dan ingin menindas Arista, mereka tidak menampakkan batang hidung sampai sekarang. Apa yang di bicarakan Abel kepada mereka sewaktu menolong Arista?


Tidak ada yang tahu, yang jelas Arista kini menjadi aman dan tenang semenjak tidak ada Diana, Mulan, Robert dan Sebastian.


Arista dan Anggun berjalan mendekati ruang kelas mereka masing-masing, seperti biasa Anggun melambaikan tangannya kepada Arista.


“Arista. Nanti aku akan menunggu kamu.” teriak Anggun dari depan kelasnya.


Arista yang masih berdiri di depan kelas, menyipitkan mata kanannya, tangan kanan di buat simbol “OK”. Melihat Anggun sudah masuk ke dalam kelas, Arista juga ikutan masuk.


Kring!


Kring!


Bel pertama untuk ujian terakhir berbunyi, semua murid yang masih berhamburan di luar kelas segera memasuki ruang kelas mereka.


Ellard mencolek bahu Arista berulang kali. “Ssst.”


Arista merasa kesal atas tindakan Ellard, Arista segera menolehkan wajahnya. “Apa.” Sentak Arista dengan nada tinggi membuat teman 1 kelas yang tenang menatap Arista yang terlihat kesal atas tindakan Ellard.


Arista menatap satu persatu teman sekelas yang menatap dirinya datar, dahi Arista mengerut. “Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?” tandas Arista.


Semua teman sekelas langsung berbalik badan kembali ke posisi mereka masing-masing. Wajah dingin, datar Arista membuat teman sekelas segan untuk mengajak berbicara. Terlebih lagi, Arista adalah murid pindahan baru.


Tak!


Tak!


Tak!


Esme berjalan masuk ke dalam ruang kelas, wajah Esme terlihat sedikit kurang bersemangat. Masalah apa yang sedang di lalui Esme? Esme berdiri menatap Arista begitu sangat serius, bibir Esme hanya diam, lain dengan kedua mata indah miliknya seperti ada yang ingin ia sampaikan kepada Arista.


Esme menolehkan wajahnya, menyeka kasar air mata yang sedikit membasahi pipinya. Esme menarik nafas pendek, berusaha untuk tenang. Setelah merasa tenang, Esme tersenyum menatap satu persatu anak murid yang ada di hadapannya.


“Anak-anakku, apa kalian semangat?”


“Semangat Ibu guru Esme.” Teriak anak murid yang berada di dalam kelas menjawab serentak.


“Kalau begitu, mari kita pergi ke halaman belakang sekolah untuk menangkap belalang. Karena ujian praktek kali ini saya ingin kalian semua di bagi menjadi 5 tim dalam 1 tim terbagi 3 orang. Apa kalian setuju?” tanya Esme menatap satu persatu anak murid yang terlihat bingung menatap dirinya.


Arista menjunjung tangan kanannya di atas. “Esme. Kenapa ujiannya tidak ada yang berbobot, apa kamu bodoh? Tidak mampu membuat ujian yang pantas buat kami semua.”


Esme menundukkan wajahnya, telapak tangan kanan di letakkan di wajah menutupi wajah yang terlihat kesal atau pertanyaan spontan yang seperti menyayat hati.


Dia bilang aku bodoh.


Anak ini begitu membenciku, karena aku dekat dengan tuan William.

__ADS_1


Gerutu Esme di dalam hati.


Esme berjalan mendekati Arista, tangan kanan mengulur memegang bahu kanan Arista. “Sayangku. Memang begitu peraturannya, untuk selebihnya akan saya jelasin setelah selesai ujian atau sewaktu bagi raport.”


Arista menatap datar wajah Esme. “Terserah kalian saja para guru.” Ketus Arista.


Esme hanya diam, tidak mampu menjawab pertanyaan dari Arista. Esme berjalan ke depan kelas, tangan kanan memegang daftar absen kelas.


“Karena kalian semua sudah merasa tenang, maka saya akan membagi tim menjadi 5 bagian dan beberapa tim lainnya. Karena Diana, Robert, Mulan dan Sebastian sudah pindah ke sekolah lain, dan kelas kita hanya berjumlah 15 orang. Maka saya akan buat 1 tim hanya 3 orang saja.”


Arista memalingkan wajahnya menatap bangku kosong milik Diana, Robert, Mulan dan Sebastian.


Kenapa mendadak sekali mereka pindah, seperti tidak ada yang beres.


Gumam Arista di dalam hati.


...Di belakang halaman sekolah....


...🐰🐰...


Esme, Arista, Ellard, Abel dan beberapa murid lainnya sudah berkumpul di halaman belakang sekolah.


Betapa terkejutnya mereka semua saat mengetahui jika belalang yang di maksud adalah 5 ekor belalang yang berukuran raksasa di dalam kandang besar seukuran belalang raksasa, terlihat bengis dan menyeramkan.


Wajah Arista terlihat kesal, ia berjalan cepat mendekati Esme yang sedang berdiri di apit 2 pemuda tampan yaitu Abel dan Ellard. Arista meletakkan kedua tangannya di pinggang mungil miliknya menatap tajam Esme yang tersenyum canggung menatap kehadirannya.


“Apa kamu bisa jelaskan ini semua Esme.”


Esme berjalan menjauh, menghindar dari amukan Arista. Esme berjalan ke tengah lapangan di mana di tengah lapangan tersebut sudah tersusun rapih pedang, pisau dan alat lain sebagainya di atas meja.


Ini adalah tugas praktek kalian yang terakhir, setelah kenaikan kelas berlangsung maka kalian akan di tugaskan dan bimbing ke praktek yang sesungguhnya dengan guru pembimbing yang profesional.


Kenapa saya tidak membuat pelajaran begitu serius di tahap awal pelajaran yang saya pegang dan kelas yang saya pegang, dan melatih kalian dengan benar. Alasan saya adalah, saya sudah melihat kemampuan kalian yang cukup hebat di dalam diri kalian.


Bukan itu saja, saya tidak suka terlalu serius dalam belajar. Jika tekad tidak tertanam dalam hati buat apa serius hanya untuk menghabiskan waktu dan tenaga. Keduanya harus seimbang, agar hasil lebih bagus.


Sekarang kalian boleh mulai, pilihlah alat yang bisa membantu kalian untuk melawan belalang raksasa, sebelum tombol pembuka sangkar saya tekan, saya kasih waktu 5 menit. Segera di mulai.”


Arista, Abel, Ellard dan teman satu kelas lainnya berlari kencang mendekati jejeran pedang dan alat lainnya sebagai pembantu memudahkan menangkap belalang raksasa.


Setelah semuanya memegang alat bantu seperti pedang, pisau, dan lain sebagainya. Arista, Abel, Ellard dan teman satu kelas lainnya mengambil posisi bersiap untuk bertarung melawan belalang raksasa yang akan di lepaskan dari sangkar.


“Mulai.” Teriak Esme menekan tombol yang ia pegang, melepaskan kandang belalang raksasa.


Belalang raksasa lepas dari sangkar, mata merah menyala, kakinya berjalan cepat mendekati semua anak murid yang berada di halaman sekolah.


“Hiiaakkhh!” terdengar suara Arista yang berlari kencang mendekati belalang raksasa yang mengamuk.


Tap!


Tap!


Tap!

__ADS_1


Abel dan Ellard menyusul Arista dari belakang, di ujian terakhir Abel, Arista dan Ellard di sandingkan satu tim.


Tap!


Tap!


Abel menarik bahu Arista yang hampir mendekati belalang raksasa yang tampak marah. “Arista. Kamu tidak perlu ikut bertarung, nanti kamu terluka.”


“Ia. Kamu diam saja.” Sambung Ellard menyeimbangkan dirinya dengan Abel.


Arista tersungkur ke belakang, posisi bokong yang menyentuh tanah, wajah Arista terlihat suram menatap Abel dan Ellard yang menentang dirinya ikut bertarung melawan belalang raksasa. Arista bangkit. “Kalian pikir kalian siapa.”


Tap!


Tap!


Arista berlari kencang meninggal ketertinggalan.


“Hiaakkhh!” ujung kaki Arista di tekan, Arista melayang terbang, ujung kaki menyentuh kepala Abel dan Ellard. Arista melayang berputar seperti gasing, tangan kanan memegang pedang yang mengkilap.


“Matilah, monster jelek.” Teriak Arista, kedua tangan memegang gagang pedang di letakkan sejajar dengan dada, matanya Arista berubah menjadi merah menatap tajam belalang raksasa yang berada di bawahnya.


Jleb!


Arista menancap kan pedang miliknya di atas kepala belalang raksasa.


“Huaargh!” belalang raksasa menggeliat kesakitan.


Arista yang masih menyangkut memegang gagang pedang yang menancap di kepala belalang raksasa menaikkan sudut bibir atasnya, menekan pedang semakin dalam, menariknya ke bawah hingga membelah kepala sampai leher menjadi 2 bagian memuntahkan cairan merah dan cairan berwarna hitam mengenai semua wajah, tubuh mereka yang berada di sekitarnya termasuk Esme yang sedang berdiri tak jauh dari tengah lapangan.


Abel dan Ellard tertegun, menatap satu sama lain. “Luar biasa.” Gumam mereka pelan, kagum melihat Arista.


Tim yang lain juga ikut berhasil membasmi belalang raksasa.


...Di ruang ganti khusus wanita....


...🎊🎊...


Semua teman sekelas mendekati Arista yang sedang mengganti baju terkena cipratan darah dan cairan hitam.


“Arista. Kamu kenapa bisa sehebat itu?”


“Apa rahasia yang kamu miliki?”


“Ajarin kami caranya memakai ilmu seperti kamu dong?”


Terdengar suara sahut menyahut dari ruang ganti wanita, mereka menarik pelan tangan Arista yang masih memasang satu persatu kancing baju kemeja sekolah miliknya.


Wajah Arista terlihat amat kesal, pingin ia luapkan tapi ia mengingat pesan William agar tidak membuat keributan dan masalah di sekolah.


Arista menatap satu persatu teman wanita yang berada di sekelilingnya. Menarik nafas pendek, menatap kembali satu persatu teman wanita yang mengelilingi dirinya.


“Kemampuan kita berbeda, jika kamu ingin kuat. Kamu harus tanamkan itu di dalam hati, kekuatan yang kalian miliki lebih dari cukup, hanya saja kalian perlu mengasahnya sedikit. Dan satu lagi, seperti kata Esme, tekad dan keseriusan harus di satukan agar hasil bisa maksimal.”

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2