
Belum sampai ke kamar, Abel dan Ellard, menghalangi Arista di bawah anak tangga.
“Apa yang sudah mutan tua itu lakukan ke kamu?” tanya Ellard penuh selidik saat melihat kedua bola mata Arista berkaca-kaca.
“Ti-tidak ada,” sahut Arista berbohong, tangannya langsung menyeka kasar air mata membasahi kedua pipinya.
“Arista, tapi wajah kamu tampak pucat. Apa kamu sedang sakit?” sambung Abel ikut bertanya.
“Aku hanya belum makan saja,” sahut Arista lirih.
“Oh, aku kira kamu kenapa,” Abel menggenggam pergelangan tangan Arista, “Mari ikut aku ke dapur, aku akan memasak sarapan enak buat kamu,” ajak Abel lembut.
“Kamu bisa masak?” tanya Arista di lembut.
“Tentu saja,” sahut Abel.
“Kalau gitu aku mau makan,” ucap Arista lembut.
“Aku juga pandai buat teh,” sambung Ellard mempromosikan dirinya.
“Kalau gitu aku mau,” sahut Arista.
Arista, Abel, dan Ellard pun berjalan menuju dapur sekaligus ruang makan. Dari kejauhan terlihat William memandang kepergian Arista bersama dengan Abel, dan Ellard. Rasa tidak rela jika posisinya di ambil oleh Abel dan Ellard, membuat William menggenggam erat pedang tajam tanpa di beri sarung, sehingga darah menetes dari telapak tangannya.
“Jangan terlalu egois untuk mengungkapkan perasaan kamu. Kamu lihat sendiri, jika kamu tidak mau menerimanya menjadi kekasih-mu, maka akan ada banyak pria-pria lain yang akan merebut Arista dari genggaman tangan-mu. Berkata untuk merelakan itu memang mudah. Tapi apakah kamu sudah bertanya ke dalam isi hati kamu? Apakah kamu benar-benar bisa merelakan Arista dimiliki oleh orang lain. Kamu harus ingat, Arista itu adalah penerus pertama yang memiliki darah murni yang cukup kuat. Jadi siapa pun yang mengetahui Arista masih hidup, ia akan terus mengincar Arista demi melahirkan keturunan,” celetuk Esme tiba-tiba sudah berdiri di sisi kiri William.
“Aku hanya bingung saja dengan perasaanku. Apakah aku pantas menjadi pendampingnya? Hal itu sangat membuat aku bingung. Tentang banyak nya para klan yang terus merebut Arista demi menghasilkan keturunan dengan darah murni yang lebih kuat. Itu tidak akan mungkin aku biarkan. Tidak ada satupun orang lain yang bisa menyentuh Arista. Termasuk kedua tikus kecil itu!” cetus William, tatapan kekesalan terlihat jelas memandang ruang dapur.
__ADS_1
“Hai..hai…aku masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran kamu. Kenapa sih, kamu terlalu memikirkan ego-mu. Kamu tidak mau mengungkapkan isi hati kamu. Kamu juga tidak mau melepaskan Arista hidup senang dengan orang lain,” Esme menepuk sebelah bahu William, “Sebaiknya kamu sadar sebelum Arista benar-benar pergi meninggalkan kamu untuk selamanya. Karena saat ini lagi musim dimana para klan iblis sedang mengincar seseorang untuk meneruskan keturunannya. Dan yang perlu kamu ketahui, klan iblis adalah klan yang paling susah untuk meneruskan keturunan mereka. Jadi kamu harus berhati-hati, siapa tahu di antara Abel dan Ellard, salah satu mereka adalah Iblis,” sambung Esme memberitahu.
“Maka bersiaplah untuk menuju kematian mereka,” ketus William.
“Paman, maaf aku ikut campur. Aku hanya ingin memberitahu Paman, jika Arista benar-benar mencintai Paman. Jadi, aku mohon terimalah cintanya. Jika Paman tidak menerima dan membalas cinta Arista, maka Paman berarti akan menerima suatu kesiapan besar,” sambung Anggun memberitahu.
“Kalian berdua apaan sih? Buat aku nggak mood aja,” William balik badan, “Sudah sana pergi, aku bosa mendengar tentang cinta,” sambung William mengusir Anggun, dan Esme.
William pun pergi, melangkah menuju dapur, dimana Arista, Ellard, dan Abel, berada di dapur. Sesampainya di dapur, William berpura-pura mengambil minuman anggur di dalam lemar mini khusus penyimpanan anggur. Detik selanjutnya William mendekati gelas khusus buat minuman anggur di lemari. Tangannya kini menuang anggur ke dalam gelas, tapi pandangannya mengarah pada Abel, Ellard, tampak sangat akrab dan penuh cinta membuatkan sarapan untuk Arista dan lainnya.
Blam!
William meletakkan sebotol minuman dan gelas di atas meja dengan kasar. Arista, Abel, dan Ellard di sana terkejut. Setelah melihat itu adalah William, Ellard, dan Abel kembali memasak.
Sejenak Arista menoleh ke telapak tangan William masih meneteskan darah. Namun karena ia kecewa, Arista tidak memperdulikan itu. Arista berdiri, “Ellard, Abel, sepertinya aku sudah kenyang. Kalian makan saja. Oh ya, bukannya hari ini adalah hari terakhir kita liburan. Kalau gitu aku ke kamar dulu, mau membereskan pakaian dan barang-barang milikku,” pamit Arista.
“Arista…Arista…aku mohon jangan bersikap seperti ini kepadaku. Arista!” pinta William terus memanggil nama Arista.
Anggun, Ellard, Abel, dan Esme, hanya bisa diam, melihat keegoisan seorang lelaki malu mengutarakan isi hatinya kepada seorang gadis selalu mengutarakan isi hatinya. Namun tak pernah terbalas.
“Perdebatan yang tidak akan pernah berujung,” gumam Esme, di dengar oleh Abel, Anggun, Ellard.
“Ck, dasar mutan tua. Padahal tinggal jujur aja, gitu aja pasti masalah sudah kelar. Kalau seperti ini, aku bisa merebut hati Arista,” gumam Ellard di dengar oleh Abel.
“Kau pikir aku akan memberikan Arista kepadamu! Arista hanya untukku seorang, meskipun ia terus mencintai William. Aku tetap tidak akan pernah menyerah dan melepaskannya,” sambung Abel tak mau kalah.
“Kalian berdua bahas apa. Masih banyak siluman lain, nggak usah merebutkan Arista,” Esme menepuk pundak Abel dan Ellard, “Hari ini terakhir liburan, bus juga sudah pasti aka datang 3 jam lagi. Sebaiknya kalian mengemas barang-barang kalian. Soal makanan biar aku saja yang melanjutkannya,” sambung Esme mengingatkan Abel, Ellard, dan Anggun.
__ADS_1
“Ya…jadinya liburan kali ini tidak ada acara ke pantai atau kemanapun ya, bu,” hela Anggun merasa liburannya sia-sia.
“Tapi liburan kalian sangat bermakna. Dan liburan kalian lebih asik dari yang lainnya, bukannya begitu Abel, dan Ellard?” sahut Esme.
“Tentu saja, di dalam sekolah kita tidak bisa melakukan hal apa pun. Tapi di luar sekolah, kita bebas melakukan apa pun. Aku suka liburan seperti ini, esktrem!” sambung Ellard, diangguki Abel.
“Iya juga. Kalau gitu aku permisi ke kamar dulu Bu,” pamit Anggun, ia pun melangkah menuju kamar tamu. Abel dan Ellard pun melangkah menuju kamar tamu kedua.
Esme sendiri menengadahkan pandangannya menatap lantai 2, “Dasar mutan dingin. Padahal tinggal membalas perasaan Arista saja bibir kamu sepertinya keluh. Kalau Arista sudah di rebut orang lain, entar baru menyesal,” gumam Esme. Menit selanjutnya, Esme pun berjalan menuju dapur melanjutkan masakan Abel dan Ellard.
3 jam sudah berlalu, Abel, Ellard, Arista, Anggun, dan Esme, berdiri di depan pagar rumah William, berdiri di depan bus sekolah milik mereka.
“Paman, terimakasih atas tumpangan liburannya. Paman hati-hati di rumah, ya. Kami semua pamit pergi,” pamit Anggun mewakili Arista, Abel, dan Anggun.
“Hem..” angguk William tidak bersemangat.
Masih merasa kecewa atas ucapan William, Arista masuk ke dalam bus terlebih dahulu. Di susul Ellard, Abel, dan Anggun.
“Arista,” gumam William lirih.
“Kamu masih sempat untuk mengutarakan isi hati kamu sekarang. Ayo cepat na….”
“Tidak usah Bu, sampai Paman mati pun dia tidak menyukai aku. Lebih baik ibu segera masuk, karena bus akan segera berangkat,” sela Arista tiba-tiba datang, menarik tangan Esme dari tangga pintu.
“Arista, kamu…”
Belum lagi William selesai berbicara Arista sudah masuk, dan kembali duduk. Esme pun juga sudah masuk, pintu bus pun tertutup, detik selajutnya bus melaju, lalu dengan jarak 50 meter bus itu menghilang masuk ke dimensi lain.
__ADS_1
"Kalau kita berjumpa aku janji akan mengutarakannya," gumam William lirih.