Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Bab 111. Ulah Shera


__ADS_3

Ting ting ting!


Wush wush wush!


Jlub jlub jlub!


Suara pedang terdengar sahut menyahut. Hembusan angin dari merapal mantra sihir terus terdengar.


Suara tusukan menembus kulit juga terdengar.


Anggun, Abel, Ellard, William, dan Esme, membantu klan elf untuk membasmi anak buah iblis penghancur semakin lama semakin banyak.


William dan Esme kini berdiri saling membelakangi, kedua tangan terus mengayunkan serangannya kepada anak buah iblis penghancur.


“Esme, kenapa mereka tidak bisa di hancurkan?” tanya William bingung.


“Aku baru ingat, mereka bisa di hancurkan kalau ketua iblis penghancur di habisi juga. Tapi masalahnya, aku tak mengetahui dimana ketua dari iblis penghancur itu!” sahut Esme sambil terus menyerang anak buah iblis penghancur, terus menyerang dirinya.


“Jangan-jangan ketua iblis penghancur ada di dalam tubuh gadis itu. Satu raga, dua jiwa,” cetus William dengan pikirannya.


“Kamu benar, iblis penghancur ini hanya sebuah kepulan asap hitam. Karena raganya sudah di hancurkan oleh Raja iblis muda,” sahut Esme mulai mengingat siapa iblis penghancur itu.


“Kalau gitu mari kita terus menyerang mereka. Sampai kita menemukan dimana titik kelemahan mereka,” usul William, kedua kaki ia bawa menjauh dari Esme. Willam kembali ke tengah lapangan, membabat anak buah iblis penghancur.


Di sisi lain, Abel masih terus berperang. Amarahnya semakin memuncak, namun harus ia redam. Rasanya Abel ingin mengeluarkan kekuatan aslinya untuk mengalahkan anak buah iblis penghancur, dan ketua iblis penghancur.


‘Sial! Kalau seperti ini caranya, tenaga mereka semua akan habis sia-sia. Aku harus menghancurkan gadis itu. Karena gadis itulah tiang utama untuk ketua iblis dan anak buahnya. Tapi bagaimana caranya aku mengambil alih peperangan Arista?’ batin Abel, kedua tangannya terus mengayunkan pedang sihir miliknya.


Di sisi lain, Arista sudah berubah menjadi wujud Vampire. Arista terus bertarung dengan saudaranya sendiri.


“Apa yang kau mau dariku?” tanya Arista sembari terus melawan Shera.


“Tentu saja aku ingin menyingkirkan pewaris syah dari Raja Vampire,” sahut Shera, kedua tangannya terus mengayunkan pedangnya.


“Ambillah tahta itu karena aku juga tidak mau menikmatinya,” cetus Arista jujur, karena saat ini baginya hidup bersama dengan William sudah sangat nyaman untuk dirinya.


“Ha ha ha…apa yang membuat kau begitu pasrah, saudara…..ku!”

__ADS_1


Ting ting ting!!


Alunan pedang Arista dan Shera saling bersahut.


“Aku tidak pasrah, aku hanya ingin hidup nyaman layaknya klan lain dengan pasangannya,” sahut Arista jujur.


“Oh..apa mutan itu penyebabnya. Baiklah, aku ingin melihat reaksi-mu, saat mutan itu perlahan hilang dari duniamu!”


Ancaman Shera ternyata bukan hanya sekedar ancaman. Shera berbalik badan, sayap hitamnya mengepak, membawanya terbang mendakti William. Arista melihat Shera mulai mengarahkan ujung pedang kini menjadi berlipat ganda. Ia ikut mengepakkan sayapnya, terbang menyusul Shera.


“Paman, awas!” teriak Arista.


William menoleh ke belakang, dan langsung saja terdengar suara.


Jlub jlub jlub jlub!


Perut William tertusuk.


“Uhuk!”


William menyemburkan darah, kedua kakinya melemah, tangan memegang pedang dan pisau belati jatuh begitu saja di atas tanah. Sejenak rasa kebas meliputi tusukan itu.


Abel, Ellard, dan Anggun hanya bisa melihat dari jarak kejauhan, sembari masih terus bertarung.


Arista sudah mendarat di samping William, ia tak percaya melihat kondisi William terlihat berlumur darah. Pedang milik Shera juga masih tertinggal di tubuh William.


“Oh…hanya segitu saja kemampuan nya? Aku pikir hebat, ternyata sangat lemah,” hina Shera, ia masih melayang di atas udara.


Arista memeluk William, “Paman, maafkan aku tidak sempat menghentikannya.”


William memberi senyum manis di bibirnya berlumur cairan merah. Tangannya berlumur cairan merah itu juga membelai pipi Arista, dan berkata, “Arista, sebelum aku mati. A…aku ingin mengatakan perasaan ku. A-aku men…cintai…mu!”


Setelah berkata 'aku mencintaimu', tangan William melemah, kelopak matanya juga terpejam. Tubuh William saat ini benar-benar sudah tak sanggup untuk bertahan di tengah kucuran darah terus mengalir dari tubuhnya.


Petuah klan elf mendekat, “Segera bawa dia ke gua. Aku akan berusaha menghentikan pendarahannya!” perintah petuah klan elf kepada klannya sebagian berkumpul mengelilingi William.


“Paman! Paman jangan pergi tinggalkan aku!” teriak Arista masih memeluk tubuh William.

__ADS_1


“Arista, tenanglah,” pinta Esme, tangannya mengelus bahu Arista.


Arista menatap tajam Shera, masih melayang di atas mereka. tangan Arista dengan mudahnya mengambil 3 pedang dari tubuh William. Membuat semua klan elf di sana, termasuk Esme terkejut. Darah pun semakin mengucur.


Klan elf dengan cepat membawa William ke dalam gua.


Kedua sayap Arista mengepak, ia terbang, dan kini berhadapan dengan Shera, di kedua tangannya terdapat pedang milik Shera. Pedang berdarah.


“Paman, Paman!” ejek Shera.


Aura Arista seketika berubah menjadi sangat gelap. Sayapnya juga berubah menjadi sayap sangat besar, berbulu hitam pekat. Tubuh Arista juga berubah menjadi sangat padat, layaknya wanita dewasa, dan baju iya pakai terlihat seperti seorang Ratu penyihir Vampir. Sedikit seksi. Sepasang bola mata Arista juga ikut berubah menjadi merah gelap, pupilnya berubah menjadi emas.


“Sangat keren. Seperti ini ternyata wujud asli dari sang Ratu penyihir Vampir,” cetus Shera.


Anggun, Esme, Abel, dan Ellard, sejenak mereka terdiam, menengadahkan pandangan mereka, menatap Arista berubah sangat berbeda jauh dari sebelumnya.


“Aku tidak mengakui kau sebagai saudaraku. Aku juga tidak pernah menerima kau sebagai saudara dari perbuatan Raja Vampire. Kau dan Raja Vampire sama saja. Sama-sama tidak memiliki perasaan. Makhluk seperti kau pantas berakhir di Neraka!” teriak Arista di kalimat terakhirnya.


Srak srak!


Jlub!


Hanya dua kali kibasan, dan satu kali tusukan. Tubuh Shera terbelah, dan jatuh di atas tanah. Tubuh bagian atas, dan tubuh bagian bawah terpisah perlahan menghilang, hangus seperti debu setelah ada kumpulan asap hitam terbang dari raga Shera.


Setelah kepergian Shera, anak buah dari iblis penghancur menghilang. Abel, Ellard, Anggun, dan beberapa klan elf berada di sana terdiam. Mereka heran kenapa bisa berakhir dengan mudahnya. Arista balik badan, ia mengepakkan sayap lebarnya menuju gua, tempat di mana William di obati.


Arista pun turun, ia berjalan masih dengan tubuh barunya itu memasuki dalam gua. Arista berjalan dengan aura mencengkam, dan tatapan dingin. Arista kini menghentikan langkahnya di samping ranjang terbuat dari batu. Di atas batu tergelatak tubuh William, kain putih berisi rempah menutupi luka di perut William.


“Paman,” gumam Arista, ia berdiri dengan kedua lututnya, lalu memeluk tubuh William.


Tangisan Arista terus pecah, membuat siapa saja mendengarnya ikut menangis.


Petuah klan elf mendekat, memegang bahu Arista, “Aku salut dengan pemuda satu itu. Dia cukup kuat untuk menahan tusukan itu. Kamu jangan bersedih, semua sudah berakhir. Kalian juga sudah bisa saling bersama untuk selamanya,” ucap petuah klan elf menenangkan Arista.


“Kau pasti bercanda. Aku masih sekolah, bagaimana mungkin aku bisa hidup bersama dengan mutan yang angkuh sepertinya,” cetus Arista, perlahan tubuhnya berubah kembali ke bentuk semula.


"Ha ha ha.....penolakan itu, kebalikan dari perkataan kamu sangat ingin bersamanya," jelas petuah klan elf, mengetahui isi hati Arista.

__ADS_1


Anggun, Abel, Ellard, Esme, dan beberapa klan elf hanya tertawa geli. Mereka tahu betul kalau dua insan itu saling menyukai satu sama lain.


__ADS_2