Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Bab 109. Shera


__ADS_3

William terus memacu kuda hitam bernama, black. Hampir setengah hari, William akhirnya sampai di depan sebuah gapura gerbang Desa Berkabut terbuat dari sebuah bambu lapuk, bertulisan 'Masuk untuk mati'.


William pun melompat turun dari punggung black, tangannya memegang tali.


“Black, temani aku melangkah,” ucap William ke kuda Pak tua bernama Black.


William perlahan melangkahkan kedua kakinya memasuki Desa berkabut, sepasang mata waspada ia pertajam untuk melihat jalan benar-benar tertutup oleh kabut. Sesekali tangannya menyeka kabut menghalangi jalannya.


Kedua telinga William sayup-sayup mendengar seperti ada suara langkah kaki, terdengar menginjak dedaunan kering.


William tak memperdulikan suara langkah semakin dekat dengannya. Ia terus berjalan, membawa black bersamanya. Tak lama suara langkah itu hilang, di ganti dengan suara seorang wanita dari sampingnya.


“Perlu aku tuntut ke tempat tujuan?” tanya seorang wanita siluman, duduk di atas punggung black.


Bukannya menjawab, terkejut, atau marah. William hanya meminta dengan ekspresi datar.


“Turun dari kuda milikku!”


“Dingin sekali. Lelaki berotot yang membuat aku semakin tertarik untuk mendekatinya,” ucap wanita siluman itu.


Tangan wanita itu perlahan mengulur, ingin menyentuh tangan William sedang memegang tali Black. Namun, William lebih dulu menggenggam tangan wanita siluman, menariknya sampai jatuh.


“Aaaa…aaa!”


Bam!


Wanita siluman jatuh dengan posisi terlungkup. William menghentikan langkahnya, ia jongkok di depan wanita itu.


“Katakan di mana tempat peramal itu berada?” tanya William langsung ke intinya.


Wanita tadi sedang terlungkup langsung berdiri dengan cara salto, tangannya menepuk dedaunan kering menempel di rambut panjang, dan baju bagian depannya.


“Ah, ternyata kau ingin pergi ke tempat wanita itu. Aku pikir kau ke sini untuk mencari kesenangan. Ternyata kau datang hanya ingin melihat ramalan,” gerutu wanita siluman, kedua tangan masih terus membersihkan debu di bajunya.


“Bukan waktunya untuk bersenang-senang, katakan di mana tempat wanita itu berada?” tanya William tegas.

__ADS_1


Segaris senyum tercetak di bibir berwarna ungu muda milik wanita siluman, kedua kakinya perlahan berjalan mendekati William, salah satu tangannya menjalar ke bidang dada William.


“Aku bisa mengantarmu sampai ke tempat yang kau inginkan tanpa bantuan iblis-iblis yang menguasai setiap wilayah Desa ini, asal…”


“Jangan bertele-tele, cepat katakan!” desak William kembali. Tangan menggenggam erat pergelangan tangan wanita siluman itu.


“Asal kau bermalam dengan…”


“Sudah aku duga!” sela William, tangannya kembali menarik black, membawa Black kembali berjalan.


“Hei, hei! Sombong sekali kamu. Kalau begitu nikmati saja kesengsaraan kamu selama melangkah mencari rumah penyihir dari Ratu iblis kelabang itu!” ucap wanita siluman, sembari memutarkan tubuhnya menghilang bersama dengan putaran angin.


William tak memperdulikan hal itu, ia terus berjalan dan berjalan, di dalam kabut tebal, mengganggu penglihatan. Sampai setengah jalan memasuki Desa berkabut, William kembali mendengar suara langkah kaki. Tapi langkah ini terdengar lebih dari satu orang.


“Apa Iblis di ciptakan hanya untuk mengikuti dan merayu seseorang? Hal ini benar-benar membuat aku muak,” gumam William, sepasang bola matanya tetap menatap lurus ke depan.


Suara langkah itu tiba-tiba tak terdengar lagi. Kini suara langkah itu berganti dengan sosok seorang wanita bertubuh kelabang, memakai Mahkota, di belakangnya ada beberapa wanita dengan tubuh yang sama. Namun, tak memakai Mahkota.


“Menyingkir lah dari jalanku,” pinta William dingin.


“Siapa aku tidak penting, terpenting sekarang, kau harus minggir dari jalanku, karena aku ingin segera bertemu dengan peramal itu!” tegas William.


“Oh..jadi kau orangnya. Akulah peramal itu. Ada apa kau mencari ku?” tanya Ratu iblis kelabang.


“Apa buktinya jika kau adalah penyihir itu?” William kembali bertanya karena tak yakin.


Ratu kelabang itu mengulurkan telapak tangan kanannya, lalu terlihat ada gambar Esme, berusaha terlepas dari lilitan akar pohon. William melihat Esme langsung mengernyitkan dahinya, tangannya mengepal erat.


“Bukannya ini adalah teman dekat kamu?”


“Kau pasti telah melakukan tipu daya,” ucap William masih tidak percaya.


“Dasar mutan. Hatimu benar-benar sangat dingin dan tertutup. Sampai-sampai kau malu untuk mengungkapkan rasa cintamu kepada gadis dari keturunan pertama Raja Vampire, dan selir berdarah penyihir,” cetus Ratu iblis kelabang.


“Ck, cepat katakan. Siapa kau sebenarnya?” desak William.

__ADS_1


“Baiklah, karena aku juga tidak terlalu tertarik dengan bentuk tubuh dan darah milikmu. Aku akan memberitahu apa yang sesungguhnya yang akan terjadi dimulai dari 5 jam yang lalu. Kau pasti ke sini karena ingin melihat kesungguhan sebuah ramalan yang akan terjadi esok?” Ratu iblis kelabang mendekatkan bibirnya ke daun telinga William, “Tepat nanti malam akan ada sebuah badai besar menimpa dimensi itu. Seorang gadis keturunan dari vampire dan manusia yang sudah mengikat janji atas keserakahan, ingin merebut tahta Arista sebagai penerus keturunan Raja Vampir. Keserakahan itu telah membawanya ke dalam sebuah kontrak dari iblis penghancur. Dimana sang Raja iblis muda tak mengetahui hal itu, karena Raja iblis muda itu tengah asik mencari dan saat ini bersama dengan Arista!”


“Jangan berbelit-belit. Katakan saja inti dari yang kau ucapkan!” tegas William.


“Oh…kasar sekali kamu. Tapi tidak apa, karena aku tahu hidup kamu juga tidak akan lama lagi setelah hal itu terjadi, ha ha ha ha!” kekeh Ratu iblis kelabang.


William hanya diam, menatap tak suka.


Ratu iblis kelabang menyadari tatapan tak suka dari William, langsung menghentikan tawanya.


“Oke, oke. Gadis vampire dari hasil hubungan gelap Raja vampire, sudah berhasil bertemu dan masuk ke dalam sekolah yang sama dengan Arista. Seolah takdir baik selalu menyertai Arista, gadis vampire dari hasil hubungan gelap Raja vampire dengan klan manusia, sebut saja Shera. Baru 3 bulan masuk ke sekolah dimensi lain, tepat di mana Arista dan Raja iblis muda itu menimba ilmu. Tentang gadis Vampire yang sangat mirip dengan Arista, sebut saja namanya Grace. Dia bukanlah gadis vampire itu. Melainkan gadis itu adalah sebuah mayat hidup, tubuhnya telah di isi dengan beberapa anak buah dari iblis penghancur untuk mengikuti kamu. Menyenangkan bukan?”


“Jadi Grace adalah seorang mata-mata dari iblis penghancur?” William kembali bertanya setelah menyimpulkan.


“Benar, seorang mata-mata yang akan menghancurkan siapa saja yang iya ikuti. Termasuk…bar milik Pak tua. Ha ha ha ha…..kehancuran sudah di mulai, kehancuran, kehancuran!” teriak Ratu iblis kelabang di kalimat terakhir sembari melemparkan tawa puasnya.


William mendengar hal itu bergegas naik ke punggung black, dengan cepat ia menghentakkan kedua kakinya.


“Hiak! Black kita harus kembali!”


Black, kuda hitam gagah milik Pak tua membawa kedua kakinya berpacu kencang meninggalkan Desa berkabut.


Sementara itu, Ratu iblis kelabang itu perlahan berubah menjadi Shera, gadis remaja muda, murid dari yayasan sekolah tempat Arista belajar. Gadis itu juga adalah seorang gadis pura-pura bertanya dengan Esme waktu itu.


Bola mata menyala seperti api milik Shera menatap ekor kuda di tunggangi William, perlahan hilang dari kabut.


Kenapa bisa Shera menjadi Ratu iblis kelabang? Karena Ratu iblis kelabang beserta anak buahnya baru saja di habisi oleh Shera, dan gumpalan awan hitam, anak buah iblis penghancur.


“Kalau gitu, sudah saatnya aku memanggil anak buah dari iblis penghancur yang sudah aku selipkan di dimensi lain, dan Grace!”


Shera menjujung kedua tangannya setinggi langit, kabut tebal seketika menghilang, terlihat di atas tanah banyak bangkai berserakan termasuk dari Ratu iblis kelabang, dan beberapa penduduk iblis lainnya.


Kabut tebal telah berganti menjadi sebuah awan hitam gelap, serentak memenuhi dunia manusia dan dimensi lain. Membuat setiap orang berjalan di atas tanah berlari ketakutan.


Esme sendiri kini sudah terlepas dari jerat itu, ia pun kembali merapal mantra menuju dimensi manusia.

__ADS_1


__ADS_2