
Part 55
__________
...Kembali ke William....
...😉...
William sudah kembali pulang ke rumahnya, ia sedang duduk di lapangan latihan miliknya menatap pedang suci yang baru saja di buat oleh Absurd. William menegakkan pedang tersebut dan memutar-mutar pedang yang mengkilap sehingga bayangan wajahnya memantul di pedang suci.
William yang masih terus memandangi pedang suci, mengerutkan dahinya mengingat perkataan Absurd sebelum William kembali ke kediamannya.
...Teringat....
...😵😵...
Absurd dan William duduk di ruang tamu milik Absurd. Absurd menatap tajam wajah William, Absurd terus menatap selama hampir 30 menit lamanya tanpa berkedip. Sedangkan William hanya diam menatap datar wajah Absurd yang sedari tadi menatap dirinya.
Absurd menolehkan wajah, sambil membuang nafas kasar. Absurd menoleh kembali menatap wajah William.
“Sebenarnya kamu siapa?”
“Aku adalah William. Bukannya kamu sudah tahu, kenapa kamu bertanya kembali siapa aku.” tandas William.
Absurd menggelengkan kepalanya, seakan William tidak mengetahui maksud dari ucapannya. Karena William tidak mengerti atas pertanyaan dirinya, Absurd meletakkan tangan kanannya di atas pedang suci yang terletak di atas meja ruang tamu.
“Pedang suci ini aku beri nama, “Infernus Gladius.” Jika di artikan Pedang Neraka, karena kekuatan pedang ini sangat luar biasa. Hembusan pedang ini bisa membelah dua jiwa, bukan itu saja pedang ini pedang yang paling kuat yang pernah aku buat. Aku harap kamu bisa menjaga pedang ini, jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah.”
“Kenapa kamu bisa bilang seperti itu? apa mata air suci yang aku ambil sekuat itu?” tanya William dengan wajah yang cukup serius.
Absurd hanya menggelengkan kepalanya.
Bukan mata air suci yang kuat. Tapi setetes darah kamu yang terlalu kuat. Siapa dia sebenarnya?
Batin Absurd menatap wajah William.
...Kembali....
...🤫🤫...
.
.
.
William merebahkan tubuhnya di atas tanah tempat latihan miliknya. Kedua matanya memandang ke atas, di mana tempat latihan tersebut tidak tertutup atap atau penutup lainnya. Jadi bisa menatap langit secara langsung.
“Apa maksud dari perkataan Absurd, dan kenapa dia selalu berbicara hanya setengah-setengah saja.”
__ADS_1
William berdiri dengan kedua tangan yang memegang pedang suci miliknya. “Mulai sekarang aku menyebut kamu Infernus Gladius.” Ucap William menamai pedangnya sesuai dengan apa yang Absurd katakan.
William meletakkan kaki kanannya sedikit maju ke depan, sedangkan kaki kirinya sedikit mundur dan miring sedikit ke belakang. William menatap lurus searah pedang, Infernus Gladius yang di junjung sejajar dengan tatapan mata William.
“Hiaakkhh!”
William mengayunkan pedangnya ke kanan/ ke kiri.
Syut!
Syut!
William semakin mengayun pedangnya dengan cepat ke kanan/kiri.
Swiissshhh!
Swiissshhh!!
William berjongkok dengan cepat, dengan kaki kanannya yang di luruskan ke depan sedangkan kaki kiri menahan sambil memutar badan agar seirama dengan kedua kaki dan tubuh yang bergerak secara bulat.
William melompat sedikit, tubuhnya membungkuk dengan tangan kanan yang mengayunkan pedang ke depan seperti hendak menusuk.
William melalukan latihan itu secara berulang-ulang, membuat dirinya mengeluarkan keringat yang membasahi tubuh dan baju latihan yang di kenakan.
Setelah latihan yang memakan waktu selama hampir 3 jam lamanya, William berdiri dengan nafas yang tidak teratur menatap pedang suci yang di pegangannya. “Tidak terjadi apa-apa.” Gumamnya pelan.
Saat William melangkahkan kedua kakinya, pedang suci atau Infernus Gladius yang ia pegang memunculkan sekilas cahaya berwarna merah seperti warna api yang sedang menyala.
Namun William tidak menyadari hal itu, ia terus berjalan meninggalkan ruangan latihan miliknya menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar miliknya.
.
.
.
.
William yang sudah memarkirkan mobilnya yang tak jauh dari tempat Pak tua pemilik bar, melangkahkan kedua kaki mendekati warung bar Pak tua. Seperti biasa, William menghentikan kedua langkah kakinya berdiri di depan pintu bar milik Pak tua.
“Apa bar ini sudah tidak ada penghuninya lagi.” Teriak William yang memanggil tanpa memberi salam.
William melihat sekeliling tempat namun tak di temui Pak tua pemilik bar. William melangkahkan kaki kanan masuk ke dalam warung bar, ia menggelengkan kepalanya dengan kedua kaki yang terus melangkah masuk. Dari raut wajah William sepertinya sudah mengetahui jika Pak tua pemilik bar ada di sebuah tempat.
William yang terus melangkah kini menghentikan kedua kakinya di depan pintu yang tertutup tirai yang terlihat kumuh. William menggelengkan kepalanya saat mendengar suara mendesah.
“Aww!”
“Ahhh!”
__ADS_1
“Egghh!!”
Yang membuat William tidak mengerti kenapa suara itu terdengar berbeda, seperti suara 2 orang wanita dewasa yang sedang menikmati peran mereka.
William menyingkap tirai sedikit. Benar saja, Pak tua pemilik bar sedang melakukan permainan 1 banding 2 wanita cantik.
1 wanita sedang duduk di atas pangkuan Pak tua yang terbaring, dengan mulut yang bermain dengan alat Vital milik Pak tua. Sedangkan wanita yang satu lagi sedangkan sedang menikmati perannya di atas wajah Pak tua yang sedang mengulurkan lidahnya masuk ke goa wanita tersebut.
William menelan air ludahnya. “Glek!” William berbalik badan, wajahnya tampak pucat, tangan kanannya menutup mulut yang seperti hendak muntah.
William berlari meninggalkan tempat tersebut dan keluar dari dalam bar, sesampainya di depan pintu bar. William menunduk sedikit dan memuntahkan isi perutnya yang masih kosong.
“Uweek!”
Wajahnya pucat, keringat mengalir membasahi wajah William yang kini mulai normal. Tangan kanannya mengusap kasar di bawah bibir yang terdapat bekas muntahan. Tangan kirinya di letakkan di atas pinggang sebelah kiri miliknya.
“Menjijikkan sekali. Apa tidak ada gaya yang bagus selain gaya yang baru saja di buat mereka. Sebaiknya aku pergi berjalan-jalan sebentar, siapa tahu ada barang yang cocok buat Arista.”
William melangkah pergi dari warung bar milik Pak tua. William terus melangkahkan kedua kakinya memasuki pusat pasar yang tak jauh dari warung bar Pak tua.
“Bunga! Bunga. Bunga mawar buat kekasihnya menyambut hari Valentine.”
“Coklat! Coklat. Coklat buat kekasih tersayang, biar yang manis tambah manis.”
“Cincin pasangan yang terbuat dari besi baja putih, ada kalungnya juga.”
Terdengar suara teriakan yang terlontar dari setiap pemilik toko yang masing-masing berdiri di depan jualan mereka, seperti sedang menarik orang yang berlalu lalang di tengah pasar.
Jika ada Arista di sini, pasti berkeliling kali ini akan sangat menyenangkan. Apa lagi anak itu hobi sekali berbelanja dan melihat barang yang di mana ia belum memiliki barang tersebut.
Gumam William dalam hati, mengingat tingkah nakal dan senyum Arista saat berada di dekatnya.
Langkah kaki William terhenti di sebuah toko kecil yang berada di atas trotoar. Tersusun rapih botol-botol kaca yang begitu cantik. William mendekatkan wajahnya menatap botol-botol yang tersusun rapi di atas meja yang berukuran 1 meter dengan 2 tingkat kecil ke atas.
“Permisi.”
Keluarlah seorang wanita tua dari balik meja jualan.“Ia.” Wanita tua tersebut berjalan mendekati William, wajah tua yang mengeriput serta kedua mata yang menyipit memandang wajah William. “Apa kamu ingin membeli minyak wangi Nenek?”
William mengerutkan dahinya menatap Nenek tua yang memasang senyum manis di pipi yang mulai turun dan mengeriput.
“Ia. Berikan saya minyak wangi buat seorang gadis muda.”
Nenek tua itu berjalan mendekati jejeran minyak wangi yang tersusun rapih. Tangan kanan yang bergetar meraih botol minyak wangi yang berwarna keemasan.
“Ini adalah parfum Shalimar dari Guerlain. Yang dibuat pada tahun 1921, aroma oriental klasik yang di ciptakan oleh Jacques Guerlain. Aroma awalnya terdiri dari mandarin, lemon, cedar dan bergamot. Aroma tengahnya iris, melati, mawar dan akar wangi. Dan untuk aroma akhirnya cendana, vanilla dan dupa.” Ucap Nenek tua memberi sedikit penjelasan tentang campuran yang dari parfum tersebut.
William menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu kasih aku satu minyak wangi itu.” ucap William dengan nada lembut.
...Bersambung.......
__ADS_1