
Jarak 100 meter dari gerbang Kastil sudah terlihat banyak rakyat Iblis dengan memakai baju jubah hitam keluar masuk Kastil. William, Esme, Abel, Ellard, dan Anggun, berhenti sejenak. Mereka berlima ingin menyusun rencana agar bisa masuk dengan cara tidak bergerombolan, melainkan membaur dengan rakyat Iblis terlihat sibuk dengan kedua tangan mereka di penuhi barang di ambil dari hutan. Ada kereta kuda membawa barang juga.
“Aku ingin membagi kita menjadi 3 tim. Untuk Abel, dan Anggun, kalian berdua masuk dengan membawur dengan wanita-wanita Iblis sedang membawa bakul, dan barang lainnya. Esme dan Ellard, kalian juga. Dan aku akan menyusul kalian di belakang. Apa kalian paham?” perintah William.
“Kenapa aku tidak bersama kamu?” tanya Esme.
“Karena anak-anak lebih membutuhkan kamu daripada aku yang membutuhkan kamu!” William memakai penutup jubah, “Sudah cepat. Kita sudah tidak punya waktu lagi,” desak William.
“Baiklah,” Abel melirik ke Anggun, “Mari kita jalan duluan,” ajak Abel.
Abel dan Anggun berjalan terlebih dahulu dengan cepat menyelinap masuk ke kumpulan wanita memegang sebuah benda, bahkan ada 1 orang nenek memikul bakul berisi buah di punggungnya, dan ada seorang anak sedang memegang bakul berisi minuman arak.
“Huuuu..” tanpa Anggun sadari, Abel menghembuskan sesuatu sudah di beri mantra kepada nenek, dan anak kecil itu. Membuat nenek dan anak kecil laki-laki itu terjatuh.
Gedebuk!!!
“Abel, kasihan nenek dan adek itu,” ucap Anggun, kedua kakinya berlari terlebih dahulu, dan membantu Nenek tersebut. Lalu Abel menyusul setelah nya.
“Kamu pasti kelelahan, biar aku saja yang membawa minuman arak ini,” pinta Abel sudah bersama dengan anak kecil membawa arak.
Anggun menyadarai tujuan Abel, ia pun ikut membantu nenek itu, membawa buah di dalam bakul besar.
“Biar aku bantu nek,” pinta Anggun, ia menggendong bakul berisi buah-buah di belakang punggungnya.
“Terimakasih nak,” ucap nenek tersebut, lalu perlahan berdiri.
“Terimakasih tuan,” ucap anak kecil laki-laki tersebut kepada Abel.
Abel, Anggun, nenek, dan anak kecil laki-laki tersebut berjalan menuju pintu gerbang Kastil. Di tengah perjalanan, tanpa di tanya oleh Anggun dan Abel. Nenek tersebut membuka suara.
“Akhirnya Raja Iblis sudah menemukan sang Ratu. Seorang gadis akan beranjak berusia 18 tahun tepat tengah malam nanti. Dan katanya keturuan dari Raja Vampir, dan cucuk pertama dari Ratu penyihir jahat.”
Anggun, dan Abel, terkejut. Sejenak mereka saling pandang dengan wajah tegang, dan tak percaya. Kenapa bisa malam ini menjadi malam pernikahan Arista, padahal Raja Iblis katanya ingin menjadikan Arista tumbal untuk menambah kekuatannya.
__ADS_1
Wajah Abel menggelap seketika, kedua tangan memegang bakul berisi arak mengerat, hingga terlihat bekas pegangan di bakul sedikit retak. Anggun menyadari kekesalan Abel segera berdehem.
“Ehem…”
Abel langsung menoleh ke Anggun, melihat Anggun sedang menunjuk dengan bibir nya ke arah bakul di kedua tangan Abel. Abel pun langsung bersikap biasa saja. Namun, saat Abel, dan Anggun berjalan masuk menuju gerbang Kastil dengan membawa barang berat. Terdengar suara sepatu kuda ingin melintasi mereka.
Begitu gerobak kuda barang melewati Anggun, dan Abel. Terlihat di belakang gerobak kuda sudah duduk Esme dan Ellard dengan santai, tatapan mengejek dari Ellard di tunjukkan buat Abel. Abel melihat itu hanya mendengus kesal.
Tak lama terdengar suara sepatu kuda datang dari belakang, dan berhenti di samping Anggun, Abel, nenek, dan bocah tadi. Terlihat supir kuda tersebut adalah William.
“Ayo, naik, termasuk nenek, dan anak kecil itu!” tegas William.
Dengan senang hati, Abel, Anggun, nenek, dan anak kecil laki-laki tersebut naik ke atas tumpukan barang. Anggun memilih duduk di belakang William, untuk memudahkan dirinya menyampaikan percakapan di bilang nenek tadi.
“Paman,” panggil Anggun berbisik.
“Katakana pa yang ingin kamu katakan,” jawab William ikutan berbisik.
“Raja Iblis merubah rencananya. Mereka bilang jika tempat tengah malam nanti akan menjadi hari pernikahan Arista dengan Raja Iblis. Raja Iblis juga menginginkan keturuna dari Arista,” Anggun menyampaikan pembicaraan seperti nenek itu katakana tadi.
Kuda pun melaju dengan cepat, mengejar Ellard, dan Esme berada di depan mereka. Sesampainya di depan gerbang, kereta kuda milik William di hentikan oleh penjaga gerbang.
“Kalian yang di atas turun!” tegas penjaga pintu gerbang Kastil kepada nenek, Anggun, Abel, dan anak kecil itu.
Nenek, Anggun, Abel, dan anak kecil itu pun turun, karena gerobak mereka akan di periksa. Setelah semua barang bawak an William aman. Gerobak miliknya pun di persilahkan masuk ke Gerbang Kastil. Menit selanjutnya kereta kuda barang di tumpangi Esme dan Ellard, kemudian mereka juga berhasil masuk.
Sesampainya di dalam terlihat padat penduduk dari Iblis, rupa mereka layaknya seperti manusia. Hanya saja terselip tanduk dari rambut mereka, dan ada juga yang memiliki ekor di belakangnya. Cuman karena mereka menutupi seluruh tubuh dengan jubah besar dan hitam milik mereka. Ekor dan tanduk itu pun tidak terlihat.
Esme dan Abel melompat dari kerata kuda. William sendiri memarkikan kereta kuda barang milik mereka di tempat parkir khusus kereta kuda pengantar barang.
“Terimakasih ya, nak,” ucap nenek setelah turun dari kereta kuda barang, kedua tangannya memegang bakul berisi buah-buahan.
“Sama-sama nek. Kalau boleh tahu buah ini mau diletakkan di mana nek?” tanya Anggun menyelidik.
__ADS_1
“Ini mau di taruh ke dapur Kastil, buah buat calon Ratu,” sahut nenek dengan suara tua dan gemetar.
Anggun langsung melirik ke William. William pun segera mendekati Anggun.
“Kamu ikut bersama dengan nenek itu. Aku dan lainnya akan cari cara untuk masuk ke sana. Kalau bisa temukan terlebih dahulu Arista,” pinta William berbisik.
“Baiklah, aku tunggu kalian di dalam,” sahut Anggun mengangguk.
“Nek, aku bantu sampai masuk ke dalam ya?” pinta Anggun , kedua tangannya mengambil bakul berisi buah segar.
“Kamu baik sekali,” nenek mengels punggung Anggun, “Semoga kalian terberkati,” doa nenek untuk Anggun.
“Terimakasih nek,” sahut Anggun mengangguk.
“Kami duluan dulu ya, nak,” pamit nenek kepada William, dan Abel.
“Iya, hati-hati nek,” sahut Abel.
Nenek, dan Anggun mulai melangkah, melewati kerumunan rakyat Iblis terlihat ramai, dan padat. Seperti sedang sibuk mengurus persiapan buat Raja Iblis nanti malam.
Melihat Anggun berjalan tanpa hambatan sudah memasuki pintu samping Kastil. Abel pun ingin mengikuti jejaknya. Abel mulai menatap anak laki-laki sedang berusaha mengangkat bakul besar berisi arak.
“Kamu juga mau ke Kastil?” tanya Abel.
“Iya, tapi saya mau pergi ke gudang khusus penyimpanan minuman arak ini. Memberikannya kepada pelayan untuk mengurus persiapan nanti malam,” sahut anak laki-laki itu.
“Aku bantu, kalau kamu mau bawa cukup bawa 2 kendi saja,” ucap Abel, tangannya langsung mengambil alih bakul, dan memberikan 2 kendi arak ke bocah itu.
“Terimakasih tuan,” terimakasih anak laki-laki tersebut sembari membungkuk.
“Aku pergi duluan, kita ketemu di dalam,” pamit Abel berbisik kepada William.
“Hati-hati. Aku juga sedang mencari mangsa.”
__ADS_1
“Semoga berhasil,” bisik Abel.
Abel dan anak lelaki itu pergi menuju gudang minuman arak. Sedangkan William masih terus berjalan, mencari mangsa untuk mengambil alih pekerjaan, dan bisa leluasa masuk Kastil.