Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Aku cemburu


__ADS_3

Part 73


______


William dan Arista sedang berjalan-jalan di pusat kota, malam itu ada pembukaan pusat hiburan malam. Jarang sekali bisa menikmati berkunjung ke tempat ini dengan Paman, biasanya Paman sibuk dengan Monster yang harus di basmi. Itu yang ada di pikiranku sambil menatap Paman yang sedang berjalan di sampingku.


Langkah kaki kami terhenti di depan pintu masuk pusat hiburan malam, Paman menarik tanganku. “Mari kita masuk.” Ajak William menggandeng tangan Arista berjalan masuk ke dalam tempat hiburan malam di mana banyak permainan yang membuat Arista senang.


“Paman. Mari kita main lempar gelang.” Arista menarik tangan William. Arista dan William menghentikan langkah kakinya di depan stand permainan lempar gelang. Arista mengulurkan tangannya. “Paman.” Tangannya bermain seperti orang yang hendak meminta uang.


William menggeleng. “Apa kamu bisa bermain?” tanya William sambil memberikan uang besar kepada Arista.


Arista berbalik badan melangkah pergi membeli gelang sesuai uang yang di berikan William. Arista berdiri di samping William. “Tadi Paman bertanya apakah aku bisa? Sekarang Paman lihat saja.” Arista membuat ancang-ancang, lidah menjulur sedikit di sela-sela bibir yang masih terlihat indah. Tangan kanan mengulur panjang memegang 1 gelang, tangan kiri di penuhi gelang permainan berjumlah 20 gelang.


Wajah serius terpampang jelas, lemparan pertama dan kedua tidak masuk. Tapi Arista tidak menyerah sebab masih banyak gelang yang ia pegang. Arista semakin bersemangat, wajah terlihat begitu sangat serius.


William melipat kedua tangan di letakkan di dada. “Sudahlah. Kita bermain yang lain saja. Aku yakin kamu tidak bisa memasukkan gelang-gelang itu ketempatnya, kalau pun masuk paling kamu dapat satu bungkus permen.” Ucap William seperti meremehkan Arista.


“Kegagalan pertama, kedua dan ketiga itu wajar Paman. Sudah Paman lihat saja.” Arista kembali melempar, wajah cukup serius menatap kedepan. Secepat kilat Arista melemar sisa gelang yang ada di tangan kirinya, dan benar saja semua gelang masuk ke tempatnya tak ada yang tersisa.


William tercengang, kedua mata membesar. “Luar biasa.” Ucap William seperti tidak percaya jika Vampire yang tumbuh remaja itu bisa memasukan gelang secepat itu.


Penjaga stand tersebut juga ikut tercengang, begitu juga dengan orang-orang yang menonton aksi Arista. Tepuk tangan meriah terdengar.


Prok!


Prok!


Setelah tepuk tangan berakhir, Arista mendapatkan beberapa hadiah besar membuat penjaga merugi terlihat wajah penjaga yang sedih. Suasana yang ramai saat melihat Arista kini kembali seperti biasa.


“Rugi. Rugi.” Keluh seorang pria penjaga stand.


“Jika Paman tidak mau rugi, tidak usah buka permainan seperti ini.” Arista menundukkan sedikit tubuhnya menghadap pria penjaga stand yang sudah memberinya banyak hadiah besar. “Terimakasih Paman.” Arista berbalik badan berjalan mendekati William dan memberikan semua hadiah yang ia dapat ke tangan William.


“Paman. Mari kita bermain permainan lain.” ajak Arista yang berjalan duluan di depan. Arista terus melangkah dengan senangnya seperti anak kecil yang baru saja di belikan permainan baru. Langkah kaki Arista harus terhenti saat melihat ada seorang wanita yang tersenyum di hadapannya.


William yang susah payah membawa hadiah sampai menutup pandangannya menabrak Arista yang terhenti di depannya. “Aduh. Kenapa kamu berhenti.”


“Lihat.” Ucap Arista datar menatap wanita yang terus tersenyum manis di hadapannya.


“Siapa.” William menurunkan sebagian hadiah Arista kebawah. William membulatkan kedua matanya saat melihat wanita yang melambaikan tangan di hadapannya. “Esme.”

__ADS_1


“Hai. Aku tidak menyangka jika kita bisa bejumpa di sini.” Ucap Esme tersenyum manis, kedua tangan di letakkan di belakang di atas bokong yang meninggi.


Esme berjalan mendekati William. Esme menundukkan tubuhnya hingga terlihat 2 gunung kembar yang bergoyang seperti jelly di hadapan William. “Biar saya bantu.” Esme mengambil sebagian hadiah Arista, membantu William untuk membawa hadiah yang terlalu banyak.


William memalingkan wajahnya, ia tidak ingin melihat 2 gunung milik Esme yang terpampang nyata begitu mengkilap membuat para pria ingin merasakannya.


Arista menarik semua hadiah yang di pegang Esme. “Tidak perlu. Aku juga bisa membawanya.” Arista menatap tajam wajah Esme yang tersenyum manis. “Apa yang kamu lakukan di sini.”


Esme meraih lengan kekar William, memasukan tangannya di sela lengan yang kekar. “Karena ini liburan yang cukup panjang, sudah jelas aku ingin berkunjung ke rumah temanku yang tampan ini.” Esme memegang dagu William.


William menatap kekesalan yang ada di wajah Arista yang terus menaikkan sudut bibir atasnya. William menepis tangan Esme. “Aku tidak menerima tamu. Dan apa kamu pikir aku anak kecil dan apa kamu tidak malu berbuat seperti ini di depan orang ramai.”


Esme memeluk tubuh kekar William. “Kenapa aku harus malu, orang tidak akan berpikir seperti itu. Orang pasti mengira kita adalah pasangan kekasih yang temu kangen.” Esme mengeratkan pelukannya.


William yang baru saja sembuh segera melepaskan pelukan Esme yang membuat dada kanan bekas lukanya denyut. “Kamu wanita atau badak. Pelukan kamu kuat sekali, aku yang baru saja sembuh dari luka, kamu buat sakit kembali.”


“Aku pulang saja.” Ketus Arista yang terlihat cemburu melihat Esme dan William. Wajah terlihat kesal, langkah kaki yang terus di hentakkan menemani langkah perjalan yang hendak keluar dari pusat hiburan. “Aku di larang mendekati pria lain, sedangkan dia selalu dekat-dekat wanita. Dasar pria selalu ingin menang sendiri.”


“Arista.” Panggil William yang menatap kepergian Arista yang terlihat kesal. William menolehkan wajah menatap Esme. “Aku permisi dulu.” William melangkahkan kaki kanannya.


“Tunggu.” Esme mencengkram erat pergelangan tangan kiri William. “Kamu harus hati-hati dengan wanita yang ada di dalam rumah kamu.” ucap Esme terlihat begitu serius.


William berbalik badan. “Wanita? siapa?” tanya William yang belum paham maksud dari ucapan Esme.


“Woi. Wanita aneh, kalau bicara jangan tanggung-tanggung. Balik kamu Esme.” Teriak William yang memutar badannya seperti mencari di mana Esme pergi bersama dengan putaran angin kecil yang menghilang.


William tidak dapat menemukan Esme, ia melangkah pergi meninggalkan kerumunan. “Wanita. Wanita.” gumam William pelan menundukkan pandangannya. William terus berjalan pergi sambil menggerutu mengingat ucapan Esme yang menggantung.


Saat langkah kaki sudah keluar dari pintu masuk pusat hiburan. William menatap Arista yang sedang berjongkok di samping mobil William dengan hadiah yang terselip di tengah-tegah tubuhnya.


“Sekarang aku ingat. Apa jangan-jangan wanita itu pelayan yang sudah berulang kali aku usir, tapi tidak mau keluar juga. Sudah kuduga jika wanita itu tidak benar dan ada maksud yang tersembunyi.” William terus memandang Arista yang berjongkok dengan muka kecut, bibir panjang menatap William. “Arista. Aku harus menjauhkan kamu dengan wanita itu.” ucap William pelan.


William melangkahkan kaki kanannya dan berlari menuju Arista yang sedang jongkok di samping mobilnya. William memegang lengan Arista. “Kamu kenapa diam disini, bagaimana kalau ada pria jahat yang ingin menyakiti kamu.”


Arista menepis tangan William. “Biar saja.” Tandas Arista.


William membuka pintu mobilnya, ia menggendong tubuh mungil yang masih berjongkok di samping mobil. William menggendong dan meletakkan di dalam kursi yang sejajar dengan kursi kemudi. “Nah. Gini baru benar.” Ucap William menatap wajah datar yang cemberut.


William memegang dagu Arista. “Kamu kenapa Vampire kecilku.” Ucap William merayu Arista yang masih terlihat kesal.


“Pergi saja sana sama Esme.” Tandas Arista yang terlihat cemburu.

__ADS_1


“Kamu cemburu ya?” rayu William.


“Tidak.”


William menutup pintu mobil Arista. “Baik. Kalau begitu kita akan pulang.” William berjalan dan masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalan pulang dari tempat pusat hiburan malam wajah Arista terlihat cemberut menatap keluar jendela. William merasa bingung harus berbuat apa lagi, rayuan, gombalan juga sudah di lakukan namun Arista tetap diam seperti patung.


William menghentikan mobilnya di pinggir jalan. William memegang punggung tangan kanan Arista. “Dinda Arista.”


Arista menarik tangannya.


William mendekatkan tubuhnya, tangan kanan menarik dagu dan melayangkan kecupan di bibir Arista yang sama sekali belum tersentuh oleh siapa pun.


Deg!


Deg!


Jantung William dan Arista berdetak kencang. Kedua pipi memerah. Rasa kecupan yang sama sekali belum mereka rasakan kini terjadi.


William segera melepaskan ciumannya. Wajah merah terpampang jelas di wajah William. William menempelkan dahinya di kaca mobil. “Maaf.” Ucapnya pelan.


Kedua mata Arista membesar, pipi merah terpampang jelas di wajah Arista. Jari-jari kanan memegang bibirnya. “Paman mencuri ciuman pertamaku.”


“Itu ciuman pertamaku juga.” Tandas William yang masih menempelkan dahinya di kaca mobil.


“Tidak. Paman berbohong.” Keluh Arista yang tidak percaya, bagaimana mungkin Arista percaya jika itu adalah ciuman pertama William. William saja punya banyak wanita yang selalu menggodanya.


“Aku harus bilang apa lagi. Kalau kamu tidak percaya ya sudah, aku buktikan.” William menolehkan wajah kembali ke Arista, William menarik dagu Arista kembali dan melayangkan kecupan. Wajah memerah yang terpampang jelas satu sama lain tidak mereka pedulikan lagi.


Arista membulatkan kedua matanya, ia merasakan kecupan yang begitu berbeda dari sebelumnya. William menikmati hal itu, hal yang jarang ia lakukan. William semakin liar menjelajahi rongga mulut Arista.


Arista seperti kehabisan nafas dengan cepat mendorong pelan tubuh kekar William. “Sudah cukup. Aku percaya itu ciuman pertama Paman.” Ucap Arista seperti itu ia tidak ingin menerima kecupan yang membuat ia semakin terlena.


William meletakkan jempolnya di bibir mungil yang basah, mengusap lembut. “Maaf. Bukan maksud aku buruk, tapi aku tidak ingin melihat kamu marah lagi.” William memegang kepala Arista dan menempelkan di dada kekarnya. “Apa kamu bisa mendengarkan suara detak jantung yang tak biasa ini. Aku jujur kalau ini adalah yang pertama kali bagiku, tidak ada wanita.”


“Aku cemburu.” sambung Arista.


...Bersambung .......


...Maaf baru Up....

__ADS_1


...Soalnya sunyi, jadi Bestie malas Up-nya.🤭🤭...


...Bentar lagi puasa 🤗🤗.....


__ADS_2