
Part 47
_______
Absurd yang masih tidak percaya dengan ucapan William menggelengkan kepalanya, ia menatap tajam wajah William seolah ingin memastikan jika siapa sebenarnya William dan apa tujuannya meminta tolong untuk di buatkan pedang suci yang dibuat oleh Absurd.
“Maaf, aku tidak bisa membantu kamu.”Ucap Absurd singkat.
Mendengar jawaban Absurd membuat William seperti hendak melayangkan tinju di wajah mulus Absurd, dia berpikir sudah datang sejauh ini kenapa harus ada penolakan dari Absurd. William menolehkan wajahnya menarik nafas pendek berusaha untuk mengendalikan emosinya agar Absurd mau menolong dirinya.
“Apa alasan kamu menolak permintaanku?”
“Karena aku tidak perlu memberi tahu jawaban kenapa aku harus menolak permintaan kamu.” sahut Absurd.
William menggenggam erat tangannya dahinya mengerut, dengan wajah suram ia kembali memalingkan wajahnya supaya bisa tetap tenang dan mengontrol emosi yang kian memuncak.
Absurd berdiri, “Sebaiknya kamu kembali saja, karena aku bukan orang yang tepat buat membantu kamu membuat pedang suci yang kamu maksud.” Sahut Absurd dengan nada datar.
Wajah William semakin berubah menjadi suram dengan kedua mata yang penuh dengan amarah, William yang sudah kehabisan kesabaran berbalik badan cepat. Kedua tangannya mengulur panjang memegang kerah baju Absurd.
“Hentikan omong kosong kamu, aku sangat perlu pedang suci yang kamu buat. Jika kamu tidak membantuku maka aku akan menghabisi kamu detik ini juga.” Ucap William dengan nada menekan.
Absurd tersenyum manis, kedua tangannya meraih tangan William yang memegang kerah bajunya. Perlahan ia melepaskan kedua tangan William. “Jika kamu benar ingin membuat pedang suci untuk mengalahkan Raja Iblis dan klan Iblis lainnya kamu harus mengambil mata air suci yang terdapat di dalam sumur dan sumur itu hanya berada di dalam satu Gereja tua.”
“Dimana Gereja itu, cepat kamu katakan.” Potong William.
“Sumber mata air yang berada di dalam sumur hanya bisa kamu temukan di Gereja tua, yang berada di dalam Gunung terlarang.” Absurd mendekatkan wajahnya seperti seorang penantang. “Apa kamu berani dan masih ingin membuat pedang suci tersebut?”
“Apa pun aku lakukan demi Vampir kecilku.” Ketus William meletakkan jari telunjuk tangan kananya di dada Absurd. “Jangan panggil aku William, jika aku tidak bisa membawa air mata suci itu di hadapan kamu.”
Absurd membulatkan kedua bola matanya. “Ka-kamu William.” Ucapnya gugup seperti dia pernah mendengar nama William.
William menolehkan wajahnya menatap Absurd yang terlihat bingung. “Kenapa kau terlihat gugup. Apa sebelumnya kita pernah bertemu?”
Absurd berjalan mendekati William yang sedang berdiri membelakangi dirinya, tangan kanan memegang bahu kanan William. “Jika aku tidak salah dengar, kamu adalah Tuan William yang menjaga Vampir kecil dari anak keturunan Raja Vampir dan selir yang mempunyai darah penyihir itu bukan?”
William menggerakkan tangan kanannya membuang tangan Absurd yang memegang bahunya. William menghela nafas pendek seperti ia telah bosan mendengar pertanyaan yang baru saja Absurd lontarkan.
__ADS_1
“Kenapa setiap Monster seperti kamu selalu bertanya seperti itu padaku.” William berbalik badan menatap wajah Absurd, “Kalian semua seperti seorang penguntit yang terus saja bertanya hal konyol kepadaku.” tandas William.
William berbalik badan, “Maaf. Aku tidak banyak waktu untuk meladeni pembicaraan yang tidak penting yang baru saja kamu ucapkan. Aku pergi dulu dan kamu tunggu aku di sini.”
William berbalik badan melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan kediaman Absurd.
Absurd hanya diam melihat punggung kekar dan tubuh kekar berjalan pergi meninggalkan kediaman rumahnya. Wajahnya tertunduk, penuh kebingungannya. Sedangkan dahinya mengerut seolah sedang memikirkan sesuatu yang mungkin saja ia ketahui tentang William.
William yang hanya di temani 1 pedang tajam yang berkilau yang selalu tersimpan di balik jubah panjangnya, terus berjalan menuju Gunung terlarang. Wajahnya begitu sangat serius menatap setiap jalan yang ia lalui.
Sraaak!
Sraaakk!!
Terdengar suara sepatu miliknya berjalan memasuki pintu depan Gunung terlarang. Hampir 30 menit ia berjalan langkah kakinya terhenti di sebuah gerbang yang menutupi jalan akses masuk ke dalam Gunung terlarang.
“Gunung terlarang dan Bukit terlarang! Kenapa perjalanan ini hampir sama saat aku menolong seorang Nenek tua yang cucunya di tangkap oleh Monster Mapinguari. Apa mungkin Bukit terlarang dan Gunung terlarang sebenarnya satu jalur.”
William terus mengerutkan dahinya seperti ia sedang tidak percaya jika jalan yang ia tuju ternyata satu arah dengan Bukit terlarang.
William mengepal tangan kananya seperti hendak memberi semangat buat dirinya sendiri, dan dia berusaha mencoba mengingat senyum Arista dan kelakuan jahil yang di buat oleh Vampir kecil yang sudah menjadi seorang remaja.
William membuka gerbang tua yang berkarat, ia menampakkan kakinya perlahan berjalan memasuki hutan menuju Gunung terlarang.
Sraaakk!
Sraakk!!
William terus melangkahkan kedua kakinya berjalan memasuki hutan yang kala itu masih terlihat terang. Langkah kaki William harus terhenti saat mendengar suara wanita yang sedang meminta pertolongan.
Toolllong!
Toolonng!!
William melihat ke kanan/kiri hutan yang rimbun, “Dari mana asal suara tersebut.” Gumam William yang berusaha mendengarkan kembali di mana letak suara itu muncul.
“Tolong aku.” teriak wanita itu sekali lagi.
__ADS_1
William segera menolehkan wajahnya, “Di sebelah kanan.” Ucap William memutar arah jalan yang hendak di lalunya.
William terus berlari dan berlari memasuki hutan yang berada di sisi sebelah kanannya. Tak jauh ia memasuki hutan tersebut, terlihat jelas seorang wanita yang sedang di keliling 3 ekor ular berbisa, sebut saja ular Kobra.
William berjalan perlahan dengan tangan yang memberi isyarat kepada wanita tersebut supaya tenang dan jangan berteriak lagi. Secepat kilat berjalan menggunakan ujung kakinya dan melayangkan pedang ke arah 3 ekor ular.
Zrak!
Zrak!
Setelah menolong wanita tersebut, William berdiri tangan kanannya meraih saku bagian dalam jubah miliknya mengambil sapu tangan untuk membersihkan noda yang tertinggal di pedang ke sayangan miliknya.
“Pulanglah karena kamu sudah aman.” Ucap William terlihat gagah dan tangguh.
Wanita tersebut berdiri, berjalan mendekati William. “Terimakasih.” Wanita tersebut memeluk William dari belakang.
“Kali ini aku izinkan kamu memelukku, karena kamu hanya ingin mengucapkan terima kasih padaku.” William mendorong pelan tubuh wanita yang menempelkan kedua gunung tak terlampau di punggung kekar miliknya. “Maaf. Aku harus segera pergi ke Gereja tua.”
Wanita tersebut menggenggam tangan William. “Rumah aku juga di dekat Gereja tua, kalau begitu mari kita pergi bersama.” ajak wanita tersebut berjalan duluan menggandeng tangan kanan William.
William mengerutkan dahinya menatap wanita yang menggandeng tangannya.
Wanita ini sepertinya bukan seorang manusia biasa, bau seperti aku mengenal bau yang di pancar oleh wanita ini.
Jika memang itu maunya aku akan menuruti kemauan wanita ini.
Gumam William di dalam hati.
William terus melangkah mengikuti langkah kaki wanita yang berjalan menggandeng tangannya. William hanya tersenyum sinis seperti sedang memikirkan sesuatu yang akan terjadi padanya.
William menundukkan pandangannya, bibirnya tersenyum sendiri.
Pikiran jorok apa ini.
Batin William dengan langkah kaki yang terus melangkah mengikuti langkah wanita yang sedari tadi menggandeng tangannya.
...Bersambung.......
__ADS_1