Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Bab 83. Apakah Kau Iblis muda itu?


__ADS_3

Di tempat peristirahatan Anggun, dan Abel. Api di dalam tempat perapian perlahan mati, ruangan menjadi gelap, dan terdengar suara desir bising seperti ribuan orang dari luar rumah. Abel, dan Anggun, membuka mata secara bersamaan, mereka juga memutar posisi tidur dengan saling menghadap.


“Kamu dengar suara itu?” tanya Abel berbisik.


“Iya, apakah itu Black hand?” sahut Anggun.


“Aku rasa iya. Black hand pasti sudah mengetahui keberadaan kita di sini.”


Gubrak!!


Terdengar suara pintu seperti hendak ingin di buka.


“Sepertinya ia berusaha ingin membuka pintu,” bisik Anggun.


“Kamu tenang saja, Black hand tidak akan pernah bisa berhasil masuk.”


“Sudah jam 04:00 pagi dini hari. Apakah Black hand akan terus mengusik kita?” tanya Anggun, bola mata nya memandang sekilas ke jam tangan kuno, bisa di pakai di dua alam miliknya.


“Kamu tidur saja, biar aku menjaga pintu,” perintah Abel, ia berdiri, berjalan menuju pintu, dan duduk di sofa ganjalan pintu.


“Itu tidak adil,” Anggun berdiri, ia berjalan mendekati jendela, “Aku juga akan menahan jendela ini,” sambung Anggun tidak ingin berdiam diri.


“Sebaiknya kamu periksa pintu belakang. Aku kuatir, Black hand masuk dari sana,” pinta Abel lembut.


“Baiklah,” sahut Anggun.


Anggun perlahan melangkah menuju pintu dapur. Namun, saat Anggun sudah memasuki ruang koridor menuju belakang rumah. Abel berdiri, tubuhnya tiba-tiba berjalan menembus dinding, dan kini sudah berdiri di teras, dan di hadapan Black Hand.


“Aku sudah muak dengan permainan kamu!” Abel mengulurkan tangan kanannya, membuka lebar telapak tangan kanannya menghadap Black hand.


“Kamu mau apa bocah?” tanya Black hand, perlahan putaran angin itu membentuk wajah, dan menatap dekat telapak tangan Abel.


“Aku ingin kamu, dan para jiwa-jiwa tak berdosa itu berakhir di Neraka!” tegas Abel sedikit berbisik, telapak tangannya berubah menjadi pusara dan di dalamnya terlihat seperti lahar, dan api.


“Siapa kau?” tanya Black hand menjauh dari Abel.

__ADS_1


“Siapa aku tidaklah penting. Sekarang kamu harus menerima perbuatan kamu sendiri!”


“Ja-jangan-jangan kau adalah…apa kau pemuda Iblis itu?”


Abel tidak menjawab, dari pusara telapak tangan Abel, keluar sebuah tangan panjang, dan menarik Black hand, perlahan masuk ke dalam telapak tangannya.


“Dasar kau Iblis muda yang paling kejam dari Iblis lainnya!” teriak Black hand, ribuan tangan menggenggam tanah, atau ranting agar tidak masuk ke dalam tangan Abel. Tapi tangan panjang dari dalam terus menarik Black hand, dan Black hand pun masuk ke dalam. Setelah itu tangan Abel menutup, hanya tersisa bekas tanda angin berwarna hitam, dan di seluruh lingkaran nya banyak tangan-tangan kecil.


Abel menatap telapak tangannya bekas tanda Black hand, “Jika cari lawan, carilah yang lebih tangguh…” ucapan Abel terhenti saat mendengar suara khas Anggun memanggil namanya. Abel langsung balik badan, ia segera melompat, dan menembus dinding. Abel juga langsung duduk, dan berpura-pura tertidur.


“Abel, kau tidur?” tanya Anggun berhenti di hadapan Abel.


“Hem…aku sangat mengantuk. Huaaa…” sahut Abel berbohong, mulutnya menguap, kedua tangannya ia renggangkan.


“Sepertinya Black hand itu sudah pergi. Bagaimana kalau kita juga segera pergi, soalnya waktu kita hanya sampai tengah malam,” usul Anggun.


“Baiklah, kalau gitu aku tarik dulu pengganjal kursi ini,” sahut Abel.


Abel pun berdiri, menarik sofa mengganjel pintu, dan terakhir membuka pintu. Abel, dan Anggun kita sudah berada di teras.


“Kamu tenang saja, aku sudah menemukan senter tadi, dan aku harap bisa di pakai,” ucap Abel, tangannya memukul-mukul senter tua, susah menyala.


“Sudah, kita jalan saja. Lagian sebentar lagi Matahari akan muncul,” ajak Anggun, ia berjalan terlebih dahulu.


“Nah, sudah hidup!” teriak Abel.


Abel berlari mengejar Anggun sudah berjalan 2 meter di depannya, tangan kanan memegang senter.


“Desa ini benar-benar seperti Desa mati, ya?” tanya Anggun, bola matanya melirik ke pepohona rimbun, dan di setia ranting seperti banyak mata memandang jalan mereka.


“Iya, tapi aku rasa Desa ini terkena suatu wabah. Bukan terkena murkanya Iblis muda itu,” ucap Abel.


“Kamu tahu darimana?” tanya Anggun, sembari terus melangkah.


“Tahu aja, aku ‘kan pernah bertemu dengan Iblis muda itu,” sahut Abel berbohong.

__ADS_1


Iblis muda tersebut sebenarnya adalah Abel. Dan Abel juga ingin meluruskan gosip buruk beredar mengenai dirinya di mulai dari Anggun. Setelah cukup lama mereka berjalan, hingga matahari terlihat sudah menaik, menerangi langka mereka. Dan di depan mata mengalir sungai dengan air jernih, dan di sebrang aliran sungai deras itu, terlihat sebuah Gereja kuno, dan di atas atapnya di kelilingi burung gagak.


Abel, dan Anggun berhenti di depan aliran sungai tersebut.


“Akhirnya kita sampai juga,” ucap Abel, ia jongkok, kedua tangannya mengambil air sungai, dan meminumnya, “Akh….segarnya,” ucap Abel setelah menengguk beberapa air dari sungai jernih tersebut.


“Apa kita bisa makan dulu? Soalnya aku sangat lapar?” tanya Anggun.


“Tentu saja, kamu cari beberapa ranting. Dan aku akan mengambil ikan yang ada di sini,” sahut Abel, membagi tugas.


“Baiklah,” sahut Anggun.


Anggun pun segera berbalik badan, ia berlari cepat memasuki kawasana hutan, mengutip ranting berserakan di bawah. Sedangkan Abel, jongkok di atas batu besar, di tengah aliran sungai deras.


“Ikan-ikan kecil, lompatlah kalian semua, dan terdampar ke tepian sungai!” ucap Abel, bola matanya berubah menjadi ungu tua, sekumpulan ikan berenang melawan arus air sungai.


Tak berapa ikan-ikan tersebut berterbangan, melompat ke dari dalam air, dan gelupur ke tepian. Sebelum Anggun selesai mengambil ranting, dan kayu, Abel segera melompat dari batu besar di tengah sungai, dan mendarat di tepian sungai. Menit selanjutnya terdengar suara Anggun berteriak.


“Lari…lari Abel..” teriak Anggun dari dalam hutan.


“Kenapa sih suara kodok itu berteriak,” gumam Abel, matanya masih memandang lurus kea rah Anggun terus berlari membawa kayu kering. Setelah mengetahui jika Anggun berlari dan berteriak seperti itu karena di kejar sekumpulan lebah, Abel langsung balik badan, ia pun berlari, menceburkan diri ke dalam sungai.


Byuuur!!!


Tak lama Anggun mencampakkan kayu, dan ikutan menceburkan dirinya.


Byur!!!


Anggun dan Abel membenankan seluruh tubuhnya ke dalam derasnya aliran sungai, dengan kedua mata terbuka, memandang ke atas air. Terlihat sekumuplan lebah berhenti tepat Anggun, dan Abel, merendam diri mereka.


Saat Abel, dan Anggun masih terus mengumpet di dalam air. Ada seorang ular berhenti di kaki Abel, dan melilit sebelah kakinya. Hal itu membuat Abel spontan melompat dari dalam air. Begitu juga dengan Anggun. Dan syukurnya sekawanan lebah itu sudah hilang.


“Kenapa kamu melilit aku?” tanya Abel datar, dengan tatapan dingin memandang mata ular tersebut.


Seolah mengerti dengan tatapan tak suka Abel, ular tersebut perlahan melepaskan lilitannya. Tak lama pergi meninggalkan Abel dan Anggun. Anggun sendiri hanya terdiam, menatap bingung dengan ular seperti mengerti ucapan Abel.

__ADS_1


“Kamu siapa sebenarnya?” tanya Anggun.


__ADS_2