
Part 64
_______
Pagi menyapa dengan indahnya, tepat pukul 05:00 pagi. Arista yang satu kamar dengan Anggun sudah bangun terlebih dahulu, ia berdiri di depan pintu kamar mandi memakai baju biasa miliknya. Ia terus berdiri menatap Anggun yang masih terlelap tidur di atas ranjang.
Arista melangkah pelan, menjauhi pintu kamar mandi menuju pintu kamar. Tangan kanan Arista mengulur panjang membuka gagang pintu kamar.
Klik!
Pintu kamar sudah terbuka, wajahnya terlihat gugup saat Anggun yang masih terpejam bergerak seperti sedang terusik mendengar suara dari pintu tersebut.
Arista mengendap perlahan, melangkahkan kaki kanan berjalan keluar terlebih dahulu. “Anggun. Aku permisi keluar sebentar.” Gumam Arista pelan.
Melihat Anggun yang sudah tidak bergerak, ia kembali memasukkan kaki kirinya untuk melangkah hingga pada akhirnya berhasil keluar dari kamar. Tak lupa menutup pintu kamar mereka.
Arista yang berdiri di depan pintu kamar mes khusus wanita melihat ke kanan/kiri, melihat seluruh pintu masih tertutup dengan rapat, suara dengkuran dari siswa yang masih tertidur terdengar cukup jelas di telinganya.
Tak ingin menghabiskan waktu cukup lama, Arista berjalan dengan ujung kakinya. Akhirnya Arista berhasil keluar dari mes khusus wanita. Sampai di depan gedung mes khusus wanita, Arista merenggangkan tubuhnya ke kiri/kanan.
“Hem.” Arista menghirup udara segar. “Huu.” Dan membuangnya. Arista melihat ke kanan/kiri, melihat semua tempat yang masih terlihat gelap karena waktu masih menunjukkan pukul 05:00 pagi. “Gelap sekali. Tapi tidak masalah karena aku ingin merilekskan pikiran sebelum ujian praktek berlangsung nanti.”
Arista terus melangkah, kedua tangan yang di gerakkan ke depan dan kebelakang. Kedua kakinya terhenti saat melihat ada 3 cahaya kecil yang terbang melintas di hadapannya menuju Danau.
“Cahaya apa itu? aku harus mengetahuinya.”
Agar tidak kehilangan jejak dari cahaya kecil tersebut, Arista berlari dengan cepat menuju danau, di mana cahaya itu terbang menuju danau.
Arista terus berlari, walau kakinya sesekali tersandung batu kecil yang menghalangi ia berlari membuat ia jatuh di atas tanah dan membuat dengkul kanan yang polos kini memerah dan beberapa luka terpampang.
“Auuw.” Arista jongkok menatap dengkul kanan yang memerah. “Aku tidak boleh menyerah, sekali pun kaki ini di penuhi luka.” Arista kembali berdiri dan berlari dengan kaki kanan yang memincang.
...Di tepian danau....
...✨✨...
Kedua matanya tertuju ke tengah danau di mana cahaya bulan masih membias di atas permukaan air danau yang terlihat tenang. Bukan itu saja, biasan cahaya bulan juga memantulkan cahaya kecil terbang ke sana kemari. Bibirnya berdecak kagum melihat sekumpulan cahaya kecil yang terbang bebas ke sana dan kemari di atas danau.
Arista yang terlalu kagum memandangi cahaya yang terbang bebas, tidak menyadari jika Abel juga berada di tepian danau terlebih dahulu darinya.
Melihat kehadiran Arista, Abel tersenyum manis. Kedua kakinya melangkah mendekati Arista yang tak jauh berdiri dari tepat ia duduk.
Abel berdiri di samping Arista, namun kehadirannya tidak di rasakan oleh Arista karena Arista masih kagum memandang cahaya yang terbang bebas di tengah danau.
“Apa kamu suka dengan binatang yang terbang itu?”
Arsita hanya menganggukkan kepalanya. “Hem.”
Abel menolehkan wajahnya. “Jika kamu menginginkannya, maka binatang itu akan aku tangkap dan aku masukkan ke dalam toples agar kamu bisa selalu memandangi binatang tersebut.”
__ADS_1
Arista mengerutkan dahinya, mendekatkan wajahnya menatap Abel yang tersenyum manis. “Aku tidak mau.” tandas Arista kembali ke posisinya semula, Arista mengulurkan tangan kanan, jari telunjuk mengarah ke cahaya yang terbang di tengah-tengah danau. “Cahaya itu sangat indah. Binatang apakah mereka? Dan kenapa binatang bisa bercahaya seindah itu?”
“Nama ilmiah “Lampyridae” atau sebut saja kunang-kunang.” Sahut Abel menatap wajah Arista.
“Kunang-kunang? Aku baru tahu.” Jawab Arista duduk di tepian danau dengan kedua kaki yang di tekuk membuat luka di dengkul polosnya terlihat Abel.
Terluka?
Apa sewaktu mengejar kunang-kunang yang terbang sampai ke sini, ia terjatuh?
Pasti rasanya sakit, tapi kenapa dia terlihat tenang dan tetap santai.
Gumam Abel di dalam hati melihat dengkul Arista yang terluka, Abel menyimpan senyumnya kembali. Abel juga ikut duduk di samping Arista.
Abel mengulurkan tangan kanannya, menggenggam ke empat jarinya dan menyisahkan jari telunjuk yang saat itu berdiri tegap. Apa yang akan di buat Abel, mungkin ia mencoba memancing kunang-kunang agar hinggap di jari telunjuknya untuk menghibur Arista yang sedang terluka.
Perbuatan Abel tidak sia-sia, salah satu kunang-kunang yang bergerak terbang tak jauh dari mereka duduk, hinggap di jari telunjuk Abel.
...Ilustrasi kunang-kunang yang hinggap di jari telunjuk Abel....
“Abel. Kunang-kunang itu hinggap di jari kamu.” Ucap Arista terpanah memandang kunang-kunang yang hinggap di jari jempol Abel.
Arista dan Abel menatap secara dekat, hingga Arista tidak sadar jika wajah mereka sangat dekat. Abel hanya tersenyum manis menatap wajah yang indah dan masih polos sedang berada di hadapannya, tepat di depan wajahnya.
Arista yang sadar akan kedekatan mereka langsung menarik dirinya menjauhi Abel. Arista berdiri, wajahnya memerah. “Aku harus segera kembali, karena hari ini adalah hari ke-2 kita ujian dan aku tidak ingin terlambat.” Ucap Arista berbalik badan meninggalkan Abel.
...Di lapangan sekolah....
...🥱🥱...
Arista, Ellard, Abel dan teman sekelas lainnya sedang berdiri di lapangan sekolah. Masing-masing wajah terlihat sangat gugup, hari kedua ujian kenaikan kelas ini adalah ujian praktek di lapangan.
Esme berdiri di hadapan Arista, Ellard, Abel dan anak murid lainnya. Kedua tangan Esme di letakkan di atas pinggang seksi miliknya, tubuh tegap, kaki terbuka lebar sejajar dengan bahu menatap tajam satu persatu anak muridnya yang terlihat tegang dan kaku.
“Anak-anak.” Teriak Esme penuh semangat.
“Ia. Ibu guru Esme yang cantik.” Sahut Arista, Ellard, Abel dan teman sekelas lainnya serentak.
“Apa kalian sudah tahu, hari ini kita akan melaksanakan ujian praktek tentang apa?” tanya Esme.
Semua murid hanya diam, berbisik satu sama lain.
Arista mengerutkan dahinya menatap tajam wajah Esme. “Jika kamu tidak beri tahu kami, bagaimana mungkin kami tahu. Esme.” Sahut Arista sedikit geram.
Esme meletakkan tangan kanan di atas rambutnya, bibirnya tersenyum manis menatap kepolosan anak murid yang terlihat bingung. “Maaf.”
Esme berbalik badan, mengulurkan tangan kanannya mengarah ke depan. “Di depan sana ada 5 benda dan masing-masing benda tidak terbuat dari bahan yang sama. Di depan sana ada kayu balok, besi, kaca, api, dan air. Saya ingin melihat kemampuan kalian dalam bentuk apa pun memecah belah benda tersebut. Jadi. Saya akan memanggil kalian satu persatu sesuai dengan daftar Absen kelas. Apa kalian paham?”
__ADS_1
“Paham.” Teriak Arista dan teman sekelas yang lain serentak yang tidak berpikir panjang.
Tangan Esme yang memegang buku Absen mulai memanggil satu persatu nama murid kelasnya sesuai absen. Ada yang berhasil dan ada juga yang tidak berhasil dalam memilih benda yang ada di hadapan mereka sebagai bahan ujian praktek.
Tiba saatnya Arista maju ke depan mendekati lima barang tersebut yang tersusun rapih di atas meja panjang. Kedua mata Arista melihat ke kanan/kiri, Arista bingung mau memilih apa.
Wajah Arista terlihat serius, ia memejamkan kedua matanya, membuka kembali kedua matanya menatap besi yang panjang dengan berat 10 kg. Arista mendekati besi tersebut, tangan kanan meraih besi sepanjang 1 meter.
Aku tidak pandai sihir, dan aku juga tidak pandai membaca mantra.
Paman hanya mengajariku tentang bela diri, berpedang dan yang terakhir Esme mengajariku tentang membuat portal.
Di sini tidak ada keahlianku, jadi aku memutuskan untuk memilih besi ini saja.
Aku akan membengkokkannya sekarang.
Gumam Arista di dalam hati.
Kedua tangan Arista sudah menggenggam masing-masing dari ujung besi seberat 10 kg. Wajah Arista terlihat fokus menatap bagian tengah besi tersebut, kedua tangan Arista menekan ujung besi yang di pegang.
“Hiiiiaakkhh.” Teriak Arista sekuat tenaga membelokkan besi seberat 10 kg.
Esme dan teman sekelas lain tertegun melihat kekuatan Arista, mereka berpikir tubuh semungil itu kenapa bisa membelokkan dengan mudah batang besi yang memiliki berat 10 kg.
Setelah berhasil membelokkan batang besi seberat 10 kg, Arista kembali ke tempat pertama ia berdiri.
Sebelum Esme memanggil teman yang lainnya untuk kembali melakukan ujian praktek, Arista mengulurkan tangan kanannya.
“Esme. Apa aku boleh bertanya?”
“Boleh sayang.” Sahut Esme dengan suara khas manja miliknya.
“Apa kamu tidak ada pelajaran lain selain memberi ujian praktek, di mana kami sama sekali belum pernah mengerjakannya?” tanya Arista datar.
Esme tersenyum manis, wajahnya terlihat mati kutu mendengar pertanyaan Arista. “Arista sayang. Ibu yakin kalian ini sudah memiliki bakat terpendam selain kekuatan keturunan yang kalian punya. Jadi saya hanya ingin mengetahui sedikit dari kekuatan yang terpendam kalian miliki.”
Jawaban apa yang baru saja aku jelaskan.
Mampus. Arista pasti akan membantah aku habis-habisan nanti.
Gumam Esme di dalam hati.
“Tapi. Kamu belum pernah mengajari kami tentang hal ini sebelumnya? Kecuali, sewaktu di hutan menangkap Iblis itu.” sahut Arista datar.
“Oh. Lain kali ya?” Esme benar-benar gugup, ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Tangan kanan yang memegang daftar absen, bibir Esme bergerak memanggil kembali teman sekelas Arista yang belum melakukan ujian praktek.
Ujian terus berlangsung, tidak semua murid berhasil dengan apa yang mereka pilih. Arista yang merasa bosan melihat ujian praktek yang menurut dia tidak terlalu penting dan tidak masuk akal, Arista berjalan sedikit, duduk di atas tanah di pinggir lapangan sekolah.
“Mungkin Esme kesepian, makanya ia membuat ujian praktek yang aneh.” Gumam Arista yang masih terlihat kesal.
__ADS_1
...Bersambung.......