Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Kamu siapa?


__ADS_3

Part 70


_______


Dengan cepat Arista bangkit dari ranjang, membuka laci lemari meja kecil yang berada di samping ranjang William. Mengambil gunting dan kembali lagi ke atas ranjang William.


Krekk!


Krek!!


Arista menggunting perlahan perban yang membalut tubuh William, setelah semua perban terbuka. Arista mengambil kain kasa yang menutupi luka yang William dapatkan.


Kedua mata Arista membesar menatap luka yang menembus dada kanan William. Telapak tangan kanan di letakkan di atas luka yang masih memerah, air mata menetes jatuh di atas dada kekar William. “Pasti sangat sakit.” ucapnya pelan, tangan kiri menyeka kasar air mata yang membasahi pipinya.


Arista segera mengambil bunga berwarna ungu, menggosokkan pelan di kedua tangan mungilnya hingga bunga tersebut berubah menjadi sedikit lunak.


“Paman. Kamu harus bertahan.” Arista meletakkan bunga ungu yang melunak di atas dada kekar sebelah kanan milik William. Arista memiringkan tubuh William ke kiri, meletakkan bunga itu kembali di belakang punggung sebelah kanan yang tertusuk.


Setelah bunga selesai di letakkan di atas luka yang masih memerah dan sedikit berlubang, Arista kembali membalut luka William memakai perban yang bagus.


Selesai sudah tugas yang di berikan oleh wanita tersebut kepada Arista. Wajah Arista sedikit gerah, jenjang leher yang mulus berkeringat. Ia bangkit dari ranjang. Ia berdiri di samping ranjang menatap penuh harapan, berharap William akan segera pulih dan bangun setelah di berikan bunga ungu yang di bilang wanita tersebut.


“Paman. Arista permisi numpang kamar mandi dan handuk Paman. Setelah selesai mandi, Arista akan menemani Paman di sini.” Arista berbalik badan, melangkah berjalan keluar mengambil koper yang tertinggal di depan kamarnya.


Arista berjalan kembali membawa koper miliknya masuk ke dalam kamar William. Arista terus melangkah membawa masuk koper miliknya ke dalam kamar mandi milik William.


Arista membuka baju, di letakkan di sangkutan baju yang terlihat kasual menempel di dinding kamar mandi yang terbuat dari marmer. Arista berjalan mendekati kucuran shower, Arista memutar kran shower.


Sruutt!


Suara air yang jatuh membasahi mulai dari kepala hingga ujung kaki Arista.


...1 jam kemudian....


...🌀🌀...


Arista keluar dengan rambut yang basah, baju gaun di atas lutut. Kedua mata Arista membesar menatap seorang wanita yang duduk di atas ranjang William.

__ADS_1


Siapa wanita yang duduk di samping Paman?


Awas saja jika Paman berani menyembunyikan wanita lain atau berpacaran dengan wanita lain tanpa sepengetahuan aku.


Gumam Arista di dalam hati merasa cemburu ada wanita lain di samping William.


Tangan di kepal kuat, dada berdegup kencang menahan amarah, kedua alis menyatu, kedua mata yang hendak keluar menatap tajam wanita yang duduk di samping William.


“Siapa kamu?” teriak Arista dari depan kamar mandi.


Wanita tersebut menolehkan wajahnya menatap Arista yang berdiri, kedua mata menatap suram ke arahnya. “Kamu yang siapa.” Tandas wanita tersebut.


Arista melangkahkan kedua kakinya dengan cepat mendekati wanita yang duduk di samping William. “Apa kamu bilang. Berani sekali kamu berbicara dan bertanya seperti itu kepadaku.” Arista mengeluarkan jari telunjuknya ke wajah wanita tersebut. “Aku tanya sekali lagi, kamu siapa?” tanya Arista dengan nada menekan dan sedikit meninggi.


Wanita tersebut berdiri, menggenggam jari telunjuk Arista, bibirnya tersenyum jahat. Alis kanan menaik. “Berani sekali kamu mengarahkan jari telunjuk kamu ke wajahku.” Wanita tersebut menghempaskan tangan Arista.


Arista mengerutkan dahinya, tatapan semakin tajam satu sama lain.


Masing-masing tangan mengepal erat. Arista menolehkan wajahnya, kedua tangan di lipat ke dada, ia tidak ingin membuat keributan di dalam kamar milik William. Arista melirik dari ujung ekor matanya menatap wajah Paman yang tadi pucat kini sedikit memerah, harapan Arista untuk William sembuh tidak sia-sia.


Wanita tersebut mengepal kedua tangannya, bergertak gigi, wajahnya terlihat kesal mendengar ucapan Arista yang seperti tidak ada sopan santunnya kepada orang yang lebih tua.


“Kamu siapa? Berani sekali kamu menyuruhku seperti itu.”


“Aku adalah…tanya saja nanti sama Paman. Yang jelas, kamu tidak boleh mendekati Paman, jika kamu masih ingin di beri upah oleh Paman. Jika kamu tidak menginginkan upah dari hasil kamu bekerja di sini, dekati saja terus Paman. Agar aku yang mendepak kamu dari rumahku.” Ketus Arista tanpa menoleh kebelakang.


Kaki Arista melangkah pergi meninggalkan kamar Paman dan wanita yang masih menatapnya kesal.


“Siapa gadis remaja yang angkuh itu, apa gadis itu yang mereka bilang sebagai tameng untuk mendekati tuan William.” gumam wanita itu pelan, mengerutkan dahi menatap punggung Arista.


...Di ruang tamu....


...👀👀...


Arista mengulurkan kedua kakinya di letak di atas meja ruang tamu. Arista menyandarkan tubuhnya di badan sofa. “Ah. Empuknya, tempat yang paling nyaman dan tenang itu adalah di sini. Rumah Paman.” Gumam Arista pelan mendongakkan wajah menatap langit-langit plafon ruang tamu.


“Nona muda, makanan sudah siap. Jika nona muda ingin makan akan saya siapkan untuk nona muda.” Ucap wanita tersebut berubah menjadi sopan, ia berdiri di samping sofa Arista.

__ADS_1


Arista menolehkan wajah datar, menatap tajam wajah wanita yang berdiri di sampingnya. Arista sedikit heran kenapa wanita tersebut berubah menjadi baik dan apa maksud di balik kebaikan wanita tersebut.


“Baik. Mari kita pergi ke ruang makan bersama.” Arista berdiri, ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan wanita tersebut yang masih berdiri di ruang tamu.


Langkah kaki Arista terhenti di depan ruang makan. Dahinya mengerut menatap semua makan lezat tersaji begitu cepat di atas meja makan.


Perasaan belum ada 1 jam ia berada di dapur.


Apa memang ada orang yang bisa masak kurang dari 1 jam sebanyak ini.


Gumam Arista pelan menatap satu persatu makan lezat yang masih terlihat hangat di atas meja yang cukup panjang.


“Kenapa hanya diam berdiri di sini nona muda? Apa makanan yang saya buat terlihat tidak enak?” Tanya wanita tersebut berdiri di samping Arista.


Arista menoleh, menatap wanita yang berdiri di samping dirinya. Bibir Arista tersenyum tipis, seperti ada rencana yang tersebut di simpan dari dalam pikiran Arista.


“Aku menunggu kamu. Mari kita makan bersama.”


Wajah wanita tersebut berubah gugup, kedua tangannya melambai. “Ti-tidak perlu, nona muda saja yang makan. Saya akan makan sisa dari nona muda nanti.”


Arista mendekatkan wajahnya menatap wajah wanita yang lebih tua darinya, wajah wanita yang terlihat gugup. “Jika kamu tidak ingin makan bersamaku. Makanan yang ada di atas meja akan aku buang semuanya, dan kamu harus mengganti nya dengan yang baru.” ancam Arista.


Wanita tersebut menolehkan wajahnya, mendengus kesal. “Sial.”


Arista yang masih mendekatkan wajahnya tersenyum jahil saat mendengar keluh yang terucap dari bibir wanita tersebut. “Kamu bilang apa tadi.” Tanya Arista meletakan telapak tangan di samping daun telinga sebelah kanan, mendekatkan di bibir wanita tersebut.


“Ti-tidak. Kalau begitu mari kita makan nona muda.” Ajak wanita tersebut berjalan terlebih dahulu mendekati meja, menarik meja yang berada di bangku nomor 3 dari bangku utama sebelah kiri.


Arista menarik bangku di sebelah bangku wanita tersebut. Kedua tangan membuka piring yang masih telungkup di atas taplak yang terbuat dari rajutan bambu khusus untuk masing-masing piring yang tersusun rapih di atas meja makan.


Arista menciduk 1 sendok sayuran, meletakkan di atas piring wanita tersebut. “Karena kamu telah memasak sebanyak ini, jadi kamu terlebih dahulu yang harus memakannya.” Piring wanita tersebut sudah terisi penuh, Arista menolehkan wajahnya melepas senyum manis penuh kemenangan. “Ayuk. Di makan? Setelah itu aku akan makan.”


Wanita tersebut menatap kesal wajah Arista, tangan kanan memegang sendok. Menciduk sedikit sayur, daging dan makanan lainnya yang tersaji ke dalam sendok. Tangannya gemetar, bibir terpaksa di buka lebar memasukan sendok yang berisi sayuran dan sedikit lauk ke dalam mulutnya.


Arista tersenyum manis, kedua mata terpejam menatap wanita tersebut yang mengunyah makanan. “Kamu terlihat sangat lapar. Mari tambah lagi yang banyak, supaya kamu tidak kekurangan gizi saat bekerja di sini.” Ucap Arista mengambil mangku yang berisikan salad.


...Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2