Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Pembagian rapot.


__ADS_3

Part 68


_______


3 hari kemudian.


Semua orang tua, wali murid, duduk di dalam aula bangku khusus buat orang tua, wali murid. Untuk bangku anak murid berada di sebelah yang tak jauh dari bangku orang tua, wali murid.


Arista yang duduk di paling depan berulang kali menoleh kebelakang, wajah terlihat menunggu seseorang berharap jika Pamannya William akan hadir mendampingi dirinya untuk mengambil rapot sekolah.


Hingga acara akan di mulai, William tak kunjung hadir. William tidak mungkin tidak tahu hari ini akan di adakan pembagian rapot. 3 hari sebelum pembagian rapot surat undangan sudah di sebar luas ke rumah anak murid yang bersekolah di sana.


Apa yang membuat William tidak hadir?


Arista tertunduk lesu, wajahnya terlihat sedih, kedua mata ingin menangis namun harus di tahan, ia tidak ingin tampak lemah di hadapan orang banyak.


Kepala sekolah sekaligus yang memiliki sekolah yaitu Papa dari Ellard sudah berdiri dia atas podium.


Esme, dan wali kelas lainnya berdiri sejajar rapih di atas pentas.


Suasana sana sangat tenang, hanya kebisingan biasa yang terdengar dari suara orang tua murid, wali yang terdengar saling membanggakan anak mereka.


Esme yang tadinya melempar senyuman manis ke semua orang, harus terhenti menarik senyumnya saat menatap wajah Arista yang terlihat tidak bersemangat. Esme menatap Arista tanpa berkedip, apakah Esme tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan William?


Melihat Arista yang terus bersedih, Esme hendak melangkahkan kaki kanannya hendak mendekati Arista dan menghibur Arista. Langkah kaki Esme harus terhenti, ia melihat Abel dan Ellard datang secara bersamaan mengganggu Arista dari bangku belakang. Wajah yang tadinya bersedih kini terlihat kesal, tapi wajah itu juga yang membuat hati Esme tenang.


...2 jam berlalu....


...🤧...


Di dalam kamar mes khusus wanita milik Anggun dan Arista. Arista yang sedang di dalam kamar sendirian menyusun barang-barang miliknya ke dalam koper, sedangkan Anggun, ia masih bercengkrama dengan kedua orang tuanya di halaman sekolah.


Semua barang milik Arista sudah tersusun rapih di dalam koper, tanpa pikir panjang atau berpamitan dengan Anggun yang masih bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Arista melangkah pergi meninggalkan kamar miliknya dan Anggun.

__ADS_1


Di luar sekolah masih terlihat ramai, para murid dengan kedua orang tua, wali mereka. Arista tidak memperdulikan itu, ia terus berjalan melewati halaman sekolah. Kedua kakinya terhenti di depan gerbang, kedua matanya menatap ke bawah, menatap sepatu hak tinggi wanita berwarna merah maroon berdiri di hadapannya.


Arista menaikkan pandangannya menatap siapakah wanita yang sedang berdiri di hadapannya, wanita yang berdiri di hadapannya adalah Esme.


“Esme.”


Esme tersenyum manis menata wajah polos yang tampak sedih, tangan kanan Esme meraih tangan kiri Arista. “Pergilah. Karena bus menuju dunia manusia telah menunggu di depan sana.” Esme memeluk erat tubuh mungil Arista. “Hati-hati, jangan tertipu dengan siapa pun sekalipun ia memohon belas kasihan darimu.” Esme melepaskan pelukannya.


“Maksud kamu apa?” tanya Arista.


Esme menghapus kasar pipinya yang terlihat basah. “Sudah cepat sana pulang.” Sentak Esme, menarik tangan Arista.


Arista berjalan perlahan, wajahnya terlihat bingung dengan ucapan Esme. Arista terus melangkah pergi meninggalkan Esme yang masih berdiri di depan pintu gerbang sekolah.


Melihat Arista yang sudah jauh dari pandangan, Esme memutar badannya dengan anggun dan menghilang tanpa jejak.


Langkah kaki Arista terhenti di samping pintu bus yang sudah terbuka lebar, Pak supir gemuk, duduk di bangku supir, bermata putih tanpa pupil tersenyum manis menatap Arista yang sedang berdiri di depan pintu bus. “Masuk. Perjalanan akan segera di mulai selama 2 jam, jika Anda sudah masuk ke dalam nona muda.”


Arista mengulurkan tangan kanannya memegang badan pintu bus, Arista melangkahkan kaki kanannya menaiki anak tangga bus tersebut.


Blam!


Pintu bus tertutup rapat, membuat Arista yang masih berdiri terkejut, spontan menatap pintu bus tertutup otomatis. Arista menolehkan wajahnya datar, menatap supir bus. “Saya ingin pulang ke…”


“Silahkan duduk dengan tenang, setelah sampai ke tempat tujuan akan saya bilang.” Potong Pak supir gemuk, bermata putih.


Arista tidak mau banyak bertanya, ia melangkah mengambil bangku kursi nomor 2 paling belakang. Arista meletakkan koper di samping bangku sejajar dengan bangku yang ia duduki.


Pak supir menghidupkan bus, melajukan bus memasuki terowongan yang sangat gelap seperti berada di dalam perjalanan dimensi waktu.


Arista hanya diam memandang ke arah jendela yang terlihat pemandangan hanya gelap gulita. Ia menyandarkan tubuhnya di badan bangku yang ia duduki, wajahnya mendongak ke atas.


Paman, kenapa kamu tidak datang?

__ADS_1


Dan kenapa Esme selalu melihatkan wajah sedihnya di hadapanku, meski aku berusaha tidak perduli tapi wajah Esme terpampang nyata jika ada masalah yang sebenarnya sedang di sembunyikan.


Gumam di dalam hati Arista mencemaskan William.


Bus terus berjalan di dalam gelapnya lorong lebih kurang hampir 2 jam lamanya. Tak lama berselang, terbias cahaya putih dari ujung jalan lorong menembus wajah Arista yang duduk di bangku nomor 2 paling belakang.


Cahaya itu semakin dekat dengan bus yang Arista naikin, cahaya semakin jelas saat ekor bus keluar dari dimensi waktu yang menembus alam dunia. Kedua mata Arista membesar, menatap sekeliling jalan yang begitu familiar.


Jalan menuju kediaman William, wajah yang terlihat gundah dan tak bersemangat kini berubah ceria. Bibir tersenyum lebar, kedua tangan memeluk koper yang berada di sampingnya.


“Wah. Jika aku tahu naik bus lebih cepat dari pada di antar Paman, aku akan lebih memilih bus setiap hari pulang dan pergi ke sekolah tanpa meninggalkan Paman di rumah sendirian.” Gumam Arista di dalam hati.


Nyitt!!


Bsshh!


Suara bus terhenti tepat di depan kediaman William. Pintu bus terbuka lebar menyambut kepergian Arista yang hendak turun. Arista bergerak cepat mengambil koper miliknya, melangkah besar berjalan keluar seperti tidak sabar melihat Pamannya.


Pak supir bus gendut, bermata putih tanpa pupil hitam tersenyum manis menatap Arista yang begitu semangat menuruni anak tangga yang berada di pintu masuk bus.


Arista yang sudah turun dari bus melambaikan tangannya ke arah Pak supir bus gendut yang tersenyum menatap dirinya. “Terimakasih Pak.” Teriak Arista.


Pak supir bus gendut diam, melempar senyuman manis di hadapan Arista. Melihat Arista berbalik badan, melangkah pergi meninggalkan bus yang ia naikin. Pak supir gendut melajukan mobilnya dengan kencang dan menghilang.


Arista melangkahkan kedua kakinya menuju kediaman rumah William. Tidak ingin menunggu lama, Arista berlari menggeret koper miliknya memasuki teras rumah William.


Tangan Arista mengulur, membuka pintu rumah. “Paman.”


...Bersambung........


...Arista akan kembali bersama dengan William untuk beberapa Bab. 🤗😊...


...Kalau belakang ceritanya terdengar kurang semangat, mohon di maklumi. 😉🤗...

__ADS_1


...Karena memang lagi kurang semangat....


__ADS_2