Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Bab 84. Pilih melayaniku atau Mati?!


__ADS_3

Sejenak Abel terdiam mendengar pertanyaan Anggun. Tidak ingin melihat Anggun curiga dengan siapa dirinya sebenarnya. Abel pura-pura tertawa, dan mengalihkan pembicaraan.


“Ha ha ha…tentu saja aku, Abel. Teman satu kelas kamu, dan Arista,” tangan Abel memukul punggung Anggun, “Sudahlah jangan mencurigai aku seperti itu. Mari kita isi dulu perut kita sebelum kita mengambil air mata bidadari,” sambung Abel mengalihkan percakapan.


“Hem...baiklah,” Anggun menatap ikan bergelupuran di atas tanah, “Apa semua ikan-ikan ini kamu yang menangkapnya?” tanya Anggun heran.


“Iya, aku ahli di dalam banyak hal, sekarang mari kita bakar ikan-ikan ini!” ajak Abel semangat.


Anggun mulai menyusun kayu bakar, dan menyalakan api, sedangkan Abel sendiri, ia membersihkan ikan-ikan sudah ia tangkap tadi. Tak sampai 30 menit, ikan-ikan tersebut sudah berada di atas tumpukan kayu pemanggang.


Grrukkk!!!!


Mencium aroma wangi dan rasa manis saat daging ikan di panggang, membuat perut Anggun terus berbunyi, di sambut gemuruh suara perut Abel. 10 menit kemudian ikan di panggang mereka sudah matang, dengan lahap Abel dan Anggun menyantap ikan-ikan tersebut. 20 menit kemudian Anggun, dan Abel, tergeletak di atas tanah, memandang lurus ke atas awan.


“Sepertinya istirahat kita sudah cukup,” Abel beranjak dari tidurnya, ia berdiri, tangannya mengulur ke Anggun sedang duduk, “Mari kita lanjutkan perjalanan ini demi membantu menyelamatkan Arista,” sambung Abel terlihat bersemangat.


“Benar! 5 hari lagi di mulai dari malam ini akan terjadi Gerhana Bulan Purnama. Dan….tepat malam itu Arista berulang tahun. Aku harap kita bisa menjemputnya, agar kita bisa bersama kembali,” ucap Anggun sendu.


“Aku yakin kita pasti berhasil membawa Arista kembali!” Abel memberi semangat.


Anggun hanya melempar senyum manis, penuh harap.


Abel dan Anggun kembali berjalan. Mereka kini berjalan menyusuri bebatuan di atas derasnya aliran sungai untuk menuju Gereja tua, tempat air mata bidadari itu berada. Abel dan Anggun juga berjalan, menyusuri semak belukar cukup tinggi, bertemu hutan kembali, dan terakhir, sampailah mereka kini di depan Gereja tua. Mereka pikir Gereja tua itu dekat, ternyata mereka sudah menghabiskan waktu sampai sore untuk dapat sampai di Gereja tua.


“Hosh…hosh..akhirnya sampai juga,” ucap Anggun, di sela nafas lelahnya.


“Apa kamu sudah siap untuk masuk ke dalam sana?” tanya Abel tegas, mengingat Gereja tua itu di huni Iblis, dan beberapa siluman di setiap ruangannya.


“Tentu saja. Apa pun demi Arista!” sahut Anggun semangat.


“Kalau gitu mari kita masuk,” ajak Abel, kedua kakinya melangkah menuju teras Gereja, diikuti oleh Anggun.


Nyyiiittt!!!!


Pintu Gereja terbuka sendirinya, saat Anggun dan Abel menghentikan langkahnya di depan pintu. Abel dan Anggun saling menatap, lalu mereka mengangguk dengan wajah serius. Sesaat setelah itu, kaki kanan mereka melangkah masuk terlebih dahulu.


Wwuuusshhhh!!!


Angin kencang dari dalam Gereja, menerbangkan abu ke wajah Abel dan Anggun, membuat Abel dan Anggun terbatuk-batuk.

__ADS_1


“Uhuk…uhuk!”


“Uhuk..uhuk. Baru masuk sudah dapat sambutan hangat,” gerutu Abel di sela batuknya. Tangannya mengibas abu di hadapannya.


Abu di hadapan Abel memang menghilang, dan digantikan sesosok wanita cantik, rambut panjang bergelombang menjuntai sampai ke kaki, bola mata berwarna hijau dengan pupil mata seperti ular, sedang menatap dekat wajah tampan dan tatapan datar Abel.


“Apa kau datang untuk mengantar nyawa kau sendiri ke sini?” tanya wanita ular tersebut, lidah panjangnya sesekali keluar, menyentuh wajah Abel.


“Abel, sejak kapan…” bisik Anggun, dengan wajah tegangnya melihat Abel ternyata di kelilingi 3 ekor siluman ular, bukan 1.


“Tidak tahu!” jawab Abel singkat dengan wajah datar, menatap lurus ke wanita siluman ular hijau.


“Oh….ternyata ada gadis imut juga yang ada bersama kamu? Apa yang ingin kalian lakukan di sini?!” tanya wanita siluman ular itu.


“Aku rasa bukan urusan kamu!” ketus Abel. Abel memalingkan pandangannya ke Anggun, “Anggun, mari kita pergi,” ajak Abel ke Anggun.


“Percuma kau mengambilnya, air mata bidadari itu ada pada siluman Gagak, di lantai nomor 2,” ucap wanita siluman ular mengetahui maksud kedatangan Anggun, dan Abel. Wanita siluman ular mendekati Abel, tangannya dengan ramah menyentuh bidang dada Abel, “Aku bisa membantu kamu, anak muda. Tapi dengan satu syarat, tidurlah bersamaku. Aku sudah lama tidak menerima kepuasan dari anak muda seperti kamu!” sambung wanita siluman ular, di kalimat terakhir berbisik di telinga Abel.


“Lebih bagus aku melayani kerbau daripada kamu!” ketus Abel, tangannya menghepas tangan wanita siluman ular. Lalu Abel menggenggam tangan Anggun, membawa Anggun berjalan bersamanya.


Braak!!! Braakk!!!


Wanita siluman ular merasa terhina, ia mengamuk, menerbangkan semua bangku Gereja, dengan ekor ularnya. Dan berteriak memaki Abel.


Abel sudah sampai di bawah anak tangga menuju lantai 2, terpaksa menghentikan langkah kakinya, begitu juga Anggun. Abel menoleh ke belakang, melihat wanita siluman ular sudah berada tepat di belakang mereka.


“Jadi kau ingin apa?” tanya Abel dingin.


“Aku ingin mencicipi aroma manis tubuh kamu. Tapi kalau kamu tidak mau….” wanita siluman ular menatap 2 anak buah siluman ular di belakangnya, “Cepat! Habisi mereka berdua!” sambung wanita siluman ular memerintah 2 anak buahnya.


“Hiakk!!!” teriak 2 anak buah wanita siluman ular, mereka melayang dengan ekor ularnya mendekati Abel dan Anggun.


“Lari!” teriak Abel memberi perintah.


Abel dan Anggun pun menjauh dari tangga. Mereka berlari berpencar, diikuti anak buah wanita siluman ular, mengejar Abel, dan Anggun. Melihat Abel dan Anggun, terkatung-katung berlari mengelak serangan dari anak buah wanita siluman ular. Wanita siluman ular itu tertawa puas.


“Ha ha ha ha…matilah kalian berdua! Sudah aku kasih pilihan yang enak, kau malah meminta pilihan yang buruk!” teriak wanita siluman ular kepada Abel.


Brak!!! Braak!!!

__ADS_1


Wuuussshhh!!!


“Ck, kalau seperti ini ceritanya aku harus merubah diri,” gumam Anggun.


Anggun pun mulai merubah dirinya menjadi sosok siluman wanita petir, kedua tangannya memegang cambuk.


“Sial! Ternyata anak perempuan itu adalah siluman petir! Apa dia adalah putri dari…gawat ini!” gumam wanita siluman ular.


Tar!!!tar!!!


Anggun mengibaskan cambuknya ke ekor anak buah wanita siluman ular.


“Aaaahh…” teriak anak buah wanita siluman ular, ekornya terlihat memerah dan melepuh.


“Sakit ya?” tanya Anggun dingin, tangannya kembali mengibaskan cambuknya.


Ceter!!!ceter!!


“Aaaaahh…” teriak anak buah wanita siluman ular itu kembali, membuat anak buah wanita siluman ular merubah dirinya menjadi manusia, sedang tertidur dengan posisi telungkup, tubuh polos, dan banyak bekas cambuk.


“Hei…kurang ajar kau! Rasakan ini!”


Wuusshhh!!!


Wanita siluman ular mengibas ekornya ke Anggun. Namun dengan cepat Anggun berlari, atau melompat tinggi hingga kibasan itu tidak menyentuhnya.


“Niat kami ke sini hanya untuk….”


“Kau sudah membunuh anak buah ku. Jadi tidak ada kata maaf untuk kalian berdua!” teriak wanita siluman ular tersulut amarah, melihat kedua anak buahnya sudah di babat habis oleh Abel dan Anggun.


Blaam!!!


Praak!!!


Semua benda di dalam Gereja melayang ke arah Anggun, dan Abel. Namun lagi-lagi Anggun dan Abel dapat menghindari serangan dari wanita siluman ular. Merasa sudah membuang waktu dan hari terlihat sudah mulai senja. Abel mengulurkan tangannya mengarah ke wanita siluman ular, dan seketika saja wanita siluman ular itu mati. Anggun melihat hal itu terkejut, ia menghentikan langkahnya di anak tangga pertama.


“Kekuatannya tidak terlihat, tapi sekali ia mengulurkan tangannya, dan bibir bergerak tanpa suara. Wanita siluman ular itu langsung mati. Benar-benar di luar nalar,” gumam Anggun bingung.


Setelah wanita siluman ular itu mati, Abel berlari menaiki anak tangga, tempat Anggun berhenti.

__ADS_1


“Ayo! Waktu kita tidak banyak,” ajak Abel, kaki terus berlari melewati Anggun, masih diam berdiri di anak tangga pertama.


Melihat Abel sudah berada jauh di atasnya, Anggun ikut berlari. Namun setelah sampai di atas, Anggun bingung kenapa Abel terdiam, tangan nya mengulur kebelakang, seperti memberi kode pada Anggun.


__ADS_2