
Jeder jeder!
Kilatan kuat menyambar-nyambar di langit gelap. Memperlihatkan segaris berwarna merah seperti akar di atas langit gelap itu. Semua makhluk berada di atas muka bumi seketika berlari masuk, berteduh ke tempat aman. Sore itu terlihat seperti malam tanpa bintang dan bulan.
William, terus memacu black agar cepat sampai di bar milik Pak kepala botak.
“Hiak, hiak!” suara dan hentakan kaki seirama.
10 menit sudah menunggangi black, akhirnya black dan William sudah sampai di depan bar milik Pak kepala botak. Melihat bar milik Pak kepala botak sunyi seperti tanpa penghuni, tangan William perlahan mengambil pedang selalu terselip di punggungnya. William melompat turun, berjalan perlahan memasuki dalam bar.
“Grace, Grace,” panggil William, kedua kaki perlahan masuk, sepasang bola mata ia pertajam, menatap sekeliling bar terlihat sepi.
Saat William masih terus memeriksa, mencari Grace dan Pak kepala botak. William di kejutkan suara dari Pak kepala botak, dari meja penyajian.
“William, William, syukurlah kau datang,” ucap Pak kepala botak mengejutkan William.
“Ada apa ini?” tanya William dingin, menatap serius wajah Pak kepala botak terlihat pucat.
“Gadis itu, i-iya sudah menghisap semua ruh para pengunjung bar, tadi. A-aku sangat takut William,” Pak kepala botak menggenggam lengan William, genggaman dari kedua telapak tangan terasa dingin.
William mencoba melirik ke seluruh ruangan, lalu ia menajamkan pandangannya ke sebuah ruangan khusus milik Pak kepala botak dengan tirai kumuh sebagai penutupnya. Di sana terlihat sebelah sepatu dan baju milik Pak kepala botak. William kembali menatap wajah pucat Pak kepala botak, dengan secepat kilat William mengarahkan ujung pedangnya.
“Siapa kau!”
“A-aku pemilik tempat ini…”
Jlub!
William tak percaya, ia menusuk sebelah dada Pak kepala botak. Namun, tusukan itu tak mengeluarkan darah, melainkan sebuah kepulan asap berwarna hitam.
“Sudah ketahuan masih saja kau berdusta. Katakan, kemana Grace dan sih botak itu!” tegas William.
“Mereka sudah damai di dalam jiwaku. Ha ha ha ha!” sahut Pak kepala botak dengan suara berubah besar, di selingi tawa melengking.
Jlub!
Dengan secepat kilat William mengambil pisau belati, dan menusuk langsung ke sebuah detak jantung berwarna hitam kelam. Tubuh Pak kepala botak berubah menjadi anak buah iblis penghancur.
__ADS_1
“Sial! Aku memang mati, tapi tidak dengan gadis itu!” teriak anak buah iblis penghancur, berwujud segumpal asap hitam, dan menghilang bagai tertiup angin.
“Hosh, hosh, hosh. William gawat!”
Esme tiba-tiba berdiri di depan pintu bar, nafas terengah-engah, wajah dan seluruh tubuhnya terlihat tampak kacau.
“Ada apa?” tanya William datar.
“Gadis itu…gadis itu ternyata…”
“Aku sudah tahu. Sekarang dimana Arista?” tanya William mencemaskan Arista.
“Dia aku tugaskan memasuki hutan usang. Menyuruh Arista, Abel, Anggun, dan Ellard, menjaga klan elf di sana,” sahut Esme di sela nafas lelahnya.
“Ck, bodoh! Kau malah mengantarkan dia ke tempat itu. Sekarang cepat kita susul mereka!” cetus William. Ia berjalan santai mendekati Esme.
“Kita tidak punya banyak waktu ke sana. Bagaimana?”
“Pakai ilmu sihir yang kau milikku. Cepat! Aku sangat yakin, pasti gadis itu saat ini sedang mengejar Arista,” desak William. Hatinya mendadak cemas tak karuan.
Esme pun berdiri tegak, memutar arah berdirinya menghadap utara, mengulurkan kedua tangannya ke depan, mulai merapal mantra.
“Buka portal menuju hutan usang!”
Wuuushhh!!!
Portal kecil terbuka, terlihat suasana di sana sangat mencengkam.
“Gawat! Mereka sudah sampai di sana!” gumam Esme tak menyangka jika gadis itu beserta pasukan anak buah iblis penghancur sudah sampai di hutang usang.
“Cepat masuk!”
William menarik tangan Esme, membawanya masuk ke dalam portal menuju hutan usang. 10 menit kemudian, William, dan Esme sudah sampai di depan hutan usang. Dahi William mengernyit saat dirinya melihat bocah lelaki elf tengah jongkok, memeluk mantel dari bulu domba, sekujur tubuhnya berlumur darah.
William berjalan, mendekati bocah lelaki elf itu, ia juga jongkok di hadapan bocah lelaki itu.
“Kenapa kau di sini?” tanya William datar.
__ADS_1
“Gadis vampire dengan bola mata menyala api, dan gadis vampire dengan bola mata merah gelap, sedang bertarung di dalam. Gadis vampire dengan bola mata menyala api telah menghabisi sebagian klan elf, termasuk…ibu!”
Esme dan William seketika terkejut, aliran darah mereka mendadak berhenti.
Bocah lelaki elf itu menggenggam erat tangan William, “Paman, tolong selamatkan wanita bernama Arista. Aku sungguh kasihan dengannya, ia terus di serang oleh gadis itu. Aku ingin membelanya, tapi..Arista, dan ketiga temannya menolak ku. Mereka menyuruhku untuk meninggalkan tempat itu, meminta bantuan seseorang yang lewat,” pinta bocah lelaki elf itu bersungguh-sungguh.
“Baiklah,” William berdiri, mengarahkan pandangannya ke Esme, “Apa kau tidak bisa menyembunyikan anak ini untuk sementara. Aku rasa hanya sisa dia seorang dari klan elf sebagai penerus. Jika bocah ini sampai mati, maka akan sangat sulit menemukan klan elf lagi,” lanjut William meminta tolong ke Esme.
“Tidak ada tempat yang aman kecuali, rumahku.”
“Yang penting bocah lelaki ini aman,” gumam William.
Esme mulai merapal mantranya, detik selanjutnya portal menuju rumah Esme terbuka. Esme segera menggenggam erat pergelangan tangan bocah lelaki elf itu.
“Cepat masuk, kau akan aman di tempatku!”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi-tapian, sekarang kau harus masuk, karena kami masih ingin mengurus yang lainnya!” desak William, tangannya mendorong bocah itu masuk ke dalam portal. Setelah bocah lelak elf itu masuk, Esme langsung menutup portalnya.
“Sekarang kita harus menyusul Arista ke dalam,” ajak Esme, kedua kakinya duluan berjalan di depan.
“Kenapa tidak pakai portal saja. Aku tak ingin Arista kenapa-kenapa di dalam.”
“Hutan ini sangat aneh, aku tidak bisa melakukan hal apa pun dengan sihirku. Aku hanya bisa membuka portal dari luar hutan saja. Sebaiknya kita berjalan saja, karena aku yakin hutan ini tidak begitu luas dan dalam,” usul Esme.
William dan Esme pun perlahan melangkah masuk ke hutan usang itu, memakai senter sebagai penerang jalan tertutup dengan asap hitam. Baru berjalan 50 meter ke depan, William dan Esme mendengar suara sahut-menyahut pedang.
Ting Ting Ting!
“Sepertinya kita sudah dekat. Berjalanlah lebih cepat!” ucap William, ia ingin cepat-cepat sampai.
Esme dengan terpaksa melangkah cepat, mengikuti langkah besar William. Tepat 100 meter mereka berjalan, terlihat Abel, Ellard, Anggun, Arista, dan beberapa penduduk klan elf tersisa sedang berperang melawat Shera, dan puluhan anak buah dari iblis penghancur.
Tanpa basa-basi William dan Esme masuk ke dalam peperangan. William mengayun pedang, dan pisau belati miliknya ke anak buah iblis penghancur dengan kedua tangannya.
Arista, Anggun, Abel, dan Ellard, menyadari pertolongan William dan Esme, mendadak semangat. Sekilas segaris senyum terpancar, lalu mereka perlahan merubah diri menjadi kebentuk asli mereka masih-masing. Termasuk Arista.
__ADS_1