
Part 49
______
“Tidak. Kali ini aku beneran serius, aku harap kamu bisa mendengarkan perkataan yang akan aku sampaikan kepada kamu.” Esme menarik tangan Arista agar mau duduk kembali di samping sofa kosong yang ia duduki.
Arista menghela nafas pendek, “Baik.” sahut Arista yang berusaha tenang, seperti sedang memberikan kesempatan kepada Esme untuk memperbaiki perkataan yang tidak penting yang baru saja mereka katakan.
Esme mengatur posisi duduknya menghadap Arista, kedua tangannya menggenggam tangan Arista. Wajahnya pun berubah menjadi sangat serius menatap wajah Arista yang masih terlihat datar menatap wajahnya.
“Aku tidak tahu apa ini waktu yang pas atau tidak, untuk membicarakan hal yang tuan William ucapkan dulu kepadaku.”
“Hal apa yang kalian sembunyikan dariku.” Sambung Arista dengan nada sedikit kesal.
“Jika aku beritahu kamu yang sebenarnya kenapa kamu bisa di sekolahkan di sini, apa kamu akan berjanji kepadaku demi tuan William.” Ucap Esme memberitahu Arista.
Wajah Arista berubah menjadi serius, ia hanya menganggukkan kepalanya menatap wajah Esme.
Esme mengerutkan dahinya mencoba mengingat apa saja perkataan William sebelum menitipkan Arista untuk bersekolah lagi dan mempercayai Esme sebagai pengganti dirinya untuk menjaga Arista di dunia lain.
“Tuan William sebenarnya sedang di kejar-kejar oleh Raja Iblis yang ingin merebut kamu dari tuan William. Raja Iblis itu sangat jahat, kamu tahu Rossa! Teman masa kecil tuan William. Dan apa kamu tahu kenapa Rossa bisa meninggal dunia?”
“Aku sangat kecewa dengan Paman.” Belum sempat selesai berbicara, Arista mengeluh kembali seperti hanya dia yang tidak tahu apa-apa dan kenapa Paman nya tidak memberi tahu apa pun.
Esme memegang kedua bahu Arista, seperti sedang berusaha menenangkan Arista yang salah paham atas ucapan yang baru saja di lontarkan Esme.
“Kamu tenang dulu, aku belum siap berbicara Arista. Jika kamu tidak tenang aku tidak akan melanjutkannya kembali dan aku juga tidak akan tahu, sampai kapan aku bisa selamat atau tidak saat sedang menjaga kamu di sini.”
Wajah Arista berubah menjadi sangat bingung, kedua mata indah Arista mulai berkaca-kaca. “Kenapa, bagiamana mungkin kamu tidak akan bisa hidup lama menjagaku sampai aku menyelesaikan sekolah disini dan ada apa sebenarnya yang sedang kalian sembunyikan dariku.”
Esme berusaha menenangkan Arista kembali, Esme memeluk tubuh Arista. “Aku harap setelah kamu mendengar ceritaku, kamu tidak akan marah.” Esme melepaskan pelukannya dengan kedua mata yang sedikit berair.
Arista menatap wajah Esme yang basah, “Esme. Apa kamu sedang menangis?” tanya Arista meletakkan jari telunjuknya di pipi Esme yang basah.
__ADS_1
Esme tersenyum manis, tangannya mengusap kasar wajahnya yang basah. “Ini tangisan bahagia, karena aku bisa berbagi cerita kepada kamu dan menjaga kamu.” sahut Esme dengan suara serak.
“Sudahlah kamu jangan menangis seperti anak kecil, cepat kamu katakan rahasia apa yang sedang kalian sembunyikan dariku.” Tandas Arista.
Melihat Arista yang mulai bersemangat kembali, Esme memutuskan untuk tidak memberitahu banyak hal apa pun yang sebenarnya akan terjadi kepadanya dan kepada Dunia di kemudian harinya.
Esme tersenyum manis, “Tuan William hanya minta satu hal dari kamu, dan kali ini aku akan menyampaikannya. Tuan William hanya minta kamu bisa menemukan jati diri yang terletak di dalam diri kamu supaya dikemudian hari kamu bisa menolong diri kamu sendiri yang akan direnggut oleh Raja Iblis.”
Arista melipat kedua tangan dan meletakkan di dada, ia mendekatkan wajahnya menatap wajah Esme. “Sudah itu saja. Jika sudah tidak ada lagi hal penting yang ingin kamu bicarakan maka aku akan pergi.” Arista berdiri. “Kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut diriku sendiri dari Paman William dan aku akan mencari jati diriku agar aku bisa menolong diriku dan Paman.”
Esme hanya bisa tersenyum melihat semangat yang membara terlihat dari wajah Arista. “Kalau begitu, hari ini juga aku akan melihat kamu berlatih di sini dan aku akan mengajarkan sedikit mantra sihir yang aku ketahui.”
“Mantra sihir.”
Esme menganggukan kepalanya, “Ia. Mulai sekarang kamu harus berlatih disini, setiap pulang sekolah aku akan menjemput kamu dan membawa kamu ke rumahku supaya kamu dan aku bisa berlatih sepuasnya tanpa di usik oleh orang lain.” sahut Esme.
Esme berdiri menatap wajah Arista yang masih terlihat polos.
Maaf. Sebenarnya aku mengajak kamu berlatih di sini agar tidak ada orang lain yang bisa mengetahui kekuatan besar apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam diri kamu.
Krugh!
Krugh!
Terdengar suara perut Arista yang kelaparan.
Kedua tangan Arista spontan memegang perut yang kelaparan, bagaimana tidak kelaparan jika Arista dari siang tidak ada makan sedikitpun. Setelah pulang sekolah, Arista di bawa Esme menuju dimensi lain dimana Esme tinggal.
“Baru sadar, kalau aku belum ada makan sama sekali sampai sore ini.” Arista menundukkan sedikit pandangannya melihat perut mungil yang kelaparan.
“Kalau begitu aku akan membuatkan makanan yang nikmat untuk tamu spesial dari calon suamiku yaitu keponakan tuan William.” Teriak Esme bercanda di hadapan Arista.
“Esme.” teriak Arista nada tinggi yang menganggap ucapan Esme itu serius.
__ADS_1
Mendengar teriakan Arista bernada tinggi, Esme berlari kecil meninggalkan Arista yang masih berdiri menatap suram seperti hendak menghabisi Esme.
“Esme.” Teriak Arista kuat mengejar Esme yang berlari meninggalkannya.
...1 jam kemudian....
...👻👻...
Esme dan Arista telah selesai makan, kini mereka sedang duduk di tempat latihan khusus milik Esme. Sebuah lapangan besar yang di setiap pinggir lapangan di kelilingi bunga-bunga indah sebagai penghias mata.
Esme dan Arista sudah mengganti pakaian mereka, menjadi baju khusus buat latihan. Namun baju latihan milik Esme membuat Arista tidak merasa nyaman, karena baju latihan Esme hanya terbuat dari celana lejing di bawah bongkong dan baju pendek yang hanya menutupi dua gunung miliknya.
“Apa kamu suka dengan baju latihan milik saya Arista.” Tanya Esme dengan nada manja.
“Tidak.” tandas Arista berwajah suram.
“Aku anggap jawaban kamu itu adalah jawaban kamu menyukai baju latihan milikku.” Sahut Esme yang berjalan ke tengah lapangan.
“Kadang menyebut dirinya “Saya” kadang “Aku”, dasar wanita labil.” Gumam Arista yang terlihat kesal.
Melihat Esme yang berjalan ketengah lapangan, Arista juga ikut berjalan ke tengah lapangan. Kedua kakinya berhenti sejajar di samping tubuh Esme.
“Apa kamu sudah siap. Latihan pertama kita adalah membuat portal seperti apa yang pernah aku buat.” Ucap Esme menolehkan wajahnya melihat Arista yang sedang berdiri di sampingnya.
“Kenapa harus membuat portal?” tanya Arista dengan wajah polos.
“Karena portal itu juga penting buat kamu, jika kamu tidak bisa membuat portal maka kamu tidak akan bisa melindungi orang yang kamu sayang di saat keadaan mendesak di kemudian hari.” Sahut Esme.
“Jika aku boleh tahu portal itu apa?”
Esme menghela nafas, tangannya menepuk pelan dahi mulusnya. “Masa kamu tidak paham Arista. Apa kamu tidak paham saat kamu memasuki portal yang aku buat kemarin.”
“Tahu, aku tahu! Aku hanya ingin mengajak kamu bercanda saja.” Sahut Arista dengan sudut bibir atas yang sedikit menaik.
__ADS_1
...Bersambung........