Vampire Kecil Milik Tuan William.

Vampire Kecil Milik Tuan William.
Isi kotak Misterius.


__ADS_3

Part 23


_______


...Pukul 10:00 malam....


...😴...


Tok!


Tok!


Suara ketukan tepat di depan pintu mes khusus wanita kamar Arista dan Anggun.


Anggun yang sedang terbaring di atas ranjang menolehkan wajahnya, “Siapa yang malam-malam begini mengetuk pintu kamar kita.” Ucap Anggun dengan suara khas miliknya.


Arista yang sedang duduk di atas ranjang miliknya dengan tubuh yang menyandar di balik bantal dengan kedua mata yang fokus membaca Novel, “Gantungan Kunci Tua” mengangkat kedua bahunya.


“Coba saja, kamu lihat sendiri.”


Anggun menyingkap selimut yang sudah terbalut di tubuhnya.


“Baiklah.”


Anggun melangkahkan kedua kakinya berjalan menuju pintu kamar mereka.


Klik!


Anggun membuka pintu kamar, ia menjulurkan kepalanya sedikit dari pintu kamar melihat ke kanan dan ke kiri namun tidak ada satupun orang yang berada di luar mes.


Saat berbalik badan, kaki Anggun menyentuh sebuah kotak yang tidak tahu apa isinya yang telah terletak di depan kamar mereka.


Anggun menurunkan pandangannya, “Kotak.” Gumamnya dengan suara khas dari bibirnya. Anggun menundukkan sedikit tubuhnya mengambil kotak yang berada di hadapannya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Arista meletakkan buku novel yang sedang di bacanya, “Kotak!” ucap Arista dengan kedua kaki yang turun dari ranjang berjalan mendekati Anggun yang meletakkan kotak di samping ranjangnya.


Anggun mendongakkan wajahnya menatap Arista yang sedang berdiri di sampingnya yang kala itu sedang berjongkok di samping kotak yang terlakban rapih.


“Aku sudah mengecek dan melihat sekeliling, tapi aku tidak melihat satu orang pun yang ada di sekitar mes tempat kita tinggal.”


Arista berjongkok menepis tangan Anggun yang sedang memegang kotak misterius.


“Anggun. Kamu tidak boleh membuka kotak ini, sampai besok atau sampai ada orang yang mencari kotak ini. Dan mari kita segera tidur.” Arista berdiri.


Saat Arista berbalik badan dengan kaki kanan yang hendak melangkah. Anggun berkata, “Arista. Sepertinya ini kotak misterius memang di kirim buat kamu.” ucap Anggun sambil melihat secuil kertas yang menempel di atas kotak tersebut.


Arista menundukkan sedikit tubuhnya dengan mata yang menyipit ia menatap secuil kertas kecil yang menempel di ujung kardus. “Itu namaku.” Arista mengarahkan jari telunjuknya ke wajahnya sendiri.

__ADS_1


Anggun menganggukan kepalanya, “Ia. Cepatlah buka kotak ini, aku sungguh penasaran apa isi dari kotak tersebut.” Sahut Anggun dengan kedua tangan yang menggoyangkan kotak misterius.


Arista menepis tangan Anggun, “Jangan seperti itu, jika ini adalah sihir jahat dari orang yang tidak menyukaiku bagaimana?” Arista mengambil kotak misterius dan membawanya jauh ke depan pintu kamar, “Kamu di situ saja karena aku tidak ingin kamu terluka karena kesalahanku sendiri.”


Anggun menurut, ia hanya melihat dari kejauhan.


Arista yang sedang berjongkok dengan tangan yang sedikit gemetar membuka kotak misterius tersebut. Arista mengeluarkan isi dari kotak misterius tersebut.


Anggun yang melihat dari jarak jauh tertawa geli, “Hahaha!” dengan jari telunjuk yang mengarah ke Arista. “Baju apaan itu, bukannya itu baju hanya di gunakan saat hari Halloween tiba.”


Arista menggulung baju yang sedari tadi di pegang nya, ia menunduk sedikit melihat ke dalam kotak misterius. “Sepertinya masih ada pesan yang belum kita baca” ucap Arista dengan tangan kanan yang mengambil sepucuk kertas yang berada di dalam kotak.


Arista membuka surat dan membacanya.


...“Ini aku hadiahkan khusus buat kamu Dinda Arista, pakailah di saat pesta ulang tahunku. Dari : Ellard.”...


Anggun berjalan mendekati Arista, “Sudah aku duga, pasti di balik permintaan maaf dia ada maksud tersembunyi.” Anggun menatap wajah Arista, “Mana ada pesta ulang tahun menggunakan baju seperti ini, kalau bukan untuk membuat kamu malu di depan orang banyak”


Arista menggenggam kuat baju yang terletak di tangan kirinya.


Jika dia ingin mempermainkan aku.


Aku akan mempermainkan dia.


Jangan sebut aku Dinda Arista, kalau tidak bisa membalas ini semua.


...Keesokan pagi, pukul 08:00....


...☺☺...


Arista, Ellard dan teman satu kelas lainnya telah berkumpul di halaman sekolah. Ada yang berpakaian bebas, ada pula yang memakai baju olah raga.


Arista yang duduk di bangku halaman sekolah, ia memandang ke beberapa teman yang saling bercanda satu sama lain. Sedangkan dia hanya duduk sendiri tanpa seorang teman yang menemaninya.


Mulan, Diana, Robert dan Sebastian mendekati Arista yang sedang duduk santai sambil menunggu Esme.


Diana mendekati Arista dengan kedua tangan yang di lipat diletakkan di dada.


“Tidak punya teman? Kasihan banget.” Diana mendekatkan wajahnya menatap Arista, “Anak baru seperti kamu memang tidak pantas memiliki teman, apa lagi kamu telah menyakiti Robert dan Sebastian jadi mereka semua takut untuk menjadi teman kamu.”


Diana menutup mulutnya dengan tangan kanannya, “Takut jika kamu marah dan menghantam semua teman yang berada dekat dengan kamu.” bisik Diana.


Arista mengepal kedua tangannya dengan kedua mata yang menatap tajam Diana.


Mulan, Sebastian, Diana dan Robert berbalik badan sambil tertawa kuat, “Hahaha!”


“Kamu memang hebat Diana. Sampai dia tidak bisa berkutik.” Sambung Sebastian sambil merangkul bahu Diana.

__ADS_1


Arista hanya diam saja memandangi mereka yang telah menyepelekannya dengan dahi yang mengerut.


Berani sekali kalian berkata seperti itu.


Apa gunanya teman jika harus saling menusuk dari belakang.


Aku akui, aku memang tidak punya teman.


Tapi aku juga tidak ingin punya teman seperti kalian yang tahunya saling menyakiti dan mengkhianati dari belakang.


Gumam Arista di dalam hati.


“Boleh tidak, jika aku duduk di sebelah kamu.” terdengar suara seorang pemuda yang bertanya kepada Arista.


Arista yang masih melamun mendongakkan wajahnya menatap seorang pemuda yang ternyata adalah Ellard sedang berdiri di hadapannya.


“Kalau mau duduk, duduk saja. Kenapa harus minta izin.” Ketus Arista.


Ellard yang sedang memegang 2 minuman kaleng tersenyum sambil mengulurkan tangan kananya yang sedang memegang minuman kaleng.


“Jus tomat bagus buat kamu.” ucapnya.


Arista menatap tangan Ellard yang sedang memegang jus tomat. “Tahu apa kamu tentang aku, dan jangan sok baik jika ingin menindasku secara perlahan.” Sahut Arista sambil berdiri.


Ellard menarik tangan Arista.


“Kenapa sikap kamu tiba-tiba dingin seperti ini, tapi semalam sewaktu kita bertemu di tepian danau kamu baik-baik saja.” Tanya Ellard dengan wajah yang cukup serius.


Arista menepis tangan Ellard, “Waktu pertama kali bertemu kita juga sudah seperti ini, tidak ada kesan hangat yang kita timbulkan.” Arista berjalan ke depan.


Esme datang dengan baju bebas yang menampakkan separuh dua gunung tak terlampauin miliknya.


“Anak-anak, apakah kalian semua sudah siap! Apakah semua sudah hadir.” Tanya Esme dengan suara genit yang terlontar dari bibirnya.


Para murid laki-laki hanya mengangguk dengan kedua mata yang berbunga-bunga menatap indahnya separuh 2 gunung yang tak terlampauin bergerak bebas mengikuti arah ucapan Esme.


“Ibu guru Esme memang luar biasa.”


“Ibu guru Esme tidak ada duanya."


“Ibu guru Esme kamu sangat cantik dan juga….”


Arista datang dari belakang memutus perkataan para murid laki-laki yang terpanah melihat Esme.


“Giliran seperti ini semua langsung semangat” ucap Arista yang berdiri di samping para murid laki-laki.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2