
Part 41
________
...Kembali ke William....
...💪🏻💪🏻...
“Kenapa hati ini tiba-tiba merasa gelisah ya?” ucap William yang membuka kedua matanya yang sedang menikmati rendaman air hangat di dalam bak mandi miliknya.
William bangkit dan keluar dari dalam bak mandi.
Tes!
Tes!
Air berjatuhan dari tubuh yang tidak memakai satu helai kain yang melekat di tubuh kekar dan gagah miliknya.
William berjalan mendekati handuk yang tergantung.
William melingkarkan handuk putih yang sangat lembut di bagian tubuh yang seharusnya dari tadi tertutup.
“Sebaiknya aku tidur, biar rasa gelisah ini hilang dari hatiku.”
William melangkahkan kedua kaki kanannya berjalan meninggalkan kamar mandi. William terus berjalan menuju kamar, William terus melangkah masuk ke dalam kamar dan berdiri di samping ranjang. Tangannya manarik handuk yang menutupi benda berharga yang belum terpasang sangkar dan menjatuhkannya di atas lantai.
“Sebaiknya aku tidur.”
William merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang nyaman dan menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut hangat miliknya.
Entah apa yang membuat hati William menjadi sangat resah dan gelisah pada malam itu. Ia berusaha untuk menghilangkan keresahan yang menyelimuti hatinya dengan berpura-pura tidur namun kedua mata miliknya tidak bisa tertidur lelap. Hingga pada akhirnya ia berusaha memejamkan kedua matanya kembali untuk tidur.
...Mimpi....
...😴😴...
William yang baru saja tertidur tiba-tiba sedang berdiri di tengah hutan yang begitu sangat menyeramkan. William menatap sekeliling hutan di mana sekarang kaki ia berpijak.
“Dimana aku, perasaan aku baru saja tertidur dan kini sekarang aku sedang berdiri di tengah hutan.” Gumam William bingung.
William terus melihat ke kanan dan ke kiri, “Benar. Buktinya sekarang aku sudah memakai baju lengkap, padahal sebelum tidur aku tidak memakai sehelai kain yang menempel di tubuhku. Dan ini hanya mimpi karena aku tidak tahu hutan apa ini, aku harus segera bangun.” Gumam William yang masih bingung melihat sekitar tempat di mana ia berdiri.
William terus berjalan dan berjalan sampai jalan yang ia lalui tidak di penuhi kabut. Langkah kaki William terhenti tepat di sebuah tepian jurang, William menatap ke sebrang jurang yang terdapat sebuah Villa yang di kelilingi puluhan kelelawar dengan awan yang menyelimuti tebal di ujung atap Villa yang terlihat tidak berpenghuni.
“Villa milik siapa itu? aku harus bertanya dengan seseorang yang mungkin saja dia tinggal di dalam Villa tersebut.”
William menatap sebuah titi yang terbuat dari papan yang terlihat sedikit rapuh dan berlumut. William menghela nafas berat dengan kaki kanan yang melangkah ia berdiri di depan titi yang rapuh dan sedikit berlumut dengan kedua tangan yang menggenggam pegangan tali yang menyatu dengan panjangnya titi rapuh dan berlumut tersebut.
“Meski rasa takut menghantui hati ini, tapi aku harus mencoba untuk berjalan di atas titi ini agar aku bisa keluar dari mimpi yang sangat buruk.”
__ADS_1
William menapakkan kaki kanannya berjalan di atas titi yang terlihat rapuh dan berlumut. Sesekali lutut yang tegap dan tubuh yang kekar sedikit gemetar melihat jurang yang di bawahnya penuh dengan ribuan ekor ular yang menggeliat.
“Jika aku ingin selamat sebaiknya aku tidak melihat kebawah, jika aku terus melihat kebawah aku akan menjadi lemah dan aku harus ingat kalau ada seorang Vampir kecil yang masih membutuhkan aku. Aku harus bisa keluar dari mimpi buruk ini.”
William membulatkan tekadnya dengan memotivasi dirinya mengingat nama Arista serta senyum manis dan sikap manja dari wajah polos Arista.
Setelah perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 20 menit yang penuh tantangan kaki William akhirnya sampai di ujung titi rapuh dan berlumut.
William menolehkan wajahnya melihat kebelakang dan memastikan jika ribuan ular yang berada di dalam jurang tidak terusik dengan langka kakinya. Ketika melihat dirinya sudah aman, ia melanjutkan kembali melangkahkan kedua kakinya berjalan mendekati pintu gerbang Villa yang terlihat kuno dan tidak terawat lagi.
Kedua kaki William terhenti tepat di depan pintu gerbang Villa yang terbuat dari baja yang mulai berkarat. William mendongakkan wajahnya menatap ke atas melihat ujung Villa yang bertingkat 5. “Aku pikir Villa seperti ini hanya terdapat di sebuah cerita dongeng.”
Nyyyiittt!!
Saat kedua mata masih menatap kagum, William di kagetkan dengan kedua pintu gerbang yang terbuka secara tiba-tiba tanpa satu orang penjaga yang berdiri di depan pintu gerbang.
“Helloo.”
Melihat pintu gerbang yang sudah terbuka lebar, William melangkahkan kedua kakinya memasuki halaman Villa yang terlihat kuno dan tak terawat lagi. Lagi-lagi William berteriak keras.
“Hello.”
Namun tidak ada yang menjawab panggilan William, ia terus melangkah kan kedua kakinya berjalan memasuki dalam Villa tersebut. William terus menyelusuri jejak memasuki dalam Villa seolah mencari tahu apakah ada seseorang yang bisa membantunya keluar dari mimpi yang sangat menyeramkan tersebut.
Baru berjalan 5 meter, kedua mata William di suguhkan beberapa lukisan yang terpajang di dinding Villa tersebut. Langkah kaki William terhenti tepat di depan lukisan seorang wanita yang berbaju putih yang di mana bagian dadanya terbuka lebar hingga terlihat belahan 2 gunung tak terlampaui dengan mahkota yang melekat di sanggul rambut yang sangat indah.
William mengerutkan dahinya seperti sedang mengingat sesuatu. William memperjelas pandangannya dan benar saja ia dapat mengingat wajah wanita tersebut.
William berlari kecil berhenti dan menatap semua lukisan yang terpajang di dinding. Terlihat jelas, jika terdapat banyak lukisan yang menggambarkan jika tempat yang ia masukin bukan hanya sekedar Villa biasa. Tempat yang di pijak William tenyata adalah bekas istana seorang Ratu penyihir yang terkenal kejam 10.000 tahun silam.
William menatap ke sekeliling tempat, “Ini bukan Villa. Ini adalah Istana wanita penyihir, kenapa aku bisa bermimpi sampai ke sini. Aku harus segera…”
Ucapan William harus terputus saat mendengar suara teriakan seorang wanita dari dalam Istana.
“AAAAAAAA.”
William memutar arah tubuhnya, ia berlari mengikuti alur suara yang ia dengar.
Tap!
Tap!
Tap!
William terus berlari kencang, ia menaiki anak tangga yang menuju lantai atas dimana ia mendengar suara jeritan wanita tersebut.
Kedua kaki William terhenti di sebuah kamar yang pintunya terbuat dari emas.
"Hoss! Hoss!"
__ADS_1
Dengan nafas yang terlihat berat William menatap seorang wanita yang terbaring di atas ranjang empuk dan mewah, rambut wanita tersebut terdapat hiasan bunga yang melingkar dan di samping ranjang wanita tersebut telah berdiri seorang pria yang berjubah hitam dengan tangan kanan yang memegang tongkat panjang yang di ujungnya terdapat Kristal merah yang menghiasi tongkat tersebut.
William membulatkan kedua bolanya, “Martinus.” Gumamnya pelan sambil melangkahkan kaki kanannya masuk ke dalam kamar Ratu istana tersebut.
Pria berjubah hitam menolehkan wajahnya menatap kedatangan William dengan tatapan yang begitu menyeramkan.
“Kita berjumpa lagi.”
William menghentikan langkah kakinya dengan kedua bola mata yang membulat menatap wajah pria berjubah hitam yang disebut Martinus.
Kenapa dia bisa melihatku.
Apakah semua ini hanya jebakan.
Batin William yang berbalik badan seolah ingin pergi dari kamar tersebut.
Sswiish!
Secepat angin berhembus Martinus berdiri di depan William dengan kedua bola mata yang bersinar merah menatap William. “Serahkan gadis itu.” Martinus mencengkram kuat jenjang leher William.
William yang hampir kehabisan nafas hanya tersenyum licik menatap wajah Martinus. “Gadis yang mana? Soalnya banyak gadis yang mendekatiku bahkan yang mau mengajak akur tidur juga banyak. Tapi apa kamu selera dengan wanita seperti itu.” sahut William dengan nafas dan ucapan yang terlihat berat akibat cengkraman tangan Martinus yang menempel di jenjang leher William.
“Masih saja kamu berpura-pura tidak tahu.”
Secepat kilat tangan Martinus yang sedang mencengkram jenjang leher William, menghempaskan tubuh William ke dinding membuat William menyemburkan darah dari mulutnya.
Baamm!
“Uhuk! Uhuk!”
William berusaha bangkit dengan tangan yang mengusap kasar bagian bawah bibir yang terkena semburan darah.
“Beraninya datang lewat mimpi.”
“Cih! Dasar Iblis.” sambung William.
Saat Martinus hendak menyerang William, datang seorang wanita yang tidak jelas wajahnya karena tertutup cadar tipis. Wanita tersebut meletakkan tangan kanannya tepat di dada di mana terdapat luka dalam yang William dapati dari benturan kuat.
Saat tangan wanita tersebut d letak di dada William, terlihat cahaya putih yang memantul membuat William tertegun menatap wajah cantik yang tertutup cadar tipis.
“Apa yang kamu lakukan dan kenapa tubuh ini tidak terasa sakit lagi.” Ucap William.
Tanpa menjawab pertanyaan William, wanita tersebut mengulurkan kedua tangannya hingga terdapat cahaya seperti sebuah portal, “Cepat kamu harus masuk kedalam portal ini. Karena aku masih membutuhkan kamu untuk menjaga Vampir kecil yang sedang bersama kamu.” tegas wanita bercadar tipis tersebut.
William menganggukan kepalanya, “Terimakasih.” Ucapnya sambil melompat masuk ke dalam portal yang di buat oleh wanita bercadar tersebut.
...Bangun dari mimpi....
...😵😵...
__ADS_1
William spontan duduk, sekujur tubuh William di penuhi keringat dengan nafas berat. William menundukkan wajahnya menatap dada yang polos tanpa sehelai kain yang melekat. “Memar.” Gumamnya pelan menatap memar yang memenuhi dadanya.
...Bersambung.......