Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Wanita tanpa wujud


__ADS_3

Part 69


______


Arista sudah masuk ke dalam kediaman William, kedua mata Arista melihat ke kanan/kiri, tampak rumah terlihat kosong, hening tanpa penghuni. Arista terus melangkah, tangan kanan menarik koper yang ia bawa.


Kreek!


Kreek!


Di rumah yang sangat besar hanya terdengar suara langkah kaki, dan koper yang Arista tarik. Kedua kaki Arista terhenti di bawah anak tangga menuju kamar miliknya dan William. Tangga satu arah, karena kamar mereka saling berdampingan.


Arista melangkahkan kaki kanan menaiki anak tangga, kedua tangan menjinjing koper yang ia bawa.


Tap!


Tap!


Kedua kaki Arista terhenti di depan kamar miliknya, kedua tangan menurunkan koper yang ia jinjing di letakkan di atas lantai. Tangan kanan mengulur memegang kunci pin pintu kamar berwarna pink yang terpasang di depan pintu kamar Arista.


“Kenapa Paman memasang pengaman seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Arista pelan melihat ke kanan/ kiri, tapi tak tampak wajah William.


Arista lanjut melangkah mendekati kamar William. Tangan kanan Arista mengulur memegang gagang pintu kamar yang tidak terkunci, jenjang leher Arista mengulur panjang, menyelinap masuk ke dalam pintu kamar yang terbuka. “Paman. Haa!” Arista tercengang menatap seorang pria yang terbaring lemah di balut perban yang terdapat sebercak darah yang terlihat dari perban yang membalut tubuh kekar tersebut.


Wajah Arista terlihat syok melihat William terbaring lemah, kedua mata mulai tergenang cairan bening yang memenuhi mata indah miliknya. “Apa yang sebenarnya terjadi.” Gumam Arista perlahan melangkahkan kedua kakinya mendekati ranjang William.


Arista menghentikan langkah kakinya di samping ranjang William, tangan, tubuh, kakinya gemetar. Hidung memerah menahan isak tangis yang akan pecah menatap Paman yang ia sayangi terbaring lemah, penuh luka.


Hati campur aduk menjadi satu, bayangan yang terlintas yang ada pelupuk kedua matanya adalah saat terakhir kali William menjumpai dirinya, memberikan cincin berbentuk ular. Senyum canggung, tawa, dan sikap dingin William menari-nari di ingatan Arista.

__ADS_1


Arista tak sanggup lagi berdiri, ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh kekar William yang hanya terbalut perban. Bibirnya masih diam membeku seperti tak sanggup berkata apa pun untuk saat ini, air mata terus mengalir meski isak tangis tidak terdengar dari bibir indah milik Arista.


Arista bangkit membenarkan posisi tubuhnya, ia menaik menyingkap selimut William dan masuk ke dalam selimut William. Arista memiringkan tubuhnya, kedua mata menatap sendu wajah tampan yang kini pucat seperti tanpa darah mengalir ke wajah.


Arista memejamkan kedua matanya, tangan kanan terbuka lebar memeluk tubuh kekar yang hanya bisa separuh badan yang dapat ia raih. Air mata terus mengalir, bibir merah yang masih murni bergerak perlahan.


“Paman. Kenapa Paman seperti ini, dan kenapa Paman tidak memberi kabar kepada Arista jika Paman dalam bahaya. Siapa, siapa orang yang berbuat seperti ini kepada Paman. Paman.”


Isak tangis tak mampu terbendung lagi. “Paman. Hiks! Hiks! Hiks!” Arista duduk, menyeka kasar air mata yang terus membasahi wajah mulus miliknya.


Arista kembali memeluk tubuh William, menggoyangkan tubuh kekar yang belum juga sadar dari tidur panjangnya.


“Paman. Bangun Paman.” Arista mengambil tangan kanan William yang lemah, menempelkan di pipi mungil yang basah. “Ini Dinda Arista, Vampire kecil yang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Paman sekarang aku tidak lagi haus akan darah, aku juga tidak akan menggigit Paman lagi.” Arista menempelkan telapak tangan kanan miliknya di atas kepalanya. “Arista berani bersumpah Paman, Arista janji. Ramuan yang Paman berikan sewaktu Arista sebelum berangkat sekolah, itu sangat manjur.”


Arista teringat sebelum ia pergi sekolah, William sempat memberikan ia secangkir teh yang rasanya amat pahit namun sedikit manis. Ramuan yang menahan rasa haus akan sakitnya tak meminum darah segar.


Segala cara dilakukan Arista, tapi William tak juga bangun, Arista menjatuhkan tubuhnya di atas bidang kekar milik William yang terbalut perban dan memeluknya. Kedua mata Arista terpejam, air mata yang terus mengalir kini terhenti.


Arista yang lelah, kini sudah terlelap di dalam bidang dada kekar milik William.


...Mimpi Arista....


...😪😴😴...


Arista berdiri di tengah taman yang penuh dengan bunga berbagai macam warna dan berbagai macam bentuk, kupu-kupu, capung, burung terbang bebas melayang di udara. “Indah sekali, tempat apa ini.” Ucap Arista mendongakkan wajahnya.


“Dinda Arista. Sekarang kamu sangat cantik, tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik.” Terdengar suara wanita yang tidak terlihat wujudnya.


Arista memutar badan, kepala melihat sekeliling, mencari sumber suara dari mana datangnya dan kenapa ada wanita bisa mengetahui tentang dirinya. “Kamu siapa?” teriak Arista menatap sekeliling taman bunga yang indah.

__ADS_1


“Tidak penting aku siapa. Yang terpenting sekarang kamu harus menolong William, kamu harus mengambil tanaman yang berwarna ungu. Tanaman itu terselip di dalam bunga-bunga yang sangat indah, tapi kamu harus hati-hati. Batang dari bunga tersebut berduri, durinya mengandung racun yang bisa saja membuat kamu lumpuh untuk sementara dan sulit untuk terbangun dari tidur panjang kamu.” ucap wanita tersebut yang tidak menampakkan dirinya.


Wajah Arista terlihat kesal, ia mendongakkan wajahnya menatap sekumpulan kupu-kupu, burung, dan capung yang terbang bebas di udara. “Kenapa kamu bisa tahu tentang Paman William? siapa kamu? dan kenapa aku harus mengambilnya di sini? Kenapa tidak di dunia nyata saja.”


“Kamu persis seperti Ibu kamu sewaktu muda dulu. Sudahlah, itu tidak penting sekarang. Yang terpenting saat ini kamu harus menyelamatkan William dari hidup dan mati William, hanya kamu yang bisa mengobati luka yang di buat Raja Iblis yang menusuk tubuh William.


Agar kamu tidak bertanya lagi, aku akan memberi tahu kamu apa yang sebenarnya terjadi pada William. William tertusuk cahaya dari api Neraka, yang di buat khusus dari beribu abad lamanya untuk mematikan lawan secara perlahan.


Cepat Arista. cepat, kamu harus segera menolong William. Ambil bunga berwarna ungu yang di mana tidak ada satu hewan pun yang bisa bertahan hidup di atas bunga tersebut.” ucap wanita tersebut memberitahu Arista.


Suara wanita tersebut pun menghilang, Arista masih terlihat bingung dengan apa yang di maksud dengan wanita tanpa menunjukkan wujudnya.


“Baiklah, jika itu yang kamu mau wanita tanpa wujud. Aku akan menyelamatkan Paman dan mengambil bunga tersebut.” Gumam Arista dengan penuh semangat.


Arista melangkahkan kedua kakinya berjalan memasuki taman bunga yang di penuh berbagai macam bentuk bunga dan warna. Kedua kaki terus melangkah, namun mata jeli memandang satu persatu tempat bunga yang ia lewati.


“Bunga ungu, bunga ungu. Dimana kau bersembunyi bunga ungu.” Gumam Arista pelan.


Arista duduk di atas rumput hijau yang indah, kedua kaki di silangkan. Sikut tangan kanan di letakkan di atas paha kanan miliknya, sedang dagu menopang menatap sekeliling bunga. Kedua mata Arista tertuju kepada 1 tumpukan bunga yang sama sekali tidak dihinggapin binatang. Arista mengerutkan dahinya mengingat apa yang di ucapkan wanita tersebut.


“Itu dia.” Arista bangkit, ia berlari mendekati tumpukkan bunga yang hanya terdapat sedikit bunga yang berwarna ungu, batang bunga yang di penuhi duri.


Arista berjongkok, bibir bawah ia gigit, wajah terlihat serius, tangan gemetar mendekati bunga ungu tersebut. “Aku hanya di suruh, dan kamu duri jangan nakal.”


Dengan penuh semangat Arista memetik bunga ungu tersebut. Setelah mendapatkan setumpuk bunga ungu, kedua mata Arista merem melek, tubuhnya gemetar, lemas dan jatuh dengan tangan kedua tangan yang masih menggenggam erat bunga ungu.


...Bangun dari mimpi....


...🥱🥱🥴...

__ADS_1


Arista terbangun dari mimpi, wajahnya tertunduk menatap kedua telapak tangan yang masih menggenggam bunga berwarna ungu. Rasa bingung dan tidak percaya bercampur jadi satu, jika bunga yang ia ambil di dalam mimpi mengikuti dirinya sampai ke dunia nyata. “Bunga.”


...Bersambung........


__ADS_2