
Part 60
______
Hari yang cerah kini berubah dengan langit malam yang bertabur bintang, menyinari Bumi. Api unggun sudah menyala, para murid dan beberapa wali kelas khusus anak murid yang melakukan Camp untuk mengakhiri malam terakhir Camp, kini duduk berbentuk lingkaran mengelilingi api unggun yang menyala begitu terang.
Tawa dan canda terpancar dari raut wajah mereka yang kala itu menikmati malam terakhir Camp bersama, dan malam itu juga adalah malam terakhir bagi siapa saja yang telah merasa jatuh cinta dan ingin menyatakan cinta kepada orang yang mereka sukai.
Arista duduk bersebelahan dengan Anggun, sedangkan Diana, Robert, Mulan dan Sebastian setelah kejadian sore tadi tidak menampakkan batang hidung mereka di tengah terakhir Camp. Entah apa yang di bilang kan Abel kepada Diana? Yang jelas, ucapan itu mungkin ucapan yang bukan hanya sekedar ucapan semata, ucapan itu kemungkinan besar adalah ucapan yang sangat menyeramkan sehingga membuat Diana dan 3 teman yang lainnya tidak mampu menampakkan wajah mereka kembali.
Dari arah yang berbeda, Abel dan Ellard memandangi wajah Arista yang begitu sangat natural dengan senyum yang terukir manis di bibirnya.
“Anak-anak dan para wali murid lainnya. Saya ingin memberitahukan, bagaimana jika mala mini kita mengadakan nyanyian khusus atau pantun khusus buat orang yang kita sayangi.” Esme membuyarkan lamunan Abel dan Ellard yang memandang wajah Arista. Esme yang tidak jauh dari tempat duduk Arista berdiri, berjalan mendekati Arista. “Apa kamu setuju Arista.”
Melihat pertanyaan spontan Esme membuat Arista bingung, ia melihat ke arah Anggun. Kemudian beralih pandang menatap wajah Esme sambil menganggukkan kepalanya.
Esme mengulurkan tangan kanannya, “Kalau begitu, Ibu mau mendengar nyanyian dari hati kamu yang paling mendalam.” Ucap Esme tersenyum manis menatap wajah Arista yang masih terlihat bingung dengan apa yang Esme katakan kepadanya.
Arista menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa bernyanyi Esme.” Keluh Arista supaya Esme membuat pertimbangan kepada dirinya agar tidak membuat dirinya bernyanyi di depan teman kelas yang lainnya.
Esme tersenyum manis dengan tangan yang terus mengulur seperti hendak menerima balasan jabat tangan dari Arista. “Pikirkan wajah dan nama satu orang yang terus berada di dalam hati kamu, dan resapi perlahan setiap bayang-bayangan yang cukup indah antara kamu dan dirinya.”
Arista menerima jabat tangan Esme. “Baiklah.” ucap Arista yang termotivasi dengan perkataan yang di lontarkan Esme kepadanya.
“Beri tepuk tangan kepada teman kita, yaitu “Arista” teriak Esme menyatukan tangannya.”
Prok!
Prok!
Prok!
Tepuk tangan meriah terdengar dari seluruh murid dan beberapa wali kelas yang duduk menatap Arista yang sedang berdiri, dengan wajah yang terlihat sedikit canggung.
Arista memejamkan dua matanya, ia membayangkan saat pertemuan pertama dengan William. Arista menarik nafas panjang kemudian membuangnya ke depan, setelah merasa cukup nyaman, Arista bernyanyi dengan nada yang ia buat sendiri.
__ADS_1
...“Engkau bagai matahari yang menerangi kabut hitam yang tumbuh di dalam hatiku....
...Senyummu, tawa, dan keangkuhan kamu membuat aku semakin nyaman berada di sisi kamu....
...Meski aku tahu, aku tidak pantas berdiri, menggenggam tangan kamu dan berjalan bersama hingga akhir hayatku....
...Tapi aku pastikan, aku akan mencoba menjadi yang terbaik buat kamu dan akulah wanita yang pantas bersanding dengan kamu.”...
Arista yang selesai bernyanyi membungkukkan tubuhnya sedikit. Terdengar suara tepuk tangan yang meriah, namun kedua mata Arista yang masih terpejam masih terus terbayang saat pertemuan pertama dengan William dan akhirnya mereka harus berpisah.
Melihat Arista yang masih membungkukkan sedikit badannya, Esme berjalan mendekat. Esme meletakkan tangannya menepuk bahu Arista pelan. “Lagu kamu sangat indah sayang, apa itu buat seseorang yang kamu cintai?”
Arista spontan berdiri tegap, “Tidak.” sahut Arista yang terlihat canggung, kedua pipi Arista merona. Arista berbalik badan melangkah besar kembali duduk di samping Anggun.
Setelah semua sudah merasa tenang dan berhenti bertepuk tangan, Esme berjalan mendekati Abel. “Kali ini kamu yang akan bernyanyi Abel. Ungkapkan perasaan kamu melalui kata-kata yang telah tersusun rapih di dalam hati kamu.”
Abel tersenyum manis, ia berdiri menatap Arista dari jarak kejauhan. Bibirnya terus tersenyum manis menatap wajah Arista yang masih bersembunyi di balik tubuh Anggun.
Sebelum bernyanyi Abel mengingat pertemuan saat pertama kali dengan Arista pertemuan yang tidak sengaja. Melihat kecuekan dan ucapan kasar yang Arista lontarkan kepadanya membuat ia semakin jatuh hati.
...“Aku mungkin bukan matahari yang mampu menerangi kabut yang melekat di dalam hati kamu....
...Meski hujan datang di malam hari dan membuat cahaya bulan tertutup awan mendung....
...Aku akan terus berusaha datang di dalam kegelapan malam dan memancarkan sinar yang akan membuat kamu nyaman saat lelah menghantar tidurmu.”...
Esme bersorak kegirangan, “Keren. Keren sekali lagu anak murid saya. Ayo beri tepuk tangan yang meriah kepada Abel.” Esme menjujung tinggi tangannya sambil memberi tepuk tangan yang meriah buat Abel.
Prok!
Prok!
Prok!
“Untuk ke seruan lainnya, saya akan buat adegan yang lain selain bernyanyi. Saya akan membuat sedikit perubahan menambahkan permainan kita untuk menghabiskan malam terkahir pada malam hari ini.” Teriak Esme memberitahu kepada seluruh murid dan beberapa wali kelas yang duduk santai mengelilingi api unggun yang semakin marak.
__ADS_1
“Kamu memang luar biasa Esme.”
“Ia. Ibu guru Esme bukan hanya cantik, tapi dia sangat pintar dalam semua hal.”
“Lanjutkan permainan kamu Ibu guru Esme.”
Terdengar suara teriakan yang sangat meriah dari beberapa wali murid dan beberapa murid yang sedang duduk menikmati indahnya malam Camp terakhir.
Esme pun melanjutkan permainan yang sudah ia pikirkan dan ia rencanakan, supaya malam terakhir terasa amat menyenangkan untuk di kenang sebelum hari Valentine berlalu diganti dengan ujian kenaikan kelas.
Malam terasa singkat, waktu menunjukkan pukul 01:00 dini hari. Api unggun yang tadinya marak kini perlahan redup. Semua murid terlihat mengantuk dan letih, hingga memutuskan untuk beristirahat di tenda mereka masing-masing.
Arista yang masih terlihat segar, berjalan sedikit di tepian danau dengan tubuh yang berselimut jaket tebal yang menemani dirinya malam itu. Arista berdiri di tepian danau memandang indahnya pantulan cahaya bulan dan bulan yang terlihat di permukaan air danau yang tenang.
Selama 20 menit ia memandangi pantulan cahaya bulan dan bulan yang terlihat jelas dari permukaan air danau yang tenang. Arista yang sudah merasa mengantuk berbalik badan, saat ia hendak melangkah pergi. Ada tangan pria yang menggenggam pergelangan tangan Arista.
“Kamu mau kemana?” terdengar cukup jelas jika suara pria itu adalah suara Ellard yang sedang berdiri di samping Arista dengan tangan kanan yang menggenggam erat pergelangan tangan kanan Arista.
Arista tertegun menatap tangannya yang di genggam erat oleh tangan Ellard. Dahinya mengerut. “Lepaskan tangan kamu.” sentak Arista yang menggerakkan tangannya berusaha lepas dari genggaman tangan Ellard.
Ellard semakin mengeratkan tangannya menggenggam tangan Arista. “Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu menerima cinta tulus yang aku berikan kepada kamu Arista.” Ellard berlutut dengan tangan yang terus menggenggam erat pergelangan tangan Arista.
“Bagaimana bisa aku menerima perasaan kamu, sedangkan aku sendiri tidak memiliki rasa sama sekali kepada kamu Ellard.” Sahut Arista dengan nada pelan supaya tidak membangunkan semua murid dan wali kelas yang sudah tertidur lelap.
“Kamu tidak boleh memaksa wanita untuk mencintai diri kamu dan menerima cinta kamu. Dan kamu bukannya sudah memiliki ke tunangan.” Ucap Abel yang berjalan perlahan mendekati Ellard dan Arista.
Ellard berdiri dengan tangan yang masih terus menggenggam erat pergelangan tangan Arista. “Kamu tahu apa? Kamu saja terus mendekati Arista meski kamu tahu jika dia tidak menyukai kamu dan kenapa aku harus tidak boleh memaksa Arista untuk jatuh cinta kepadaku.”
Abel tidak menghiraukan ucapan Ellard, ia menggenggam tangan kiri Arista, Abel berlutut manis di hadapan Arista. “Maukah kamu menjadi kekasih hatiku, kamu adalah cinta pertamaku dan aku akan berjanji akan selalu menjaga diri kamu dari bahaya dan orang yang selalu menindas diri kamu.”
Arista menggerakkan sudut bibir bagain atasnya, dahinya mengerut dengan alis yang menyatu menjadi satu bagian menatap Abel dan Ellard yang masing-masing menggenggam tangannya. Wajah Arista kian memerah menahan amarah yang sedari tadi ia pendam.
Arista yang sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Abel dan Ellard menghempas kuat tangan Abel dan Ellard sambil berkata. “Diam.”
Arista yang penuh amarah terlihat dari raut wajahnya menatap secara bergantian wajah Abel dan Ellard yang kini berdiri di hadapan dirinya.
__ADS_1
“Sekali lagi aku tegaskan kepada kalian, jika aku tidak menyukai kalian berdua. Aku hanya suka pada satu orang, dan orang itu bukan di antara kalian berdua.”
...Bersambung........