
Part 52
______
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, serta luka yang membekas William berjalan pulang menuju rumah Absurd. Pagi terasa lebih hangat dari sebelumnya, angin sejuk menemani perjalanan langkah kaki William yang hampir sampai mendekati gudang tua Absurd.
William menghentikan langkah kakinya di depan gudang tua di mana Absurd bermalam dan tinggal di dalamnya. Pintu gudang tua Absurd terbuka lebar, seperti selalu mengharapkan kepulangan dirinya. William menarik nafas panjang, “Fyuh.” Dan membuangnya.
William kembali berjalan masuk ke dalam gudang tua Absurd. Kedua kakinya terhenti di depan pintu gudang tua yang terbuka lebar, kedua mata William menatap lurus melihat Absurd yang sedang tidur di atas sofa, dengan tubuh yang berselimut tipis.
“Apa dia terus menungguku.” Gumam William pelan sambil melangkah masuk mendekat Absurd.
William membuka jubah panjang miliknya secara perlahan, karena lengan kanannya sedang terluka cukup dalam akibat sayatan pedang Lilith.
“Akh!” keluh William memegang lengan yang terluka.
Absurd yang tidur kini harus terbangun mendengar suara keluhan dari William. Absurd mengucek kedua matanya menatap William yang sedang berdiri membelakangi dirinya.
“Aku pikir kamu tidak akan kembali lagi.”
William berbalik badan, menatap tajam wajah Absurd yang baru saja bangun dari tidurnya. “Hem.”
Absurd berdiri. “Kamu sepertinya terkena sayatan pedang dari wanita cantik itu.” ucap Absurd seperti dia sudah tahu apa yang sedang terjadi pada William dan siapa wanita yang membuat lengannya terluka.
William menolehkan wajahnya memandang Absurd yang berdiri di hadapannya. “Jika kamu sudah tahu, kenapa masih terus bertanya dengan pertanyaan bodoh seperti itu. Cepat berikan aku minuman beralkohol, jika ada jarum buat menjahit luka ini berikan kepadaku juga.” Bentak William.
Absurd berbalik badan, “Baik-baik. Sebaiknya kamu membersihkan badan kamu terlebih dahulu, agar luka itu tidak terinfeksi dan aku bisa mengobati luka bekas sayatan pedang dari wanita itu.” Absurd melangkahkan kedua kakinya berjalan meninggalkan William yang masih berdiri di ruang tamu.
...Di ruang pembuatan pedang....
...🌾🌾...
“Akkkh. Bisa pelan sedikit tidak, apa kamu tidak punya perasaan sebagai seorang pria.” keluh William yang duduk di atas bangku menahan perih, karena Absurd menjahit luka lebar yang ada di lengannya.
Absurd yang sedang menjahit luka William, tersenyum manis seperti senang mendengar teriakan dari seorang pria tangguh yang tak terkalahkan. Begitu kata orang menjuluki William.
__ADS_1
“Sudah selesai.”Absurd meletakkan jarum di dalam kotak yang berisikan peralatan medis. Absurd mendekatkan wajahnya menatap wajah William yang berkeringat, akibat menahan perih jarum yang menyelusup di kulitnya. “Apa semua ini demi gadis Vampir itu?”
“Jika memang ia, mungkin itu bukan urusan kamu dan aku tidak berhak menjawab apa yang baru saja kamu tanyakan kepadaku.” sahut William dengan nada datar.
Blam!
Absurd menutup kotak yang berisikan peralatan medis, kedua mata Abusrd menatap tajam wajah William yang sedari tadi memandangnya penuh dengan rasa amarah.
“Apa kamu jatuh cinta dengan gadis Vampir yang kamu tolong dan yang kamu besarkan dengan tangan kamu sendiri.”
William mengulurkan tangannya meraih kerah baju Absurd. William mendekatkan wajahnya sehingga membuat mereka saling bertatapan satu sama lain. “Bukan urusan kamu.”
Absurd tersenyum lebar, tangannya berusaha melepaskan tangan William yang mencengkram erat kerah baju yang ia pakai. Setelah lepas dari cengkraman William, Absurd berusaha mengalihkan ketegangan yang terjadi.
“Maaf. Kamu terlalu serius dalam menangani setiap hal, sekarang kamu sudah mendapatkan mata air suci dari sumber Gereja tua itu. Agar kau tidak berlama-lama tinggal di rumahku, aku akan segera membuatkan pedang itu untuk kamu, tapi dengan satu syarat.”
“Banyak sekali persyaratan yang kamu buat, seperti wanita saja.” Ketus William.
“Mau dengar atau tidak. Cerewet sekali kamu, seperti wanita yang sedang datang bulan.” Bentak Absurd.
“Sudah cepat katakan.”
William menarik rambutnya sendiri dengan kedua tangannya. “Banyak sekali peraturannya. Macam wanita yang sedang terbakar api cemburu kamu.” ucap William terlihat kesal.
“Setuju atau tidak.” tanya Absurd.
William berdiri, ia berbalik badan membelakangi Absurd. “Aku turuti apa yang kamu bilang, asal kamu bahagia dengan peraturan aneh kamu.” William melangkah pergi meninggalkan Absurd yang sedang duduk sendirian di dalam ruangan tempat pembuat pedang.
.
.
.
Absurd berdiri di depan meja panjang khusus pembuat pedang. Dia atas meja telah tersedia 1 wadah besar yang terbuat dari baja yang berlapis emas, di dalam wadah tersebut terdapat sedikit mata air suci yang di ambil William.
__ADS_1
Tangan kanan Absurd memegang sebuah botol kecil yang isinya cairan berwarna merah kental. Kemungkinan besar itu adalah setetes darah, di ambil secara sembunyi oleh Absurd saat sedang mengobati lengan William.
“Maaf, telah mencuri setetes darah yang kau miliki.”
Absurd menuangkan setetes darah ke dalam wadah yang sudah terisi mata air suci dari sumur Gereja tua. Saat Absurd menuangkan darah ke dalam tetesan mata air suci tersebut, warna air itu berubah menjadi berwarna biru muda dan sedikit memantulkan cahaya putih.
Absurd membulatkan kedua bola matanya, “Apa mungkin.” Gumamnya seperti sedang mengetahui sesuatu saat melihat pencampuran darah William dengan mata air suci tersebut.
“Jika memang benar itu terjadi, pedang ini akan sangat kuat dan aku berharap besar ia dapat menolong gadis Vampir tersebut. Jika tidak Dunia ini akan hancur untuk selamanya.”
Absurd meletakkan kedua tangannya di atas wadah yang sudah berisi campuran setetes darah William dan mata air suci. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di atas punggung tangan kirinya, Absurd memejamkan kedua matanya dengan bibir yang bergerak seperti sedang membaca sebuah mantra.
“Dark-splitting holy sword.”
Absurd terus berkata seperti itu, hingga mata air yang sudah bercampur darah tersebut bergerak dengan sendirinya. Berputar-putar sangat kencang di dalam wadah tersebut membuat meja menjadi bergetar sangat kuat.
Plung!
Plung!
Airnya semakin bergoyang sangat kuat.
Kraak!!
Wadah yang terbuat dari baja yang berlapis emas retak.
Absurd tertegun, dengan cepat ia berjalan mundur. “Tidak mungkin sekuat ini.” Gumam nya pelan seperti tidak menyangka jika campuran mata air suci dan setetes darah William bisa membuat pedang sekuat itu.
Jlaarrr!
Wadah tersebut meledak, hancur berkeping-keping. Membuat semua benda yang berada di dekatnya juga hancur, sedangkan Absurd hanya terpelanting membentur dinding.
“Akh.” Absurd berusaha bangkit, tangan kanannya mengusap kasar sudut bibir yang mengalir sedikit darah. “Uhuk! Uhuk.” Absurd berdiri, mengibaskan tangannya berusaha menghilangkan kabut akibat ledakan tersebut.
Absurd yang terlihat kacau membulatkan kedua bola matanya memandang sinar terang yang mengapung di udara. Absurd berjalan cepat mendekati sinar yang menyilaukan matanya. Tangannya mengulur panjang meraih benda yang tersembunyi di balik silaunya cahaya terang yang menyilaukan mata.
__ADS_1
Setelah berhasil meraih benda yang berada di balik cahaya. Wajah Absurd tertunduk menatap ke bawah, menatap benda yang tersembunyi di balik cahaya yang menyilaukan mata. Benda tersebut adalah sebuah pedang suci yang dibuat dari mata air dan setetes darah milik William. “Tidak mungkin.”
...Bersambung......