Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Ruang Guru.


__ADS_3

Part 43


______


...Kembali ke Arista....


...💃🏻🌾...


Anggun dan Arista sedang duduk di lobi sekolah. Dengan masing-masing tangan memegang minuman kaleng.


“Arista.” Sapa Anggun.


Arista menolehkan wajahnya menatap wajah Anggun, “Ada apa?”


“Aku dengar di kelas kalian akan mengadakan acara hari Valentine? Jika seluruh kelas merayakan bersama mungkin akan sangat menyenangkan di mana perasaan akan terungkap di malam Valentine.” Keluh Anggun.


Arista tidak merespon pertanyaan dari Anggun, ia hanya diam memandang minuman kaleng pengganti minuman darah untuk menambah stamina tubuhnya. Arista berdiri, “Sebaiknya kita kembali ke kelas karena aku masih ada sedikit tugas dari Esme yang belum aku selesaikan.”


Anggun berdiri, “Baiklah, karena sebentar lagi jam istirahat akan usai sebaiknya kita kembali ke kelas.” Sahut Anggun dengan suara khas.


Anggun dan Arista berjalan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan lobi. Arista dan Anggun terus berjalan hingga di depan kelas mereka harus terpisah karena kelas mereka berbeda.


Anggun melambaikan tangannya, “Setelah bel berbunyi aku akan menunggu kamu seperti biasa.” Ucap Anggun dengan suara khas dan senyum manis yang terukir di bibirnya.


Arista hanya membalasnya dengan senyuman yang manis sambil menganggukan kepalanya.


Melihat Anggun yang sudah masuk ke dalam kelas, Arista diam-diam keluar dari kelas karena jam pelajaran berikutnya belum di mulai.


Tak!


Tak!


Arista terus melangkahkan kedua kakinya berjalan melewati beberapa ruang selain ruangan kelas mereka. Kedua kaki Arista berhenti di depan "Ruangan Guru”, Arista menarik nafas perlahan menatap wajah beberapa guru yang sedang duduk di masing-masing meja.

__ADS_1


Melihat Arista yang seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk berjalan masuk ke dalam ruang guru, Esme yang sedang duduk di mejanya berdiri menyambut kedatangan Arista.


“Dinda Arista apa yang kamu lakukan di sini.”


Arista melangkahkan kaki kanannya berjalan masuk mendekati meja Esme, langkah kakinya terhenti tepat di depan meja Esme.


“Esme. Apakah aku boleh bertanya?”


“Tentu saja sayang, kamu mau bertanya soal apa?” sahut Esme dengan suara manja.


Dengan penuh keraguan ia mulai mengeluarkan pertanyaan yang ada di dalam pikirannya dan isi hatinya. “Berhubung sebentar lagi mau mendekati hari Valentine, kamu pernah bilang kita akan mengadakan Camp di tepian Danau. Tapi kenapa hanya dari kelas kita saja yang mengadakannya, bukankah lebih enak jika kita mengadakan bersama dengan kelas lainnya.”


Mendengar pertanyaan Arista yang spontan seperti itu membuat para wali kelas yang sedang duduk di dalam ruangan tertawa geli.


“Hahaha.”


Salah satu guru wanita yang sedang duduk berdiri berjalan mendekati Arista yang sedang berdiri di depan meja Esme. “Pertanyaan kamu memang benar sekali, tapi hari Valentine itu adalah hari di mana orang hanya membuang waktu untuk berbuat hal romantis dan hal tidak penting lainnya. Hanya anak kecil yang melakukan perayaan hari Valentine yang tidak menarik.” Tangan wanita tersebut memegang dagu Arista. “Wajah kamu sangat cantik dan begitu manis.”


Guru wanita cantik tersebut tersenyum manis, ia menyandarkan bokong menonjol di sisi depan meja Esme. “Aku pikir wajah cantik yang terlihat polos ini adalah wajah seorang wanita lemah, ternyata aku keliru. Kamu sungguh gadis Vampir yang sangat berani.”


Arista berbalik badan, “Maaf. Sudah mengganggu kamu Esme.” Arista melangkahkan kedua kakinya berjalan menuju pintu ruang guru. Baru sampai di depan pintu ruang guru langkah kakinya terhenti.


Arista menolehkan wajahnya sedikit menatap tajam guru wanita yang seperti menyepelekan dirinya. “Aku pikir guru itu harus berkata bijak dan penuh wibawa kepada muridnya, ternyata aku keliru. Sungguh sangat di sayangkan jika di sekolah ini ada guru seperti kamu. Mungkin bagi kamu hari Valentine itu tidak penting atau seperti anak kecil yang sedang merayakan pesta ulang tahun.”


Guru wanita cantik tersebut merasa kesal mendengar ucapan yang di lontarkan dari Arista. Ekspresi wajah Guru wanita cantik itu berubah suram, ia mengepal kedua tangannya sambil begertak giginya.


“Lantang sekali kamu Vampir kecil.” Ucap wanita guru tersebut sambil menggigit giginya.


Arista yang masih membelakangi para guru tersenyum puas, tangan kanannya di junjung tinggi, “Jika kamu tidak suka dengan hari Valentine jangan memprovokasi orang lain. Kalau begitu aku permisi pergi dulu.” Arista melambaikan tangan kanannya.


Esme terduduk lesu dengan kepala yang tertunduk melihat kelakuan Arista, “Inikah Vampir kecil yang harus aku arahkan tuan William. Sebelum aku yang mengarahkan dirinya, dia duluan yang datang mengarahkan aku nantinya.” gumam Esme pelan yang tidak percaya jika Arista berani berkata seperti itu di depan guru lainnya.


Guru wanita berbalik badan menatap kesal wajah Esme yang sedang tertunduk lesu.

__ADS_1


“Apakah itu anak muridmu.”


“Hem!” Esme hanya menganggukan kepalanya dan masih tetap tertunduk.


“Bagiamana bisa dia berkata seperti itu kepadaku. Apa dia juga sering berbuat seperti itu kepadamu?” tanya guru wanita lagi.


“Hem.” Esme hanya menganggukan kepalanya sekali lagi dengan wajah yang masih tertunduk lesu.


Wanita tersebut masih merasa kesal, sampai membuat dirinya berteriak di depan Esme. “Panggil kedua orang tuanya, supaya orang tuanya tahu jika anaknya berkata lantang seperti itu di hadapan gurunya.”


Esme mengangkat kepalanya menatap wajah guru wanita yang terlihat kesal. “Vampir kecil itu tidak memiliki kedua orang tua, dari kecil ia hanya di rawat oleh tuan William.”


Mendengar perkataan tuan William, semua guru wanita berdiri mendekati meja Esme.


“Eh.” Ucap Esme yang terkejut melihat ekspresi seluruh guru wanita yang memancarkan aura seperti orang yang jatuh cinta.


Guru wanita yang memarahi Arista mendekatkan wajahnya menatap wajah Esme. “Pantes saja sikapnya dingin seperti tuan William, bukannya Vampir kecil itu adalah kunci restu seorang wanita agar bisa mendekati tuan William.”


Esme menganggukkan kepalanya, “Ia.” Sahut Esme singkat.


“Karena hari Valentine itu adalah hari senin, bagaimana kita mengadakan Camp mulai dari hari Sabtu sore. Supaya tepat di hari Valentine nya banyak para murid yang sudah merasakan kebahagian sesaat.” Ajak guru wanita seksi tersebut.


Esme berdiri, “Perkataan yang sudah di ucapkan tidak boleh di tarik kembali, dan kamu juga tadi telah menyakiti hatinya dan membuat ia merasa sangat kesal.” Esme melangkahkan kaki kananya seperti hendak meninggalkan ruang guru.


Kedua mata Esme membulat, “Kenapa kakiku terasa berat sekali.” Gumam Esme pelan seperti sedang berusaha ingin melangkah namun kakinya seperti tertahan oleh benda yang begitu berat.


Esme menolehkan wajahnya menatap kaki yang sulit di gerakkan. Betapa terkejutnya dia ternyata kedua kakinya di tahan oleh beberapa guru wanita termasuk guru wanita yang menyindir Arista.


“Hanya kau perantara yang hebat mengambil hati gadis Vampir tersebut.” Ucap guru wanita memohon kepada Esme dan beberapa guru wanita lainnya.


Esme menghela nafas berat, “Fyuh!” ia menolehkan wajahnya menatap rekan satu kerjaannya yang seperti wanita yang haus akan belaian seroang pria. “Baiklah. Akan aku usahakan buat kalian yang kurang belaian.”


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2