
Part 40
_______
Arista berjalan-jalan di sekitaran taman mes yang di sediakan dari sekolah. Arista duduk di bangku taman khusus mes antara mes wanita dan pria.
Arista mendongakkan wajahnya menatap langit sore yang perlahan mulai senja. Angin sore yang kencang menerbangkan sehelai demi sehelai rambut indah yang tergerai.
“Indah sekali langit sore ini, seindah senyuman cuek Paman yang tak mungkin aku lupakan. Apa kabarnya Paman di sana, apakah dia akan membelikan aku kado untuk hari Valentine.”
Arista menghela nafas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di badan bangku taman, Arista mendongakkan wajahnya menatap langit yang begitu indah dengan burung-burung yang terbang melintasi langit yang mulai senja.
“Tidak mungkin Paman membelikkan aku kado karena aku masih di sini. Jika dia mau membelikkan kado pasti untuk teman wanitanya. Jika memang ia aku nanti akan cemburu dan marah besar.”
“Kenapa kamu cemburu dengan Paman kamu, seharusnya kamu senang jika Paman kamu memiliki teman wanitanya.”
Abel datang dari arah belakang bangku taman dan berdiri tepat menatap wajah Arista yang sedang di sandarkan di badan bangku taman yang mendongak ke arah langit senja.
Arista spontan bergerak hingga dahinya menyentuh dagu Abel. Abel hanya meringis kesakitan sambil mengelus dagu yang di sundul Arista.
“Auww!” keluh Arista dengan kedua tangan yang mengelus lembut dahinya yang sedikit memerah.
Abel berjalan mendekat dan duduk tempat di samping Arista, “Apa pekerjaan kamu hanya bisa menyakiti seorang pria yang baik kepada kamu.” ucap Abel dengan nada sedikit bercanda.
Dengan wajah yang menahan emosi Arista melayangkan bogem tepat di badan dan wajah Abel.
“Ia. Rasakan ini rasakan.”
Bukk!
Buuukk!!
Abel menyilangkan kedua tangannya menutup wajah tampannya agar tidak tersentuh tangan mungil yang selalu membuat ia terluka.
Setelah puas memberikan Arista kesempatan melayangkan bogem di tubuhnya, Abel menggenggam kedua tangan Arista.
“Kamu selalu membuat aku tidak ingin menyerah untuk mendapatkan kamu. Semakin kamu kasar kepadaku, semakin aku mengejar kamu. Suatu saat aku akan menemui Paman kamu dan meminta restunya supaya gadis kecil miliknya bisa menjadi milikku.”
__ADS_1
Arista tertegun dengan kedua bola mata yang membulat menatap wajah Abel.
Berani sekali dia berkata seperti itu.
Apa dia sudah tidak waras.
Ia. Dia sudah tidak waras, kalau begitu aku akan menghindari setiap laki-laki yang mengejar aku.
Gumam Arista di dalam hati dengan tangan yang berusaha lepas dari genggaman Abel yang sangat kuat.
“Lepaskan atau aku akan berteriak jika kamu ingin memperkosa aku.” keluh Arista yang menarik tangannya supaya bisa lepas dari genggaman tangan Abel.
Abel tersenyum manis dengan kedua tangan yang melepaskan genggaman tangannya yang menggenggam kedua tangan Arista.
“Sudah aku lepas.” Kedua tangan Abel dia angkat menjunjung ke atas sejajar dengan tinggi kepala miliknya.
Bbamm!
Arista terjatuh dengan bokong yang menyentuh tanah yang berhias rumput hijau terlebih dahulu. “Auuww!” keluh Arista menahan sakit di bagian bokong.
Abel berdiri berjalan mendekati Arista, tangan kanan Abel mengulur panjang, “Sakit ya?” ucap Abel sambil tersenyum manis.
Abel tersungkur jatuh tepat di atas pangkuan Arista dengan wajah yang menyangkut di kedua gunung miliknya. Arista membulatkan kedua bola matanya menatap Abel yang terjatuh di posisi yang tidak tepat.
Arista berteriak kencang dengan kedua tangan yang menyingkirkan wajah Abel yang menyentuh kedua gunung miliknya. “Enak sekali kau menempatkan wajah mesum kamu di sini. Apa kamu tidak tahu semua milikku hanya untuk Pa….”
Arista tidak menyambung ucapannya, dengan posisi yang masih duduk ia berbalik badan, bangkit dengan kedua kaki yang berlari kencang meninggalkan Abel.
Melihat ekspresi wajahnya yang terlihat malu, Abel menaikan sudut bibir atasnya menatap dengan penuh makna. “Sungguh menarik dan tak akan pernah aku lepaskan.” Gumam Abel yang merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau yang cantik.
...Kamar mes khusus wanita....
...💃🏻💃🏻...
Blaam!
Arista menutup pintu kamar dengan sangat kuat, tubuhnya menyandar di dinding pintu kamar dengan nafas yang terlihat letih.
__ADS_1
“Apa yang aku lakukan, kenapa aku diam saja menerima ia menjatuhkan wajah yang sok tampan namun menjijikan di atas…”
Arista menundukkan wajahnya memandang kedua gunung miliknya.
Anggun yang sedang duduk di atas ranjang dengan tangan yang memegang novel yang berjudul “Garis Dua Buat Presdir”. Anggun meletakkan buku novel yang sedang di bacanya. “Kamu kenapa?” tanya Anggun dengan suara khas.
Wajah Arista panik, ia berjalan mendekati ranjang Anggun. “Apa kamu tahu soal anak baru yang masuk di kelasku.”
Anggun mengangguk, “Ia.” Jawabnya singkat sambil menatap Arista yang duduk di tepian ranjang miliknya.
Arista memukul pelan dahinya, “Bodoh! Bodoh! Bodoh.”
Anggun yang heran menarik cepat kedua tangan Arista yang hampir melukai wajah indah miliknya, “Kamu kenapa, coba kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kamu dan kenapa kamu bertanya tentang anak baru yang sangat tampan dengan sedikit kecantikan yang dimilikinya.”
Arista merebahkan tubuhnya di atas ranjang Anggun, “Dari dia masuk kelas hingga aku duduk di bangku taman sore tadi, dia terus mengejarku padahal aku sudah berbuat kasar padanya.”
Arista bangkit ia duduk menatap serius wajah Anggun, kemudian menyambung ucapannya kembali. “Tapi dia selalu berkata dia tidak akan melepaskan aku dan terus mengikutiku.”
Anggun meletakkan kedua tangannya tepat di atas bahu Arista. “Kamu sungguh beruntung karena selalu di kejar-kejar pria tampan. Dari pada aku yang tidak pernah terlihat oleh pria sekalipun pria itu jelek.”
Arista berdiri menghadap Anggun, “Sudahlah. Aku tidak perduli di mataku yang pria tampan yang ada di dunia ini hanya 1 yaitu Paman William.” Sahut Arista melangkahkan kedua kakinya berjalan mendekati ranjang miliknya.
Arista yang terlihat lelah menjatuhkan badannya di atas ranjang dengan posisi badan yang terlungkup. “Ahh! Nyaman sekali kasur yang kasar ini.”
Arista menolehkan wajahnya menatap lemari pakaian miliknya.
Aku tidak boleh memberitahu Anggun jika tadi Abel menjatuhkan wajahnya tepat di atas dua gunung milikku.
Dan aku berharap Paman tidak mengetahuinya dan tidak merasakan apa pun yang sedang terjadi padaku di sini.
Batin Arista sambil memejamkan kedua matanya yang terlihat lelah.
Anggun yang masih terjaga menggelengkan kepalanya melihat Arista yang tidur dengan posisi salah seperti itu. Anggun menapakkan kedua kakinya di atas lantai dan berjalan mendekati Arista yang tertidur tanpa selimut hangat yang menutupi tubuh mungil milik Arista.
“Dasar gadis manja yang keras kepala.” gumam Anggun sambil menyelimuti tubuh Arista dengan selimut bunga-bunga miliknya sendiri.
Setelah menyelimuti Arista, Anggun berjalan perlahan mendekati tombol lampu dan mematikan lampu kamar, setelah itu Anggun pun ikut tertidur.
__ADS_1
...Bersambung........