
William mendekati Arista, tangannya menepuk bahu Arista, “Inilah namanya pertempuran yang sesungguhnya. Sekarang mari kita pulang,” ajak William.
“Kasihan Abel, Paman,” ucap Arista lirih, perlahan ia bangkit dari duduknya.
“Hargai perjuangannya, agar kematiannya tidak…”
Belum lagi siap berbicara, ada kepala menggeling seperti bola keluar dari dalam portal, dan berhenti tepat di depan kaki Arista.
Esme, William, Anggun, dan Ellard terdiam. Pandangan mereka mengarah pada wajah panik Arista sedang menatap kepala itu. Kepala milik Raja iblis palsu. Tak lama terdengar suara Abel.
“Aku hadiahkan bola kepala itu buat kamu, Arista. Selamat ulang tahun yang ke-18 tahun,” ucap Abel, menghentikan langkah kakinya di hadapan Arista.
“Ka-kamu kenapa bisa mendapatkan kepala…Ra..raja iblis?” tanya Anggun di sela kepanikannya.
“Iya, bukannya Raja iblis itu sangat kuat. Mutan tua itu saja selalu kalah melawannya,” cetus Ellard menyindir William.
William diam, menatap Ellard dengan tatapan membunuh.
“Oh…tadi aku di bantu seseorang di dalam sana. Sekarang tidak perlu di bahas lagi, mari kita pulang,” putus Abel mengajak pulang dan tidak ingin memperpanjang.
“Kamu yakin?” tanya Esme tak percaya.
“Ibu kenapa terus meragukan ku?” Abel balik bertanya dengan wajah kesal.
“Oh…tidak ada, kalau gitu mari kita pulang,” putus Esme mengalihkan pembicaraan. Takut kecurigaan nya terbongkar.
Anggun, Esme, William, Abel, Arista, dan Ellard, kembali pulang ke kediaman William, tak jauh dari portal. Tak sampai 20 menit, mereka berlima sudah sampai di rumah William.
Anggun, Esme, dan Arista, berendam di kolam rendaman mandi air hangat khusus wanita, di belakang rumah. William, Abel, dan Ellard, berendam di dalam kamar mandi khusus pria. Rendaman khusus di buat oleh William setelah lelah bertarung.
Di rendaman kamar mandi khusus wanita. Arista, Anggun, dan Esme, duduk di dalam rendaman bak air hangat, melulur 'kan tubuh mereka dengan susu.
“Arista, kamu hari ini sudah 18 tahun. Kamu sudah bisa minum, dan bermain dengan hal aneh dengan sepuasnya oleh lawan jenis," ucap Esme dengan pikiran anehnya.
“Maksud ibu guru apa?” tanya Arista tidak mengerti ucapan Esme.
“Haduh…gimana sih William membesarkan kamu. Apa William tidak pernah mengajari kamu dan memberi tahu kamu tentang apa saja yang boleh di lakukan setelah melewati umur 17 tahun?” tanya Esme sembari mendekati Arista, dan duduk di antara Anggun, dan Arista.
“Enggak,” sahut Arista polos.
__ADS_1
Esme mendekatkan wajahnya, membuat Arista memundurkan wajahnya.
“I-ibu kenapa wajah ibu dekat sekali?” tanya Arista gugup.
“Ibu akan mengajarkan hal dewasa kepada kamu,” sahut Esme pelan, tangannya mulai merayap dari bawah.
“Bu…bu…a-apa yang sedang ibu lakukan?” tanya Arista mulai gelisah saat tangan Esme melintasi hal-hal sensitif dari kain penutup tubuhnya.
“Apa yang kamu rasakan?” Esme balik bertanya, tangannya terhenti di bibir bagian bawah Arista.
Anggun merasa jijik dengan kelakukan ibu gurunya. Langsung memukul tangan Esme.
Plak!
“Eh…kamu kenapa memukul tangan ibu?” tanya Esme sembari kembali ke duduknya tadi.
“Ibu tidak sopan. Apa seperti ini cara ibu mengajarkan murid, ibu. Memalukan,” celetuk Anggun tak suka.
“Iya, biar kalian tidak kaku,” sahut Esme santai.
“Lebih baik kaku di awal, daripada ahli di awal, tahu-tahu tidak enak!” cetus Anggun sewot.
“Bu…jika aku boleh tahu, kenapa tadi ibu bertanya tentang siapa Abel. Apa ibu mengetahui sesuatu tentang Abel?” tanya Arista penasaran.
“Nah…itu dia. Aku sebenarnya heran melihat bocah satu itu. Masa nih ya, saat kami pergi untuk mengambil air mata bidadari di Gereja. Kami itu ‘kan memiliki musuh yang banyak, bahkan kami juga sempat melihat siluman gagak sedang berkembang biak. Nah…di sana aku melihat Abel mengeluarkan kekuatan tanpa menyentuh, atau melakukan hal menguras energi lebih. Aku jadi penasaran, Abel itu sebenarnya dari bangsa klan apa?” sambung Anggun teringat tentang banyak hal saat melakukan perjalanan bersama.
“Ibu merasa dia bukan sejenis seperti kamu, Arista, William, apalagi Ellard. Ibu sangat yakin, pasti dia adalah keturuan dari klan sangat kuat. Tapi…sejenak ibu berpikir jika Abel itu memiliki cirri-ciri seperti iblis muda yang terkenal kejam itu,” sambung Esme serius.
“Nah….aku juga berpikir seperti itu. Ternyata bukan aku saja yang memikirkan hal itu,” sambung Anggun.
Saat Anggun dan Esme saling membahas Abel, Arista hanya diam, menatap Anggun dan Esme dengan wajah bingungnya.
.
.
💫Di sisi lain💫
William, Abel, dan Ellard, menenelamkan separuh tubuh mereka ke air hangat di dalam kolam renang khusus tempat perendaman. Menit selanjutnya, William membuka kedua matanya, menatap wajah Abel dan Ellard.
__ADS_1
“Besok kalian harus pulang,” usir William tanpa sebab.
“Tidak mau!” sahut Abel, dan Ellard serentak.
“Yang punya rumah aku, bukan kalian berdua. Lagian aku tidak akan mengizinkan Arista bermain dan bergaul dengan kedua pria seperti kalian berdua!” William menatap dingin wajah Ellard dan Abel.
Abel dan Ellard serentak membuka kedua kelopak mata mereka. membenarkan posisi duduknya jadi tegak.
“Arista sekarang sudah dewasa. Apa Anda akan selalu mengawasinya sampai ia menikah nanti?” tanya Ellard sinis.
“Arista tidak akan menikah dengan siapa pun. Jika ada seoarang pria ingin menikahi Arista, maka dia harus menyiapkan nyawanya untuk aku acak-acak,” sahut William sinis.
“Berarti Paman membiarkan Arista menjadi perawan tua?” tanya Abel santai.
Sejenak William terdiam, lalu ia kembali menjawab, “Te..tentu saja. Karena sampai kapan pun tidak ada yang boleh mendekati Arista seperti aku!”
“Apa Paman menyukai Arista?” tanya Abel kembali.
William terdiam, perasaannya tiba-tiba berdebar saat mendengar pertanyaan Abel. William pun beranjak dari duduknya, “Sepertinya aku sudah siap. Kalian lanjutkan saja,” pamit William mengalihkan pembicaraan.
William pun keluar dari dalam rendaman air hangat, saat kedua kakinya hendak melangkah mendekati pintu. Abel kembali berkata.
“Jujur saja dengan perasaan Paman. Jika Paman tidak menyukai Arista maka aku akan menjadi seorang pria yang akan terus mengejar Arista,” sambung Abel meminta izin dengan caranya.
William menghentikan langkah kakinya, menoleh sedikit ke samping, menatap Abel dengan tatapan sinis.
“Itu bukan urusan kamu. Aku peringatkan sama kalian berdua. Jangan pernah mencoba merasuki Arista dengan rayuan maut kalian. Dan..jangan pernah berpikir kalian bisa mencium atau tidur dengannya. Arista adalah Vampire kecil milikku, yang berhak atas Arista itu aku. Bukan orang lain!” jelas William masih menyembunyikan perasaannya.
“Berarti Anda menyukainya? Ha ha ha….munafik. katakan cinta kalau cinta. Jangan mengekang Arista. Arista juga butuh penerus keturuannya. Bukannya hanya untuk hidup berdampingan dengan Anda, mutan tua!” cetus Ellard tak takut.
“Iya, aku menyukai nya. Kenapa?” sahut William memberanikan diri mengungkapkan perasaanya.
Abel dan Ellard spontan berdiri.
“Saingan baru!” gumam Abel dan Ellard serentak.
“Aku bukan saingan kalian berdua. Tapi kalau ada seorang pria yang lebih pantas dan layak menjaga Arista, maka aku akan melepaskannya,” sahut William.
“Janji?” tanya Abel semangat.
__ADS_1
“Aku pigi dulu!” pamit William tanpa memberi jawaban.