
Setelah selesai memanggang daging buaya, mengisi perut kosong sampai kenyang, dan entah kapan lagi makan, makanan seenak itu di masa saat ini.
Setelah mencari tahu dimana letak Kastil Raja Iblis, dari cermin ajaib milik Esme, mengatakan jika Kastil itu berada di balik hutan. William, Anggun, Esme, Abel, dan Ellard, memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan mereka.
“Paman, apakah Paman menyukai Arista?” tanya Anggun sembari melangkah, membuat Ellard, Abel, dan Esme, spontan mengarahkan pandangannya ke William.
“Tidak tahu, aku tidak mengerti bagaimana rasanya menyukai seseorang. Atau bagaimana di mencintai orang lain,” sahut William dingin.
“Kalau Arista mencintai Paman, apakah Paman akan membalas perasaannya?” tanya Anggun kembali membuat raut wajah Esme, Abel, dan Ellard sedikit menggelap.
“Apa pantas seorang pria dewasa yang sudah menjaga dan membesarkan seorang gadis, jatuh cinta kepada gadis yang ia besarkan sendiri? Aku rasa kamu sudah tahu apa jawabanku,” jelas William menolak jujur dengan perasaannya.
“Berarti Paman akan merestui Abel, atau Ellard, untuk menjadi kekasih Arista?” tanya Anggun kembali, sembari terus melangkah mengikuti langkah besar William.
William melirik ke Abel, dan Ellard, berjalan di sisi kanannya, bersama dengan Esme, dengan tangan melambai. Detik selanjutnya William memutar bola mata jengahnya, “Tentu saja aku tidak akan merestui Arista bersama dengan lelaki itu!” ketus William.
“Jadi, lelaki mana yang akan Paman restui untuk menjadi kekasih Arista. Bukankah besok malam ia memasuki umur 18 tahun, dan sudah bisa di bilang Arista memasuki usia dewasa. Arista 'kan juga butuh sentuhan, belaian, ciumana, dan…” ucapan Anggun terhenti, dan pikiran anehnya mengingat kejadian musim kawin siluman gagak itu juga terhenti, saat Esme menyela.
“Anggun…sejak kapan kamu memikirkan hal seperti itu?” sela Esme menggoda.
“Sudah pasti dia teringat dan terangsang dengan apa yang ia lihat sewaktu mengambil air mata bidadari,” sambung Abel.
“Uuuhh…pasti sangat panas, ya?” goda Esme kembali.
Anggun menunjukkan 2 jempol tangannya, sembari mengangguk.
Esme, dan Anggun terus mengobrol sepanjang perjalanan, membuat kedua kuping William, Abel, dan Ellard, panas, dan ingin muntah.
2 jam kemudian, sampailah kini mereka di ujung hutan, dan kini sudah keluar dari hutan. Terlihat dari kejauhan ada sebuah Kastil menjulang tinggi sampai ke atas awan. Separuh dari Kastil tersebut melingkar awan hitam di penuhi dengan petir terus menyambar-nyambar, sehingga suara gemuruh petir bisa terdengar sampai kejauhan.
Abel, Ellard, William, Anggun, dan Esme, sudah berdiri di tepi jurang, pandangan mereka menatap jauh ke Kastil Raja iblis, dimana bawahnya terdapat beberapa rumah, dan banyak penjaga menjaga di sana.
“Bagaimana cara kita bisa masuk ke sana?” tanya William ke Esme, pandangan lurus ke bawah jurang.
“Menyamar sebagai iblis,” sahut Esme santai.
__ADS_1
“Caranya?” tanya Anggun penasaran.
“Bukannya kita ada siluman, dan yang satu Mutan. Meski kita menyamar, aroma tubuh kita dengan mereka ‘kan berbeda,” sambung Abel menutupi jati dirinya sendiri.
“Gampang,” Esme memetik tangannya, kemudian di belakang mereka sudah muncul jubah, dan 5 botol kaca berisi cairan berwarna hitam elektrik, dengan gulir-gulir berwarna hijau tosca.
“Buat apa itu Bu?” tanya Anggun, melangkah mendekati jubah, dengan botol kaca.
“Jubah itu buat besok siang kita menerobos masuk ke gerbang kastil. Dan 5 botol kaca itu adalah sebuah ramuan ajaib untuk merubah bau tubuh sesuai dengan tempat yang kita datangi,” jelas Esme.
Ellard, dan Abel, berjalan mendekati, dan mengambil jubah, dan botol kaca. William sendiri masih berdiri di samping Esme, menatap Esme dengan tatapan aneh.
“Kenapa kamu menatap ku seperti itu?” tanya Esme menyadari jika William terus menatapnya.
“Apa rencana kamu di balik semua kebaikan ini? jika kau ingin meminta imbalan tubuh, dan cintaku. Jangan harap aku akan memberikannya.”
“Tentu saja aku tidak meminta imbalan di balik ini semua,” Esme memutar arah berdiri, kakinya perlahan maju satu langkah, berdiri sangat dekat dengan William, “Aku tidak meminta apa pun dari kamu. Aku melakukan ini dengan tulus, karena Arista adalah murid ku. Dan kamu adalah seorang pria yang sangat aku cintai,” sambung Esme.
“Terimakasih,” terimakasih William singkat.
Esme pun segera menjauh, tangan memukul bahu William, “Lupakan apa yang aku ucapanku. Sekarang mari kita kembali bersembunyi ke dalam hutan untuk mendirikan tenda, dan bergerak turun sebelum matahari terbit,” ajak Esme.
“Tidak, saat ini akses masuk ke Kastil sangat di jaga ketat. Dan orang yang masuk ke Kastil itu juga tidak banyak, karena penduduk Iblis pastinya sedang sibuk mengurus tempat persembahan buat Arista. Aku juga tak ingin membuang energi ku. Karena besok kita akan mengeluarkan energi sangat banyak untuk melepaskan Arista," jelas Esme, lalu ia melangkah medekati Ellard, Abel, dan Anggun, menyuruh untuk masuk lagi ke dalam hutan.
William sendiri balik badan, menatap Kastil dari kejauhan.
“Arista, aku datang,” gumam William. Namun, ternyata Arista bisa merasakan suara William.
.
.
Arista sedang berada di sebuah ruangan baju, dan sedang mencoba baju buat acara persembahan untuk dirinya sendiri besok malam, mendengar suara William. Kedua kakinya reflek berlari menuju jendela besar, dan menatap lurus, langsung terlihat hutan rimbun, tepat di mana tadi William berdiri.
“Paman William…” teriakan Arista cukup kuat, dan kencang, sampai terdengar di telinga William saat ini hendak memasuki hutan.
__ADS_1
.
.
William tadi ingin masuk segera berbalik badan, kedua kakinya kembali berlari, dan berdiri di tepi jurang. Membuang Esme, Abel, Ellard, dan Anggun, sudah berjalan di dalam hutan terpaksa menghentikan langkahnya, menyusul William, karena takut terjadi hal buruk kepadanya.
“Ada apa?” tanya Esme berdiri di sisi kanan William.
“Aku seperti mendengar suara teriakan Arista. Apa terjadi hal buruk kepadanya?” William terdengar cemas.
“Mungkin itu hanya perasaan kamu saja. Dan aku harap hal buruk tidak akan terjadi pada Arista,” sahut Esme menenangkan pikiran William.
“Benar, sampai saja Raja Iblis berbuat jahat kepada Arista. Aku akan pastikan mereka juga akan merasakan hal yang sama,” sambung Abel.
“Sudah, mari kita kembali masuk,” ajak Esme kembali.
Esme, Anggun, Ellard, dan Abel, kembali berjalan memasuki hutan. William sendiri masih terus memandang kastil. Kedua tangan berada di samping tubuh mengepal erat.
“Jika terjadi hal buruk kepada Arista, akan aku pastikan. Kau benar-benar berakhir di Neraka bersama dengan Raja Vampire,” gumam William.
William pun kembali berbalik, melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam hutan.
.
.
Di ruang ganti baju Kastil milik Raja Iblis sendiri. Akibat teriakan Arista, Raja Iblis menyuruh seluruh pelayan keluar, meninggalkan dirinya dan Arista di dalam berdua.
Raja Iblis mendekati Arista, berdiri di hadapan Arista.
“Setelah cukup lama aku memandang wajah kamu. Dan setelah cukup lama kamu berada di sini, aku mengurungkan niat ku untuk menjadikan kamu tumbal. Aku sudah memutuskan jika besok malam kita menikah, dan harus menyatukan diri kita,” Raja Iblis menggenggam dagu Arista, jari berbalut kulit keriput membelai bibir merah muda Arista, “Agar kita bisa memiliki keturuan yang sangat kuat, dari seorang wanita Vampire yang kuat,” sambung Raja Iblis.
“Cih… itu tidak akan terjadi!”
“Ha ha ha…bersiaplah untuk besok malam,” ucap Raja Iblis di sela tawa jahatnya sembari balik badan, melangkah keluar dari ruangan.
__ADS_1
Melihat Raja Iblis sudah pergi dari ruangan, kedua kaki Arista melemah, ia terduduk, dengan derai air mata terus mengalir.
“Hikss…Paman..kamu dimana? Aku sangat takut.”