
Tenda sudah berdiri di tengah hutan. Anggun, Ellard, Abel, dan Arista, mengumpulkan kayu, dan beberapa air bersih dari sungai, untuk mereka minum dan kebutuhan lainnya. Esme sendiri tadi berpamitan, ingin pergi ke suatu tempat.
Esme terus berjalan dan berjalan memasuki dalam hutan. Setelah merasa cukup jauh dari Anggun, Ellard, Abel dan Arista. Esme menghentikan langkah kakinya.
“Sepertinya di sini sudah bisa.”
Esme mengulurkan tangannya ke depan, merapal sebuah mantra, terbuka sebuah portal dimana terlihat William sedang berjalan menuju ke suatu tempat. Esme dengan cepat masuk ke dalam. Namun, baru saja ia masuk, ada seorang gadis memakai jubah hitam berlari dengan cepat dan ikut masuk ke dalam portal.
“William, berhenti!” panggil Esme turun tepat di belakang William.
Gadis memakai jubah hitam baru saja ikut turun secara diam-diam, sejenak terdiam, menoleh ke arah William dan Esme. Dahi gadis itu mengernyit, detik selanjutnya gadis itu berlari cepat meninggalkan Esme dan William.
William langsung menghentikan langkahnya, ia balik badan, “Ada apa?” tanya William datar, seolah dirinya biasa saja saat melihat kedatangan Esme tiba-tiba.
“Apa kamu juga sudah mengetahui semuanya tentang ramalan itu?” Esme kembali bertanya, kedua kakinya melangkah mendekati William.
“Sudah, kita harus bersiap-siap saja,” sahut William, kakinya perlahan melangkah diikuti oleh Esme.
“Kenapa aku baru tahu kalau Arista memiliki saudara. Apa sebelumnya kau juga mengetahui hal itu?” Esme kembali bertanya.
“Tidak, saat itu ibu Arista sudah meninggal. Selir itu hanya mengatakan tentang anaknya saja, tidak ada hal lainnya.”
“Dan…apa kau tahu siapa Abel sebenarnya?” Esme kembali bertanya.
William langsung menghentikan langkahnya, pandangan serius mengarah pada Esme, “Katakan!” tegas William.
“Abel adalah Raja iblis yang asli. Abel adalah Raja iblis muda yang tidak pernah diam di kerajaannya sendiri. Tapi, aku masih tidak habis pikir kenapa dia mau melindungi Arista. Apa yang sebenarnya ia rencanakan?”
“Iblis itu sulit mempunyai keturunan, dan kalau mereka memiliki keturunan maka, tidak semua keturunan dari hasil mereka memiliki kekuatan tinggi. Butuh waktu untuk mengasah semua kekuatan itu. Makanya kebanyakan para iblis memilih bergaul dan memiliki keturunan dari klan yang berbeda, dan orang yang terpilih dengan tingkat kekuatan yang kuat pula!” William mengepal tangan kanannya, “Maka dari itu aku tidak akan membiarkan siapa pun memiliki Arista. Arista hanya untuk milikku seorang,” sambung William bergumam. Namun Esme bisa mendengar gumaman itu.
Esme hanya bisa menghela nafas ringan. Perasaannya benar-benar sudah pupus. Tak ingin terlalu dalam kisah cinta bertepuk sebelah tangan miliknya. Esme menatap menggenggam pergelangan tangan William, mengangguk seperti memberi William semangat.
“Karena kamu sudah mengetahui tentang ramalan itu, lebih baik aku pulang. Arista, Anggun, Abel, dan Ellard, pasti sudah menungguku di hutan. Semoga kita selalu lindungi oleh Sang Ilahi,” pamit Esme, tangannya menepuk bahu William.
Esme balik badan, ia kembali membuka portal, melangkah masuk ke dalam portal setelah ia mengucapkan salam perpisahan.
Brak!
Tiba-tiba terdengar suara seseorang terjatuh.
__ADS_1
William spontan menoleh, menatap seorang gadis remaja jatuh tak jauh dari tempat ia berdiri. William bergegas mendekati.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya William mencoba membantu gadis itu berdiri.
“Baik Paman,” sahut gadis remaja bermata merah menyala.
William tercengang, melihat raut wajah gadis remaja ini sangat mirip dengan wajah Arista. Membedakannya hanya bola mata, dan tubuhnya sedikit lebih besar, padat dari tubuh Arista.
‘Jangan-jangan gadis remaja ini…apa dia gadis vampire yang di ramalkan itu? kalau memang benar, berarti ramalan itu benar-benar akan terjadi. Apa aku harus menghabisi nyawa gadis ini sekarang juga?’ gerutu William bertanya-tanya dalam hati.
“Paman, Paman,” sapa gadis remaja melambaikan tangannya ke wajah William.
“Ada apa?” tanya William dingin.
Gadis remaja itu mengulurkan tangannya, “Perkenalkan nama aku, Grace, umurku 11 tahun. Aku gadis dari klan vampire. Kalau Paman?” sapa Grace memperkenalkan siapa dirinya.
Sejenak William terkejut, tak ingin larut dalam keterkejutannya. William pun kembali berjalan, meninggalkan Grace tanpa memberitahu apa pun tentang dirinya.
“Paman, Paman, kenapa Paman tidak menjawab?” Grace bertanya sembari berlari mengejar William sudah berjalan cepat di depannya.
William mengernyitkan dahinya, kedua kakinya terus melangkah cepat, berusaha menghindari Grace. Namun, langkah kaki William terhenti saat Grace menggenggam tangan William dari belakang.
William melirik sedikit ke belakang, sejenak bola matanya membulat sempurna saat melihat ada aura hitam di belakang tubuh Grace. Detik selanjutnya William menarik nafas panjang, “Jadi seperti itu,” gumam William ambigu.
Grace segera melepaskan genggaman tangannya, “Eh, maaf Paman, habisnya Paman mengabaikan aku!” ucap Grace lirih.
“Mau apa kau terus mengejar ku?” tanya William tanpa basa-basi.
“A-aku hanya ingin mencari saudaraku, katanya ia berada di kota ini,” sahut Grace dengan raut wajah polosnya.
‘Jujur sekali, apa ini sebuah trik awal yang sudah ia susun rapih. Aku harus tetap waspada,’ gumam William dalam hati.
“Siapa nama saudara kamu?”
“Arista, katanya ia diasuh oleh seorang mutan pembasmi monster dan lainnya. Kalau aku tidak salah namanya adalah William,” sahut Grace dengan raut wajah benar-benar polos.
Hanya sekali gerakan, William mengambil pedang, mengarahkan pedang itu tepat di depan jantung Grace.
“Katakan, apa tujuan kau ke sini?” tanya William datar.
__ADS_1
“A-aku, aku hanya ingin bertemu dengan saudaraku saja. Ibu yang menyuruhku untuk menemuinya,” sahut Grace lirih.
“Tidak mungkin, pasti kau berbohong. Cepat katakana apa tujuan asli kau datang ke sini!”
“Be-benar, a-aku tidak berbohong Paman,” ucap Grace sekali lagi lirih, bulir air mata perlahan membasahi kedua bola matanya.
.
.
💫Di sisi lain💫
Esme sedang menikmati santap makan siang sekaligus malam mereka, kedatangan ketua hewan fantasi. Kepakan sayang lebar dan besarnya, membuat tenda, rambut, dan dedaunan kering berterbangan ke arah Esme, Arista, Anggun, Abel, dan Ellard.
“Woi, woi, woi, ada apa ini?!” teriak Ellard tak suka di ganggu saat makan.
“Esme ikut aku!” tegas ketua hewan fantasi sembari memutar arah duduknya sedikit membungkuk, seperti ingin memberikan Esme tumpangan.
“Ada apa?” tanya Esme sedikit cemas.
“Sudah naik aja, ada hal penting yang harus kami tunjukkan kepada kamu!” tegas ketua hewan fantasi serius.
Esme beranjak dari duduknya, bola matanya mengarah ke Anggun, Ellard, Abel, dan Arista, “Aku pergi dulu,” pamit Esme.
Esme pun melangkah naik ke atas punggung ketua hewan Fantasi, detik selanjutnya ketua hewan Fantasi mengepakkan sayapnya, membuat semua ada di sekitarnya terbang. Ketua hewan Fantasi terus terbang dengan cepat menuju gua mereka. Tak butuh waktu lama, ketua hewan Fantasi mendaratkan dirinya di depan pintu masuk gua. Esme pun turun.
“Ada apa ini?” tanya Esme sekali lagi.
“Masuklah, kamu akan melihatnya di dalam,” ajak ketua hewan Fantasi.
Esme berjalan masuk, didampingi ketua hewan Fantasi. Langkah kaki mereka pun terhenti di depan bola Kristal besar. Esme langsung membulatkan kedua bola matanya, tak percaya apa sedang ia lihat sekarang.
.
.
💫Di sisi lain💫
Di gua milik ibu dari bocah lelaki elf, dan beberapa elf lainnya, termasuk petuah sudah berada di dalam gua mengernyitkan dahi mereka melihat tampilan bola Kristal itu.
__ADS_1
“Bersiaplah!” ucap petuah.