
Keesokan paginya, terdengar suara ayunan pedang di tempat khusus latihan pedang milik William.
Ting ting ting!
William berlatih pedang sendiri dengan pedang-pedang tumpul miliknya sengaja ia ikat di dinding khusus tempat latihan pedang. Wajahnya terlihat serius menatap ribuan pedang di dinding itu. Namun, pikirannya teringat dengan ucapan Abel dan Ellard tadi malam.
Entah kenapa ucapan Abel dan Ellard membuat William tidak bisa tidur. Antara ingin membenarkan perasaan terpendamnya kepada Arista, atau William benar-benar harus merelakan Arista hidup dengan pria lain. Pertimbangan cukup berat ia rasakan saat ini.
Di tengah pikiran kalut memikirkan perasaan tak karuan miliknya. Tiba-tiba William mendengar suara wanita ia cintai dalam diam. Suara itu adalah Arista.
“Pagi Paman,” sapa Arista di depan pintu lapangan khusus latihan pedang milik William.
“Pagi,” sahut William datar, tangan terus mengayunkan pedang ke pedang lainnya.
“Apa Paman sudah sarapan?” tanya Arista terus melangkah mendekati William.
“Belum, aku menunggu kamu bangun,” sahut William singkat, datar.
“Aku sudah bangun, apakah kita bisa melakukan sarapan sekarang?” tanya Arista sudah berdiri di samping William.
Wusshhh!!
William mengayunkan sekilas pedang ke atas puncak kepala Arista, membuat angin menerpa rambut Arista, dan sekilas kelopak mata dengan bulu mata lentik itu terpejam, lalu memandang wajah tampan William seolah tak lekang oleh waktu.
__ADS_1
“Kenapa Paman mengayunkan pedang itu di atas puncak kepala ku. Apakah aku mengganggu Paman?” tanya Arista tenang, bibir ranum tersenyum manis menggoda hati dan pikiran William.
William perlahan melangkah mendekati Arista, menaikkan dagu Arista dengan ujung pedangnya tajam dan mengkilap, “Kini kau sudah 18 tahun. Sudah dewasa, kau juga sudah bebas memilih pasangan untuk meneruskan keturan-mu yang sudah punah,” ucap William datar, pandangan memandang luas ke tubuh mungil Arista terlihat semakin padat dan terlihat dewasa.
“Aku tidak akan memilih lelaki manapun kecuali, Paman. Paman sudah merebut ciuman pertamanku, dan Paman juga yang harus memberikan aku terturunan,” sahut Arista mengingat malam itu William mencium nya, ciuman pertamanya.
Sejenak William terdiam, waktu itu ia memang sudah khilaf. Namun, bukan berarti Arista juga bisa menikah atau memiliki keturuan dengannya. Dengan berat hati William bisa mengikhlaskan Arista memiliki pendamping hidup dengan lelaki lain. Itulah perasaan berkecamuk di dalam hatinya.
“Aku bukanlah seorang pria yang patut di jadikan pasangan hidup oleh seorang wanita. Aku adalah seorang pembunuh bayaran Monster, Iblis, dan lainnya. Aku bisa saja mati, dan kalah saat aku melakukan pertarungan. Jadi, sekarang kau bebas memilih siapa pun selain aku!” jelas William tegas.
“Baiklah, karena Paman menolak perasaanku, maka aku akan menikmati masa indah untuk yang pertama kalinya dengan Ellard atau Abel,” celetuk Arista, ia berbalik, ingin melangkah pergi. Namun, langkahnya terhenti saat William menahan bahunya dari belakang.
“Jangan lakukan hal itu. Kamu belum pantas merasakan hal itu sekarang. Meski kita hidup di negera bebas, tapi aku sangat-sangat melarang hal itu untuk-mu!” tegas William.
“Paman bukan kedua orang tua ku, dan Paman juga tidak menyukaiku. Jadi, Paman tidak berhak mengatur hidupku. Aku tahu kita hidup di negera bebas, tapi intinya Paman….”
‘Kenapa Paman mencium seperti ini. Ciuman aneh yang tidak pernah aku rasakan. Tubuh ku juga, kenapa tubuhku seolah tak bergerak, dan seperti meminta hal lebih dengan Paman. Apa ini?’ gumam Arista dalam hati saat tubuhnya seolah kaku, menerima begitu saja tanpa memberikan perlawanan.
Setelah merasa paru-paru membutuhkan oksigen. William melepaskan ciumannya, dan pergi begtu saja meninggalkan Arista.
Tak suka melihat William pergi begitu saja setelah menciumnya dengan cara aneh. Arista ikut berlari, mengejar William sudah sangat jauh darinya.
‘Hampir saja aku kelepasan untuk melakukan hal lebih dengan Arista. Arista, kenapa kamu sangat keras kepala. Kamu juga kenapa terus menggodaku dengan semua pertanyaan-pertanyaan kamu itu. Lama-lama aku bisa hilang akal,’ umpat William dalam hati, sembari terus melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
“Paman…paman tunggu!” teriak Arista saat melewati ruang tamu, dimana Abel, Ellard, Anggun, dan Esme duduk di sana. Memandang kedatangan William dan Arista berlari menuju lantai 2.
William tidak menggubris panggilan Arista. William terus melangkah menaiki anak tangga, diikuti Arista berjalan cepat di belakangnya. Tak lama William pun terhenti di depan pintu kamarnya, ia masuk. Begitu juga dengan Arista tak mau kalah cepat.
Arista pun segera mengunci pintu, menatap tajam wajah bingung William, “Kenapa Paman menciumku untuk yang kesekian kalinya? Bukannya Paman tidak menyukai ku! tapi kenapa Paman terus mencium ku?!” tanya Arista menekan nada suaranya.
“Tidak ada alasan bagi seorang pria untuk mecium seorang wanita. Seorang pria bisa mencium ribuan wanita yang tidak ia cintai. Lantas kenapa kamu mempertanyakan hal itu?” ucap William berbohong sembari membuka baju latihannya yang basah, dan meletakkannya di ember kain kotor.
“Oh…jadi seperti itu. Berarti Paman sudah banyak mencium, bahkan tidur dengan banyak wanita tanpa rasa cinta di luar sana?” tuduh Arista, hatinya merasa kecewa saat mendengar kebohongan William.
“Arista, aku hanya seorang pria dewasa. Dan kamu adalah seorang anak yang di titipkan untuk aku besarkan. Jadi, jangan berharap hal lebih dariku, karena aku tidak mungkin menyetujui ucapan kamu itu. Aku juga tidak menyukai kamu, jika pun aku suka, itu mungkin…mungkin karena rasa suka telah membesarkan kamu,” jelas William berbohong. Padahal dalam hatinya, ‘Aku sangat mencintai kamu, Vampire kecilku. Mungkin dulu iya, aku tidak menyukai kamu. Tapi setelah lama kamu tumbuh bersamaku, rasa itu semakin tumbuh dan berkembang hingga membuat ku terkadang ingin melakukan hal lebih agar kau tetap menjadi milikku seorang.’
“Seperti kebiasaan di negeri kita, jika anak sudah melewati umur 17 tahun. Anak itu bisa pergi, atau tinggal jauh dari walinya. Hidup bebas tanpa aturan. Jadi, aku minta setelah liburan sekolah berakhir, jangan pernah kekang hidup ku. Aku juga mungkin akan mulai mengembara sendiri, mencari uang dengan keahlianku,” ucap Arista lirih, hatinya benar-benar hancur tak berkeping. Arista pun balik badan, “Maaf, aku sudah memaksakan perasaan ini kepada Paman. Aku pergi,” sambung Arista sembari melangkahkan kakinya.
Mendengar ucapan Arista, dan langkah kaki Arista seolah akan meninggalkan dirinya untuk selamanya. Tubuh William bergerak, ia memegang pergelangan tangan Arista, dan kembali mencium Arista.
Plak!!
Karena hati sudah terlanjur sakit dan rapuh. Arista menolak ciuman William, menampar pipi William hingga menimbulkan bekas tangan di pipi William.
“Mungkin Paman bisa mencium banyak wanita tanpa mencintainya. Tapi jangan pernah melakukan hal itu kepadaku!" tegas Arista lirih, perlahan tetesan air mata kesedihan membasahi kedua pipinya.
“Arista…kamu salah paham. Maafkan keegoisan…”
__ADS_1
“Hari ini semuanya sudah jelas. Jangan lagi pernah mengatur hidupku, karena aku bener-benar akan meninggalkan Paman,” sela Arista lirih.
Arista pun pergi dengan derai air mata, hati sangat sakit, saking sakitnya ia lupa gimana rasanya bernafas, sampai sesak melanda dadanya. Arista membuka pintu kamar, kedua kakinya terus berlari kencang menuju kamarnya.