Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Pertanyaan aneh Esme.


__ADS_3

Part 48


_________


...Kembali ke Arista....


...💃🏻💃🏻...


Arista berjalan mendekati Esme, “Jika aku boleh tahu, kenapa kamu bisa mengenal Paman?” Arista duduk di samping Esme.


Esme hanya tersenyum manis menatap wajah Arista, “Ceritanya panjang, jika aku jelaskan mungkin akan butuh waktu bertahun-tahun mendengarkan ceritaku.” Sahut Esme tertawa kecil.


Arista mengulurkan tangan kanannya mengambil cangkir yang berisikan coklat panas yang mulai dingin lalu menyeruput minuman coklat panas yang mulai dingin. “Sruupp.” Arista meletakkan kembali gelas yang berisikan minuman coklat panas yang mulai dingin di atas meja. Wajah Arista berubah menjadi serius menatap wajah Esme.


Melihat tatapan Arista yang tidak berkedip saat memandangnya, Esme berubah menjadi canggung. Keringat mengalir perlahan dari dahinya.


“Kenapa kamu menatap saya seperti itu! apa kamu wanita yang suka dengan sesama…”


Arista mengulurkan tangan kanannya menutup mulut Esme yang sedang berbicara. “Ssstt!” jari telunjuk tangan kiri Arista di letakkan di bibirnya, Arista mendekati wajah Esme. “Jangan coba mengalihkan pembicaraan, sekarang cepat katakan kenapa kamu membawa aku ke sini. Rencana busuk apa yang akan kamu perbuat kepadaku.” ucap Arista dengan nada sedikit menekan tanpa memberi sedikit ruang bicara untuk Esme.


Esme melepaskan tangan Arista yang menutup mulutnya. “Aku kira kamu ingin bercinta denganku, ternyata kamu hanya ingin bertanya pertanyaan konyol seperti itu.”


Arista tertawa geli, “Hahaha.” Kedua tangannya memegang perut mungil yang ramping miliknya. “Kamu pikir aku gadis remaja yang menyimpang.” Sahut Arista yang merasa geli mendengar perkataan Esme yang menyebut dirinya adalah wanita yang menyukai lawan jenis.


Esme memalingkan wajahnya yang memerah seperti sedang menaham malu atas pertanyaannya yang sedikit aneh kepada Arista.


“Aku pikir.” Gumam Esme pelan.


Arista mengulurkan jari telunjuk kanannya mendekati dua gunung tak terlampaui milik Esme. “Aku punya bentuk tubuh yang seperti ini, walau masih dalam tahap pertumbuhan. Dan aku juga masih punya bentuk tubuh yang sama lainnya seperti yang kamu miliki, jadi kenapa aku harus menyukai kamu! apa kamu sudah tidak waras dan putus asa karena tidak ada pria yang mau berkencan dengan kamu.”

__ADS_1


Esme memegang tangan Arista, “Ini semua karena aku jatuh cinta dengan Paman kamu, dan aku hanya ingin berkencan dan melakukan apa pun hanya dengan tuan William.” Sahut Esme dengan nada yang lembut seperti menahan malu.


Arista terdiam menatap wajah Esme, “Ekh!”


Esme menganggukan kepalanya, melepas tangan Arista. Esme mendongakkan wajah dengan dahi yang mengerut seperti sedang mengingat sesuatu.


“Tuan William itu adalah satu-satunya pria yang tangguh, berani, baik hati dan lemah lembut kepada setiap wanita yang lemah. Setiap wanita yang berpapasan atau wanita yang ia tolong, pasti merasakan kehangatan dan kelembutan dari tuan William.


Bukan itu saja, baik Monster atau Klan lainnya rela melayani dia dan memberikan kenikmatan saat di atas ranjang. Termasuk aku yang sangat ingin berkencan dengan tuan William agar aku memiliki anak yang tangguh seperti dia.”


Esme yang terhanyut dalam imajinasi tinggi, tak sadar sedang berbicara dengan pikiran berfantasi liar di atas ranjang bersama tuan William di depan Arista.


Ekspresi wajah Arista mendadak berubah, sudut bibir atasnya menaik. Tangan kanannya mengepal, mendarat tepat di atas kepala Esme.


Tak!


“Akkh! Kasar sekali kamu, seperti tuan William, tapi aku suka.” keluh Esme dengan nada sedikit manja dan genit.


“Diam. Iblis aneh.” Teriak Arista merasa kesal mendengar fantasi liar Esme saat memikirkan Pamannya.


Esme mencolek tangan Arista, “Kenapa wajah kamu terlihat marah, apa kamu tidak suka jika aku membicarakan tuan William.” Rayu Esme dengan nada khas manja yang dimilikinya, Esme mendekatkan wajahnya di samping wajah Arista. “Jangan halangi tuan William untuk mendekati seorang wanita, jika kamu terus menghalanginya maka dia akan menjadi perjaka tua untuk selamanya. Jika itu terjadi, maka akan sangat di sayangkan miliknya yang perkasa itu tidak bisa menikmati indahnya surga dari seorang wanita."


Wajah Arista memerah, alisnya menyatu menjadi satu. Tangannya mendorong pelan tubuh Esme dan menindihnya.


“Diam..diam! Pamanku tidak akan aku biarkan menjadi perjaka tua dan aku juga tidak akan membiarkan milik perkasanya menjadi tidak berguna. Aku pastikan suatu hari nanti dia akan mendapatkan wanita yang baik.” teriak Arista dengan nada tinggi, kedua tangannya menutup bibir Esme.


Esme tersenyum manis melihat wajah Arista yang memerah seperti sedang menahan malu, Esme merasa ucapannya yang baru saja ia lontarkan telah membuka hati Arista supaya William bisa mencari seorang wanita untuk di jadikan teman hidup. Hanya itu yang ada di pikiran Esme.


Esme manarik dagu Arista, membuat Arista yang sedang menindih tubuhnya membungkuk sedikit menatap wajah Esme. “Kenapa kamu menindih tubuhku, apa hasrat kamu hari ini sedang memuncak.”

__ADS_1


Arista yang sadar jika dia sedang menindih tubuh Esme, spontan melompat dari tubuh Esme. “Tidak. Berulang kali aku katakan jika aku tidak suka dengan kamu atau lagi dengan wanita lain. Aku masih normal Esme.” Teriak Arista yang merasa malu mendengar ucapan Esme yang selalu menyudutkan dirinya tentang wanita pecinta wanita.


Esme duduk, tangan kanannya meraih tangan Arista. “Arista.” Panggil Esme dengan nada sedikit serius.


Arista menolehkan wajah yang masih memerah menatap wajah Esme. “Ia, ada apa?” sahutnya singkat.


“Sebaiknya kamu duduk terlebih dahulu, agar aku bisa memberitahu kamu sesuatu.” Sahut Esme dengan tangan kiri menepuk sofa kosong di sebelahnya.


Arista yang masih terlihat malu bercampur kesal menuruti perintah Esme, Arista duduk di samping sofa kosong di sebelah Esme. “Ada apa?” tanya Arista kembali.


Wajah Esme berubah menjadi sangat serius menatap wajah Arista. Esme menatap dari ujung kaki hingga ujung rambut Arista, Esme menundukkan sedikit pandangan lalu menatap wajah Arista. Esme tersenyum manis, senyum yang terpancar seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Apa kamu sangat menyayangi tuan William.”


Benar saja, pertanyaan spontan yang mungkin tidak pernah terpikirkan terlontar dari bibir Esme yang bertanya begitu serius kepada Arista yang masih terlihat polos.


Arista terdiam, mengalihkan pandangannya dari tatapan yang penuh tanda tanya yang terlihat dari kedua bola mata Esme yang baru saja melontarkan pertanyaan konyol kepadanya.


Arista mengerutkan dahinya, ekspresi wajah Arista berubah menjadi datar menatap wajah Esme. “Jika aku menyayangi Paman apa urusannya sama kamu, dia itu Paman aku jadi terserah aku mau sayang atau tidak dan kamu tidak berhak berkata atau bertanya seperti itu kepadaku. Dasar wanita labil.” Ketus Arista.


Esme tertawa, “Hahaha.” Tangan kanannya di letakkan di atas bahu kiri Arista. “Kamu sangat lucu, bagaimana bisa kamu menyimpulkan aku menjadi wanita labil.”


Arista menepis tangan Esme yang memegang bahunya. “Bagaimana kamu tidak labil, sebentar kamu menyebut diri kamu “Saya” tak lama kamu bilang “Aku”.” Arista berdiri, “Sudahlah aku ingin pulang.” Sahut Arista yang berpikir jika pertemuan kala itu tidak penting.


Esme memegang tangan Arista kembali, “Jangan pergi karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepada kamu.” ucap Esme yang sadar jika percakapan mereka barusan itu tidak terlalu penting untuk di bahas.


Arista menolehkan wajahnya, “Hal penting apa lagi? Tentang pria lain atau Paman William yang ingin kamu ajak tidur.” Tandas Arista.


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2